(Nasehat kepada Habaib, Ulama dan Asatidz)
Oleh : *Abulwafa Romli*
*Bismillaahir Rohmaanir Rohiim*
SUDAH biasa para muhibbin dan santri ketika diajak berdakwah bersama Hizbut Tahrir Global, mereka berkata ; "Kami ikut Habaib saja", "Kami ikut Ulama saja" atau "Kami ikut Asatidz saja".
Karenanya, Habaib, Ulama dan Asatidz itu harus berhati-hati. Karena mereka diikuti oleh para santri dan muhibbinnya. Terutama di era kebangkitan Islam dan kaum muslimin seperti saat ini dimana dakwah penegakan syari'at Islam Kaffah dan khilafah sangat massif. Sehingga Habaib, Ulama dan Asatidz harus waskita dan waspada terhadap perkembangan dan tantangan zamannya. Dan harus memiliki empat makrifat (pengetahuan) sekaligus; 1) makrifat terhadap dirinya, 2) makrifat terhadap Robbnya, 3) makrifat terhadap zamannya dan 4) makrifat terhadap tantangan dari musuhnya.
Kalau dulu kaidahnya berbunyi;
مَنْ عرفَ نَفسَهُ عرفَ ربَّهُ
"Barang siapa yang telah makrifat terhadap dirinya, maka ia bisa makrifat terhadap Robbnya".
Maka sekarang kaidahnya ditambah;
مَنْ عَرَفَ زَمَانَهُ عَرَفَ عَدُوَّهُ
"Barang siapa yang telah makrifat terhadap (perkembangan) zamannya, maka ia bisa makrifat terhadap (tantangan dari) musuhnya".
Makrifat terhadap diri dan Robbnya dari dulu hingga sekarang sudah jamak dikenal dan jamak dimengerti dan tidak berubah. Akan tetapi makrifat terhadap zaman dan musuhnya, maka zaman sekarang musuh setiap muslim itu datang dari kekuatan kafirun, musyrikun dan munafikun penganut dan penyebar akidah sekularisme, ideologi kapitalisme, sistem pemerintahan demokrasi, pluralisme, sinkretisme dan seterusnya. Dan pengatut akidah materialisme, idiologi komunisme - sosialisme, sistem pemerintahan komunis dan seterusnya.
Setelah mereka makrifat terhadap zaman dan tantangan akidah, idiolog dan pemikiran dari musuh-musuhnya, maka mereka juga harus makrifat terhadap solusi untuk menangkal dan menghancurkan tantangan dari musuh-musuhnya itu. Yaitu solusi akidah Islam, idiologi Islam, sistem pemerintahan Islam khilafah, dan afkaar serta mafaahim Islam terkait semuanya itu.
Juga harus makrifat terhadap mana khilafah yang asli dan mana khilafah yang palsu dan firqoh. Karena dewasa ini sudah ada empat khilafah palsu; 1) khilafah kaum sekuler - liberal - moderat, yaitu republik - demokrasi dimana kata mereka sudah khilafah sehingga presidennya sudah khalifah, 2) khilafah Ahmadiyah, Islam Jama'ah / LDII yang berpusat di Kediri Jatim dan lainnya, 3) khilafah Khilmus yang berpusat di Bandar Lampung, dan 4) khilafah ISIS/IS di Iraq - Suriah. Semuanya adalah problem. Sedang solusinya adalah khilafah Islamiyah, Khilafah Rosyidah atau Khilafah ala Minhajin Nubuwwah yang sedang didakwahkan dan diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir Global bersama komponen umat lainnya.
•Inilah dalil empat makrifat serta solusinya. Rasulullah SAW bersabda :
اِتَّقِ اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
"Bartaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan sehingga menghapusnya, dan perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik". (HR Tirmidzi dan Ia berkata; Hadits Hasan. Dalam naskah lain; Hadits Hasan Shahih).
Maksud hadits :
1-Bertaqwalah kepada Allah, di zaman manapun kamu berada, di tempat manapun kamu berada, dan dalam kondisi apapun kamu berada.
2-Di zaman manapun ada keburukan, segera gantilah dengan kebaikan. Di tempat manapun ada keburukan, segera gantilah dengan kebaikan. Dan dalam kondisi apapun ada keburukan, segera gantilah dengan kebaikan.
3-Di zaman manapun, di tempat manapun, dan dalam kondisi apapun, perlakukan manusia dengan khuluq (akhlak) yang baik.
Sedang khuluq yang baik adalah Alqur'an. Aisyah ra berkata :
كانَ خُلُقُ رسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ القرآنَ
"Akhlaq Rasulullah SAW adalah Alqur'an".
Jadi Rasulullah SAW telah menyuruh supaya manusia di zaman manapun, di tempat manapun dan dalam kondisi apapun diperlakukan dengan Alqur'an. Itulah hakekat taqwa harus menjadikan Alqur'an sebagai pedoman dan aturan dalam kehidupan, masyarakat dan negara.
•DAN kini pengemban dakwah pembawa solusi itu telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dari perkotaan hingga pedesaan. Mereka bernaung dan bergerak di bawah komando partai politik Islam ideologis Hizbut Tahrir Global. Sehingga Habaib, Ulama dan Asatidz harus segera menyambut, mendukung dan bergabung bersama Hizbut Tahrir Global. Kemudian mengajak santri dan muhibbinnya turut berdakwah kepada penegakkan Syariat Islam Kaffah dan khilafah. Sehingga tidak ada alasan bagi santri dan muhibbinnya untuk menolak bergabung hanya karena Habaib, Ulama dan Asatidznya itu tidak bergabung atau menghalangi mereka untuk bergabung. Sehingga Habaib, Ulama dan Asatidznya itu tidak memikul dosa santri dan muhibbinnya. Karena menegakkan khilafah dan mengangkat serta membai'at seorang khalifah adalah fardhu kifayah dimana selama khilafah belum bisa tegak dan khalifah belum bisa diangkat serta dibai'at, maka hal itu menjadi fardhu 'ain di pundak setiap muslim mukallaf.
•DOSA para santri dan muhibbin itu disamakan dengan dosa para petani pengikut dan rakyatnya Herakkius kaisar Romawi.
Rasulullah SAW pernah mengirim surat kepada Heraklius kaisar Romawi :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ . سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى . أَمَّا بَعْدُ ؛ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلامِ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ (أي أتباعه ورعاياه الذين يتابعونه على الكفر) . وَ [ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ] ) .
"Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Heraklius pembesar Romawi. Keselamatan atas siapa saja orang yang mengikuti petunjuk. Ammaa ba'du; Maka sesungguhnya Aku mengajakmu untuk memeluk Islam. Masuklah Islam, maka kamu selamat. Allah memberimu pahalamu dua kali. Apabila kamu berpaling, maka kamu memikul dosa kaum petani (pengikut dan rakyatnya yang mengikutinya diatas kekafiran). "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)," (QS Ali Imran: 64). (HR Bukhari [7] dan Muslim [1773]).
•HENDAKNYA Habaib, Ulama dan Asatidz menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan sehingga memikul pahala santri dan muhibbinnya. Dan tidak menjadi kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan sehingga memikul dosa santri dan muhibbinnya.
Dari Anas bin Malik dan Sahal bin Sa'ad, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
عندَ اللهِ خزائنُ الخيرِ والشرِّ، مفاتيحُها الرجالُ، فطوبَى لمنْ جعلهُ اللهُ مِفْتَاحًا للخيرِ، مِغْلَاقًا للشرِّ، وويلٌ لمنْ جعلَهُ اللهُ مِفتاحًا للشرِّ مغلاقًا للخيرِ
"Di sisi Allah ada perbendaharaan kebaikan dan keburukan dimana kunci-kunci pembukanya adalah laki-laki (Habaib, Ulama dan Asataidz). Maka bahagia sekali bagi seseorang yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka kebaikan dan kunci penutup keburukan. Dan celaka sekali bagi orang yang dijadikan oleh Allah sebagai kunci pembuka keburukan dan kunci penutup kebaikan". (HR Suyuthi, Aljaami' Asshoghir, Ia berkata; Hadits Shahih).
Dan dari Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إنَّ من الناس ناسًا مَفاتيح للخير مَغاليق للشَّرِّ، وإنَّ من الناس ناسًا مَفاتيح للشَّرِّ مَغاليق للخير، فطُوبَى لِمَن جعَل الله مَفاتيح الخير على يدَيْه، ووَيْلٌ لِمَن جعَل الله مفاتيح الشَّرِّ على يدَيْه
"Sesungguhnya diantara manusia ada manusia yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada manusia yang menjadi kunci-kunci penutup kebaikan dan pembuka keburukan. Maka sungguh bahagia bagi orang yang Allah menjadikan kunci-kunci pembuka kebaikan di kedua tangannya. Dan sungguh celaka bagi orang yang Allah menjadikan kunci-kunci pembuka keburukan di kedua tangannya". (HR Ibnu Majah [195], Assilsilah Asshahihah [1332]).
Wallahu A'lam bish shawab
Semoga bermanfaat Aamiin
#KhilafahAjaranIslam
Mari bersekutu meraih pahala ilmu yang bermanfaat dengan membagikan tulisan ini sehingga sampai kepada yang berhaq💪🙏