BELAJAR DARI THUFAIL BIN AMRU

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Di bawah adalah penggalan dari kisah panjang Thufail bin Amru. In syaa Alloh kisah ini bermanfaat bagi siapa saja yang yang memiliki sedikit kesamaan fakta yang di hadapi Thufail. Yang jelas kisah Thufail sangat bermanfaat bagi saya pada awal saya mengenal gerakan dakwah Hizbut Tahrir. Teman-teman saya sesama ustadz saling mengingatkan, "Maaf ustadz Romli, jangan terlalu dekat dengan mereka (maksudnya para syabab HTI). Mereka itu kelompok sesat dan menyesatkan, garis keras, radikal, menolak Pancasila, anti NKRI, menolak qodho dan qodar, membolehkan berciuman dan bersalaman dengan wanita ajnabiyyah (asing, bukan mahrom)", dan seambreg tuduhan miring yang lainnya sampai ke masalah yang bersifat pribadi.

Tetapi dalam hati saya berkata, "Alloh kan telah menganugerahkan hati dan akal kepada saya yang dengannya saya bisa merasa dan menganalisa. Apalagi saya kan alumni Lirboyo. Saya nyantri dan sekolah di Lirboyo dari 1984 M sampai 1994 M. Sepuluh tahun saya menuntut ilmu di Lirboyo. Setelah itu, pada tahun 1994 saya mengajar di Pon Pes Nurul Kholil dan Asrorul Kholil Demangan Timur dan Demangan Barat Bangkalan Madura. Sampai sekarang, tahun 2001, saya sudah menjadi ustadz selama tujuh tahun. Di Bangkalan saya bisa membacakan kitab Al Ihyaa sampai khatam selama tiga tahun. Saya bisa baca kitab yang baru saya beli. Karena itu, akan saya baca kitab-kitab Hizbut Tahrir. Kalau benar Hizbut Tahrir itu aliran sesat dan menyesatkan, maka akan saya bongkar kesesatannya."

Selanjutnya apa yang terjadi? Hikmah dari kisah Thufail, justru saya menjadi bagian dari Hizbut Tahrir, dan justru saya banyak membongkar kesesata orang - orang yang memitnah Hizbut Tahrir.

Selamat menikmati secuil kisah ini :

Thufail bin Amru berkisah:

"Aku datang ke Mekah, begitu para pembesar Quraisy melihatku, mereka langsung menghampiriku, menyambutku dengan sangat baik dan menyiapkan tempat singgah yang terbagus bagiku.

Kemudian para pemuka dan pembesar Quraisy mendatangiku sembari berkata, “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah datang ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai nabi itu telah merusak urusan kami dan memecah-belah persatuan kami serta mencerai-beraikan persaudaraan kami. Kami hanya khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinanmu atas kaummu. Oleh karena itu, jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya.”

Thufail berkata:

"Demi Allah, mereka terus menceritakan berita-beritanya yang aneh, menakut-nakutiku atas diri dan kaumku dengan perbuatan-perbuatan Muhammad yang terkutuk dan tercela sampai aku pun bertekad bulat untuk tidak mendekat kepadanya, tidak berbicara dengannya dan tidak mendengar apa pun darinya.

Manakala aku berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan kepada berhala-berhala yang kepada merekalah kami menunaikan ibadah haji dan kepada merekalah kami mengagungkan, aku menyumbat kedua telingaku dengan kapas karena aku takut ada perkataan Muhammad yang menuyusup ke telingaku.

Begitu aku masuk masjid, aku melihat Muhammad sedang berdiri. Dia shalat di Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan shalat kami, beribadah dengan ibadah yang berbeda dengan ibadah kami, pemandangan itu menarik perhatianku, ibadanya menggugah nuraniku. Tanpa sadar aku melihat diriku telah mendekat kepadanya sedikit demi sedikit, sehingga tanpa kesengajaan diriku telah benar-benar dekat kepadanya.

Allah pun membuka hatiku, sebagian apa yang diucapkan Muhammad terdengar olehku, aku mendengar ucapan yang sangat indah. Aku berkata kepada diriku: “Celaka kamu wahai Thufail, sesungguhnya kamu adalah laki-laki penyair yang cerdas, kamu mengetahui yang baik dan yang buruk, apa yang menghalangimu untuk mendengar ucapan laki-laki ini? Jika apa yang dia bawa itu baik, maka kamu harus menerimanya, jika buruk maka kamu harus membuangnya.”

Thufail berkata, “Aku diam sampai Rasulullah SAW meninggalkan tempatnya menuju rumahnya, aku mengikutinya sampai dia masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk kepadanya. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kaumku telah berkata tentangmu begini dan begini. Demi Allah, mereka terus menakut-nakuti dari ajaranmu sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar kata-katamu. Kemudian Allah menolak itu semua dan membuatku mendengar sebagian dari ucapanmu. Aku melihatnya baik, maka jelaskan ajaranmu kepadaku.”

Di saat itulah Rasulullah SAW menjelaskan agamanya kepadaku, beliau membacakan surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar sbuah ucapan yang lebih bagus dari ucapannya, aku tidak melihat sebuah perkataan yang lebih adil daripada perkaranya.

Pada saat itu aku ulurkan tanganku untuknya, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (tuhan) yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku masuk Islam.” Sekian.

Apalagi dengan seorang jahil yang ambisius menjadi tokoh dan kiai, takut kehilangan ketokohannya, takut tersaingi kekiaiannya, takut bubar pengikutnya, takut terbongkar kejahilannya, takut terkuak keburukannya, takut ini dan takut itu, ia mengeluarkan jurus terakhirnya, yaitu, "Kamu jangan mendekati ustadz itu, kamu jangan ngaji ke ustadz itu, ustadz itu begini, ustadz itu begitu, ... ...", dan seterusnya. Perkataan itu diucapkannya ke setiap pengikutnya sambil menakut-nakutinya, yang mau diusir, yang mau diunjuk rasa.

Karena dia tidak memiliki rasio yang rasional, tidak punya ilmu yang ilmiah, dan minus keberanian membela kebenaran, maka jurus terakhirnya adalah jurus penakut dan pengecut, yaitu melempar tuduhan miring dan memitnah. Sama halnya dengan para pembesar Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW.

Wallohu a'lam
Anda peduli, bagikan ke yang lainnya

@KhilafahAjaranIslam
@DemokrasiWarisanPenjajah


Posting Komentar

1 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
  1. Pencari kebenaran akan selalu menggunakan akal pikiran bukan hawa nafsu yang menipu.
    Semoga bertambah barokah dengan ilmu Islam

    BalasHapus