HAKEKAT FIRQOH MU'TAZILAH (4)

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Mereka, orang-orang yang mengkritik dan menyesatkan pemikiran Syaikh Taqiyyuddin Annabhani pendiri partai politik terbesar di dunia Hizbut Tahrir tidak memahami, bahwa rukun iman keenam, iman kepada Qodho-Qodar, yang diletakkan di dalam kitab-kitab Mutakallimiin, adalah Qodho-Qodar yang datang dari falasifah Yunani, bukan Qodho dan Qodar yang datang dari Islam, dari Alqur’an dan Assunnah. Karena itu, Syaikh Taqiyyuddin Annabhani di berbagai kitabnya sangat memperhatikan masalah Qodho-Qodar ini, serta menjelaskan definisinya sesuai faktanya. Dan tidak mencampurkannya dengan Qodho dan Qodar yang datang dari Islam.

Ketika Syaikh Taqiyyuddin sedang mendefinisikan serta membicarakan problem Qodho-Qodar dari Yunani, mereka mengkritiknya dengan dalil-dalil Qodho dan Qodar dari Islam. Mereka sama sekali tidak memahaminya, lalu menyalahkan sampai menyesatkannya. Akal mereka tidak nyambung dengan akal Syaikh Taqiyyuddin. Mereka mengklaim sedang berbuat kebaikan. Padahal sejatinya sedang berbuat kerusakan. Mereka berusaha menjauhkan kaum Muslim dari Syaikh Taqiyyuddin serta Hizbut Tahrir yang didirikannya. Padahal mereka sedang menjauhkan kaum Muslim dari kewajiban menegakkan khilafah sebagai ajaran Islam. Itulah kerusakan mereka yang tidak disadarinya.

Di bawah adalah TIGA BUKTI, bahwa rukun iman keenam yang diletakkan didalam kitab-kitab Mutakallimiin dan yang dibicarakan oleh Syaikh Taqiyyuddin, adalah Qodho-Qodar yang datang dari Yunani.

BUKTI PERTAMA :
Sejumlah pernyataan Syaikh Taqiyyuddin terkait Qodho-Qodar yang datang dari Yunani :
● Nama Qodho-Qodar dengan satu substansi itu datang dari Yunani. Syakh Taqiyyudìn Annabhani berkata :
ومسألة القضاء والقدر بهذا الإسم وبالمسمى الذي بحثوه قد بحثها الفلاسفة اليونان واختلفوا فيها. فإن هذه المسألة تسمى القضاء والقدر وتسمى الجبر والإختيار وتسمى حرية الإرادة وكلها تعني مسمى واحدا وهو : أن ما يحدث من الإنسان من أفعال هل الإنسان حر في إحداثها وعدم إحداثها أو مجبور؟
"Problem Qodho-Qodar dengan nama dan substansi yang dibahas oleh Mutakallimiin itu telah dibahas sebelumnya oleh Falasifah Yunani dan mereka berselisih padanya. Problem tersebut dinamai Qodho-Qodar, dinamai Jabru-Ikhtiar, dan dinamai Hurriyyatul Irôdah, dan semuanya berarti satu substansi, yaitu, bahwa perbuatan yang terjadi dari manusia, apakah manusia itu merdeka dalam mengadakan atau tidak mengadakannya, atau manusia itu dipaksa (oleh Allah)?". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 66, cet. 6, 2003 M).

● Meskipun Qodho-Qodar datang dari Yunani, tetapi substansinya wajib diimani dan bagian dari akidah. Syaikh Taqiyyuddin berkata :
وأما مسألة الإيمان بالقضاء والقدر بهذا الإسم وبمسماها الذي جرى الخلاف في مفهومه فلم يرد بها نص قطعي. إلا أن الإيمان بمسماها من العقيدة فهي مما يجب الإيمان به
"Adapun problem iman kepada Qodho-Qodar dengan nama dan substansinya dimana khilaf berjalan pada pemahamannya, maka tidak datang nash qoth'iy dengannya. Hanya saja iman kepada substansinya termasuk akidah, maka termasuk perkara yang wajib diimani". (Asysyakhshiyyah, 1/44, cet. 6, 2003 M).

● Problem Qodho-Qodar dari Yunani itu mulai populer pada awal masa tâbi'în. Syaikh Taqiyyuddin berkata :
ولم تعرف بهذا الإسم وهذا المسمى في عصر الصحابة مطلقا فلم يرد نص صحيح بورودها بهذا الإسم والمسمى، وإنما اشتهرت في أوائل عصر التابعين
"Problem Qodho-Qodar dengan nama dan substansi tersebut sama sekali tidak dikenal pada masa sahabat. Maka tidak datang nash shahih terkait datangnya problem Qodho-Qodar dengan nama dan substansi tersebut. Tetapi problem itu menjadi populer pada awal masa tâbi'în". (Asysyakhshiyyah, 1/44, cet. 6, 2003 M).

● Qodho-Qodar dari Yunani itu satu nama untuk satu substansi. Syaikh Taqiyyuddin berkata :
ولما كان القضاء والقدر إسما واحدا لمسمى، ولو كان مركبا من كلمتين فهما مندمجتان مع بعضهما ومندرجة إحداهما تحت الأخرى،...
"Ketika Qodho-Qodar adalah satu nama untuk satu substansi, meskipun tersusun dari dua kata, tapi keduanya saling melebur dengan sebagiannya, dan salah satunya masuk kepada yang lainnya, ...". (Asysyakhshiyyah, 1/76, vet. 6, 2003 M).

● Makna yang ditunjukkan Qodho-Qodar dari Yunani adalah perbuatan hamba dan khasiat segala sesuatu. Syaikh Taqiyyuddin berkata :
ومدلول القضاء والقدر أو بعارة أخرى مسألة القضاء والقدر هي أفعال العباد وخاصيات الأشياء. ذلك أن المسألة الواردة هي أفعال العبد والمتولد من هذه الأفعال أي الخاصيات التي يحدثها العبد في الأشياء، هل هي من خلق الله هو الذي خلقها وأوجدها؟ أم هي من العبد؟ أي أن العبد هو الذي خلقها وأوجدها؟ فالمعتزلة قالوا جميعا...
"Makna yang ditunjukkan Qodho-Qodar, atau dengan ungkapan lain, makna problem Qodho-Qodar, ialah perbuatan hamba dan khasiat segala sesuatu. Demikian itu, karena problem yang datang adalah perbuatan hamba dan yang lahir dari perbuatan hamba, yakni khasiat yang diadakan oleh hamba pada segala sesuatu; Apakah ia dari ciptaan Allah, Allah yang telah menciptakan dan mengadakannya? Ataukah dari hamba? Yakni hambalah yang telah menciptakan dan mengadakannya? Maka semua Firqah Muktazilah berkata : ... ". (Asysyakhshiyyah, 1/91, cet. 6, 2003 M).

● Qodho-Qodar dari Yunani menjadi rukun iman keenam. Syaikh Taqiyyuddin berkata :
وصار بعد وجود هذا البحث توضع مسألة القضاء والقدر في بحث العقيدة وجعلت أمرا سادسا من أمور العقيدة.
"Dan setelah adanya pembahasan tersebut, problem Qodho-Qodar diletakkan pada pembahasan akidah dan dijadikan perkara (rukun) keenam dari perkara akidah (rukun
iman)". (Asysyakhshiyyah, 1/78, cet. 6, 2003 M).

BUKTI KEDUA :
Rukun Iman di dalam Alqur'an itu ada lima. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya". (QS Annisaa' ayat 136).

Firman Allah, "Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya". Artinya wajib beriman kepada; (1) Allah, (2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4) rasul-rasul-Nya, dan (5) hari kemudian. Jadi rukun iman didalam Alqur'an itu ada lima.

BUKTI KETIGA :
Rukun iman didalam Assunnah itu saling berbeda jumlah, obyek dan susunannya :

1- Rukun iman ada enam. Hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushonnaf, 6/157 :
فقال الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ولقائه ورسله وتؤمن بالبعث الآخر.
Lalu Rasulullah SAW bersabda : "Iman ialah apabila kamu beriman kepada (1) Alloh, (2) malaikat-nya, (3) kutub-Nya, (4) menemui-Nya, (5) rusul-Nya, dan (6) kamu beriman kepada kebangkitan akhir".

2- Rukun iman ada delapan. Hadits riwayat Imam Thobroni dalam kitab Almu'jam Alkabiir, 7/61 :
قال الإيمان أن نؤمن بالله وملائمته وكتبه ورسله والجنة والنار والقيامة والقدر خيره وشره وحلوه ومره من الله، قال فإذا فعلت ذلك فأنا مؤمن؟ قال نعم قال صدقت.
Rasulullah SAW bersabda : "Iman ialah apabila kamu beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-nya, (3) kutub-Nya, (4) rusul-Nya, (5) surga, (6) neraka, (7) qiamat, dan (8) qodar baik dan buruknya, manis dan pahitnya dari Allah". Ia berkata: "Apabila aku mengerjakan semua itu, apakah aku mu'min?". Rasulullah bersabda : "Ya". Ia berkata: "Kamu benar".

3- Rukun iman ada enam. Hadits riwayat Imam Ahmad dalam kitab Musnad, 2/426 :
قال الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتابه ولقائه ورسله وتؤمن بالبعث الآخر.
Rasulullah SAW bersabda : "Iman ialah apabila kamu beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-nya, (3) kitab-nya, (4) menemui-Nya, (5) rusul-Nya, dan beriman kepada (6) kebangkitan akhir".

4- Rukun iman ada lima. Hadits riwayat Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari, 1/97 :
قال الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وبلقائه ورسله وتؤمن بالبعث.
Rasulullah SAW bersabda : "Iman ialah apabila kamu beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-Nya, (3) menemuai-Nya, (4) rusul-Nya, dan beriman kepada (5) kebangkitan". Atau hadits Bukhari dengan susunan berbeda :
الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته ورسله ولقائه وتؤمن بالبعث الآخر.
"Iman ialah apabila kamu beriman kepada (1) Allah, (2) malaikat-nya, (3) rusul-Nya, (4) menemui-Nya, dan beriman kepada (5) kebangkitan akhir".

5- Rukun iman ada enam, dan yang lima sama dengan rukun iman pada Alqur’an surat Annisâ ayat 136 di atas. Hadits riwayat Imam Muslim dalam Kitab Arba'în Nawawi :
قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره.
Rasulullah SAW bersabda : "Apabila kamu beriman kepada (1) Allah, (2) Malaikat-Nya, (3) Kutub-Nya, (4) Rusul-Nya, dan (5) Hari Akhir, dan kamu beriman kepada (6) Qodar baik dan buruknya".

Mengenai Qodar pada hadits Imam Muslim ini, Syaikh Taqiyyuddin berkata :
نعم قد ورد الإيمان بالقدر في حديث جبريل في بعض الروايات فقد جاء قال: وتؤمن بالقدر خيره وشره. أخرجه مسلم من طريق عمر بن الخطاب. إلا أنه خبر آحاد علاوة علي أن المراد بالقدر هنا علم الله وليس القضاء والقدر الذي هو موضع خلاف في فهمه.
"Memang telah datang iman kepada Qodar pada hadits Jibril pada sebagian riwayat, benar telah datang, Rasulullah SAW bersabda : "dan kamu beriman kepada Qodar baik dan buruknya". Hadits dikeluarkan Imam Muslim dari Umar bin Khathab. Hanya saja hadits itu termasuk khabar ahad. Apalagi yang dikehendaki dengan Qodar di sini adalah ilmu Allah, bukan Qodho-Qodar tempat khilaf dalam pemahamannya". (Asysyakhshiyyah, 1/44, cet. 6, 2003 M).

Pada hadits di atas juga tidak disebutkan beriman kepada Qodho-Qodar, tetapi hanya disebut beriman kepada Qodar baik dan buruknya. Maka tidak tepat menjadi dalil dari beriman kepada Qodho-Qodar, sebagaimana yang datang dari Yunani. Wallohu A’lamu bish-Shawâb ...

(Bersambung ... )
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.