Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Ternyata Baitul Maqdis itu bukan kiblat pertama bagi umat Islam. Karena kiblat pertama umat Islam adalah Ka'bah.
Allah Ta'ala berfirman :
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِن كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
"Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia. (QS Al-Baqarah: 143).
•Al-Imam Al-'Alamah Al-Muhaqqiq Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Al-Mahalliy As-Syafi'iy rh berkata :
وَمَا جَعَلْنَا-صيرنا- الْقِبْلَةَ -لك الآن الجهة- الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا -أولا وهي الكعبة وكان صلى الله عليه وسلم يصلي إليها فلما هاجر أمر باستقبال بيت المقدس تألفا لليهود فصلى إليه ستة أو سبعة عشر شهرا ثم حول-
(Dan Kami tidak menjadikan Kiblat) buat kamu sekarang yaitu arah (yang kamu dulu menghadap kepadanya) pertama kali, yaitu Ka'bah. Dulu Rasulullah SAW shalat menghadap Ka'bah. Kemudian ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, maka Rasul diperintah shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis untuk mempersatukan orang-orang Yahudi. Jadi Rasulullah telah shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam atau tujuh belas bulan, kemudian dipindah menghadap Ka'bah lagi". (Tafsir Al-Jalalain).
•Dan setelah Ash-Showiy menjelaskan perselisihan terkait i'rob ayat;وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا , dimana ada mufassir yang mengadopsi bahwa lafadz القبلة adalah maf'ul kedua yang didahulukan bagi lafadz جعلنا , sedang lafadz التي menjadi sifat bagi maushuf yang dibuang yaitu lafadz الجهة (arah) sebagai maf'ul pertama. Dan mufassir lainnya mengadopsi sebaliknya, yaitu bahwa lafadz القبلة adalah maf'ul pertama, sedang lafadz التي adalah sifat bagi maushuf yang dibuang, yaitu lafadz الجهة sebagai maf'ul kedua. Setelah itu Ash-Showiy menjelaskan :
وحاصل ذلك أن رسول الله وهو بمكة كان يصلي للكعبة فلما هاجر إلى المدينة أمر باستقبال بيت المقدس تاليفا لليهود فصلى له سبعة عشر أو ستة عشر شهرا، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يشم منهم الكبر فكانوا يقولون إن محمدا يفارق ديننا ويصلي لقبلتنا
"Kesimpulannya, bahwa Rasulullah ketika di Makkah itu shalat menghadap Ka'bah. Kemudian ketika hijrah ke Madinah, maka Rasulullah diperintah shalat menghadap Baitul Maqdis untuk bisa mempersatukan orang-orang Yahudi. Maka Rasulullah shalat menghadap Baitul Maqdis selama tujuh belas atau enam belas bulan. Kemudian Rasulullah SAW menciun aroma kesombongan dari orang-orang Yahudi, dimana mereka mengatakan, "Sesungguhnya Muhammad itu meninggalkan agama kami, tetapi dia shalat menghadap kiblat kami".
وكان رسول الله يحب أن يصلي للكعبة حتى نزل عليه جبريل يوما فقال له يا جبريل أود أن الله يحولني لقبلة إبراهيم فسل ربك ذالك فقال له أنت أكرم عليه مني ثم صعد إلى السماء فصار رسول الله ينظر لجهتها منتظرا للإذن في ذلك فنزل عليه جبريل بعد ركعتين من صلاة الظهر في رجب بالأمر بالتحويل للكعبة فتحول وتحول الناس معه وكان يوما مشهودا فافتتن اليهود وأهل النفاق
"Dan Rasulullah senang shalat menghadap Ka'bah, sehingga pada suatu hari Jibril turun kepadanya. Rasulullah berkata kepada Jibril; " Wahai Jibril, aku senang jika Allah memindahkanku shalat menghadap kiblat Ibrahim, mintakan hal itu kepada Allah". Jibril berkata kepada Rasulullah; "Kamu lebih mulia disisi Allah daripada aku", lalu Jibril naik ke langit. Dan Rasulullah selalu memandang ke arah Ka'bah sambil menunggu izin menghadapnya. Kemudian Jibril turun kepadanya setelah dua rakaat dari shalat zhuhur pada bulan Rajab dengan membawa perintah memindahkan shalat menghadap Ka'bah. Lalu Rasulullah berpindah arah dan orang-orang pun berpindah arah bersamanya. Hari itu adalah hari yang disaksikan. Lalu orang-orang Yahudi dan munafiqun sama memfitnah".
(Hasyiyah Al-'Alamah Ash-Showiy 'alaa Tafsir Al-Jalalain).
Wallahu A'lam bish Shawwab
Semoga bermanfaat aamiin