Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
#MenujuLingkunganYangSejukDanDamai
#KecualiAdzanSunnahPakaiSpaeker
Usaha ini adalah kritik pedas nan menyengat terhadap takmir-takmir masjid yang layak mendapat gelar alhabib alspaekeri, al-ustadz alspaekeri, al-abah alspaekeri, assyaikh alspaekeri, karena cinta dan kemaruk mereka yang melampaui batas kepada speaker. Mereka memiliki dalih sebagaimana saya memiliki dalil. Dalih mereka dan dalil saya bertemu pada ayat dan hadis yang sama. Tetapi pemahaman serta pemikiran saya berbeda dengan pemahaman serta pemikiran mereka. Mereka memakai dalil untuk mengokohkan kezaliman terhadap tetangga masjid , sehingga dalilnya menjadi dalih. Berikut adalah dalil saya :
Saya berkata : Alloh SWT berfirman :
innamaa yakmuru ..
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Alloh ialah orang-orang bahwa beriman kepada Alloh dan hari kemudian, serta tetap menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Alloh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS Attaubah [9] : 18).
Pada ayat di atas ada pembatasan shifat (predikat) atas maushuf (obyek). Yaitu dengan kata "innamaa" (hanyalah). Yakni, bahwa shifat amal soleh berupa memakmurkan masjid itu dibatasi hanya pada / bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Tidak bagi selain mereka. Maka tidak ada haq bagi selain mereka dalam memakmurkan masjid-masjid.
Beriman kepada Alloh itu mewajibkan beriman kepada semua sifat-sifat-Nya yang diambil dari nama-nama-Nya yang baik (al asmaa al husnaa), yang tetap melalui dalil-dalil yang qoth'iyyuts tsubut dan qoth'iyyud dalalah, seperti Assamii' (Alloh Maha Mendengar), Albashiir (Alloh Maha Melihat), Al'aliim (Alloh Maha Mengetahui), Alqoriib (Alloh Maha Dekat). Jadi Alloh SWT itu punya sifat maha mendengar, maha melihat, maha mengetahui dan maha dekat.
Maka mereka yang selama ini membuat kerusakan dan kezaliman di dalam dan dari masjid, dengan suara gaduh dan bising; dengan tambahan kalimat sebelum dan setelah azan; dengan pujian-pujian penunggu iqomah; dengan istighatsah dan rotiban; dengan diba'an, yasinan, waqiahan, khataman dll., dimana semua itu dilakukan dengan suara keras dan berspaeker yang sangat menyengat gendang telinga tetangga-tetangga masjid. Mereka dengan semuanya itu, hakekatnya, tidak mengimani bahwa Alloh itu Assamii' (Alloh Maha Mendengar), Albashiir (Alloh Maha Melihat), Al'aliim (Alloh Maha Mengetahui), Alqoriib (Alloh Maha Dekat), sehingga dalam melakukan aktifitas berdzikir dan berdoa tersebut harus dengan suara keras dan berspaeker.
Lebih dari itu, pada ayat diatas, Alloh telah menjelaskan sifat lain setelah iman kepada Alloh dan hari kemudian, sifat yang hanya dimiliki oleh orang-orang mukmin yang memakmurkan masjid, yaitu sifat menegakkan shalat, menunaikan zakat dan hanya takut kepada Alloh. Ini menunjukkan bahwasanya tidak setiap orang yang memakmurkan masjid atau berserikat dalam memakmurkan masjid, baik dengan ibadah shalat, dzikir dan doa maupun dengan membangun fisik masjid, tidak setiap orang yang melakukan hal tersebut bisa disaksikan dengan iman dan diharapkan mendapat petunjuk. Karena aktifitas memakmurkan masjid itu bisa dengan riya (pamer fisik), sum'ah (pamer suara), dan senang pujian dan dipuji sebagai bagian dari sifat orang-orang munafik.
Lebih jauh lagi, memakmurkan masjid adalah aktifitas lahir dan terlihat oleh setiap mata yang memandang, sehingga bisa dilakukan oleh orang-orang yang cinta popularitas ingin dikenal dan terkenal dengan harapan bisa terangkat menjadi abah, tokoh, kiai bahkan embah, lalu punya santri dan pengikut yang bisa dijualbelikan ketika musim pemilu tiba dengan materi dunia yang sedikit. Dan memakmurkan masjid juga bisa dilakukan oleh orang-orang munafik dan ahli bid'ah, untuk tujuan dunia, seperti menjadi makelar pencari dana pembangunannya, lumayan kebutuhan keluarganya bisa tercukupi. Dan kaum muslim tertipu oleh mereka sebagaimana terjadi pada masa Nabi SAW, mereka tertipu oleh para takmir masjid dhiror. Juga tertipu dengan berbagai macam bid'ah yang disebarkan dan dipraktekkan di masjid dan melalui masjid.
Oleh karenanya, setelah iman kepada Alloh dan hari kemudian, Alloh menetapkan tiga syarat bagi orang-orang yang layak memakmurkan masjid, yaitu menegakkan shalat, menunaikan zakat dan hanya takut kepada Allah:
1. Menegakkan sholat. Karena setelah mewujudkan dua kalimat syahadat, sholat adalah rukun asasi bagi agama Islam. Mengenai sholat, Alloh SWT telah berfirman :
إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر
"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar". (QS Al Ankabut [29] : 45).
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah segala sholat(mu) dan (peliharalah) sholat yang tengah, dan berdirilah karena Alloh (dalam sholatmu) dengan khusyuk". (QS Albaqoroh ayat 238).
2. Menunaikan zakat. Karena zakat adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Zakat itu kebaikan dan barokah bagi kehidupan kaum muslimin. Zakat itu pensucian bagi jiwa pemberinya dari penyakit kikir dan bakhil. Dan zakat itu pensucian dan kerukunan bagi jiwa pengambilnya, pensucian bagi jiwanya serta menjauhkannya dari perasaan benci dan marah kepada orang-orang kaya. Lebih dari itu, zakat adalah neraca keadilan terkait manfaat dari harta Alloh yang telah dibagi-bagikan kepada semua hamba-Nya.
3. Hanya takut kepada Alloh. Karena Alloh itu Maha Kaya dari semua amal perbuatan kita. Tidak memberi manfaat kepada Alloh taatnya orang yang taat dan tidak memberi bahaya kepada-Nya maksiatnya orang yang maksiat. Semua amal perbuatan kita itu milik kita, ketika baik maka balasannya baik, ketika buruk maka balasannya buruk, dan Alloh tidak zalim terhadap seorangpun.
Karena itu, seorang muslim takmir masjid yang benar-benar mukmin wajib memurnikan semua amal ibadahnya, baik perkataan maupun perbuatan, dari riya (ingin dilihat), sum'ah (ingin didengar), nifaq (hipokrit / karakter munafik), zalim kepada hamba Alloh, baik yang ada di dalam masjid atau yang menjadi tetangga masjid, baik muslim maupun non muslim, dengan suara keras dan berspeaker yang menyengat gendang telinga dan sangat mengganggu. Karena semuanya itu melebur pahala semua amal yang diperbuatnya, menambah dosa, bahkan kewalat tertimpa mustajabnya doa dari orang-orang yang terzalimi.
Hanya takut kepada Alloh juga adalah karakter ulama pengemban dakwah kepada Islam kaaffah. Hanya takut kepada Alloh dalam menyampaikan haq milik Alloh. Hanya takut kepada Alloh bukan karakter ahli bid’ah, ahli riya dan sum'ah habid alspaekeri, dan orang munafik.
Ketika seorang takmir masjid adalah orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian, juga bisa memenuhi tiga syarat diatas, maka dia layak mendapat predikat mukmin dari Rasulullah SAW :
'An abiy sa'id alkhudriy ...
عن أبي سعيد الخدري ؛ أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قال : " إذا رأيتم الرجل يعتاد المسجد فاشهدوا له بالإيمان ؛
رواه أحمد ، الترمذي ، وابن مردويه ، والحاكم في مستدركه من حديث عبد الله بن وهب .
"Dari Abi Sa'id Alkhudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Apabila kalian melihat laki-laki yang membiasakan diri memakmurkan masjid, maka saksikanlah kepadanya bahwa dia orang mukmin!". HR Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Mardawaih dan Hakim.
Akan tetapi, ketika takmir masjid tidak memiliki empat karakter diatas, dan dia hanya gemar bersuara keras nan berspaeker yang sangat mengganggu dan menzalimi, dan merusak ketenangan suasana, maka dekat sekali persamaannya dengan gerombolan setan yang bertugas di dalam masjid untuk mengganggu dan menyebarkan bid’ah, kesesatan, kerusakan dan kezaliman ...
Wallohu a’lam bish showaab
(www.abulwafaromli.com)