Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Ulama abad kesepuluh hijriyah, Syaikh Abdul Wahhab bin Ahmad bin `Aliy al-Anshoriy asy-Syafi`iy al-Mishriy asy-Sya'roni rohimahulloh berkata :
أن سبب مشروعية التضحية دفع البلاء عن المُضَحِّي وأهله وجميع أهل الدار من المسلمين
"Sesungguhnya sebab disyariatkannya berkurban adalah menolak bala' (bencana, musibah, ujian, cobaan atau penyakit) dari orang yang berkurban, keluarganya dan semua penghuni rumahnya / penduduk negaranya dari kaum muslimin". (Al-Mizan Al-Kubro, 2/52).
•Hewan kurban adalah tunggangan di akhirat kelak diatas shiroth mustaqim berjalan menuju surga. Rasulullah SAW bersabda :
عظموا ضحاياكم فإنها على الصراط مطاياكم
`azhzhimuu dhohaayaakum fainnahaa `alash shiroothi mathooyaakum
"Besarkanlah hewan kurban kalian, karena sesungguhnya hewan kurban kalian adalah kendaraan kalian diatas shirath.” (HR. Al-‘Ajluni dalam Kasyf al-Khafa’ (1/94) dan Ibnu Hajar dalam Talkhis al-Khabir 4/138).
Berkaitan dengan hadis diatas, Ibnu Shalah mengatakan bahwa hadis ini tidak ada asalnya. Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Talkhis Khabir mengatakan; "Hadis ini dikeluarkan oleh penulis musnad al-Firdaus dari Ibnu al-Mubarak, dari Yahya bin Ubaidillah bin Mauhib dari bapaknya dari Abu Hurairah secara marfu’ dengan redaksi;
استفرهوا ضحاياكم فإنها مطاياكم على الصراط
Istafrihuu dhohaayaakum fainnahaa mathooyaakum `alash shiroothi
“Pilihlah hewan kurban kalian yang terbaik karena sesungguhnya ia adalah tunggangan kalian diatas shirath.”
Yahya di sini adalah rawi yang dhaif jiddan (lemah sekali). (Talkhis Khabir 4/138 no.2364). Akan tetapi dibolehkan mengamalkan hadis tersebut untuk fadhailul a’mal. Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar mengatakan; “Boleh, bahkan disunnahkan beramal dalam fadha’il, targhib dan tarhib dengan hadis dhaif selama belum mencapai derajat maudhu.” (Lihat al-Adzkar dan Syarah Ibnu ‘Alan jilid 1 hlm. 86).
•Terkait shiroth mustaqim, Syaikh Abdulwahhab bin Ahmad bin Aliy al-Anshari asy-Syafi’i al-Mishri asy-Sya’roni berkata:
ﻗﺎﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺸﻒ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺮﺍﻁ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻫﻨﺎ ﻻ ﻫﻨﺎﻙ، ﻓﻴﺠﻨﻲ ﻛﻞ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺛﻤﺮﺓ ﻋﻤﻠﻪ، ﻓﻤﻦ ﺯﻝ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻫﻨﺎ ﺯﻟﺖ ﻗﺪﻣﻪ ﻫﻨﺎﻙ ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﺯﻝ ﻫﻨﺎ
"Ahli kasyaf berkata: “Sesungguhnya berjalan di atas shiroth hakekatnya adalah hanya di sini (dunia), tidak di sana (akhirat). Maka setiap manusia akan memetik buah amalnya. Barang siapa yang di sini tergelincir dari syariat, maka di sana kakinya akan tergelincir, sesuai ketergelincirannya di sini”. (al-Mizan al-Kubro, hal. 52).
•Ketika menyintai hambaNya, maka Allah mengujinya.
Dari Abu Hurairah rodhiyallohu `anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إِذا أحَبَّ الله عَبْداً ابْتَلاهُ لِيَسْمَعَ تَضَرُّعَهُ
"Ketika Allah mencintai hamba-Nya, maka Allah mengujinya dengan cobaan supaya Allah dapat mendengar tadaruk (permohonan dengan kerendahan hati)nya". (HR Baihaqi).
•Karena berkurban, Allah menolak bala' dari Nabi Ibrahim, sehingga apipun menjadi dingin dengan perintah-Nya :
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ، قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ
"Mereka berkata, "Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, "Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi". (Al-Anbiya, ayat 68-70).
•Pelajaran yang bisa didapat :
Hamba-hamba Allah yang berada diatas jalan yang lurus, yaitu agama Islam yang apa adanya, yang tidak ditambah dan dikurangi, yang tidak belok ke jalan Yahudi dan jalan Nasrani, yang "udkhuluu fissilmi kaaffah", yang "mukhlishiina lahuddiin", mereka semua menyintai Allah dan dicintai Allah. Mereka berpegang teguh kepada tali agama Islam, yaitu dengan mengimani, mengamalkan dan mendakwahkannya secara kaffah melalui dakwah penegakkan khilafah.
Allah pasti akan menguji mereka dengan berbagai bala' karena mereka adalah hamba-hamba yang dicintaiNya, bukan yang dibenciNya. Tetapi mereka diberi kesempatan dan bisa menolak atau mengurangi bala' itu dan tetap dicintai oleh Allah. Yaitu dengan berkurban. Kalaupun mereka tetap harus mendapat bala', maka seperti yang terjadi dengan Nabiyyulloh Ibrahim yaitu api yang membakarnya menjadi dingin dengan perintahNya. Bala' datang, rezeki melimpah. Bala' datang membawa berkah. Bala' datang, popularitas bertambah seantero nusantara. Dan bala' datang, dakwah syariah dan khilafah semakin menggema seantero dunia.
Jangan biarkan kesempatan berkurban berlalu meninggalkan kita. Meskipun dengan menyembelih ayam bagi kita yang benar-benar tidak mampu.
https://abulwafaromli.blogspot.com/2021/07/bolehkah-berkurban-dengan-ayam.html?m=1
Hewan kurban adalah tunggangan kita dalam mengarungi dan menjelajah medan dan belantara dakwah syariah dan khilafah. Sehingga kita selamat anan sentosa sampai khilafah benar-benar tegak tanpa bala' yang berarti.
Wallahu A'lam bish shawab
Moga manfaat aamiin