JANGAN SEPERTI BINATANG TERNAK

Oleh : Abulwafa Romli 

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim 
Meskipun sangat menyengat, tulisan ini hanya sebagai ibroh/pelajaran, bukan untuk menuduh buruk dan sesat sesama muslim, maka ambilah ibrohnya saja.

Mereka yang puasa Tarwiyah hari Sabtu padahal jama'ah haji bertarwiyah di hari Jum'at, puasa Arofah di hari Ahad padahal jama'ah haji wuquf di Arofah di hari Sabtu, dan ber-idul Adhha di hari Senin padahal jama'ah haji ber-adhha di hari Ahad, mereka kurang bersyukur atas perkembangan sarana informasi yang begitu pesat dan nyata, dimana berita-berita berbagai peristiwa dari belahan dunia manapun bisa sampai, terlihat dan terdengar dalam hitungan detik saja. Tapi mereka sengaja menutup hatinya tidak mau memahaminya, menutup matanya tidak mau melihatnya dan menutup telinganya tidak mau mendengarnya, ya mereka melakukan hal-hal itu dengan sengaja.

Karakter mereka seperti karakter penghuni neraka Jahannam dari golongan jin dan manusia. Mereka tidak mau menggunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah terkait fenomena manasik haji melalui sarana informasi yang tersedia, tidak menggunakan matanya untuk melihat-lihatnya, dan tidak menggunakan telinganya untuk mendengarkannya dengan seksama, lalu darimana mereka bisa memahaminya?

Ambil ibrohnya saja, sungguh sangat dahsyat dan menyengat melalui firman Allah SWT ini :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan sungguh Kami benar-benar telah jadikan untuk neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Al-A'raf ayat 179)

Padahal mereka seharusnya menggunakan hati, mata dan telinganya itu untuk memahami, melihat dan mendengar ayat-ayat Allah terkait fenomena manasik haji melalui sarana informasi yang tersedia, kapan waktu dan kapan harinya, sesuai Sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam yang telah memandatkan kepada amir/wali/penguasa Mekkah untuk menetapkannya.

Dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata :

أنَّ أَمِيْرَ مَكَّةَ خَطَبَ ، ثُمَّ قَالَ : عَهِدَ إلَيْنَا رَسُوْلُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤيَةَ ، فَإِنْ لَمْ نَرَهُ ، وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا

"Amir (penguasa) Mekah berkhutbah kemudian dia berkata, "Rasulullah SAW telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikannya, maka kita akan menjalankan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya." (HR. Abu Dawud, hadis no 2340. Imam ad-Daraquthni berkata, "Hadis ini isnadnya muttashil dan shahih." Lihat _Sunan Ad Daraquthni,_ 2/267. Syeikh Nashiruddin Al-Albani dalam _Shahih Sunan Abu Dawud_ (2/54) berkata, "Hadis ini shahih").

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan hari-hari manasik haji, seperti hari Tarwiyah, hari Arafah dan hari Idul Adha, adalah wali Mekah (penguasa Mekah), bukan yang lain. Jika Wali Mekkah tidak berhasil merukyat hilal, barulah kemudian Wali Mekah mengamalkan rukyat dari negeri-negeri Islam di luar Mekah, misalnya dari Indonesia, Mesir, Maroko, dan sebagainya.

Seharusnya mereka menggunakan hati (aqal), mata (penglihatan) dan telinganya (pendengarannya) untuk mengamati fenomena terkait manasik haji sesuai perintah Allah SWT berfirman :

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

"Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada". (QS Al-Hajj ayat 46).

Berjalan di bumi, sekarang cukup pakai henpon saja sudah bisa mengamati fenomena manasik haji dari Mekkah. Kapan jama'ah haji melakukan Tarwiyah sehingga Kita bisa puasa tarwiyah, kapan mereka wukuf di Arafah sehingga Kita bisa puasa Arafah, dan kapan mereka ber-udhhiyah sehingga kitab berhari raya idul Adhha dan nyembelih hewan udhhiyah. 

Apa hubungannya ayat di atas dengan yang saya bicarakan? Seandainya ayat tersebut bukan bagian dari mukjizat Al-Qur'an, maka bisa termasuk cocoklogi bahkan dianggap klenik, tetapi tidak ada yang ketepan pada ayat-ayat Al-Qur'an tanpa perhitungan dan tanpa hikmah, dimana semuanya dan dimensi ilmunya adalah bagian dari kemukjizatan Al-Qur'an. Dan diatas adalah surat Alhajj (haji) dan ayat 46, terdiri dari angka 4+6 = 10 Dzulhijjah, hari raya idul Adhha. 

Betul bahwa ayat di atas itu umum terkait pengamatan akan segala hal apa saja yang ada diatas dunia, tetapi dari sisi nama ayat dan nomor ayatnya menjadi khusus yaitu terkait ibadah haji dan tanggal 10. Dari sisi tasyrii' bisa saja pembicaraan saya ini dinilai menyimpang, tetapi tidak dari sisi ilmu hikmahnya, karena sekali lagi tidak ada yang ketepatan pada penetapan nama surat Al-Qur'an dan ayat-ayatnya. Apalagi ketika dibicarakan secara hikmah ada berapa kata dan ada berapa huruf pada ayat tersebut, sungguh bukan tempatnya di bicarakan di depan orang umum apalagi di hadapan penganut rasionalisme.

Intinya, kebenaran yang asli, dilihat dari sudut manapun pasti terlihat asli. Sedang kebenaran semu apalagi palsu, maka dari setiap sudutnya terlihat mepalsuannya. Jadi puasa Tarwiyah, puasa Arofah dan ber-idul Adhha atau ber-udhhiyah mengikuti manasik jama'ah haji di Mekkah adalah kebenaran asli, sedang selainnya adalah kebenaran semu atau palsu. Buktinya adalah klaim perbedaan mathla' yang palsu, karena sesungguhnya hanyalah perbedaan negara nasional yang menggabungkan antara puluhan mathla' yang saling berbeda.

Wallahu A'lam bish Showwab 
Semoga bermanfaat aamiin 

#Khilafah 
#KhilafahAjaranIslam
#IstiqomahdiJalanDakwah
#JanganPalsukanKhilafah dengan ISIS, Khilmus, kerajaan dan demokrasi, apalagi komunis!
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.