Oleh: Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Negara yang beriman dan bertakwa adalah majaz dimana yang dimaksud adalah penduduk di dalam negara itu, seperti ungkapan sungai mengalir. Suatu negeri bisa menjadi negara ketika di dalamnya terdapat penguasa yang menerapkan hukum-hukum tertentu dan memiliki aparatur yang menjaga keamanan atas penerapan hukum-hukum itu.
Bumi Nusantara penyangga banyak negeri yang berhimpun dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah berlalu selama 89 tahun dinyatakan sebagai negara merdeka. Tetapi hanya sebatas merdeka dari penjajahan militer saja. Bukan merdeka dari semua tujuan penjajahnya, yaitu menjajah untuk memperoleh; (1) kekayaan (Gold), (2) kejayaan (Glory), dan (3) menyebarkan agama (Gospel), dimanan SDA maupun SDM bumi Nusantara masih dalam dominasi dan hegemoni negara-negara penjajah yang serakah. Jadi hanya baru merdeka dari penjajahan militer, kemerdekaan semu yang menipu, hanya itu yang bisa diraih rakyat Nusantara sampai saat ini.
•Cara Supaya Bumi Nusantara Bisa Meraih Kemerdekaan Hakiki
Pertama ; kenali problemnya dulu, yaitu kerusakan oleh tangan-tangan manusia penjajah, baik asing maupun aseng. Allah subhanahu wata'ala berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar-Ruum ayat 41)
Ketika kita membuka-buka tafsir para ulama mufassirin dalam kitab-kitab tafsir mereka, maka kita menemukan bahwa kerusakan dalam surah Ar Rum ayat 41 diistilahkan dengan segala bentuk pelanggaran atas syariat Islam atau hukum-hukum Allah subhanahu wata'ala.
Maksudnya adalah perusakan yang dilakukan oleh manusia yang bisa berupa pencemaran alam yang mengakibatkan bumi tidak layak huni atau bahkan penghancuran alam sehingga tak lagi bisa dimanfaatkan atau mendatangkan manfaat lebih banyak, juga hancurnya flora dan fauna di daratan dan rusaknya biota di lautan adalah contoh dari banyaknya perusakan alam.
Tindakan kriminal seperti mabuk-mabukan, perzinahan, pencurian, perampokan harta pribadi sampai perampokan sumber daya alam milik umum yang melimpah, pembunuhan, pemurtadan, pemberontakan dan sebagainya juga termasuk kerusakan.
Bagi kita yang pernah ngaji kitab-kitab fiqih Islam Kaffah seperti Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahab dan seterusnya, maka semua kerusakan beserta sanksi hukumannya bisa dibaca ulang dalam bab jinayat, qishosh, hudud, jihad dan bughot.
Kedua ; kenali solusinya. Yaitu solusi dari Pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan. Karena problemnya adalah kerusakan alam di darat dan di laut oleh ulah manusia, sehingga menghambat turunnya barokah dari langit dan keluarnya barokah dari bumi. Meskipun faktanya barokah telah turun dari langit dan keluar dari bumi, tetapi tidak barokah bagi yakyat bumi Nusantara karena dijarah dan dirampok secara sistemik oleh bangsa penjajah asing dan aseng dengan bantuan antek-anteknya dari manusia Nusantara sendiri.
Inilah ayat solusinya, Pemilik alam semesta, manusia dan kehidupan, Allah subhanahu wata'ala berfirman :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (QS Al-A'raaf ayat 96).
Jadi solusinya adalah iman dan taqwa yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah semampu dan sesanggup manusia, serta menjauhi larangan-larangan Allah seluruhnya dan tanpa kecualian, kecuali dalam kondisi lupa dan terpaksa.
Bahkan kalau satu syariah saja seperti had ditegakkan, maka lebih baik dari pada hujan empat puluh kali di waktu pagi. Dalam riwayat Imam Abu Daud, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَحَدٌّ يُقَامُ فِي الْأَرْضِ أَحَبُّ إِلَى أَهْلِهَا مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
"Sungguh suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi itu lebih disukai oleh penduduk bumi, daripada mereka mendapat hujan empat puluh pagi".
Maksudnya, InsyaaAllah, empat puluh kali dalam setahun atau dalam jenjang waktu yang dibutuhkan, bukan empat puluh hari berturut-turut yang menyebabkan banjir bandang dan kerusakan besar.
Dikatakan demikian, menurut Ibnu Katsir, karena apabila hukuman had ditegakkan, maka semua manusia atau mayoritas dari mereka bisa menahan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang diharamkan. Sehingga meninggalkan maksiat itu menjadi penyebab turunnya berkah dari langit dan bumi.
•Sebagai tambahan, saya suguhkan tafsir ayat solusi menurut Mufassir kontemporer ;
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". (QS Al-A'raf ayat 96).
Imam Ibnu Katsir rohimahulloh ta'ala dalam Tafsirnya berkata :
وقوله تعالى : ( ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا ) أي : آمنت قلوبهم بما جاءتهم به الرسل ، وصدقت به واتبعته ، واتقوا بفعل الطاعات وترك المحرمات ، ( لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ) أي : قطر السماء ونبات الأرض . قال تعالى : ( ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون ) أي : ولكن كذبوا رسلهم ، فعاقبناهم بالهلاك على ما كسبوا من المآثم والمحارم
"Firman Allah ; Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman (yakni hati mereka beriman, membenarkan dan mengikuti dengan semua yang dibawa dan disampaikan oleh para rasul) dan bertakwa (dengan mengerjakan berbagai ketaatan dan menjauhi berbagai keharaman), pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (yakni hujan dari langit dan tumbuhan dari bumi), tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (yakni mereka mendustakan para rasul, maka Kami siksa dengan kehancuran, karena mereka telah melakukan dosa-dosa dan keharaman-keharaman itu).
Sayyid Quthub rahimahullah ta'ala terkait tafsir ayat diatas berkata:
والبركات التي يعد الله بها الذين يؤمنون ويتقون ، في توكيد ويقين ، ألوان شتى لا يفصلها النص ولا يحددها . وإيحاء النص القرآني يصور الفيض الهابط من كل مكان ، النابع من كل مكان ، بلا تحديد ولا تفصيل ولا بيان . فهي البركات بكل أنواعها وألوانها ، وبكل صورها وأشكالها ، ما يعهده الناس وما يتخيلونه ، وما لم يتهيأ لهم في واقع ولا خيال
"Barokah yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa, yang benar-benar meyakinkan, adalah beraneka macam dan ragam dimana tidak diperinci dan tidak ditentukan oleh redaksi ayat. Sedang penunjukkan redaksi Al-Qur'an hanya memberi gambaran kelimpahan barokah yang turun di setiap tempat, yang menyumber dari setiap tempat, tanpa ketentuan, tanpa perincian dan tanpa penjelasan. Demikianlah barokah dengan semua jenisnya, dengan semua warnanya, dengan semua rupa dan bentuknya, yang diketahui manusia dan yang dikhayalkanya, dan yang belum ada realita dan khayalannya bagi manusia.
إن البركات الحاصلة مع الإيمان والتقوى ، بركات في الأشياء ، وبركات في النفوس ، وبركات في المشاعر ، وبركات في طيبات الحياة . . بركات تنمي الحياة وترفعها في آن . وليست مجرد وفرة مع الشقوة والتردي والانحلال
Sesungguhnya barokah yang hasil bersama iman dan taqwa adalah barokah pada segala sesuatu, barokah pada jiwa-jiwa, barokah pada perasaan-perasaan, barokah pada kebaikan-kebaikan kehidupan..., barokah yang mengembangkan dan meninggikan tarap kehidupan pada suatu masa, dan barokah yang bukan hanya kemakmuran disertai kecelakaan, kehancuran dan kemerosotan." (tafsir Fii Zhilalil Qur'an, surat Al-A'raf ayat 96).
•Khilafah adalah Negara yang Beriman dan Bertakwa.
Karena yang sedang dibicarakan adalah negara, maka solusi berupa iman dan taqwa juga harus terkait negara. Yaitu menerapkan serta mempraktikkan syariat Islam (hukum-hukum Allah) terkait negara. Yaitu syariat Islam yang tersusun dan menyatu menjadi sistem-sistem; pemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi hukuman, plus politik dalam dan luar negeri. Sedang syari'at Islam berupa sistem-sistem tersebut faktanya tidak bisa diterapkan (tathbiq) dan dilaksanakan (tanfizh), kecuali oleh negara yang bagian dari sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah. Dan ketika Khilafah sudah ditegakkan, maka secara otomatis, segala bentuk penjajahan akan hengkang dan hilang dari bumi Nusantara. Karena penjajah serta semua tujuan penjajahan berupa Gold, Glory dan Gospel, semuanya akan berhadapan dengan lawannya yang lebih kuat, yaitu; dakwah dan jihad (futuhat), penerapan sistem ekonomi Islam dan had atas orang murtad.
Walhashil, ketika penduduk negeri-negeri bumi Nusantara mendambakan kemerdekaan hakiki, sehingga Allah membukakan barokah-Nya dari langit dan bumi, lalu barokah itu benar-benar membawa maslahat dan manfaat optimal dan maksimal, maka harus segera berjuang dan berdakwah untuk menegakkan negara khilafah ala Minhajin Nubuwwah. Inilah solusi yang tidak ada solusi lain diatasnya. Inilah jalan kebangkitan yang tidak ada jalan lain disebelahnya. Inilah jalan para nabi dan rasul, para sahabat dan tabi'in, dan jalan orang-orang yang beriman dan bertakwa, beriman dan beramal shalih sepanjang zaman.
Wallahu A'lam bish Showwab
Semoga bermanfaat aamiin
#Khilafah #KhilafahAjaranIslam #IstiqomahdiJalanDakwah #JanganPalsukanKhilafah