"Muafa tidak paham dengan perkataan Imam Taqiyuddin tentang kuhujjahan khabar ahad dalam tabligh, bukan dalam aqidah".
Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Kali ini Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) Dosen Universitas Brawijaya Malang, sang mantan yang sok alim menunjukkan kejahilannya :
===== m u a f a =====
BANTAHAN SYUBHAT 7: DAKWAH MU’AZ BIN JABAL KE YAMAN ITU QAT’I BUKAN ZANNI
Oleh: Muafa
Di antara argumentasi menggelikan oknum Hizbut Tahrir adalah saat mengatakan bahwa dakwah Sahabat Nabi ﷺ yang bernama Mu’āż itu sudah bernilai qat’i, bukan zanni lagi.
Tujuan dari dalih ini adalah untuk memberi dasar kebenaran ajaran Hizbut Tahrir.
Yakni, karena dakwah Sahabat semua qat’i, maka umat yang didakwahinya sudah sah akidahnya dan tidak lagi haram karena berakidah berdasarkan riwayat ahad.
Alasannya, semua Sahabat itu adil dan dipuji Al-Qur’an. Jadi berita Mu’āż sudah dihitung qat‘i.
Komentar saya adalah sebagai berikut.
Ini contoh orang yang masih jahil ilmu hadis lalu ikut-ikutan berpendapat pada pikirannya sendiri.
Jadi jika belum bisa membedakan mana ahad mana mutawatir, apa maksud qat’i dan apa maksud zanni, lebih bermartabat jika minggir.
Agar tidak mempermalukan dirinya sendiri.
Mu’āẓ ke Yaman itu kasus khabar ahad.
Tidak perlu dibantah lagi hal sejelas ini.
Karena khabar ahad, menurut yang berpendapat zanni berarti berita Mu’aẓ juga dihukumi ẓanni.
Contoh ulama asli yang mengerti riwayat Mu’āẓ adalah imam al-Syāfi‘ī. Beliau menegaskan bahwa kassus Mu’āẓ itu memang kasus riwayat ahad. Al-Syāfi‘ī berkata,
ومن زعم أن الحجة لا تثبت بخبر المخبر الصادق عند من أخبره فما يقول في «معاذ إذ بعثه رسول الله إلى أهل اليمن واليا ومحاربا من خالفه ». «اختلاف الحديث» (8/ 589 ط الفكر بآخر كتاب الأم)
Artinya,
“Siapapun yang mengklaim bahwa khabar Ahad yang jujur bukan hujah, coba bagaimana dia menjawab kasus Mu’āż yang diutus Rasulullah ﷺ ke penduduk Yaman sebagai wali sekaligus memerangi orang yang menentang beliau? (Ikhtilāfu al-ḥadīṡ, juz 8 hlm 589)
===== j e d a =====
Sanggahan saya :
Pernyataan di atas itu bukan pernyataan Hizbut Tahrir atau oknum Hizbut Tahrir, tetapi hanya halusinasi Muafa sendiri lalu dibantahnya sendiri. Seharusnya biar terlihat alim dan jujur, Muafa menyampaikan data dan sumbernya karena menyangkut Hizbut Tahrir. Dan tidak menutup kemungkinan Muafa mendapat bisikan Iblis dalam istikhorohnya. Karena pernah berkata kepada saya, bahwa ia telah istikhoroh sebelum menulis ini dan itu. Cukup.
===== m u a f a =====
Lagipula Taqiyyuddīn al-Nabhānī juga mengakui bahwa riwayat Mu‘āẓ adalah riwayat ahad dan riwayat zanni. Jika riwayat Mu’āẓ sudah dihitung mutawatir dan qat‘ī, buat apa Taqiyyuddīn al-Nabhānī capek-capek membantah bahwa riwayat itu bisa menjadi hujah bahwa hadis ahad bisa menjadi dasar dalam perkara akidah?
Coba perhatikan pernyataan Taqiyyuddīn al-Nabhānī ini,
فكان هذا دليلاً صريحاً من عمل الرسول - صلى الله عليه وسلم -، على أن خبر الواحد حجة في التبليغ. وكان الرسول - صلى الله عليه وسلم - يرسل الكتب إلى الولاة على يد الآحاد من الرسل ولم يخطر لواحد من ولاته ترك إنفاذ أمره لأن الرسول واحد، بل كان يلتزم بما جاء به الرسول من عند النبي عليه السلام من أحكام وأوامر، فكان ذلك دليلاً صريحاً أيضاً من عمل الرسول - صلى الله عليه وسلم - على أن خبر الآحاد حجة في وجوب العمل بالأحكام الشرعية وفي أوامر الرسول - صلى الله عليه وسلم - ونواهيه، وإلا لما اكتفى الرسول - صلى الله عليه وسلم - بإرسال واحد إلى الوالي. (الشخصية الإسلامية الجزء الأول (ص: 189)
Nah klo sudah begini, apa si oknum keminter itu sudah merasa lebih berilmu dari Taqiyyuddīn al-Nabhānī panutannya sendiri?
mau menipu awam Hizbut Tahrir dengan cara apa lagi kalau faktanya sejelas ini?
Riwayat Mu’āẓ ke yaman adalah hujah jelas bahwa beliau berdakwah akidah dengan riwayat ahad. Jadi itu menjadi bukti wajibnya menerima riwayat ahad dalam perkara akidah.
***
Wahai awam-awam Hizbut Tahrir .
Tinggalkanlah kelompok menyimpang itu.
Mereka bukan ahlussunnah dan sukan mempermaikan akal awam agar sesuai hawa nafsu mereka!
اللهم أعذنا من مضلات الفتن
https://www.facebook.com/groups/751471239696835/permalink/881721843338440/?mibextid=Nif5oz
===== s e l e s a i =====
Sanggahan saya :
1. Ternyata tujuan Muafa memakai hasil halusinasi serta bantahannya itu agar bisa disambungkan dengan pernyataan Imam Taqiyuddin An-Nabhaniy. Jadi jahat sekali dia. Tetapi sangat disayangkan Muafa tidak paham dengan pernyataannya itu. Sekarang perhatikan ibarot yang disampaikan Muafa dengan terjemahnya ;
فكان هذا دليلاً صريحاً من عمل الرسول - صلى الله عليه وسلم -، على أن خبر الواحد حجة في التبليغ. وكان الرسول - صلى الله عليه وسلم - يرسل الكتب إلى الولاة على يد الآحاد من الرسل ولم يخطر لواحد من ولاته ترك إنفاذ أمره لأن الرسول واحد،
بل كان يلتزم بما جاء به الرسول من عند النبي عليه السلام من أحكام وأوامر، فكان ذلك دليلاً صريحاً أيضاً من عمل الرسول - صلى الله عليه وسلم - على أن خبر الآحاد حجة في وجوب العمل بالأحكام الشرعية وفي أوامر الرسول - صلى الله عليه وسلم - ونواهيه، وإلا لما اكتفى الرسول - صلى الله عليه وسلم - بإرسال واحد إلى الوالي
"Maka ini adalah dalil yang jelas dari amal Rasulullah SAW, bahwa khabar ahad itu hujjah dalam tabligh. Rasulullah SAW telah mengirim surat-surat kepada para wali (gubernur) melalui tangan ahad (satu orang) dari para utusan. Dan tidak terlintas bagi seorang pun dari para wali untuk tidak melaksanakan perintah Rasulullah karena utusannya hanya satu orang (ahad). Tetapi para wali itu terikat dengan hukum-hukum dan perintah-perintah yang dibawa oleh utusan dari Nabi SAW. Maka hal itu juga adalah dalil yang jelas dari amal Rasulullah SAW, bahwa khabar ahad adalah hujjah dalam wajibnya mengamalkan hukum-hukum syara', dan dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Rasulullah SAW. Kalau bukan hujjah, maka Rasulullah SAW tidak mencukupkan diri dengan mengutus satu orang kepada walinya". (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 1/189).
Jadi jelas dari pernyataan Imam Taqiyuddin di atas, bahwa khabar ahad adalah hujjah dalam tabligh, dalam mengamalkan hukum-hukum syara', dan dalam perintah serta larangan Rasulullah SAW (dalam syari'at), bukan dalam aqidah.
2. Agar lebih jelas, perhatikan pernyataan Imam Taqiyuddin di halaman berikutnya :
أما ما ورد من أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث رسولا واحدا إلى الملوك ورسولا واحدا إلى عماله، وما ورد بأن الصحابة كانوا يقبلون قول الرسول الواحد في إخبارهم عن حكم شرعي، كأمر استقبال الكعبة، وأمر تحريم الخمر، وإرسال الرسول عليه السلام لعلي رضي الله عنه إلى الناس يقرأ عليهم سورة التوبة وهو واحد إلى غير ذالك،
فإن هذا لا يدل على قبول خبر الواحد في العقيدة، بل يدل على قبول خبر الواحد في التبليغ، سواء أكان تبليغ الأحكام الشرعية، أوتبليغ الإسلام
ولا يقال أن قبول تبليغ الإسلام هو قبول للعقيدة، لأن قبول تبليغ الإسلام قبول لخبر وليس قبولا لعقيدة، بدليل أن على المبلّغ أن يعمل عقله فيما بلغه، فإذا قام الدليل اليقيني عليه اعتقده وحوسب على الكفر به
فرفض خبر ظني عن الإسلام لا يعتبر كفرا، ولكن رفض الإسلام الذي قام الدليل اليقيني عليه هو الذي يعتبر كفرا، وعلى ذلك فتبليغ الإسلام لا يعتبر من العقيدة. وقبول خبر الواحد في التبليغ لا خلاف فيه، والحوادث المروية كلها تدل على التبليغ، إما تبليغ الإسلام أو تبليغ القرآن أو تبليغ الأحكام. أما العقيدة فلم يرد دليل واحد على الإستدلال عليها بخير الآحاد
"Adapun sesuatu yang telah datang, bahwa Nabi SAW telah mengutus seorang utusan kepada para raja, dan mengutus seorang utusan kepada para pejabatnya; dan sesuatu yang telah datang, bahwa sahabat menerima perkataan seorang utusan yang memberi khabar kepada mereka mengenai hukum syara', seperti perintah menghadap Ka'bah, perintah pengharaman khamer, Rasulullah SAW mengirim sahabat Ali ra kepada manusia untuk membacakan surat (at-Taubah), sedang Ali hanya seorang diri, dan seterusnya, maka hal ini tidak menunjukkan menerima khabar ahad dalam aqidah, tetapi menunjukkan menerima khabar ahad dalam menyampaikan (tabligh), sama saja menyampaikan hukum-hukum syara' atau menyampaikan Islam.
Tidak bisa dikatakan, bahwa menerima penyampaian Islam itu adalah menerima aqidah. Karena menerima penyampaian Islam itu menerima khabar, bukan menerima aqidah, dengan dalil bahwa seseorang yang disampaikan kepadanya khabar (muballagh) harus menggunakan akalnya untuk memeriksa khabar yang disampaikan kepadanya. Lalu ketika telah tegak dalil yakin terhadapnya, maka ia harus meyakininya dan ia akan dihisab ketika mengingkarinya.
Jadi menolak khabar zhonni dari Islam itu tidak dinilai kufur, tetapi menolak Islam yang telah tegak dalil yakin atasnya itulah yang dinilai kufur.
Atas dasar itu, menyampaikan Islam itu tidak dianggap bagian dari aqidah. Sedang menerima khabar ahad dalam penyampaian (tabligh) itu tidak ada khilaf padanya. Sedang sejumlah peristiwa yang diriwayatkan, semuanya menunjukkan atas penyampaian (tabligh), adakalanya menyampaikan Islam, menyampaikan AlQur'an atau menyampaikan hukum-hukum syara'. Adapun aqidah, maka tidak datang satu dalil pun istidlal atas aqidah dengan khabar ahad ". (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, 1/192-193).
Jadi sangat jelas, disamping Muafa tidak memahami pernyataan Imam Taqiyuddin, juga sangat ngawur dalam mencampuradukkan antara tabligh, dakwah dan aqidah terkait pernyataan Imam Taqiyuddin. Dan ini dinamakan jahil murokkab, bodoh berlapis. Sedang dia melemparkan kebodohan berlapisnya kepada orang lain adalah bukti bahwa dia itu tukang fitnah yang sesungguhnya.
Ya Allah, lindungilah kami dari orang bodoh yang tukang fitnah, dan dari orang sesat yang menyesatkan, aamiin
Wallahu A'lam bish Shawwab
Semoga bermanfaat aamiin
Itulah bagian-bagian dari fitnah dajjal, yg mana ada segolongan jamaah yg mana tujuannya hanya untuk meninggikan agama Allah SWT dengan mendakwahkan supaya syari'at Allah di tegakkan dan di jalankan di tengah-tengah kehidupan, malah ada orang yg memfitnah supaya jangan ada orang/umat yg ikut gabung mendakwahkan syari'at Allah SWT,,, Astaghfirullah,, semoga kita semua di jauhkan dari fitnah-fitnah yg menyesatkan ini, dan semoga tetap istiqomah bagi seluruh umat yg senantiasa terus mendakwahkan agama Allah dgn tegaknya KHILAFAH ROSYIDAH 'ALA MINHAJIN NUBUWWAH..
BalasHapus