Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Hubbul wathan (cinta tanah air) itu bukan wathaniyyah (nasionalisme).
Fakta hubbul wathan itu bersifat pribadi-pribadi karena termasuk indikasi naluri bertahan (gharizatul baqaa') dimana setiap insan memilikinya, seperti cinta kepada rumah, kendaraan dan milik kita yang lainnya, termasuk cinta kepada diri kita sendiri, dan setiap insan juga punya wathan (tanah air) sendiri-sendiri yang dicintainya.
Sedang fakta wathaniyyah itu bersifat bersama dan persatuan diantara banyak suku dan golongan, bahkan diantara banyak penghuni pulau-pulau. Wathaniyyah itu terkait erat dengan kondisi berbangsa dan bernegara, bukan dalam kondisi ber-agama, karena tanpa wathaniyyah pun ber-agama lebih mudah dan ukhuwwah dieniyyah diantara ummat Islam di seluruh dunia lebih kokoh. Maka hakekat wathaniyyah adalah berdirinya puluhan negara nasional yang memiliki penguasa, sistem serta kepentingannya sendiri-sendiri.
Perlu di pahami, bahwa wathan adalah tempat kita dilahirkan, dan kampung halaman tujuan kita ketika mudik, seperti Mekah sebagai wathan Rasulullah SAW yang dicintainya. Adapun wathaniyyah adalah negara nasional kita yang di dalamnya terdapat puluhan, ratusan sampai ribuan wathan, maka cinta Rasulullah SAW kepada Madinah itu bukan hubbul wathan dan bukan pula wathaniyyah, tetapi hubbu daaril hijrah wal ahlihi (cinta negara tempat hijrah / negara Islam dan keluarganya), karena saat itu kaum muslimiin hanya memiliki satu negara. Sedang wathaniyyah itu ketika kaum Muslim telah memiliki banyak negara yang memiliki penguasa dan sistem sendiri-sendiri. Karena itu, negara mereka disebut sebagai negara nasional, dan sikap berlebihan membela negara nasionalnya, tidak negara nasional yang lainnya, maka itulah wathaniyyah.
Kembali ke hubbul wathan
Hubbul wathan itu terbagi dua; hubbul wathan minal iman dan hubbul wathan minal kufri.
Pembagian ini berangkat dari bagaimana cara kita menyikapi hubbul wathan atau bagaimana cara kita berbuat untuk hubbul wathan. Pembagian ini juga berdasar rasio kebalikan yang berlaku sebagai hukum alam atau sebagai qadha dan qadar-Nya, ada iman ada kufur, juga ada minal iman ada minal kufri, dan seterusnya.
Pertama, hubbul wathan minal iman, yakni cinta tanah air yang termasuk bagian dari iman.
Yaitu sikap serta perbuatan kita karenanya harus meneladani sikap serta perbuatan Rasulullah SAW ketika beliau mencintai Mekah sebagai wathannya. Setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, beliau mulai berdakwah dan berjuang di wathannya, Mekah. Beliau tidak menjumpai kekufuran, kesyirikan, kezaliman atau kefasikan di sana, kecuali beliau membencinya karena Allah, serta berdakwah dan bejuang untuk menggantikannya dengan keimanan, keikhlasan, keadilan dan kesalehan dengan tanpa paksaan dan tanpa kekerasan.
Begitu pula cinta kita kepada tanah air harus dibuktikan dengan benci kita kepada segala hal dan segala sesuatu yang merusak dan merugikan tanah air, benci karena Allah. Yaitu dengan berdakwah dan berjuang untuk mengusir dan melenyapkan penjajahan, kekufuran, kesyirikan, kezaliman, kefasikan dari tanah air, juga dengan tanpa paksaan dan tanpa kekerasan. Kemudian dengan menerapkan sistem Islam yang rahmatan lil'alamin, sistem yang menebar keadilan, sistem yang datang dari Allah Robbul 'aalamiin, sistem nubuwwah atas tanah air, seperti Mekah pasca futuhat, atau sistem khilafah rasyidah seperti pasca wafatnya beliau Nabi saw.
Kedua, hubbul wathan minal kufri, yakni cinta tanah air yang termasuk bagian dari kufur.
Yaitu sikap serta perbuatan kita yang seperti sikap serta perbuatan Abu Jahal, Abu Lahab dll. dari para penentang dan penghalang dakwah dan perjuangan Rasulullah SAW., baik di Mekah maupun di Madinah. Abu Jahal, Abu Lahab dll. tidak bisa dikatakan bahwa mereka tidak mencintai Mekah sebagai wathannya hanya karena sikap dan perbuatannya yang menentang dakwah. Sesungguhnya dua kelompok yang saling bersaing, berhadapan dan berebut pengaruh, yakni kelompok pengemban dakwah dan kelompok penghalang dakwah, semuanya itu sama-sama cinta tanah air. Sedang yang membedakan antara keduanya hanyalah sikap serta perbuatannya demi cinta tanah air.
Begitu pula mereka yang mengklaim paling cinta tanah air, bahkan yang punya lagu HUBBUL WATHAN MINAL IMAN. Sikap serta perbuatannya justru membiarkan bahkan mendukung penjajahan, kekufuran, kesyirikan, kezaliman, kefasikan dan kerusakan atas tanah air. Mereka menolak dan menghalangi dakwah Islam Kaffah, yakni dakwah kepada syariah dan khilafah, sistem Khilafah Rasyidah yang datang dari Allah SWT. Klaim hubbul wathan minal iman mereka telah batal dengan sendirinya, yakni dengan sikap serta perbuatan mereka yang justru meneladani kelompok Abu Jahal dan Abu Lahab ...
Wallahu a'lam bishshawwab
Bukan cinta tanah air jika keberadaannya hanya merusak dan membuat rakyat sengsara
BalasHapus