BERHATI-HATILAH DENGAN PEMIMPIN YANG KITA IKUTI!

BERHATI-HATILAH DENGAN PEMIMPIN YANG KITA IKUTI!

Oleh : Abulwafa Romli

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Pemimpin yang kita ikuti bisa pemimpin pemerintahan (umaro) atau pemimpin agama (ulama), dimana mereka melakukan kesyirikan, kekufuran, kezaliman, kemaksiatan, kemunkaran atau kesesatan dalam urusan agama. Lalu pemimpin itu mengajak rakyat atau santrinya kepada hal-hal buruk tersebut serta melarang dari kebalikannya, yaitu ketauhidan, keimanan, keadilan, ketaatan, kemakrufan dan kebenaran. Lebih dari itu, pemimpin itu mengancam dan menakut-nakuti rakyat atau santrinya dengan sangsi, kewalat, tidak barokah ilmunya dan lain-lain, ketika mereka tidak manut dan ta'at kepada pemimpin. Kemudian karena takut atau berbaik sangka, rakyat maupun santrinya sama mengikuti dan manut kepada perintah dan larangan pemimpinnya dan tidak mau menyelisihi sedikitpun.

Ketika kita melihat fakta-fakta kekinian dimana geliat dan perkembangan tanda-tanda kebangkitan Islam dan kaum muslimin, yaitu dakwah penegakkan syariat Islam kaffah dan khilafah yang sangat massif dilakukan oleh partai politik Islam internasional Hizbut Tahrir, maka peran para pemimpin buruk tersebut juga sangat massif dalam mempengaruhi rakyat dan santrinya agar tidak bergabung dan terpengaruh oleh dakwah Hizbut Tahrir. Lebih dari itu, pemimpin-pemimpin itu juga memakai jurus kekalahan ilmiah dan intelektualnya, dengan membuat segala dusta dan fitnah lalu dilemparkan kepada Hizbut Tahrir. Seperti Hizbut Tahrir tidak mengimani qodho' dan qodar, tidak mengimani Imam Mahdi, mengingkari azab kubur, membolehkan meraba-raba tubuh wanita ajnabiyah, Hizbut Tahrir buatan Inggris dan berkantor pusat di Inggris, Hizbut Tahrir Mu'tazilah edisi revisi, Hizbut Tahrir Qodariyyah, Wahhabi, Syiah, komunis dan seterusnya.

Para pemimpin itu mengajak rakyat dan santrinya untuk tetap setia kepada hukum jahiliyah atau hukum thaghut melalui penerapan sistem republik, demokrasi, kerajaan, teokrasi, dan komunis. Dan sangat massif menyuarakan NKRI final, UUD '45 dan Pancasila final. Karena bagi sebagian mereka semuanya itu sudah Khilafah dan sudah Piagam Madinah. 

Para pemimpin dan pengikut setianya itu, dari rakyat dan santrinya itu, yang kelak di hari kiamat dan setelah melihat api neraka, mereka saling menuntut dan saling berlepas diri dan memutus hubungan yang selama di dunia terjalin sangat erat. Di akherat mereka semua bersama-sama dimasukkan ke neraka. Nasi sudah menjadi bubur. Sudah terlambat. Kondisi mereka yang nelangsa dan mengenaskan tidak bisa diperbaiki lagi. Hanya menunggu syafaat ketika ada dan diterima atau diangkat ke surga ketika mereka mati membawa iman meskipun sangat kecil.

Allah SWT menjelaskan kondisi mereka semua pada hari kiamat setelah melihat neraka di depannya :
اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ , وَقَالَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا لَوْ اَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّاَ مِنْهُمْۗ كَمَا تَبَرَّءُوْا مِنَّاۗ كَذٰلِكَ يُرِيْهِمُ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْ حَسَرٰتٍ عَلَيْهِمْۗ وَمَا هُمْ بِخٰرِجِيْنَ مِنَ النَّارِ
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti saat mereka (orang-orang yang diikuti) melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.  Orang-orang yang mengikuti berkata, “Andaikan saja kami mendapat kesempatan kembali (ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka.” (QS Albaqoroh ayat 166-167).

Kalau Anda masih meragukan dengan yang saya sampaikan, silakan Anda baca semua kitab tafsir terkait dua ayat diatas. Saya tidak sedang menafsiri, tetapi sedang berusaha tahqiqul manath atau menerapkan manthuq dan mafhum ayat pada sebagian fakta-fakta kekiniannya guna memberi peringatan kepada para penentang dakwah penerapan syariah Islam kaffah dan khilafah. Sehingga mereka tidak mudah percaya kepada para pemimpinnya.

Mulai dari sekarang, Kita harus bersikap kritis kepada para pemimpin dengan tidak mengurangi adab dan akhkaq Islami. Teliti dan klarifikasi sebelum mengikutinya agar tidak menyesal di kemudian hari. Perbanyak ngaji dari banyak ulama yang beda ilmu dan pahamnya agar mengerti mana ulama akherat yang diatas jalan yang lurus dan mana ulama dunia yang lushshun dan salathin.

JANGAN SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MENYEMBAH PEMIMPIN!

Allah SWT berfirman :
        وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَاداً يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ  وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا للهِ ... 
“Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…”. (QS Al-Baqarah ayat 165).

Dan Allah swt. berfirman :
        اِتَخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ.  التوبة [9] : 31.
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan (yang disembah) selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (QS At-Taubah ayat 31).

Ketika Rasulullah saw membacakan ayat di atas, maka ‘Adi Ibn Hatim ra berkata:
        فَقُلْتُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوْهُمْ. فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: بَلَى، إنهم حَرَّمُوْا عليهم الحلالَ وأحلُّوْا لهم الحرامَ، فاتَّبَعُوْهُمْ، فذلك عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ. رواه الإمام أحمد والترميذي وابن جرير من طرق عن عدي ابن حاتم رضي الله عنه. {تفسير ابن كثير}.
“Aku berkata; ”Mereka tidak menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib itu!”, lalu Nabi saw. bersabda; ”Memang, tetapi orang-orang alim dan rahib-rahib itu telah mengharamkan yang halal atas mereka, dan telah menghalalkan yang haram untuk mereka, lalu mereka mengikuti orang-orang alim dan rahib-rahib itu. Itulah bukti penyembahan mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib itu!". (HR Imam Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Jarir dari sejumlah sanad dari Adi Ibn Hatim ra.).

Meskipun sebab turunnya ayat itu berkenaan dengan perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani, tetapi keumuman ayat dan hadis di atas juga ditujukan kepada kaum muslim.

Dalam hal ini kaidah usul mengatakan;
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
"Yang dijadikan pelajaran/penilaian adalah keumuman lafadznya, bukan kekhususan sababnya".

Dan kaidah;
عُمُوْمُ اللَّفْظِ فِي خُصُوْصِ السَّبَبِ هُوَ عُمُوْمٌ فِي مَوْضُوْعِ الْحَادِثَةِ وَالسُّؤَالِ، وَلَيْسَ عُمُوْمًا فِي كُلِّ شَيْئٍ.
"Keumuman lafadz pada kekhususan sebab adalah umum pada taupik peristiwa dan pertanyaan, tidak umum pada setiap peristiwa".

Sejak sa'at ini, BERHATI-HATI DAN WASPADALAH TERHADAP PARA PEMIMPIN YANG KITA IKUTI, baik umaro maupun ulama!

Wallahu A'lam bish shawab 
Semoga bermanfaat aamiin

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.