"SYAIKH TAQIYYUDDIN MEMUJI MUKTAZILAH?"
Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin) yang diklaim sebagai akademis di sebuah kampus ternama di Malang menyatakan (pada tulisan ini akan saya potong menjadi tiga bagian) :
===== M u a f a =====
PUJIAN TAQIYYUDDĪN AL-NABHĀNĪ TERHADAP MU’TAZILAH DAN KAITANNYA DENGAN AZAB KUBUR (45)
Oleh: Muafa
Sudah terkenal di kalangan ahlussunah bahwa mu’tazilah adalah kelompok sesat dan tergolong ahlul bid’ah. Terutama sekali pendapat-pendapat mereka dalam persoalan akidah.
Tapi, bagi Taqiyyuddīn al-Nabhānī, mu’tazilah itu sama sekali tidak melakukan penyimpangan apapun dalam perkara akidah!
Bahkan Taqiyyuddīn al-Nabhānī menyebut mereka semua adalah para pembela Islam. Beliau berkata,
وهؤلاء مثل واصل بن عطاء، وعمرو بن عبيد، وأبي هُذيل العلاف، والنظام. إلا أن دراسة هؤلاء لم تكن دراسة فلسفية كاملة وإنما دراسة أفكار فلسفية بتوسع، حتى أحاطوا بالآراء المختلفة في الفلسفة وبرأي كل فريق من الفلاسفة إحاطة في بعض المسائل بتتبعها لا في جميع المسائل، وكانوا فوق اقتصارهم على بعض الأبحاث الفلسفية يقيدون أنفسهم بإيمانهم بالقرآن. ولهذا لم يخرجوا عن أهل الإسلام، وإنما توسعوا في الاستدلال وأطلقوا لأنفسهم العنان في البراهين، ولكن لإثبات ما يقوّي الإيمان، وللحرص على تنزيه الله. ولهذا لم يحصل منهم أي انحراف في العقائد على اختلاف معتقداتهم، فكلهم مسلمون مدافعون عن الإسلام. ( الشخصية الإسلامية الجزء الأول (ص: 122)
Artinya,
“Para ulama (yang mempelajari silogisme aristoteles lalu mengembangkan ilmu kalam) adalah seperti Wāṣil bin ‘Aṭā’, ‘Amr bin ‘Ubaid, Abū Hużail al-‘Allāf dan al-Naẓẓām. Hanya saja, studi mereka bukanlah studi filsafat lengkap. Tetapi hanya studi (sebagian) pemikiran filsafat yang diperluas. Hingga mereka menguasai pemikiran beragam dalam filsafat dan pendapat masing-masing aliran filsuf dengan level penguasaan dalam sebagian isu dengan cara deep study, tapi tidak pada seluruh isu. Mereka ini, disamping hanya mempelajari sebagian pembahasan filsafat mereka tetap mengikatkan diri mereka dengan iman terhadap Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka tidak pernah keluar dari status ahlul Islam. Hanya saja mereka memperluas pembahasan dalam berdalil dan membebaskan diri mereka dalam berargumentasi. Akan tetapi hal itu hanya untuk membuktikan sesuatu yang memperkuat iman dan karena sangat ingin mensucikan Allah. Oleh karena itu tidak ada penyimpangan akidah apapun walaupun akidah mereka berbeda-beda. Semuanya adalah muslim dan membela Islam” (al-Syakhṣiyyah al-Islāmiyyah hlm 122)
Orang-orang Hizbut Tahrir mungkin saja bisa mengingkari jika disebut sama dengan muktazilah atau mirip dengan mereka.
Tapi bagaimana Anda menjelaskan pernyataan Taqiyyuddīn al-Nabhānī di atas?
===== j e d a =====
SANGGAHAN saya:
Pertama : dari judulnya saja Muafa telah keliru dengan mengatakan PUJIAN... lalu mengaitkannya dengan azab kubur. Padahal bukan pujian, tetapi hanya menjelaskan fakta pemikiran ulama Muktazilah yang dengannya mereka tetap menjadi ahlul Islam, muslimuun, yang membela Islam dari kerusakan falsafah Yunani. Mereka tidak menyimpang, tetapi hanya berbeda pemikiran dengan kelompok lainnya, dan bukan orang-orang kafir. Ini bisa difahami dengan membaca semua pembahasan dalam kitab Asysyakhshiyyahnya.
Kedua : bagaimana menyikapi pernyataan Syaikh Taqiyuddin Annabhani diatas? Sangat mudah! Begini ;
Imam Ghozali rh. di dalam kitabnya, Al-Iqtishod fil I'tiqod (sederhana dalam berakidah), pada bab keempat, penjelasan orang yang wajib dikafirkan dari firqoh-firqoh yang ada, beliau menyatakan:
الرتبة الرابعة: المعتزلة والمشبهة والفرق كلها سوى الفلاسفة، وهم الذين يصدقون ولا يجوزون الكذب لمصلحة وغير مصلحة، ولا يشتغلون بالتعليل لمصلحة الكذب بل بالتأويل ولكنهم مخطئون في التأويل، فهؤلاء أمرهم في محل الاجتهاد. والذي ينبغي أن يميل المحصل إليه الاحتراز من التكفير ما
وجد إليه سبيلاً.
فإن استباحة الدماء والأموال من المصلين إلى القبلة المصرحين بقول لا إله إلا الله محمد رسول الله خطأ، والخطأ في ترك ألف كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك محجمة من دم مسلم.
وقد قال صلى الله عليه وسلم: أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله محمد رسول الله، فإذا قالوها فقد عصموا مني
دماءهم وأموالهم إلا بحقها.
وهذه الفرق منقسمون إلى مسرفين وغلاة، وإلى مقتصدين بالإضافة إليهم، ثم المجتهد يرى تكفيرهم وقد يكون ظنه في بعض المسائل وعلى بعض الفرق أظهر.
"Level keempat: adalah Muktazilah, Musyabbihah dan semua firqoh-firqoh selain Falasifah. Mereka semua jujur/benar dan tidak membolehkan dusta, baik karena maslahat dan bukan karena maslahat. Mereka tidak menyibukkan diri dengan ta'lil (memakai ilat / alasan) untuk maslahat dusta, tetapi dengan ta'wil (interpretasi). Akan tetapi mereka salah dalam ta'wil sehingga perkara mereka berada di tempat ijtihad. Dan orang yang suka menyimpulkan seyogyanya menghindari dari pengkafiran (takfir) selagi menemukan jalan ke sana. Karena menghalalkan darah dan harta dari orang-orang yang shalat menghadap kiblat dan yang menjelaskan perkataan laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah adalah salah. Sedang salah dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari salah dalam mengalirkan alat bekam dari darah (membunuh) orang muslim.
Nabi Muhammad SAW benar-benar telah bersabda; "Aku telah diperintah agar memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah. Lalu apabila mereka telah mengucapkannya, maka mereka benar-benar telah menjaga dariku darah mereka dan harta benda mereka, kecuali dengan haknya".
Firqoh-firqoh tersebut terbagi kepada orang-orang yang berlebihan dan orang-orang yang keterlaluan, dan kepada orang-orang yang sederhana diantara mereka. Kemudian orang yang ijtihad melihat harus mengkafirkan mereka. Dan terkadang dugaan dia dalam sebagian masail dan atas sebagian firqoh-firqoh itu lebih nampak (hanya sebatas dugaan, bukan keyakinan)".
(Al-Ghazali, Al-Iqtishod fil I'tiqod, menjelaskan orang yang wajib dikafirkan dari firqoh-firqoh, hal. 135, Maktabah Syamilah).
Jadi penyataan Syaikh Taqiyuddin Annabhani rh itu seperti pernyataan Imam Ghozali, yaitu bahwa Muktazilah itu Muslimuun, bukan kafiruun. Karena mereka hanya salah dalam berijtihad / berfikir. Mereka juga tidak membolehkan dusta. Dan tujuan mereka hanyalah untuk membela pemikiran Islam dari serangan falsafah Yunani.
===== M u a f a =====
Coba hubungkan dengan ajaran Taqiyyuddīn al-Nabhānī yang mengharamkan untuk meyakini adanya siksa kubur dan berfatwa bahwa hukum membenarkan azab kubur itu hanya mubah saja, bukan wajib.
Bandingkan juga dengan paham orang mu’tazilah yang juga berpendapat serupa, yakni mengatakan bahwa azab kubur itu hanya mungkin saja ada, tapi tidak untuk dipastikan dan diimani sebagaimana telah saya tulis panjang lebar dalam catatan seri 44 sebelumnya.
===== j e d a =====
SANGGAHAN saya :
Puluhan seri tulisan Muafa terkait tema APAKAH HIZBUT TAHRIR MENGHARAMKAN MEYAKINI AZAB KUBUR?, dimana intinya memfitnah bahwa Hizbut Tahrir mengharamkan mengimani azab kubur. Dari puluhan seri tersebut inti benar dan salahnya terletak pada seri ke (1) sampai ke (5). Dan kelima seri ini telah saya buktikan kesalahannya, bahkan fitnahnya yang nyata. Sehingga seri-seri selanjutnya hanyalah salah alamat difitnahkan kepada Syaikh Taqiyuddin, Hizbut Tahrir-nya dan kaum muslimin. Jadi saya InsyaaAllah telah mematahkan puluhan seri itu hanya dengan satu tulisan saja, yaitu MEMBONGKAR FITNAH SANG MANTAN (3), Hizbut Tahrir mengharamkan meyakini azab kubur? Silahkan Anda baca dan teliti di link berikut ;
https://abulwafaromli.blogspot.com/2023/09/membongkar-fitnah-sang-mantan-3.html?m=1
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=291210966879804&id=100079727074783&mibextid=Nif5oz
===== M u a f a =====
Apakah sekarang Anda bisa menarik benang merah antara Taqiyyuddīn al-Nabhānī dengan paham mu’tazilah?
Ulama ahlussunnah mungkin saja menyebut tokoh muktazilah dengan sebutan al-qāḍī atau al-‘allāmah jika memang faktanya tokoh tersebut seorang hakim dan berwawasan luas. Tapi tidak akan pernah Anda temui ada ulama ahlusunnah yang membenarkan semua akidah mu’tazilah dan mengatakan bahwa akidah mereka sama sekali tidak menyimpang!
Jika sampai membenarkan seluruh akidah mu’tazilah, memandang akidah muktazilah itu memperkuat iman, menyebut mereka sebagai pembela Islam dll, menurut Anda berarti paham Taqiyyuddīn al-Nabhānī ini dekat ke muktazilah ataukah ke ahlussunnah?
Silakan dinilai sendiri.
(bersambung ke bagian-46)
اللهم أعذنا من مضلات الفتن
===== s e l e s a i =====
SANGGAHAN saya:
Hizbut Tahrir itu bukan Muktazilah, saya tambah, dan bukan Qodariyyah. Muafa terlihat sangat lemah dan rapuh dalam memahami fakta firqoh-firqoh Islam. Dia hanya dengan modal satu kemiripan yang didapatnya dengan hari kotor dan rasio rendah, sangat berani dan gegabah menghukumi bahwa Hizbut Tahrir itu Muktazilah. Dia tidak mengerti bahwa semua firqoh-firqoh maupun jama'ah-jama'ah dari umat Islam di seluruh dunia, diantara semuanya pasti ada kemiripan diantara satu dan yang lainnya. Kenapa ini bisa terjadi? Karena sumbernya sama. Yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Dan asalnya juga sama. Yaitu dari Allah SWT. Bahkan banyaknya kemiripan dan kesamaan itu terjadi diantara semua makhluk hidup di darat dan di lautan. Di samping ada kemiripan dan kesamaannya juga banyak perbedaannya. Jadi menilai bahwa firqoh ini Muktazilah atau lainnya harus satu paket pemikiran dan pemahaman yang dimiliki oleh firqoh itu. Muafa tidak menyadari telah terjerumus ke dalam jurang kesesatan dan fitnah terhadap Jama'ah yang tidak ada duanya di dunia ini dalam berdakwah dan berjuang penegakkan Syariat Islam kaffah melalu penegakkan khilafah.
Andai saja Muafa jujur dan adil dalam memakai standar penilaiannya, yaitu hanya menggunakan satu dua kemiripan atau kesamaan, maka organisasi dan parpol yang dia ada didalamnya justru lebih sesat, bahkan lebih kafir, karena banyak kemiripan dan kesamaannya dengan firqoh-firqoh sesat dan umat non muslim. Jadi secara tidak langsung, Muafa sedang menjelek-jelekkan firqohnya sendiri.
Dan untuk membuktikan bahwa Hizbut Tahrir itu bukan Muktazilah, baca dan teliti tulisan saya di link-link berikut ;
1. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (1)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/02/hakekat-muktazilah-1.html?m=1
2. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (2)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/02/hakekat-firqah-mu-2.html?m=1
3. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (3)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/03/hakekat-firqah-mu-3.html?m=1
4. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (4)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/03/hakekat-firqoh-mu-4.html?m=1
5. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (5)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/03/hakekat-firqah-mu-5.html?m=1
6. HAKEKAT FIRQAH MUKTAZILAH (6)
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/06/hakekat-firqah-mu-6.html?m=1
Hizbut Tahrir Qodariyyah (01) :
http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-01.html?m=1
Hizbut Tahrir Qodariyyah (02) :
http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-02_23.html?m=1
HizbutTahrir Qodariyyah (03) : http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-03_23.html?m=1
Hizbut Tahrir Qodariyyah (04) :
http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-04_23.html?m=1
Hizbut Tahrir Qodariyyah (05) :
http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-05_23.html?m=1
Hizbut Tahrir Qodariyyah (06) :
http://abulwafaromli.blogspot.com/2016/02/hizbut-tahrir-qodariyyah-06_23.html?m=1
TERAKHIR :
Setelah saya membaca dan meneliti tulisan-tulisan Muafa, dengan jujur dan tidak dusta, saya menyimpulkan bahwa Muafa sangat jauh dari dikata sebagai akademis apalagi ulama, yang ada hanyalah kesimpulan bahwa dia sosok yang sok alim, sok ikhlas dan sok menyalahkan Syaikh Taqiyuddin Annabhani dan Hizbut Tahrir yang didirikannya. Dan tidak berlebihan ketika saya katakan bahwa dia itu Aladdul Khishom. Semoga dia segera menyadarinya. Kalau tidak, maka hantaman pembongkaran fitnahnya, InsyaaAllah akan semakin dahsyat.
Wallahu A'lam bish showwab
Semoga bermanfaat aamiin
Syukron ustadz,,,🙏
BalasHapus