Oleh : Abulwafa Romli
Teman sekulerku berkata : "Hati-hati ustadz jangan sampai disesatkan oleh Hizbut Tahrir".
Saya jawab begini :
"Sesat itu kalau keluar dari Islam. Maka dengan nolak khilafah sistem pemerintahan Islam dan mendukung demokrasi sistem pemerintahan kufur, seorang bisa dibilang tersesat dari jalan yang lurus".
Temanku berkata begini :
"Keluar dari islam itu bukanya di sebut MURTAD Tadz?
Ohh iya ente makan dan minum di negara demokrasi yang ente kafirkan ini udah berapa tahun?"
Lalu saya jawab agak panjang begini:
"Terkait keluar dari Islam, betul itu namanya murtad. Mengingkari dan menolak khilafah yang salah satu dalilnya adalah Ijmak sahabat juga murtad. Membela dan mendukung penerapan sistem kufur demokrasi juga murtad.
Tapi ingat, saya tidak menunjuk batang hidung orang-orang yang murtad, hanya normatif saja.
Kalau saya makan dan minum di negara demokrasi itu salah besar mas. Saya makan dan minum rezeki dari Alloh dan di atas bumi Alloh. Sebagaimana saya punya tanah dan punya rumah. Secara majazi itu tanah dan rumah saya. Lalu ada orang jahat menguasai tanah dan rumah saya. Bukan hanya itu, tapi orang jahat itu membuat aturan yang diterapkan diatas tanah dan didalam rumah saya. Sehingga saya makan dan minum dan beraktifitas dipaksa mengikuti aturan orang jahat itu. Tapi saya terus berjuang agar tanah dan bumi itu diatur dengan hukum Alloh Pemilik tanah dan rumah itu secara haqiqi.
Seperti itulah Indonesia secara hakiki milik Alloh dan secara majazi milik rakyat terutama umat Islam. Penjajah telah menerapkan sistem kufur demokrasi di atas tanah dan rumah Indonesia agar tetap terjajah. Rakyat Indonesia harus berjuang mengusir penjajah serta mencampakkan demokrasi warisan penjajah. Dan berjuang menerapkan sistem khilafah warisan Rasulullah saw untuk mengatur Indonesia. Sehingga makan, minum dan aktifitas rakyat Indonesia benar-benar bebas dan tanpa terikat oleh aturan penjajah. Dan Indonesia tanpa demokrasi dan dengan khilafah pasti bertabur berkah yang melimpah, serta rahmat dan ridho dari Alloh Tuhan Yang Maha Esa Pemilik tumpah darah Indonesia. Sehingga sah dikatakan bahwa Indonesia adalah BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUUR.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa makan dan minum lebih nikmat dan lebih halal.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa berpenghasilan lebih banyak dan lebih berkah.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa bebas dari segala jenis pajak yang tumpang tindih, menjerat dan mencekik.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa naik haji dan umroh tanpa visa dan tanpa paspor dan tentu biaya lebih murah.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa mengembangkan uang tanpa riba yang dosa paling ringannya setara dengan menyetubuhi ibunya sendiri.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa berhias mentereng dan mencorong dan kaya akan emas Intan berlian dari perut buminya sendiri.
Rakyat Indonesia yang ASN pun tanpa demokrasi bisa dimudahkan nikah poligami karena gajinya dengan menghitung berapa istri dan anak-cucunya.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa sekolah gratis bahkan mendapat uang tunjangan pendidikan.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa hidup aman tentram loh jinawi, karena copet jambret maling rampok penyamun sampai koruptor takut beraksi karena takut sangsi yang berat dari kehilangan tangan kaki sampai kepalanya.
Rakyat Indonesia tanpa demokrasi bisa ber-Islam kaffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya. Sehingga rahmat dan ridho Alloh selalu menaungi dan menyertainya.
Tanpa demokrasi itu juga artinya tanpa komunis, serta menerapkan sistem pemerintahan Islam KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWWAH..."
Temanku masih terus ngomel-ngomel gak karuan. Saya tidak tahu, dari rangkaian omelannya, kemungkinan ia tergoncang. Semoga ia mendapat petunjuk serta menerimanya dengan secerdas akalnya dan seikhlas hatinya. AAMIIN
Semoga bermanfaat aamiin