Oleh : Abulwafa Romli
Kalau mereka jujur bahwa pemimpin negara kita ini disebut sebagai waliyul amri dharuriy :
ولي الأمر الضروري بالشوكة
"Pemimpin yang diangkat karena keadaan Darurat dengan kekuatan",
maka kenapa harus difinalkan? Wong jelas-jelas darurat kok dianggap final dan dipertahankan?!
Itu kan sama dengan bolehnya memakan bangkai dalam kondisi darurat?, wajib berusaha keluar dari kondisi itu, dari makan bangkai, tidak malah bertahan dan mempertahankannya mati-matian, serta menolak untuk berusaha makan selain bangkai dari yang jelas kehalalannya. Apalagi menolak dan menghalangi orang-orang yang berjuang untuk tidak makan bangkai pindah ke makan sate, gule, rawon sebagai lauk nasi punel/pulen. Jadilah hewan pemakan bangkai!
Para ulama dulu sangat bijak menyebut Sukarno sebagai waliyyul amri dhoruriy bisy syaukah dimana insyaallah tujuannya agar generasi berikutnya bisa merubahnya dengan sistem pemerintahan Islam agar negara ini menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofur. Karena yang namanya darurat itu harus bersifat sementara, ya sementara kondisi darurat saja, tidak permanen.
Maka para pejuang syariah dan khilafah adalah orang-orang yang waras, akal cerdas dan hati ikhlas. Mereka pasti jijik dan benci dengan yang namanya bangkai. Mereka terus berjuang untuk bisa keluar dari kondisi darurat agar bisa berubah kepada kondisi normal, yaitu agar negara ini menerapkan sistem pemerintahan yang datang dari Allah Pemilik Tanah Air yang sesungguhnya. Yaitu sistem pemerintahan Islam khilafah ala Minhajin Nubuwwah.
Mari bersholawat Asyghil :
اللَّÙ‡ُÙ…َّ صَÙ„ِّ عَلىَ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØَÙ…َّدٍ، ÙˆَØ£َØ´ْغِÙ„ِ الظَّالِÙ…ِينَ بِالظَّالِÙ…ِينَ، ÙˆَØ£َØ®ْرِجْÙ†َا Ù…ِÙ†ْ بَÙŠْÙ†ِÙ‡ِÙ…ْ سَالِÙ…ِينَ ÙˆَعلَÙ‰ الِÙ‡ِ ÙˆَصَØْبِÙ‡ِ Ø£َجْÙ…َعِين