Oleh : Abulwafa Romli
Nasehat bagi aktivis dakwah penegakkan khilafah yang meninggalkan jama'ah dakwah karena bosan dan meremehkan aktivitas dakwah :
Aktivitas dakwah menegakkan khilafah itu tidak seperti aktivitas shalat, tapi berdakwah tidak boleh meninggalkan shalat bagi yang wajib shalat.
Aktivitas dakwah itu tidak seperti aktivitas zakat, tapi berdakwah tidak boleh meninggalkan zakat bagi yang wajib zakat.
Aktivitas dakwah itu tidak seperti aktivitas shaum, tapi berdakwah tidak boleh meninggalkan shaum bagi yang wajib shaum.
Aktivitas dakwah itu tidak seperti aktivitas haji, tapi berdakwah tidak boleh meninggalkan haji bagi yang wajib haji.
Aktivitas dakwah itu tidak seperti aktivitas thalabul ilmi, tapi berdakwah tidak boleh meninggalkan thalabul ilmi, karena wajibnya thalabul ilmi itu minal mahdi ilal lahdi (sejak di ayunan sampai masuk di kuburan). Bahkan dalam dakwah ada kewajiban menuntut ilmu dakwah, karena dakwah itu ibadah, sedang ibadah itu wajib dengan ilmu.
Dakwah itu memenuhi tiga interaksi; 1) dengan Allah seperti yakin dan ikhlas, karena dakwah itu kewajiban dari-Nya, 2) dengan dirinya sendiri, karena pengemban dakwah itu harus berakhlak dan beradab, dan 3) dengan sesama Bani Adam, karena dakwah itu mengajak dan amar makruf nahi mungkar kepada orang lain.
Jangan meremehkan aktifitas dakwah. Dakwah itu aktifitas utama. Dakwah itu aktifitas para nabi dan para rasul. Dakwah itu aktifitas para sahabat, para tabi'in dan tabi'it tabi'in. Dakwah itu aktifitas para ulama dan orang-orang shalih.
Aktifitas dakwah itu untuk mewujudkan imam yang adil dimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ يقول ﷺ: سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله: إمام عادل، وشاب نشأ في عبادة الله، ورجل قلبه معلق بالمساجد، ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال فقال: إني أخاف الله، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجل ذكر الله خاليًا ففاضت عينه
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Ada tujuh golongan yang akan Allah lindungi pada hari kiamat, di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya ; (1) Imam yang adil, (2)) seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, (4) dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, (5) seorang laki-laki yang diajak mesum oleh perempuan karir dan cantik lalu ia berkata, "Sungguh aku takut kepada Allah", (6) seorang laki-laki yang bersedekah lalu menyamarkannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diifakkan tangan kanannya, dan (7) seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dalam keheningan lalu berlinang air mata". (HR Bukhari dan Muslim)
Pada hadits di atas, betapa tingginya derajat imam yang adil. Yaitu imam yang menerapkan hukum-hukum Allah atau syariat Islam secara kaffah dalam pemerintahannya dan adil dalam memimpin rakyatnya. Karena tidak ada keadilan, selain keadilan Islam. Dan tidak ada keadilan Islam tanpa menerapkan hukum-hukum Allah serta adil terhadap rakyatnya.
Perlu diketahui, bahwa keadilan imam itu tidak akan terwujud tanpa terlebih dahulu berdiri tegaknya sistem pemerintah Islam Khilafah. Karena imam yang adil itu hanya ada dalam sistem khilafah dan ia hanyalah khalifah. Bukan raja, perdana menteri atau presiden. Karena mereka tidak akan bisa menerapkan hukum-hukum Allah terkait negara atau syariat Islam secara kaffah. Karena itu, imam yang adil adalah sistemik komunal, bukan spiritual individual. Artinya, semua orang yang terlibat dalam proses keadilan imam itu akan mendapat perlindungan dari Allah pada hari kiamat dan berkumpul bersama imam. Mulai dari orang-orang yang berdakwah serta berjuang demi tegaknya khilafah ketika khilafah belum ada; orang-orang yang menjadi pendamping imam dari penasehat dan pembantu imam, sampai para penguasa di bawahnya dari para wali dan para amil, ketika khilafah telah tegak kembali. Mereka semua pada hari kiamat akan mendapat perlindungan dari Allah. Mereka berteduh di bawah payung perlindungan Allah di waktu semua manusia selain enam golongan di bawah imam sama tersiksa dalam banjir keringat dan panas menyengat melebihi sangat panasnya Arab Saudi.
Jadi jangan mau turun derajat dengan meninggalkan dakwah hanya karena meremehkan aktifitasnya yang tidak sama dengan aktifitas ibadah-ibadah lainnya seperti diatas.
Karena kalau dengan aktivitas dakwah saja meremehkan, maka bagaimana dengan aktivitas ibadah haji, kan cuma muter-muter, bulak balik jalan, lempar-lempar, lalu cukur rambut, tentu lebih meremehkan? Tetapi karena manasik haji itu perintah Allah, maka harus dilaksanakan. Begitu juga dengan aktivitas dakwah adalah perintah dari Allah yang harus dilaksanakan.
Thoriqoh dakwah itu harus meneladani dan mengikuti thoriqoh dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pada fase Mekkah, dimana Rasulullah telah membaginya menjadi tiga fase ; fase tatsqif / tsaqofah (pengkaderan), fase tafa'ul ma'al ummah (interaksi bersama umat), dan fase istilamul hukmi (meraih / menerima kekuasaan). Hal tersebut adalah perintah dari Allah yang wajib dilaksanakan. Sedang masalah uslub atau teknisnya boleh berbeda asalkan tidak menabrak rambu-rambu syari'ah.
Banyak orang yang terfokus pada aksi masiroh (unjuk rasa)nya lalu menyimpulkan bahwa dakwah HT ya hanya itu. Padahal masiroh itu hanya penampakan bahwa di tempat atau negara itu ada pengemban dakwah. Dakwah itu lebih aktif dan lebih massif daripada masirohnya. Lebih tepatnya masiroh itu seperti pucuk gunung es di lautan yang dalam. Meskipun masiroh juga bagian dari uslub dakwah, seperti pucuk gunung es bagian dari gunung es itu sendiri.
Semoga bermanfaat aamiin
#khilafahajaranIslam