"Khabar ahad berfaidah zhon adalah ajaran mayoritas Ahlussunnah WalJama'ah!"
Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Kali ini Sang Mantan, Muafa (Mukhammad Rohma Rozikin), dosen di Universitas Brawijaya Malang menyatakan :
===== m u a f a =====
SIAPA YANG MEMULAI AJARAN AKIDAH HARUS DIAMBIL DARI DALIL QAT’I, TIDAK BOLEH KHABAR AHAD? (57)
Oleh: Muafa
Jika diteliti diskursus hadis ahad termasuk pembahasan konsekuensinya seperti iman terhadap azab kubur, ternyata dikatahui bahwa yang memulai ajaran bahwa akidah hanya boleh diambil dari dalil qat’i adalah ahlul bid’ah!
Bukan ahlussunnah.
Yang memulai gagasan sesat semacam itu adalah firqah-firqah menyimpang semisal qadariyyah, jahmiyyah dan mu’tazilah. Al-Sam‘ānī berkata,
«وَإِنَّمَا هَذَا القَوْل الَّذِي يذكر أَن خبر الْوَاحِد لَا يُفِيد الْعلم بِحَال ولابد من نَقله بطرِيق التَّوَاتُر لوُقُوع الْعلم بِهِ شَيْء اخترعته الْقَدَرِيَّة والمعتزلة وَكَانَ قصدهم مِنْهُ رد الْأَخْبَار وتلقفه مِنْهُم بعض الْفُقَهَاء الَّذين لم يكن لَهُم فِي الْعلم قدم ثَابت وَلم يقفوا على مقصودهم من هَذَا القَوْل». «الانتصار لأصحاب الحديث» (ص35)
Artinya,
“Ucapan seperti ini, yakni yang menyebut bahwa khabar ahad itu tidak bermakna qat’i sama sekali, dan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan qat’i harus lewat jalan khabar mutawatir adalah sesuatu yang diciptakan sekte Qadariyyah dan Muktazilah. Tujuan mereka adalah menolak riwayat-riwayat. Sebagian fukaha yang kurang kokoh ilmunya termakan pendapat ini dan tidak mengerti maksud dari pendapat tersebut” (al-Intiṣār, hlm 35)
Lalu pikiran semacam ini ternyata diikuti Taqiyyuddīn al-Nabhānī dan Hizbut Tahrir!
Orang-orang seperti ini disebut togut oleh Ibnu Qayyim al-jauziyyah!
في ذكر الطَّواغيت الأربع...وقولهم: إنَّ أخبار رسول الله - صلى الله عليه وسلم - الصَّحيحة التي رواها العُدول وتلقَّتْها الأُمة بالقَبول لا تُفيد العلم، وغايتها أن تُفيد الظنَّ». «الصواعق المرسلة على الجهمية والمعطلة - ط عطاءات العلم» (1/ 342)
Artinya,
“Pembahasan empat tāgut... yakni saat mereka berpendapat bahwa hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang sahih yang diriwayatkan perawi adil dan diterima umat itu tidak bermakna qat’i. Maksimal hanya bermakna zan” (al-ṣawā’iq al-Mursalah, juz 1 hlm 342)
Wahai aktivis Hizbut Tahrir.
Tinggalkanlah Hizbut Tahrir.
Karena ternyata ajarannya dalam khabar ahad dan azab kubur mengikuti ahlul bid’ah.
اللهم أعذنا من مضلات الفتن
===== s e l e s a i =====
SANGGAHAN SAYA :
PERTAMA :
Ibarat /ta'bir /redaksi yang disampaikan oleh Muafa di atas, yakni pernyataan Abul Muzhoffar As-Sam'aniy (Mansyur bin Nuhammad bin Abdul Jabbar bin Ahmad At-Tamimiy As-Sam'aniy Al-Maruziy Al-Hanafiy kemudian As-Syafi'iy, 426 - 489 H), harus bandingkan dengan ;
1- Pernyataan Imam Nawawi (Abu Zakariya Yahya bin Syarof Al-Huzamiy An-Nawawi As-Syafi'iy, 631 - 676 H / 1233 - 1277 M) dalam kitab Syarhu Muslim-nya, ketika beliau membantah seorang muhaddits Ibnu Sholah yang mengatakan bahwa hadits-hadits Bukhori dan Muslim berfaidah 'ilmu (yakin / qoth'i).
An-Nawawi rh berkata :
وهذا الباب ذكره الشيخ في هذه المواضع خلاف ما قاله المحققون والأكثرون فإنهم قالوا أن أحاديث الصحيحين البخاري ومسلم التي ليست متواترة إنما تفيد الظن فإنها آحاد، والآحاد إنما يفيد الظن على ما تقرر ولا فرق بين البخاري ومسلم وغيرها في ذلك وتلقي الأمة بالقبول لها إنما أفادنا وجوب العمل فيها إذا صحت أسانيدها ولا تفيد إلا الظن فكذا الصحيحان
"Bab yang telah disebutkan oleh Syaikh Ibnu Sholah ini, dalam beberapa tempat, itu berbeda dengan pendapat ulama muhaqqiqun dan mayoritas ulama lainnya, dimana mereka semua menyatakan, bahwa hadits-hadits Shahih Bukhori dan shohih Muslim yang bukan mutawatir itu hanya berfaidah zhon, karena berupa hadits-hadits ahad, sedang hadits-hadits ahad itu hanya berfaidah zhon sebagaimana telah tetap. Dan tidak ada perbedaan antara hadits-hadits Bukhori, Muslim dan lainnya dalam hal tersebut, dan umat telah menerimanya. Tetapi hadits-hadits tersebut hanya berfaidah wajibnya amal ketika sanadnya shahih, dan tidak berfaidah selain zhon. Jadi seperti ini kondisi hadits-hadits shahih Bukhori dan Muslim. (Syarhu Shohih Muslim, 1/20, cetakan Mesir, Cairo).
An-Nawawi rh berkata :
وأما خبر الواحد فهو مالم يوجد فيه شروط المتواتر سواء أكان الراوي له واحد أو أكثر، وأختلف في حكمه، فالذي عليه جماهير المسلمين من الصحابة والتابعين فمن بعدهم من المحدثين والفقهاء وأصحاب الأصول أن خبر الواحد الثقة حجة من حجج الشرع يلزم العمل بها ويفيد الظن ولا يفيد العلم، وأن وجوب العمل قد عرفناه بالشرع لا بالعقل
"Adapun khabar ahad, adalah khabar yang tidak ada padanya syarat-syarat mutawatir, baik perawinya satu atau lebih, dan hukumnya diperselisihkan. Sedang menurut pendapat mayoritas kaum muslimin dari sahabat dan tabi'in, dan orang-orang setelanya dari muhadditsiin, fuqoha dan ushuliyyiin, bahwa khabar ahad yang tsiqoh adalah hujjah dari hujjah-hujjah syara' dimana wajib ber-amal dengannya, dan berfaidah zhon dan tidak berfaidah 'ilmu (yakin / qoth'i). Dan bahwa wajibnya ber-amal dengannya, kami benar-benar telah mengetahuinya dengan syara', tidak dengan akal.
وذهلت القدرية -المعتزلة- والرافضة وبعض أهل الظاهر إلا أنه لا يجب العمل به، ثم منهم من يقول: منع من العمل به دليل العقل، ومنهم من يقول منع من العمل به دليل الشرع، وذهبت طائفة إلى أنه يجب العمل به من جهة دليل العقل، وقال الجبائي من المعتزلة: لا يجب العمل إلا بما رواه إثنان عن إثنين، وقال غيره: لا يجب العمل إلا بما رواه أربعة عن أربعة
Firqoh Qodariyyah (Muktazilah), Rofidhoh dan sebagian ahli zhohir telah bingung dan linglung, "bahwasanya tidak wajib amal dengannya (khabar ahad)". Kemudian dari mereka ada yang menyatakan, "bahwa dalil aqli telah melarang amal dengannya". Dan dari mereka ada yang menyatakan, "bahwa dalil syara' telah melarang amal dengannya". Kelompok yang lain berpendapat, "bahwasanya wajib amal dengannya dari sisi dalil aqli". Dan Al-Jubaiy sebagai tokoh Muktazilah menyatakan, "bahwasanya tidak wajib amal kecuali dengan khabar yang telah diriwayatkan oleh dua orang dari dua orang". Dan yang lainnya mengatakan, "tidak wajib amal kecuali dengan khabar yang telah diriwayatkan oleh empat orang dari empat orang".
وذهبت طائفة من أهل الحديث إلى أنه يوجب العلم، وقال بعضهم يوجب العلم الظاهر دون الباطن، وذهب بعض المحدثين إلى أن الآحاد التي في صحيح البخاري أو صحيح مسلم تفيد العلم دون غيرها من الآحاد، وقد قدمنا هذا القول وإبطاله في الفصول، وهذه الأقاويل كلها سوى قول الجمهور باطلة
Dan kelompok dari ahlil hadits berpendapat, "bahwa khabar ahad itu mewajibkan ilmu (yakin / qoth'i)". Dan sebagian mereka menyatakan, "mewajibkan ilmu zhohir, bukan ilmu bathin". Dan sebagian ulama muhadditsiin berpendapat, "bahwa khabar ahad yang ada di shohih Bukhori atau shohih Muslim itu berfaidah ilmu, bukan khabar ahad dari yang lainnya". Dan kami benar-benar telah mendahulukan penjelasan pendapat ini serta membatalkannya dalam beberapa fasal. Semua pendapat tersebut, selain pendapat jumhur, adalah batal. (Syarhu Shahih Muslim, 1/139-132, cet. Daaru Ihyaait Turitsil 'Arobiy, Berut Libanon).
Jadi, menurut Imam Nawawi sebagai ulama besar Ahlussunnah Waljama'ah yang bermadzhab Syafi'iy, "bahwa khabar ahad yang tsiqoh itu berfaidah zhon dan tidak berfaidah ilmu (yakin/qoth'i), tetapi wajib amal dengannya", adalah pendapat jumhur (mayoritas) kaum muslimin dari sahabat dan tabi'in, dan orang-orang setelanya dari muhadditsiin, fuqoha dan ushuliyyiin. Sedang menurut Qodariyyah sebagai sekte dari Muktazilah, juga menurut Al-Jubaiy tokoh Muktazilah, bahwa khabar ahad itu berfaidah zhon dan tidak wajib amal dengannya. Jadi munkin pendapat Qodariyyah yang seperti ini yang dimaksud oleh As-Sam'aniy pada ibarot Muafa di atas. Atau As-Sam'aniy sedang membela minoritas muhadditsiin saja. Karena mayoritasnya telah dicakup oleh pernyataan An-Nawawi. Jadi yang terjadi adalah perbedaan antara ulama mayoritas dan minoritas, tetapi sama-sama Ahlussunnah Waljama'ahnya. Dan untuk mengokohkan pernyataan An-Nawawi, perlu saya sampaikan pernyataan ulama lainnya ;
2- Pernyataan Imam Abdul Qohir bin Thohir bin Muhammad Al-Baghdadiy Al-Isfiroyiniy dalam kitab Ushuluddin-nya,
وأخبار الآحاد متى صح إسنادها وكانت متونها غير مستحيلة في العقل كانت موجبة للعمل دون العلم
"Dan khabar-khabar ahad meskipun isnadnya shahih dan matan-matannya tidak mustahil bagi akal, adalah mewajibkan amal, bukan ilmu (yakin/qoth'i)". (Ushuluddin, hal. 2, cetakan pertama, Istambul, 1928).
Dan Imam Abdul Qohir dalam kitab Al-Farqu bainal Firoq-nya berkata :
وأما أخبار الآحاد فمتى صح إسنادها وكانت متونها غير مستحيلة في العقل كانت موجبة للعمل دون العلم، وكانت بمنزلة شهادة العدول عند الحاكم في أن يلزم الحكم بها في الظاهر وإن لم يعلم صدقهم في الشهادة، وبهذا النوع من الخبر أثبت الفقهاء أكثر فروع الأحكام الشرعية في العبادات والمعاملات وسائر أبواب الحلال والحرام، وضللوا من أسقط وجوب العمل بأخبار الآحاد بالجملة
"Adapun khabar-khabar ahad, meskipun isnadnya shahih dan matan-matannya tidak mustahil bagi akal, adalah mewajibkan amal, bukan mewajibkan ilmu. Seperti kesaksian orang-orang yang adil di hadapan hakim, terkait wajibnya memutuskan perkara dengannya secara lahir, meskipun hakim tidak tahu kebenaran mereka dalam kesaksiannya. Dan dengan jenis khabar ini, fuqoha telah menetapkan banyak cabang-cabang hukum syara' terkait ibadat, muamalat, dan seluruh bab halal dan haram. Dan fuqoha telah menyesatkan orang yang menggugurkan wajibnya amal dengan khabar-khabar ahad secara keseluruhan". (Al-Farqu bainal Firoq, hal. 325-326, cetakan Daarul Ma'rifah).
3- Pernyataan Syaikh Hasan Al-'Athor dalam Syarhu Al-Jalal Al-Mahalliy. Al-Jalal Al-Mahalliy berkata ;
نهى الله عن اتباع غير العلم... والنهي للتحريم، فلا يكون إلا واجباً، وقوله ذم على اتباع الظن يدل على حرمته، أي أن اتباع الظن في العقائد حرام شرعاً، لأن النهي ورد من الله تبارك وتعالى عن اتباع الظن في العقائد كما سبق وإن أوضحت
(Allah telah melarang mengikuti selain ilmu/ yakin/ qoth'i...), larangan itu berfaidah haram, maka dalil aqidah harus qoth'i adalah wajib. Perkataan Al-Mahalliy, bahwa Allah telah mencela mengikuti zhon itu menunjukkan atas keharamannya. Yakni bahwa mengikuti zhon dalam aqidah adalah haram secara syara'. Karena larangan mengikuti zhon yang telah datang dari Allah itu terkait aqo'id (perkara aqidah), seperti diatas, dan meskipun telah dijelaskan ". (Syarhu Al-Mahalliy, 2/157).
Akhirnya, dianalisa dan di tarjih dari sisi manapun, produk ijtihad Imam Taqiyyuddin An-Nabhani rh InsyaAllah akan selalu unggul atau sesuai pendapat mayoritas.
KEDUA :
Terkait empat thaghut yang dinyatakan oleh Ibnu Qoyyim, lengkapnya sebagai berikut :
قولهم: إن كلام الله وكلام رسوله أدلة لفظية لا تفيد علما ولا يحصل منها يقين
1- Perkataan mereka (Jahmiyyah dan Mu'aththilah) ; "bahwa Kalamullah dan Kalam Rasulullah adalah dalil-dalil lafzhiy yang tidak berfaidah ilmu dan tidak menghasilkan yakin".
وقولهم: إن آيات الصفات وأحاديث الصفات مجازات لا حقيقة لها
2- Perkataan mereka; "bahwa ayat-ayat shifat dan hadits-hadits shifat adalah majaz yang tidak memiliki substansi".
وقولهم: إن أخبار رسول الله صلى الله عليه وسلم الصحيحة التي رواها العدول وتلقتها الأمة بالقبول لا تفيد العلم وغايتها أن تفيد الظن
3- Perkataan mereka; "bahwa khabar-khabar Rasulullah SAW yang shahih yang diriwayatkan oleh orang-orang yang adil dan diterima oleh umat itu tidak berfaidah ilmu, dan paling jauh berfaidah zhon".
وقولهم: إذا تعارض العقل ونصوص الوحي أخذنا بالعقل ولم نلتفت إلى الوحي
4- Dan perkataan mereka; "ketika terjadi kontradiksi antara akal dan nash-nash wahyu, maka kami mengambil akal dan tidak berpaling kepada wahyu".
(Ash-Showa'iqul Mursalah 'alal Jahmiyyah wal Mu'aththilah, fasal keempat dalam menuturkan empat thaghut, cetakan Al-'Ashimah, hal. 632, Maktabah Shamilah).
Pada empat thaghut diatas sama sekali tidak menyebutkan klarifikasi terkait khabar (hadits) mutawatir dan khabar ahad, sehingga dapat dimunkinkan bahwa yang hanya berfaidah zhon itu semua khabar, baik mutawatir atau ahad, sebagaimana pada thaghut ke 1 dan 2. Apalagi Ibnu Qoyyim rh sedang membantah firqoh Jahmiyyah (firqoh yang menasybihkan Allah dengan makhluqNya) dan Mu'aththilah (firqoh yang meniadakan shifat-shifat Allah), dan membela Ahlussunnah Waljama'ah, dimana pendapatnya sebagaimana pendapat Imam Nawawi dan lainnya.
TERAKHIR :
Jelas sekali bahwa Muafa adalah agen Thaghut yang sebenarnya. Dia menganjurkan agar umat meninggalkan Hizbut Tahrir sebagai pelopor tunggal di atas bumi ini yang berdakwah kepada penegakkan Islam kaffah dan Khilafah dengan fikroh serta thoriqohnya yang lengkap, jelas dan mengkristal. Sebaliknya, Muafa tidak menganjurkan umat agar meninggalkan thaghut yang sesungguhnya. Yaitu para penguasa dan pemimpin yang menolak menerapkan hukum Allah secara sempurna dalam naungan sistem pemerintahan Islam Khilafah, serta menerapkan hukum-hukum jahiliah dalam naungan sistem pemerintahan republik-demoktasi atau komunis-sisialis. Juga tidak menganjurkan agar umat meninggalkan sistem pemerintahan bid'ah berupa kerajaan Arab Saudi dan lainnya.
Jelasnya, Muafa telah berani dan terang-terangan membodohi, menipu dan menyesatkan umat. Waspadalah terhadap serigala berbulu domba.
Wallahu A'lam bish Shawwab
Semoga bermanfaat aamiin