Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
ADA saja teman yang menasehati saya, dari dulu sampai sekarang; "Maaf, ustadz fokus saja menyebar postingan-postingan dakwah Syariah dan Khikafah. Biarkan saja sang mantan itu menyebarkan fitnahnya, tidak usah diladenin. Itung-itung sponsor gratis."
BEGINI jawaban saya :
Pertama : Saya mengamalkan perintah Rasulullah SAW dalam hadits berikut;
Rosulullah saw bersabda:
يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لا يَبْقَى مِنَ الإِسْلامِ إِلا اسْمُهُ، وَلا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلا رَسْمُهُ، مَسَاجِدُهُمْ يَوْمَئِذٍ عَامِرَةٌ، وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى، عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ، وَفِيهِمْ تَعُودُ
“Sebentar lagi akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana tidak tinggal Islam kecuali namanya saja, dan tidak tinggal Al-Quran melainkan tulisannya saja. Masjid-masjid mereka ketika itu ramai dan megah, namun kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah makhluk terburuk yang berada di kolong langit, dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) akan kembali kepada mereka.” [HR. Al-Baihaqi].
Dibagian akhir hadits termaktub; "... dari mulut-mulut mereka keluar fitnah dan (fitnah) akan kembali kepada mereka.”, ini adalah kalam khabar yang berarti perintah, yaitu perintah mengembalikan fitnah kepada ulama tukang fitnah. Yaitu dengan membongkar fitnah mereka lalu disebarkan di tempat mana dan sebagaimana mereka telah menyebarkan fitnahnya.
Sebagainya Allah berfirman ;
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
"... niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mujadalah ayat 11).
Ini adalah kalam khabar bermakna perintah. Yaitu perintah agar kita mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu, juga larangan mengangkat derajat orang yang fasik dan tidak berilmu. Karena orang yang tidak berilmu itu bisa menganggap keburukkan sebagai kebaikan dan akan merendahkan orang yang berilmu. Dan banyak kerusakan akibat kebodohannya yang tidak dapat saya jelaskan di sini.
Kedua : Kalaupun ada yang memaksakan bahwa aktifitas membongkar saya itu bukan bagian dari dakwah, maka anggap saja ini aktifitas pribadi saya dan tidak ada urusan dengan dakwah, tapi bisa menjadi sarana dakwah, bahkan bisa memperkuat dakwah. Sebagaimana mayoritas pengemban dakwah juga memiliki aktifitas pribadi seperti menjadi guru atau dosen dan mengajar ini dan itu, dimana semuanya tidak berhubungan dengan dakwah, tapi bisa menjadi sarana dakwah, bahkan bisa menguatkan dakwah.
Ketiga : Berdakwah itu tidak boleh dilepaskan dari setiap momen yang datang. Justru setiap momen yang datang harus dimanfaatkan semaksimal munkin untuk menjadi sarana dakwah dan untuk menerapkan uslub dakwah. Ketika pengemban dakwah itu hanya fokus nulis dan teriak syariah, khilafah, syariah, khilafah, wajib diterapkan secara kaffah, sampai ribuan kali misalnya, maka tidak menutup kemungkinan dia itu tidak waras. Dan menunjukkan kebodohannya dengan fikroh dan thoriqoh dakwah. Maaf. Sedang munculnya fitnah terhadap dakwah adalah momen diantara momen-momen lainnya.
Keempat : Ulama terdahulu juga seperti itu, mereka tidak membiarkan fitnah terhadap Islam dan Kaum muslimin lewat di depannya dengan tanpa membantahnya. Anda bisa membuktikannya, Anda punya laptop berisi maktabah syamilah. Tulis dalam pencarian kata kunci " في الرد " lalu klik cari (بحث), otomatis akan keluar berbagai kitab bantahan atas tulisan ini dan itu, dan atas kesesatan ini dan itu, sampai capai menghitungnya.
Terakhir; Namun demikian, cukup beberapa orang ahlinya yang fokus membantah dan membongkar. Sedang yang lainnya cukup bantu sebarkan dengan jari masing-masing. Sehingga fitnah itu benar-benar kembali kepada ulama assuu' tukang fitnah, kembali malunya atau dosanya ketika tidak mau taubat dan merujuk. Gampang kan?
Wallahu A'lam bish Showwab
Semoga bermanfaat aamiin