"Pengertian Jilbab oleh Imam Taqiyuddin Annabhani itu sudah benar dan jelas, tidak ada yang salah atau sesat"
Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Sang Mantan, Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin), Dosen Universitas Brawijaya Malang sudah kebalik hati dan akalnya :
===== M u a f a =====
KRITIK KONSEPSI JILBAB VERSI HIZBUT TAHRIR (4)
Oleh: Muafa
Taqiyyuddīn al-Nabhānī mengajarkan bahwa makna jilbāb (الجِلْبَابُ) dalam Al-Qur’an itu adalah mulā’ah (الْمُلَاءَةُ)/milḥafah (الْمِلْحَفَةُ). Yakni pakaian luar seperti jubah yang menutupi pakaian harian wanita. Pakaian itu harus menutupi kaki sampai taraf saat muslimah berjalan kakinya tidak kelihatan lagi. Taqiyyuddīn al-Nabhānī berkata,
وأما لباس المرأة في الحياة العامة أي لباسها في الطريق العام في الأسواق، فإن الشارع أوجب على المرأة أن يكون لها ثوب تلبسه فوق ثيابها حين تخرج للأسواق أو تسير في الطريق العام، فأوجب عليها أن تكون لها ملاءة أو ملحفة تلبسها فوق ثيابها وترخيها إلى أسفل حتى تغطي قدميها، (النظام الإجتماعي في الإسلام (ص: 44)
Artinya, “Adapun pakaian wanita dalam kehidupan publik, yakni pakaiannya di jalan umum di pasar-pasar, maka Pembuat Syariat telah mewajibkan wanita untuk memakai pakaian yang dipakai di luar pakaian (harian)nya pada saat keluar ke pasar atau berjalan di jalanan umum. Pembuat Syariat telah mewajibkannya untuk memakai mulā’ah atau milḥafah yang dia pakai di luar pakaian (harian)nya dan dia mengulurkannya (mulā’ah/milḥafah itu) ke bawah hingga menutupi kedua kakinya” (al-Niẓām al-Ijtimā’ī fī al-Islām hlm 44)
Dengan penafsiran jilbab seperti inilah Taqiyyuddīn al-Nabhānī memaknai jilbab dalam Al-Qur’an dalam ayat berikut ini,
﴿يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ﴾ [الأحزاب: 59]
Artinya, “Wahai Nabi (Muhammad), katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin supaya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu.” (Q.S. al-Aḥzāb: 59)
Taqiyyuddīn al-Nabhānī memaknainya begini: Allah memerintahkan muslimah memakai jilbab (yakni milḥafah/mulā’ah) jika keluar rumah, dan jilbab tersebut harus diulurkan sampai level menutupi kaki.
***
Sampai di sini ingin saya tegaskan: Seandainya Taqiyyuddīn al-Nabhānī mengatakan bahwa itu hanya pemahamannya yang mungkin salah, dan berpesan kepada pengikutnya jangan memaksakan pemahaman itu kepada kaum muslimin, mungkin kita masih punya alasan untuk menghormati pendapat itu.
Tetapi ketika faktanya di lapangan terbukti banyak Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dengan angkuh merasa pakaiannya paling benar sendiri, merasa satu-satunya yang melaksanakan Al-Qur’an, merasa paling syar’i dan menyalah-nyalahkan pakaian muslimah lain yang sudah menutup aurat, maka saya kira ini sudah menjadi alasan cukup untuk membongkar dan menghantam pemahaman picik seperti ini.
===== J e d a =====
SANGGAHAN saya :
1. Untuk membongkar fitnah Muafa cukup saya bandingkan dengan makna Jilbāb oleh Syaikh Aly Shobuny rohimahulloh dalam tafsirnya. Karena kalau dari pemahaman ulama Hizbut Tahrir, maka Muafa bisa ngelindur; "Mereka itu bukan ulama!". Ini perbandingannya:
Terkait makna Jilbāb, Syaikh Aly Shobuny menjelaskan :
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, "Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS Al-Ahzaab ayat 59).
يُدْنِينَ؛ أي : يسدلن ويرخين...
Yudniina, yakni yusdilna (menurunkan) dan yurkhiina (melepaskan)...
جَلَابِيبِهِنَّ: جمع جلباب: وهو الثوب الذي يستر جميع البدن، قال الذهاب: هو إزار يلتحف به، وقيل: هو الملحفة وكل ما يغطى سائر البدن.
Jalaabiib adalah jamak dari jilbaab; yaitu kain yang menutup semua badan. Adz-Dzahab berkata; "jilbab ialah kain penutup/sarung yang dibuat selimut". Dan dikatakan; "jilbab adalah selimut dan setiap perkara yang menutup seluruh badan".
وقال في لسان العرب: الجلباب ثوب أوسع من الخمار، دون الرداء، تغطي به المرأة رأسها وصدرها، وقيل: هو الملحفة، وقيل: جلباب المرأة: ملاءتها التي تشتمل بها، ...
Berkata dalam kamus Lisanul Arob: Jilbab adalah kain yang lebih luas dari khimar (kerudung), lebih kecil dari selendang, dimana dengannya perempuan menutup kepala dan dadanya. Dikatakan; jilbab adalah selimut. Dan dikatakan; jilbab perempuan adalah selimutnya yang ia berselimut dengannya...".
وفي الجلالين: الجلابيب جمع جلباب، وهي الملاءة تشتمل بها المرأة. قال ابن عباس: أمر نساء المؤمنين أن يغطين رؤوسهن ووجوههن بالجلابيب، إلا عينا واحدة؛ ليعلم أنهن حرائر.
Dan dalam tafsir al-Jalaalain dikatakan: Jalaabiib itu bentuk jamak dari mufrod jilbaab. Yaitu kain selimut dimana perempuan berselimut dengannya.
والخلاصة: فإن الجلباب هو الذي يستر جميع بدن المرأة، وهو يشبه الملاءة (الملحفة) المعروفة في زماننا، نسأل الله تعالى الستر والسلامة.
Intinya; Jilbab adalah kain yang menutup semua badan perempuan, seperti selimut yang dikenal di masa kita sekarang...
(Syaikh Aly Shobuny, Rowaai'ul Bayaan Tafsiir Aayaatil Ahkaam minal Quraan, 2/306-307).
Jilbab itu lebih dari kain penutup aurat, Syaikh Aly Shobuny menjelaskan:
اللطيفة الثانية: الأمر بالحجاب إنما جاء بعد أن استقر أمر الشريعة على وجوب ستر العورة، فلا بد الستر المأمور به هنا زائدا على ما يجب من ستر العورة ؛ ولهذا اتفقت عبارات المفسرين على اختلاف ألفاظها على أن المراد بالجلباب: الرداء الذي تستر به المرأة جميع بدنها فوق الثياب، وهو ما يسمى في زماننا بالملاءة، أي: الملحفة، وليس المراد ستر العورة كماظنّ بعض الناس.
"Lathifah kedua; perintah jilbab itu datang setelah setabilnya perintah syariah atas wajibnya menutup aurat. Sehingga perintah menutup yang diperintah dalam jilbab di sini itu melebihi sesuatu yang wajib dari menutup aurat. Karena itu, telah sepakat ibarot-ibarot ulama mufassir, meskipun berbeda dari sisi lafadz-lafadznya, bahwa yang dikehendaki dengan jilbab ialah selendang besar yang dengannya perempuan menutup semua badannya, diluar pakaian dalamnya. Jilbab itu yang sekarang dinamakan dengan kain selimut. Dan yang dimaksud itu bukan kain penutup aurat, sebagaimana asumsi sebagai manusia".
(Lihat: tafsir al-Bahru al-Muhith, Zaadul Masiir, dan Hasyiyah al-Jamal 'ala al-Jalaalain ; Rowaai'ul Bayaan Tafsiir Aayaatil Ahkaam minal Quraan, 2/310).
Jadi dengan membandingkan dengan pernyataan para ulama diatas, tidak ada yang salah dari pernyataan Imam Taqiyuddin Annabhani sebagaimana telah disinggung oleh Muafa. Karena inti jilbab itu kain penutup semua badan perempuan, termasuk kakinya, seperti selimut (mula'ah / milḥafah), diatas kain penutup aurat. Sedang terkait modelnya, itu masalah madaniyah yang boleh berubah dari masa kemasa, mau seperti apanya diserahkan kepada perancang busana muslimat.
Terus yang harus dibongkar oleh Muafa itu apanya? Ternyata dusta dan fitnah Muafa itu sendiri yang harus saya bongkar.
===== M u a f a =====
Di antara dalil yang menunjukkan kejanggalan pemahaman Taqiyyuddīn al-Nabhānī adalah ucapan Aisyah berikut ini,
فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي». «صحيح البخاري» (5/ 117 ط السلطانية)
Artinya, “maka
Akupun menutupi wajahku dengan jilbāb-ku”
Dalam riwayat di atas, Aisyah cukup lugas mengatakan bahwa beliau menutupi wajahnya dengan jilbab saat bertemu dengan lelaki ajnabi, yakni Safwān bin al-Mu’aṭṭal.
Pertanyaan besarnya:
Jika jilbab adalah milḥafah/mulā’ah yang dimaknai jubah sebagai pakaian bawah wanita yang menjadi pakaian luar sebagaimana ajaran Taqiyyuddīn al-Nabhānī, bagaimana caranya menutupi wajah dengannya?
Apa bagian bawah jubah ditarik ke atas untuk menutupi wajah hingga paha tersingkap begitu? Atau bagian kerahnya ditarik ke atas untuk menutupi wajah, begitu?Itu semua tidak mungkin.
Namanya pentutup wajah, yang paling logis adalah • Kain seperti cadar, atau • Kerudung yang dibuat lebar sehingga sebagian bisa untuk menutup wajah, atau • Pakaian tambahan di luar kerudung seperti Jang-Ot/Chang-Ot wanita korea.
Satu riwayat ini saja sudah cukup untuk menghancurkan ajaran Taqiyyuddīn al-Nabhānī yang berpendapat bahwa kata jilbāb dalam Al-Qur’an itu hanya bermakna mulā’ah/milḥafah yang dimaknai pakaian luar seperti jubah sebagaimana dipraktekkan wanita-wanita Hizbut Tahrir. Karena faktanya Aisyah menutupi wajah dengan jilbāb dan tidak mungkin dalam riwayat tersebut jilbāb dimaknai pakaian bawah wanita yang berbentuk seperti jubah.
(bersambung ke bagian-5)
اللهم أعذنا من مضلات الفتن
===== s e l e s a i =====
SANGGAHAN saya :
Ternyata otaknya Muafa sangat sempit dan kecil . Padahal hal seperti itu sangat mudah dipikir, dipahami dan dipraktikkan. Dengan hal yang mudah saja Muafa kebingungan. Begini ya Muafa, cara menutup wajah dengan jilbab itu sangat mudah;
1- jilbab yang berupa jubah seperti sekarang, sambil duduk dan menunduk bagian jilbab bisa ditarik keatas sampai bisa menutup wajah. Seperti halnya penganten perempuan yang malu-malu itu.
2- atau sambil duduk perempuan mengangkat kedua lengan tangannya ke wajah otomatis wajahnya tertutup dengan kain jilbab di lengannya.
3- untuk jilbab seperti jaman dahulu, yaitu seperti selimut, maka menutup wajah dengan jilbab tentu lebih mudah lagi.
4. Dahulu ulama juga menggabungkan antara kain penutup badan dan kepala dengan satu jilbab yang lebar / panjang.
Ini contohnya :
Empat cara berhijab (saya akan terjemahkan intinya saja):
Pertama :
أ-فأخرج ابن جرير الكبير عن ابن سرين أنه قال: سألت عبيدة السلامي عن هذه الآية يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ فرفع ملحفة كانت عليه فتقنع بها، وغطى رأسه كله حتى بلغ الحاجبين، وغطى وجهه وأخرج عينه اليسرى من شق وجهه الأيسر.
Ibnu Sirin mengangkat selimut lalu bercadar dengannya. Ia menutup semua kepalanya sampai pada dua alisnya. Ia menutup wajahnya dan mengeluarkan mata kirinya dari belahan wajah kirinya.
(Lihat: Tafsir ath-Thobariy, Tafsir al-Khozin, dan Hasyiyah alJamal 'alal Jalalain).
Kedua :
ب- وروى ابن جرير وأبو حيان عن ابن عباس رضي الله عنه أنه قال: تلوي الجلباب فوق الجبين، وتشده ثم تعطفه على الأنف، وإن ظهرت عيناها، ولكنه يستر الصدر ومعظم الوجه.
Ibnu Abbas berkata; perempuan itu membelitkan jilbab diatas kening dan mengikatnya. Lalu membelokkannya keatas hidung, meskipun kedua matanya nampak. Tetapi jilbab itu menutup dada dan mayoritas wajah.
(Al-Bahrul Muhiith, 7/250)
Ketiga :
ج- وروي عن السدي في كيفيته أنه قال: تغطي إحدى عينيها وجبهتها، والشقى الأخر إلا العين.
وقال أبو حيان: وكذا عادة بلاد الأندلس لا يظهر من المرأة إلا عينها الواحدة.
As-Sady berkata; perempuan itu menutup salah satu dari kedua matanya dan dahinya, dan sebelah wajah lainnya, kecuali satu mata.
Abu Hayan berkata; ini adalah tradisi negeri-negeri Sepanyol, tidak nampak dari perempuan, kecuali satu matanya.
(Al-Bahrul Muhiith, 7/250)
Keempat :
د- وأخرج عبد الرزاق وجماعة عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت: لما نزلت هذه الآية يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ، خرج نساء الأنصار كأن على رؤ سهن الغربان من أكسية سود يلبسنها.
Umu Salamah berkata; ketika ayat jilbab turun, maka wanita Anshor keluar, seakan diatas kepalanya ada banyak burung gagak, dari selendang-selendang hitam yang dipakainya.
(Ahkaamul Qur'an, al-Jashosh, 3/372).
(Syaikh Aly Shobuny, Rowaai'ul Bayaan Tafsiir Aayaatil Ahkaam minal Quraan, 2/312-313).
Pada empat cara berhijab diatas itu lebih memperhatikan badan perempuan bagian atas, dan bukan berarti bagian badan bawah perempuan terbuka. Atau bisa karena bagian bawah badan perempuan itu sudah biasa tertutup seiring dengan wajibnya menutup aurat. Intinya Jilbab jaman dulu itu bisa untuk menutup bagian kepala. Sedang Khimar (kain kudung) itu khusus untuk menutup kepala sampai dada perempuan saja. Penjelasan lengkap terkait khimar InsyaaAllah pada edisi membongkar fitnah sang mantan selanjutnya.
Jadi; sok tahu, dusta dan fitnah Muafa telah terbongkar semuanya. InsyaaAllah pengikutnya juga kena malunya. Maka tinggalkan sang mantan yang tidak tahu diri itu!
Wallahu A'lam bish showwab
Semoga bermanfaat aamiin
(Bersambung...)