ALADDUL KHISHOM

(PENANTANG YANG PALING KERAS)


Oleh : Abulwafa Romli


Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Di zaman yang dakwah kepada penerapan syariah Islam secara Kaffah melalui penegakkan Khilafah Rosyidah Mahdiyyah, dimana gema “takbir” dan yel-yel “khilafah" terdengar dari setiap sudut dan pelosok dunia, sering kali saya mendengar dan menyaksikan umat Islam dibohongi dan ditipu oleh oknum-oknum ustadznya, kiainya, ulamanya, bahkan oleh kiai dan ulama khashnya. Juga umat Islam selalu dibohongi dan ditipu oleh oknum-oknum pemimpin harokah dan partai politik yang selalu membawa simbol-simbol Islam, tetapi tidak pernah terdengar dan terlihat mereka bertujuan menerapkan syariah Islam, apalagi berjuang menegakkan khilafah yang akan menerapkan syariah Islam. Sedang yang terdengar dan terlihat dari mereka hanyalah penolakan dan penggembosannya terhadap berbagai kegiatan dakwah menuju penerapan syariah Islam secara Kaffah melalui penegakkan khilafah rosyidah mahdiyyah. Dan yang bisa disaksikan secara langsung hanyalah aksi memperkaya diri dengan bertambahnya jumlah kendaraan mahal berjejer di depan dan di sekitar rumahnya. Karena bagi mereka tidak ada faedah dari memperoleh kekuasaan, selain hanya untuk memperkaya diri serta kroni-kroninya. Dan kita semua telah menyaksikan aemuanya.


Oknum-oknum itu dengan nada lembut nan manis nasehatnya, kadang dihiasi dengan linangan dan tetesan air matanya berpesan: “Wahai saudara-saudaraku se-Iman, se-Islam dan se-Perjuangan, Ahlussunnah Wal Jama’ah… Wahai santri-santriku semua yang aku cintai dan aku sayangi… Jagalah iman dan Islam kalian, pertahankan ke-Aswaja-an dan ke-Salafan kalian. Ikutilah para ulama, kiai, ustadz, guru dan pemimpin kalian. Kalian jangan tergoda oleh gemuruh suara takbir, yel-yel syariah dan khilafah di luar sana. Meskipun mereka menyuarakan takbir, yel-yel syariah dan khilafah, tapi akidah mereka bukan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah dan bukan pula akidah Salaf yang saleh. Mereka itu ber-akidah Muktazilah, Khawarij, Syi’ah, Wahabi, dimana semuanya adalah aliran-aliran sesat dan menyesatkan. Dan akidah dan syariah mereka membolehkan ini dan itu, dan menolak ini dan itu. Jadi kalau kalian ingin selamat dari neraka dan ingin masuk surga, dan berada di jalan yang benar dan lurus, maka ikutilah ustadz-ustadz kalian, kiai-kiai kalian, ulama-ulama kalian, dan pemimpin-pemimpin kalian. Dan janganlah kalian memyimpang atau meniggalkan akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, akidah Salaf yang saleh barang sejengkalpun… ”. Ya kurang lebihnya begitu. Bahkan tidak sedikit para oknum itu bersumpah, “Demi Allah, aku menasihati kalian, aku sayang kepada kalian, dan aku mengkhawatirkan kalian, agar kalian selamat dari neraka, dan agar kalian menjadi ahli surga”.


Namun di balik itu semua, para oknum itu mengajak para santri dan jama’ahnya, para kader dan simpatisannya untuk mengikuti mereka, untuk mendukung dan memilih cabub, cagub, capres, cawapres dan seterusnya, bahkan mereka sendirilah cabub, cagub, capres, cawapres dan seterusnya. Dan itu semua dilakukannya ketika ada amplop tebal dari cabub, cagub, capres dan cawapres tertentu menyelinap ke saku-saku mereka. 


Dan ketika mereka bertujuan membesarkan tubuh partainya, mereka juga mengajak jama’ah dan santrinya, dan para kader dan simpatisannya, untuk mendukung dan memperjuangkan demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme dan seterusnya, yang nyata-nyata telah lahir dari rahim akidah sekularisme. Lagi-lagi hanya karena amplop tebal yang menyelinap ke saku-saku mereka, dan karena ambisi membesarkan tubuh partainya. Padahal pemikiran tersebut nyata-nyata kontradiksi dengan akidah dan syariat Ahlussunnah Wal Jama’ah, ulama salaf yang saleh. Jadi, pada dasarnya mereka telah menjadikan agama sebagai umpan untuk memburu dan menangkap amplop-amplop besar, dan telah menipu dan menyesatkan simpatisan dan santri-santrinya.


Dan terkait fakta orang-orang di atas, sesungguhnya Allah SWT telah berfirman:


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلى ما فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصامِ ، وَإِذا تَوَلَّى سَعى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيها وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسادَ ، وَإِذا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهادُ

“Dan di antara maniusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dipersaksikannya kepada Alloh (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Alloh tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Alloh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS al-Baqaroh [2]: 204-206).


Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya terkait ayat ini berkata:

“Al-Suddi berkata: “Ayat ini turun mengenai Akhnas bin Syariq al-Tsaqafi, ia datang kepada Rasulullah SAW dengan melahirkan Islam, padahal batinnya tidak seperti lahirnya. Sedang menurut Ibnu Abbas RA, ayat ini turun mengenai sekelompok orang munafik yang berbicara tentang Khubaib dan teman-temannya yang terbunuh di daerah Roji’ dan mereka mencelanya. Lalu Allah SWT menurunkan ayat:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (QS al-Baqaroh [2]: 207), sebagai celaan terhadap orang-orang munafik dan pujian kepada Khubaib dan teman-temannya.


Dan ada yang berkata bahwa, ayat-ayat tersebut bersifat umum mengenai semua orang munafik dan orang-orang mu’min. Ini adalah pendapat Qotadah, Mujahid, Robi’ bin Anas dan lain-lain, dan ini adalah pendapat yang benar”.


Ibnu Jarir berkata: “Nauf al-Bikali termasuk dari orang-orang yang membaca kitab-kitab terdahulu berkata: “Sungguh aku menemukan sifat manusia dari umat ini, pada kitab Allah yang diturunkan terdahulu, yaitu kaum yang menipu (jama’ah dan santrinya) dalam mencari dunia dengan agama, lisan mereka lebih manis daripada madu, hati mereka lebih pahit daripada aloe (tanaman jenis bakung yang rasanya pahit / bertawali), dan mereka mengenakan pakaian dari kulit domba, sedangkan hati mereka adalah hati serigala (serigala berbulu domba). Allah SWT berfirman: “Apakah mereka berani terhadap-Ku, apakah mereka menipu dengan-Ku, Aku bersumpah, demi Zat-Ku, niscaya akan Aku kirimkan kepada mereka fitnah yang membuat orang bijak menjadi bingung”.


Al-Qurzhi berkata: “Aku telah mencarinya di dalam Alqur’an, maka aku menemukannya ayat terkait orang-orang munafik: “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras …”.


“Dari Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya laki-laki yang paling dibenci oleh Alloh adalah penantang yang paling keras”. (HR Bukhari (Shahih al-Bukhari No. 4523).


Sedang firman Alloh SWT:

“Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Alloh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS al-Baqaroh [2]: 206).


Yakni ketika si munafik itu dinasihati terkait perkataan dan perbuatannya, dan dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, hentikanlah perkataan dan perbuatanmu, dan kembalilah kepada haqq”, maka ia menolak dan membangkang, dan ia keras kepala dan marah-marah, sehingga dosanya bertambah. Ayat tersebut sama dengan ayat berikut:


“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkarang pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat kami di hadapan mereka. Katakanlah: “Apakah akan Aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Alloh telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan nereka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS al-Haji [22]: 72).


Meha benar firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya SAW.


Wahai saudara-saudaraku, waspadalah terhadap aladdul khishom, sehingga kita tidak terbohongi dan tertipu olehnya. Ingat hidup di dunia ini hanya sebentar dan ketika telah meninggal dunia, maka tidak akan bisa kembali lagi. Tidak ada kata terlambat untuk “bertaubat secara nasional”, tentu dengan taubat nasuha, dengan mencampakkan sistem republik - demokrasi dan berhijrah ke sistem khilafah. Hasbunallah wani’mal wakiil, ni’mal maula wani’man nashiir, walaa haula walaa quwwata illa billah.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.