PERIHAL MENGULANGI HAJI SETELAH HAJI WAJIB

Oleh : Abulwafa Romli


Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Tulisan ini adalah respon dari banyaknya pertanyaan terkait yang diajukan kepada saya.


•AQWAL ULAMA TERKAIT HAJI


Sebelum ke inti masalah, alangkah baiknya saya dahulukan perihal ijmak dan kesepakatan ulama mujtahidin terkait haji. Syaikh Abdul Wahhab Sya'roni RH dalam kitab Al Muzannya menuturkan (sangat perlu saya sertakan teks Arabnya) :


أجمع العلماء على أن الحج أحد أركان الإسلام وأنه فرض واجب على كل مسلم حر بالغ عاقل مستطيع في العمر مرة واحدة،
"Ulama telah ijmak bahwa haji itu salah satu dari rukun-rukun Islam dan bahwa haji itu fardhu yang wajib atas setiap muslim yang merdeka, baligh, berakal, dan mampu melaksanakan haji sekali dalam seumur.


واتفقوا على أن من لزمه الحج فلم يحج ومات قبل التمكن من أدائه سقط عنه الفرض،
Mereka telah sepakat bahwa siapa saja yang telah kewajiban haji lalu belum haji dan mati sebelum sempat melaksanakannya, maka kefardhuan itu gugur darinya.


وأجمعوا على أنه لا يجب على الصبي حج وأن حجه قبل البلوغ لا يسقط عنه فريضة الحج،
Mereka telah ijmak bahwasanya tidak wajib haji atas anak kecil dan bahkan hajinya sebelum baligh itu tidak menggugurkan fardhu haji dari padanya.


واتفقوا على استحباب الحج لمن لم يزد زادا ولا راحلة ولكنه يقدر على المشي وعلى صنعة يكتسب بها ما يكفيه للنفقة، وعلى أنه لا يلزم بيع المسكن للحج وعلى جواز النيابة في حج الفرض عن الميت، وعلى أنه لا يجوز إدخال الحج على العمرة بعد الطواف.

 
Mereka telah sepakat atas sunnahnya haji bagi siapa saja yang tidak menemukan bekal dan kendaraan, tetapi ia mampu berjalan dan punya ketrampilan bekerja untuk mencukupi nafkahnya. Bahwasanya tidak wajib menjual rumah untuk haji, dan atas bolehnya memakai mengganti dalam haji fardhu dari mayit. Dan bahwasanya tidak boleh memasukan haji ke dalam umroh setelah thawaf.


واتفقوا الأربعة على وجوب الدم على المتمتع إن لم يكن حاضري المسجد الحرام وكذلك القارن وهو شاة وقال طاوس وداود لا دم على القارن، هذا ما وجدته من مسائل الإجماع والإتفاق.
Dan Empat Imam (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad) telah sepakat atas wajibnya denda atas orang yang haji tamattu` apabila ia bukan termasuk orang-orang yang hadir/dekat masjidil haram, begitu pula orang yang haji qorin, yaitu satu kambing kacang. Sedang Imam Thowus dan Imam Daud berpendapat tidak ada denda atas orang haji qorin. Inilah yang saya temukan dari masalah ijmak dan kesepakatan ulama mujtahidin.


ومن ذلك قول الشافعي و أحمد في رواية إن حاضري المسجد الحرام هم من كان على دون مسافة القصر من مكة، مع قول أبي حنيفة هم من كان دون الميقات إلى الحرام، مع قول مالك هم أهل مكة وذي طوى.
Dan termasuk masalah khilafyyah ialah qaul Imam Syafi'i dan Imam Ahmad dalam satu riwayat, bahwa yang dimaksud orang-orang yang hadir/dekat masjidil haram ialah mereka yang berada dibawah masalah/jarak qoshor shalat dari Mekkah; serta qaul Imam Abi Hanifah bahwa mereka ialah orang-orang yang berada di kurang satu miqot ke masjidil harom; serta qaul Imam Malik bahwa mereka itu penduduk Mekkah dan Dzi Thuwa.


فالأول خاص بأهل التعظيم التام لله تعالى وشهودهم أنهم في حضرته الخاصة ما داموا على دون مسافة القصر من الحرام. والثاني خاص بأكابر الأكاير فإن بعض المواقيت أكثر من مسافة القصر. والثالث خاص بالأصاغر الذين لا يقوم ذلك التعظيم في قلوبهم إلا إن كانوا في مكة أو بفنائها.
Qaul pertama khusus dengan ahli ta`dzim/pengagungan yang sempurna kepada Allah ta'ala dan mereka menyaksikan sedang berada di hadapan Allah yang khusus, selagi berada di bawah masafah qoshor dari masjidil harom.
Qaul kedua khusus dengan pera pembesar dari para pembesar, karena ada sebagian miqot itu lebih jauh dari masafah qoshor.
Dan qaul ketiga khusus dengan orang-orang kecil, yaitu mereka yang tidak bangkit kondisi ta`dzim pada hatinya, kecuali ketika mereka berada di Mekkah atau halaman Mekkah.


وقد أسقط الحق تعالى الدم عن حاضري المسجد الحرام لكونهم في حضرته كأمراء مجلس السلطان لا يكلفون بما يكلف به غيرهم من الخارجين عن حضرته
Sungguh Alhaq Allah ta'ala telah menggugurkan denda dari orang-orang yang hadir/dekat masjidil harom, karena merasa berada di dekatNya, sebagaimana para amir di majelis sultan, mereka tidak dibebani dengan sesuatu yang dibebankan kepada  selain mereka, dari orang-orang yang berada di luar jauh dari dekat sultan".
(Almizan Alkubro, julid II, hal. 29,30 dan 34, maktabah Daru Kutubil 'Arobiyyah Indonesia, tanpa tahun).


•TIPU DAYA SYETAN ATAS ORANG KAYA YANG MENGULANGI HAJI SETELAH HAJI WAJIB


Pada tulisan ini saya hanya menjelaskan perihal orang yang mengulangi ibadah haji setelah haji wajib telah sah tertunaikan. Dan menurut Imam Ghozali RH bahwa yang melakukannya telah terpedaya oleh kehidupan dunia dan oleh syetan sang penipu.


Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ 
"Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah". (QS Lukman [31]: 33).


Imam Ghozali RH dalam Al Ihyaa-nya, dalam kitab Dzammil Ghurur secara garis besar telah mengemukakan ada EMPAT kelompok umat Islam yang terkena tipu daya kehidupan dunia dan syetan sang penipu (ghorur) yaitu; ULAMA, AHLI IBADAH (Al'ubaad), AHLI TASAWUF (Almutashawwifah) dan ORANG KAYA (Arbabul amwal).


Dan ketika menjelaskan kelompok KEEMPAT, yaitu ghururnya ORANG KAYA (Arbabul amwal), Imam Ghozali RH berkata :


وفرقة أخرى ينفقون الأموال في الصدقات على الفقراء والمساكين، ويطلبون به المحافل الجامعة، ومن الفقراء من عادته الشكر والإفشاء للمعروف، ويكرهون التصدق في السر ويرون إخفاء الفقير لما يأخذه منهم جناية عليهم وكفرانا
"Kelompok yang lain (dari orang-orang kaya) menginfakkan harta melalui sedekah kepada orang-orang faqir dan miskin, mereka mencari tempat-tempat perkumpulan dan orang-orang faqir yang kebiasaannya berterima kasih dan menyebarkan kebaikan. Mereka tidak menyukai sedekah secara rahasia dan memandang orang faqir yang merahasiakan sedekah yang mereka berikan, sebagai kesalahan dan pengingkaran atas mereka.


وربما يخرصون (اي أصحاب الأموال) على إنفاق المال في الحج فيحجون مرة بعد أخرى، وربما تركوا جيرانهم جياعا. ولذلك قال ابن مسعود رضي اللَّه عنه : في آخر الزمان يكثر الحج بلا سبب يهون عليهم السفر ويبسط لهم في الرزق ويرجعون محرومين مسلوبين يهوى بأحدهم بعيره بين الرمال والقفار وجاره مأسور إلى جنبه لا يواسيه.
Terkadang orang-orang kaya itu sangat menyukai membelanjakan harta di dalam haji. Mereka haji setelah haji. Terkadang mereka membiarkan tetangganya kelaparan. Karena itu, Ibnu Mas'ud RA berkata : "Di akhir jaman banyak haji tanpa sebab. Mudah sekali mereka pergi haji. Rizki mereka dilapangkan. Mereka kembali dari haji dalam kondisi terhalang dan terlepas dari pahala. Unta salah satu dari mereka kepayahan diantara pasir dan tanah gersang. Tetangganya tergeletak kelaparan sedang ia tidak membantunya.


وقال أبو نصر التمار رحمه اللَّه تعالى : أن رجلاً  جاء يودع بشر بن الحارث وقال : قد عزمت على الحج فتأمرني بشيء؟ فقال له : كم عددت للنفقة؟ فقال : ألفي درهم. وقال بشر : فأي شيء تبتغي بحجك، تزهدا أو اشتياقا إلى البيت أو ابتغاء مرضاة الله؟ قال : ابتغاء مرضاة الله. قال : فإن أصبت مرضاة الله تعالى  وأنت في منزلك وتنفق ألفي درهم وتكون على يقين من مرضاة الله تعالى أتفعل ذلك؟ قال : نعم.
Abu Nashar Attamar RH berkata : "Sesungguhnya lelaki itu datang berpamitan kepada Bisyer bin Al Harits, ia berkata : "Tekadku telah bulat untuk haji, apakah engkau perintahkan aku dengan sesuatu?". Bisyer berkata kepadanya : "Berapa uang belanja yang telah engkau sediakan?". Ia berkata : "Dua ribu dirham (sekitar Rp.147.000.000 / seratu empat puluh tujuh juta rupiah)". Bisyer berkata : "Lalu apa yang engkau cari dengan hajimu, belajar zuhud, rindu baitullah atau mencari ridho Allah?", Ia berkata : "Mencari ridho Allah". Bisyer berkata : "Apabila kamu mendapatkan ridho Allah ta'ala sedang kamu tetap di rumahmu dan membelanjakan dua ribu dirham dan kamu yakin mendapat ridho Allah, apakah kamu mau mengerjakan hal itu?", "Ya", jawab lelaki itu.


قال : إذهب فأعطها عشرة أنفس؛ مديون يقضي دينه وفقير يرم شعثه ومعيل يغني عياله ومربي يتيم يفرحه؛ وإن قوي قلبك تعطيها واحدا فافعل، فإن إدجال السرور على قلب المسلم وإغاثة اللهفان وكشف الضر وإعانة الضعيف أفضل من مائة حجة بعد حجة الإسلام، قم فأخرجها كما أمرناك وإلا فقل لنا ما في قلبك
Bisyer berkata : "Pergilah, maka berikan uang itu kepada sepuluh orang; yang punya hutang bisa melunasi hutangnya, yang faqir bisa memperbaiki kesemrawutannya, yang banyak keluarga bisa mencukupi keluarganya, dan pengasuh anak yatim bisa membahagiakan yatimnya. Apabila hatimu kuat memberikan kepada seorang saja, maka lakukanlah. Karena memasukkan kebahagiaan pada hati orang muslim, menolong orang yang sangat kesusahan, menghilangkan beban bahaha dan membantu orang yang lemah, itu lebih utama dari seratus haji setelah haji (yang diwajibkan) Islam. Bangkitlah, maka keluarkan uang itu sebagaimana aku telah menyuruhmu. Kalau tidak, maka katakan kepada kami apa yang ada di hatimu".


  فقال : يا أبا نصر، سفري أقوى في قلبي. فتبسم بشر رحمه اللَّه وأقبل عليه وقال له : المال إذا جمع من وسخ التجارات والشبهات اقتضت النفس أن تقضي به وطرا فأظهرت الأعمال الصالحات وقد آلى الله على نفسه أن لا يقبل إلا عمل المتقين
Lalu lelaki itu berkata : "Ya Abu Nashor, perjalanan hajiku lebih kuat di hatiku". Maka Bisyer RH tersenyum, ia menghadap kepadanya seraya berkata : "Harta itu ketika telah dikumpulkan dari kotoran jual beli dan syubhat, maka nafsu selalu menuntut supaya kamu memenuhi hajat dengan harta itu. Lalu kamu menampakkan amal-amal shalih, sedang Allah benar-benar telah bersumpah atas diriNya untuk tidak menerima selain amalnya orang-orang bertaqwa".
(Alghozali, Ihyaau `Uluumiddiin, jilid 4, juz 11, hal. 78,129,130, cet. 1, 1395 H / 1975 M, cetakan ulang dari cetakan Lajnah Nasyr Atstsaqofah Al Islaamiyyah, 1356 H).


Cukup sampai di sini saja. Silakan kalian simpulkan sendiri-sendiri. Karena dalam masalah ini saya tidak sanggup menghukumi kondisi kalian. Mintalah fatwa ke hati kalian masing-masing. Karena Rasulullah SAW telah bersabda :


يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ
“Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).


Wallahu A'lam bish shawab
Semoga bermanfaat. Aamiin


Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.