Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Banyak alumni pesantren yang takut ikut berjuang menegakkan khilafah. Alasannya, masyayikhnya tidak pernah berjuang menegakkan khilafah, masyayikhnya tidak pernah menyuruh, bahkan masyayikhnya melarangnya dari ikut-ikutan meskipun sekedar menyuarakan kewajiban menegakkan khilafah. Karena itu, banyak alumni yang takut kewalat dan ilmunya tidak manfaat.
Jangan bawa-bawa masyayikh, cukup pelajari khilafah itu hukumnya apa, haq apa batil, kan sudah dikasih bekal ilmu untuk membedakan antara haq dan batil. Masyayikh itu sudah sibuk jangan dibuat alasan dan jangan disibukan lagi (almasyghul laa yusygholu).
Kalau haq dari manapun atau dari siapapun wajib diterima, kalau batil ya ditolak. Kalau cuma apa dawuh masyayikh, ya tidak usah sekolah, tidak usah ngaji sulam taufiq, fathul qarib, fathul mu`in dan mahalli, karena petani dan tukang becak yang gak punya ilmu dan tidak pernah "menelan" bangku sekolah dan lantai-tikar pesantren juga paling pintar, manut guru, manut kiai, manut ustadz, manut masyayikh, seperti itu kata mereka. Dan jangan membanding - bandingkan ulama, kiai atau ustadz. Lebih alim siapa, lebih pandai siapa,...
Dikaji dan diteliti dengan ilmu dari pesantren atau dari yang lainnya, kalau haq itu dari Allah maka wajib diterima dan diikuti. Di kitab-kitab fiqih kurikulum pesantren kan sudah ada bab murtad (riddah) nya.
Balajarlah obyektif dan jangan subyektif. Ketika saya di Lirboyo ini sangat populer :
أنظر ما قال ولا تنظر من قال
Unzhur maa qoola walaa tanzhur man qoola
"Obyektiflah kamu dan jangan subyektif".
Belajarlah mencari haq karena haqnya, bukan karena gurunya.
Banyak yang ragu untuk mengatakan haq. Hanya karena masih memperhatikan penilaian dan ridha manusia, termasuk apa kata gurunya. Imam Ahmad bin Hanbal telah meninggalkan pesan yang amat dalam :
تركت رضى الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق.
Taroktu ridhonnaasi hattaa qodartu an attakallama bilhaqqi
"Aku tinggalkan ridha manusia, hingga aku mampu untuk berbicara menyampaikan kebenaran." (Siyar A’lam an-Nubala', 11/34]).
Hari ini, banyak yang ragu bahkan takut untuk jujur mengatakan haq, bahwa khilafah adalah ajaran Islam, khilafah adalah kewajiban dan solusi atas problematika berbangsa dan bernegara, bukan demokrasi apalagi komunis. Umat juga kian bingung, tokoh mana yang harus diikuti, karena sebagian mereka menyembunyikan kebenaran itu...
Imam Ghazali pernah menyampaikan suatu resep penting dan mujarab untuk bekal dalam mencari haq :
اعلم أن من عرف الحق بالرجال حار في متاهات الضلال فاعرف الحق تعرف أهله إن كنت سالكاً طريق الحق وإن قنعت بالتقليد والنظر إلى ما اشتهر من درجات الفضل بين الناس فلا تغفل عن الصحابة وعلو منصبهم ...
"Ketahuilah bahwa siapa yang mengetahui (mengukur) kebenaran dengan tokoh, ia akan tersesat dalam lembah kesesatan (kebingungan). Maka kenalilah kebenaran, pasti kamu akan tahu siapa pemiliknya, jika kamu benar-benar ingin meniti jalan kebenaran.
Tapi jika kamu hanya puas dengan ikut-ikutan dan melihat tren ketokohan manusia, maka jangan lupa tentang shahabat dan ketinggian derajat mereka." [Ihya Ulumiddin, 1/173].
Jadi kalau ikhwah alumni fanatik kepada ulama terdahulu, maka fanatiklah kepada para sahabat dan ulama setelahnya, termasuk empat Imam besar madzhab, dimana semua mereka ijmak dan sepakat akan kewajiban menegakkan khilafah.
Wallahu A'lam bish shawab
Semoga bermanfaat, aamiin
Suber :
https://www.facebook.com/100204852781882/posts/pfbid0277wr8AULeLw2WSNdnvWDx6yktie4GqioacYFFbA1yx35uSBamhEGPuoZXENr7owbl/
Assalamualaikum. Mohon pembahasannya terkait perang antara syayyidina ali dan ummul mukminin syayyidah aisyah karena peristiwa itu disamakan denggan berani mati bela tanah air walau yang lawannya perang itu sesama Akidah namun beda wilayah. ... bagaimana ini ustadz?
BalasHapus