PENUHILAH SERUAN ALLAH DAN RASULULLAH KETIKA MENYERU KEPADA SESUATU YANG MEMBERI KEHIDUPAN YANG BAIK DAN ABADI KEPADA KALIAN

Oleh : Abulwafa Romli

Wahai Ikhwan dan Akhwat, segera penuhilah seruan dakwah ber-Islam kaffah dan Khilafah oleh Hizbut Tahrir bersama umat Islam sedunia.

Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ 
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkannya". (QS Al-Anfal ayat 24).


PERNYATAAN ULAMA MUFASSIR 

•Tafsir Qurthubi (Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farh al-Anshori al-Khozrjy al-Andalusy al-Quthuby, 600-671 H) :
"Sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian artinya sesuatu yang menghidupkan agama kalian dan mengajarkan ilmu kepada kalian. Dikatakan; Sesuatu yang dengannya hati kalian menjadi hidup lalu kalian bertauhid kepada-Nya. Mujahid dan Jumhur berkata; Maknanya, penuhilah keta'atan dan kandungan Al-Qur'an dari perintah-perintah dan larangan-larangan. Karena di dalam memenuhinya ada kehidupan dan nikmat yang abadi. Dikatakan; Yang dimaksud dengan sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian adalah jihad karena menjadi sebab kehidupan, dikarenakan musuh itu ketika tidak diperangi, maka mereka akan memerangi. Dan dalam memerangi musuh ada kematian. Sedang mati didalam jihad adalah kehidupan yang abadi. Allah swt berfirman :
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ
"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki". (QS Ali 'Imron ayat 169).
Sedang pendapat yang benar adalah kehidupan secara umum sebagaimana pendapat jumhur diatas.

روى البخاري عن أبي سعيد بن المعلى قال : كنت أصلي في المسجد فدعاني رسول الله صلى الله عليه وسلم فلم أجبه ، ثم أتيته فقلت : يا رسول الله ، إني كنت أصلي . فقال : ألم يقل الله عز وجل استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم وذكر الحديث وقد تقدم في الفاتحة.
وقال الشافعي رحمه الله : هذا دليل على أن الفعل الفرض أو القول الفرض إذا أتي به في الصلاة لا تبطل ; لأمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بالإجابة وإن كان في الصلاة.
قلت : وفيه حجة لقول الأوزاعي : لو أن رجلا يصلي فأبصر غلاما يريد أن يسقط في بئر فصاح به وانصرف إليه وانتهره لم يكن بذلك بأس . والله أعلم
Imam Bukhori telah meriwayatkan dari Abi Sa'id Alma`liy, ia berkata; "Aku pernah shalat di masjid lalu Rasulullah saw memanggilku dan aku tidak menjawabnya. Kemudian aku datang kepadanya lalu aku berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang shalat". Lalu Rasulullah bersabda; "Bukankah Allah azza wajalla telah berfirman; "Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu". Imam Bukhari telah menuturkan hadits ini sebagaimana dalam surat Alfatihah. 
Imam Syafi'i rh berkata; "Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan fardhu atau perkataan fardhu ketika dilakukan di dalam shalat, maka shalat tidak batal. Karena perintah Rasulullah saw agar menjawab meskipun di dalam shalat".
Aku berkata; Pada hadits tersebut ada hujjah bagi pendapat Al-Auza`iy; yaitu apabila ada laki-laki shalat lalu melihat anak kecil yang hendak jatuh ke sumur, lalu laki-laki itu menjerit kepadanya, ia berpaling dan menghardiknya, maka hal itu tidak masalah (tidak membatalkan shalat). Wallahu A'lam".

•Tafsir Jalalain :
«يا أيها الذين آمنوا استجيبوا لله وللرسول» بالطاعة «إذا دعاكم لما يحييكم» من أمر الدين لأنه سبب الحياة الأبدية «واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه» فلا يستطيع أن يؤمن أو يكفر إلا بإرادته «وأنه إليه تحشرون» فيجازيكم بأعمالكم
"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul (dengan ta'at) apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu (dari perkara agama, karena menjadi sebab bagi kehidupan yang abadi) dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya (sehingga ia tidak mampu untuk iman atau kufur kecuali dengan kehendakNya) dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan (lalu Allah memberi balasan kepada kalian sesuai amal perbuatan kalian)". 

•Tafsir Thobary (Abu Jakfar Ath-Thobariy [224-310 H / 839-923 M]) :

Pendapat terkait tafsir Firman Allah; 
 وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ :
"dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya".

Abu Jakfar Ath-Thobariy rh berkata :
وأولى الأقوال بالصواب عندي في ذلك أن يقال: إن ذلك خبرٌ من الله عز وجل أنه أملك لقلوب عباده منهم, وأنه يحول بينهم وبينها إذا شاء, حتى لا يقدر ذو قلب أن يُدرك به شيئًا من إيمان أو كفر, أو أن يَعِي به شيئًا, أو أن يفهم، إلا بإذنه ومشيئته. وذلك أن " الحول بين الشيء والشيء "، إنما هو الحجز بينهما, وإذا حجز جل ثناؤه بين عبد وقلبه في شيء أن يدركه أو يفهمه, لم يكن للعبد إلى إدراك ما قد منع الله قلبَه إدراكَه سبيلٌ.
Pendapat yang lebih benar mengenai tafsirnya menurutku ialah, dikatakan; Itu berita dari Allah `azza wajalla, bahwa Dia lebih memiliki hati hamba-hambaNya daripada mereka sendiri. Bahwa Dia membatasi antara mereka dan hati mereka ketika Dia berkehendak. Sehingga  hamba yang punya hati tidak dapat mendapatkan sesuatu dari iman atau kufur, tidak dapat mengambil sesuatu atau memahaminya, kecuali dengan izin dan kehendakNya. Karena "membatasi antara sesuatu dan sesuatu", adalah menghalangi antara keduanya. Apabila Allah membatasi antara hamba dan hatinya untuk mendapat atau memahaminya, maka tidak ada jalan bagi hamba untuk mendapatkan sesuatu yang Allah benar-benar telah mencegah hatinya untuk mendapatkannya.

وإذا كان ذلك معناه, دخل في ذلك قول من قال: " يحول بين المؤمن والكفر، وبين الكافر والإيمان ", وقول من قال: " يحول بينه وبين عقله ", وقول من قال: " يحول بينه وبين قلبه حتى لا يستطيع أن يؤمن ولا يكفر إلا بإذنه "، لأن الله عز وجل إذا حال بين عبد وقلبه, لم يفهم العبد بقلبه الذي قد حيل بينه وبينه ما مُنِع إدراكه به على ما بيَّنتُ.
Ketika demikian adalah maknanya, maka bisa masuk kepadanya pendapat ulama; "Allah membatasi antara orang mukmin dan kufur, dan antara orang kafir dan iman", perkataan ulama; "Allah membatasi antara hamba dan akalnya", dan perkataan ulama; "Allah membatasi antara hamba dan hatinya, sehingga hamba tidak mampu untuk iman dan kufur kecuali dengan izinNya". Karena apabila Allah membatasi antara hamba dan hatinya, maka hamba tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan hatinya yang telah dihalangi antara hamba dan hatinya dari memahaminya, seperti yang telah aku jelaskan.

غير أنه ينبغي أن يقال: إن الله عم بقوله: ( واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه)، الخبرَ عن أنه يحول بين العبد وقلبه, ولم يخصص من المعاني التي ذكرنا شيئًا دون شيء, والكلام محتمل كل هذه المعاني, فالخبر على العموم حتى يخصه ما يجب التسليم له.
Hanya saja, patut dikatakan; bahwa Allah telah mengumumkan khabar dengan firmannya; "dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dan hatinya", bahwa Dia membatasi antara hamba dan hatinya, dan Dia tidak mengkhususkan sesuatu pun dari makna-maknanya. Sedang perkataan itu mengena pada setiap makna. Maka khabar itu tetap pada keumumannya, sehingga dikhususkan oleh sesuatu yang wajib diterima!.


•TERAKHIR 

Setelah Kita mengerti bahwa yang dimaksud dengan sesuatu yang memberi kehidupan adalah setiap perkara agama sebagaimana dalam Tafsir Qurthubi dan Tafsir Jalalain, dan bahwa maksud Allah membatasi antara seseorang dan hatinya itu mencakup setiap makna sebagaimana dalam Tafsir Thobari, maka ketika ayat diatas (al-Anfal : 24) Kita kaitkan dengan fakta dan fenomena kekinian, yaitu massifnya seruan dakwah kepada kewajiban ber-Islam kaffah (al-Baqoroh : 208) melalui penegakkan sistem Khilafah, maka sangatlah tepat dan muqtadhol maqom. Karena dalam ber-Islam kaffah dan khilafah ada kehidupan baik dan abadi.

Karenanya, segera sambut dan terima seruan dakwah ber-Islam kaffah melalui penegakkan khilafah `ala minhajin nubuwwah oleh Hizbut Tahrir bersama umat Islam sedunia. Hilangkan keraguan, kecurigaan, dusta dan fitnah terhadap Hizbut Tahrir, melalui pendekatan penuh persaudaraan dan menelaah kitab-kitab mutabannatnya secara keseluruhan, tidak hanya sepotong dan sepenggal, tentu sangat baik mengkaji dan mengaji bersama para syababnya dimanapun Kalian berada. Sebelum Allah menghalangi Kalian dan hati dan akal Kalian, sehingga Kalian tidak bisa memahami, meraih dan mendapatkan sesuatu apapun dari harapan, keinginan dan angan-angan hati dan akal Kalian.

Wallahu A'lam bish shawab 
Semoga bermanfaat aamiin

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.