DETEKSI KLAIM TA'AT ULIL AMRI, BENAR ATAU SALAH?

Oleh : Abulwafa Romli


Bismillaahir Rohmaanir Rahiim 

Tulisan ini adalah alat deteksi atas klaim ta'at kepada ulil amri dalam sistem demokrasi, sebagai kebenaran atau justru untuk menolak kebenaran?


Mereka adalah dua kelompok Salafi Talafi dan Aswaja Sekular, dalam hal khilafiyah ibadah mahdhoh, tauhid dan syirik, kedua kelompok ini saling serang ibaratnya menjadi musuh abadi. Tetapi, mereka bertemu dalam satu titik dan bersepakat dalam hal wajibnya ta'at  kepada ulil amri, tanpa membedakan antara ulil amri minkum dalam sistem pemerintahan khilafah, baik yang ala minhajin nubuwwah maupun yang ala minhajil muluk (mulkan 'adhdhon), dan antara ulil amri minhum dalam sistem demokrasi, komunis, kerajaan atau teokrasi (mulkan jabriyah).


Alat deteksi ini adalah QS Annisa' ayat 58, 60 dan 61 untuk mendeteksi benar atau salahnya klaim ta'at ulil amri ala Salafi Talafi dan Aswaja Sekular dengan dalil ayat 59-nya.


*SURAT ANNISA AYAT 58*
Penjelasan tentang ulil amri yang amanah dan adil sehingga wajib dita'ati oleh rakyatnya.


Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا 
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat". (QS Annisa' : 58).


Imam Qurthubi RH dalam Tafsirnya berkata : 
قال أبو جعفر: وأولى هذه الأقوال بالصواب في ذلك عندي، قولُ من قال: هو خطاب من الله ولاةَ أمور المسلمين بأداء الأمانة إلى من وَلُوا أمره في فيئهم وحقوقهم، وما ائتمنوا عليه من أمورهم، بالعدل بينهم في القضية، والقَسْم بينهم بالسوية. يدل على ذلك ما وَعظ به الرعية في: أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ، فأمرهم بطاعتهم، وأوصى الرّاعي بالرعية، وأوصى الرعية بالطاعة
Abu Jakfar berkata : 
"Menurut saya perkataan yang paling mendekati kebenaran mengenai hal tersebut (tafsir Annisa' : 58) ialah perkataan orang yang berkata, bahwa ayat itu adalah seruan Allah kepada penguasa kaum muslimin agar menyampaikan amanah kepada rakyatnya terkait harta fai dan hak-hak rakyat, dan agar penguasa itu melaksanakan urusan rakyatnya yang telah diamanahkan kepada mereka, dengan berlaku adil diantara rakyat terkait putusan hukum dan pembagian hak-hak dengan sama rata. Demikian ini ditunjukan oleh mauizhah Allah kepada rakyat : "Ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu."
Jadi Allah telah menyuruh rakyat agar ta'at kepada ulil amri, Allah wasiat kepada ulil amri agar menyampaikan amanat dan berlaku adil kepada rakyat, dan wasiat kepada rakyat agar ta'at kepada ulil amri yang amanah dan adil."


Jadi ayat ini adalah seruan kepada ulil amri agar menyampaikan amanat dan berlaku adil, baik dalam putusan hukum maupun dalam pembagian. Ayat ini adalah dasar bagi kewajiban ta'at kepada ulil amri pada ayat setelahnya, yakni Annisa : 59. Yaitu ta'at kepada ulil amri yang amanah dan adil. Tentu amanah dan adil dalam syariat Islam.


*SURAT ANNISA AYAT 59*
Perintah ta'at kepada ulil amri yang menerapkan Alqur'an dan Assunnnah.


Allah SWT berfirman :
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا 
"Wahai orang-orang yang beriman! Ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (penguasa) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".


Imam Al Qurthubi RH dalam Tafsirnya berkata :
فيه ثلاث مسائل :
الأولى : لما تقدم إلى الولاة في الآية المتقدمة وبدأ بهم فأمرهم بأداء الأمانات وأن يحكموا بين الناس بالعدل ، تقدم في هذه الآية إلى الرعية فأمر بطاعته جل وعز أولا ، وهي امتثال أوامره واجتناب نواهيه ، ثم بطاعة رسوله ثانيا فيما أمر به ونهى عنه ، ثم بطاعة الأمراء ثالثا ؛ على قول الجمهور وأبي هريرة وابن عباس وغيرهم
Padanya (tafsir Annisa: 59) ada tiga masalah :
Masalah pertama : Allah telah memprioritaskan ulil amri pada ayat sebelumnya (Annisa : 58). Allah memulai dengan ulil amri dan menyuruh mereka agar menyampaikan amanat dan memutuskan hukum diantara rakyat dengan adil. Sedang pada ayat ini (Annisa: 59) Allah memprioritaskan rakyat. Pertama, Allah menyuruh rakyat agar ta'at kepada-Nya azza wajalla , yaitu melaksanakan perintah2-Nya serta menjauhi larangan2-Nya. Kedua, menyuruh ta'at kepada Rasul-Nya pada apa yang diperintahnya dan yang dilarangnya. Ketiga, menyuruh ta'at kepada ulil amri, berdasarkan pendapat Jumhur, Abu Hurairoh, Ibnu Abbas dan lainnya.


  قال سهل بن عبد الله التستري : أطيعوا السلطان في سبعة : ضرب الدراهم والدنانير ، والمكاييل والأوزان ، والأحكام والحج والجمعة والعيدين والجهاد . قال سهل : وإذا نهى السلطان العالم أن يفتي فليس له أن يفتي ، فإن أفتى فهو عاص وإن كان أميرا جائرا 
Sahal bin Abdullah Attusturi RH berkata : "Ta'atlah kalian kepada sultan (ulil amri) dalam tujuh perkara; percetakan uang dirham dan dinar, takaran dan timbangan, hukum-hukum, haji, jum'at, dua hari raya dan jihad". Sahal RH juga berkata : "Ketika sultan melarang orang alim berfatwa, maka ia tidak boleh berfatwa. Apabila ia tetap berfatwa, maka ia maksiat, meskipun sultan itu orang zalim (secara pribadinya)."


قلت : روي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال : حق على الإمام أن يحكم بالعدل ، ويؤدي الأمانة ؛ فإذا فعل ذلك وجب على المسلمين أن يطيعوه ؛ لأن الله تعالى أمرنا بأداء الأمانة والعدل ، ثم أمر بطاعته 
Aku (Al Qurthubi) berkata :
"Telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwa ia berkata : "Wajib atas imam memutuskan (hukum suatu) perkara dengan adil dan menyampaikan amanat. Ketika imam telah melakukan hal demikian, maka wajib atas kaum muslimin ta'at kepadanya. Karena Allah SWT telah menyuruh kami agar menyampaikan amanah dan berlaku adil, kemudian menyuruh agar ta'at kepada imam".


Ibnu Katsir RH dalam Tafsirnya berkata :
فهذه أوامر بطاعة العلماء والأمراء ، ولهذا قال تعالى : ( أطيعوا الله ) أي : اتبعوا كتابه ( وأطيعوا الرسول ) أي : خذوا بسنته ( وأولي الأمر منكم ) أي : فيما أمروكم به من طاعة الله لا في معصية الله ، فإنه لا طاعة لمخلوق في معصية الله ، كما تقدم في الحديث الصحيح : إنما الطاعة في المعروف. وقال الإمام أحمد :حدثنا عبد الرحمن ، حدثنا همام ، حدثنا قتادة ، عن أبي مراية ، عن عمران بن حصين ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : "لا طاعة في معصية الله".
"Maka ayat ini adalah perintah ta'at kepada ulama dan umaro. Allah berfirman : "Ta'atlah kamu kepada Allah", yakni ikutilah kitab-Nya. "dan ta'atlah kamu kepada Rasulullah", yakni ambillah sunnahnya. "Dan kepada ulil amri minkum", yakni pada perkara yang diperintahkan atas kamu dari ta'at kepada Allah, bukan maksiat kepada Allah. Karena tidak ada ta'at kepada makhluk dalam maksiat kepada Allah. Seperti diatas dalam hadits shahih; "Sesungguhnya ta'at itu hanya dalam perkara ma'ruf (kebaikan)". Imam Ahmad berkata: "Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Mirayah dari Imron bin Hushain dari Nabi SAW, beliau bersabda : "Tidak ada ta'at dalam hal maksiat kepada Allah".


Jadi ulil amri yang wajib dita'ati adalah ulil amri yang amanah dan adil dalam kepimpinannya, yaitu ulil amri yang menerapkan syariah Islam secara sempurna dalam pemerintahannya, meskipun secara pribadinya zalim. Karena perkataan Sahal bin Abdullah Attusturi, "Taatlah kalian kepada sultan (ulil amri) dalam tujuh perkara; percetakan uang dirham dan dinar, takaran dan timbangan, hukum-hukum, haji, jum'at, dua hari raya dan jihad", tujuh perkara tersebut hanya bisa diterapkan dalam sistem pemerintahan Islam, khilafah. Apalagi perintah kembali kepada Allah (Alqur'an) dan Rasulullah (Assunnah) ketika terjadi perselisihan, adalah perintah menjadikan Alqur'an dan Assunnah sebagai asas dalam menetapkan dan memutuskan hukum dalam kehidupan, berbangsa dan bernegara.


*SURAT ANNISA AYAT 60* 
Ta'at kepada ulil amri yang menerapkan hukum Allah dan hukum Rasulullah, Alqur'an dan Assunnah, meniscayakan menjauhi dan mengkufuri thaghut.


Allah SWT berfirman :
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا 
"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari Thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya". (QS Annisa : 60).


Imamul Mufassiriin Al Qurthubi RH berkata :
وقال الضحاك : دعا اليهودي المنافق إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، ودعاه المنافق إلى كعب بن الأشرف وهو الطاغوت ورواه أبو صالح عن ابن عباس قال : كان بين رجل من المنافقين يقال له بشر وبين يهودي خصومة ؛ فقال اليهودي : انطلق بنا إلى محمد ، وقال المنافق : بل إلى كعب بن الأشرف وهو الذي سماه الله الطاغوت أي ذو الطغيان فأبى اليهودي أن يخاصمه إلا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ فلما رأى ذلك المنافق أتى معه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقضى لليهودي.
 فلما خرجا قال المنافق : لا أرضى ، انطلق بنا إلى أبي بكر ؛ فحكم لليهودي فلم يرض ذكره الزجاج وقال : انطلق بنا إلى عمر فأقبلا على عمر فقال اليهودي : إنا صرنا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم إلى أبي بكر فلم يرض ؛ فقال عمر للمنافق : أكذلك هو ؟ قال : نعم . قال : رويدكما حتى أخرج إليكما . فدخل وأخذ السيف ثم ضرب به المنافق حتى برد ، وقال : هكذا أقضي على من لم يرض بقضاء الله وقضاء رسوله ؛ وهرب اليهودي ، ونزلت الآية. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أنت الفاروق . ونزل جبريل وقال : إن عمر فرق بين الحق والباطل ؛ فسمي الفاروق .
Adhdhohhak berkata : "Orang Yahudi mengajak orang munafik untuk berperkara kepada Nabi SAW, sedang munafik mengajak yahudi ke Ka'ab bin Al Asyrof sebagai thaghut". 
Abu Shalih meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata : "Telah terjadi perselisihan antara laki-laki munafik bernama Bisyer dan orang Yahudi. Maka yahudi berkata : "Mari kita datang ke Muhammad". Munafik berkata : "ke Ka'ab bin Asyrof saja". Ka'ab lah yang disebut Allah sebagai taghut, yakni yang melampaui batas. Yahudi menolak berperkara dengan munafik kecuali ke Rasulullah SAW. Ketika munafik mengerti kengototan itu, maka munafik mau datang bersama yahudi ke Rasulullah SAW, lalu Rasulullah memutuskan untuk kemenangan yahudi.
Ketika keduanya telah keluar, maka munafik berkata : "Aku tidak rela. Mari kita datang ke Abu Bakar". Lalu Abu Bakar memutuskan untuk kemenangan yahudi. Dan munafik pun tidak rela. Cerita ini dituturkan oleh Az Zujaj. Munafik berkata : "Mari kita datang ke Umar". Lalu keduanya menghadap Umar, lalu yahudi berkata : "Kami sudah datang ke Rasulullah SAW kemudian ke Abu Bakar, tapi dia tidak rela". Lalu Umar berkata kepada munafik : "Apa benar seperti itu?". Munafik berkata : "Ya". Umar berkata : "Kalian tunggu sebentar di sini sampai aku keluar kepada kalian". Lalu Umar masuk rumah dan mengambil pedang, lalu dipukulkannya ke munafik hingga mati tersungkur. Umar berkata : "Seperti ini aku putuskan hukum terhadap orang yang tidak rela dengan putusan hukum Allah dan Rasul-Nya". Yahudi itu lari, dan turunlah ayat...
Rasulullah SAW bersabda kepada Umar : "Engkau alfaruq (pemisah)". Jibril turun dan berkata : "Sesungguhnya Umar telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil". Maka sejak itu Umar dijuluki Alfaruq. 


*SURAT ANNISA AYAT 61*  
Ta'at kepada ulil amri yang menerapkan Alqur'an dan Assunnah itu meniscayakan dukungan terhadap dakwah penerapan syariah Islam kaffah dan penegakan khilafah. Tidak malah menjadi orang munafik.


Allah SWT berfirman :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا 
"Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah turunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul”, niscaya kamu melihat orang-orang munafik berpaling darimu dengan sesungguhnya". (QS Annisa: 61).


Ibnu Katsir RH dalam Tafsirnya berkata :
وقوله : ( يصدون عنك صدودا ) أي : يعرضون عنك إعراضا كالمستكبرين عن ذلك ، كما قال تعالى عن المشركين : ( وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما وجدنا عليه آباءنا ) [ لقمان : 21 ] هؤلاء وهؤلاء بخلاف المؤمنين ، الذين قال الله فيهم : ( إنما كان قول المؤمنين إذا دعوا إلى الله ورسوله ليحكم بينهم أن يقولوا سمعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون) [ النور : 51 ] .
Firman Allah : "orang-orang munafik berpaling darimu dengan sesungguhnya", yakni mereka berpaling dari kamu seperti halnya orang-orang sombong... Sebagaimana Allah berfirman mengenai orang-orang musyrik :
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang diturunkan Allah!” Mereka menjawab, ”(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti kebiasaan yang kami dapati dari nenek moyang kami". (QS Lukman : 21). Orang-orang munafik itu sama persis dengan orang-orang musyrik. Berbeda dengan orang-orang mu'min, dimana Allah berfirman mengenai mereka : "Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung". (QS Annur : 51).


AKHIRUL KALAM


Ta'at kepada ulil amri itu setidaknya harus memenuhi 5 kriteria ;
1- ulil amri yang menyampaikan amanah dan berlaku adil terhadap rakyatnya, tentu amanah dan adil secara Islam.
2- ulil amri yang minkum (bukan minhum), yang ta'at kepada Allah dan Rasulullah, bukan yang maksiat kepada Allah dan Rasulullah.
3- ulil amri minkum yang menerapkan kitabullah Alqur'an dan sunnah Rasulullah.
4- ta'at kepada ulil amri sesuai kriteria 1,2 & 3 diatas, itu harus dibarengi dengan menjauh dan kufur kepada ulil amri yang thaghut.
5- ta'at kepada ulil amri sesuai kriteria 1,2 & 3 diatas, itu harus dibarengi dengan dukungan terhadap dakwah penerapan syariah Islam kaffah dan penegakan khilafah. Karena khilafah adalah bagian dari syariah Islam dan tidak ada penerapan syariah Islam kaffah tanpa penegakan khilafah.


Jadi ta'atnya Salafi Talafi dan Aswaja Sekular kepada ulil amri yang tidak sesuai 5 kriteria diatas adalah ta'at palsu yang keliru, bahkan bisa menipu. Karena hakekatnya mereka sedang maksiat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dengan ta'at kepada ulil amri minhum (dari mereka), kebalikan dari ulil amri minkum (dari kalian).


Ulil amri minkum adalah ulil amri dalam sistem pemerintahan Islam, khilafah atau ulil amri yang ta'at kepada Allah dan Rasulullah atau ulil amri yang menerapkan kitabullah dan sunnah rasulullah. Sedang ulil amri minhum adalah kebalikan dari ulil amri minkum.


Wallahu A'lam bish shawab 
Semoga bermanfaat, aamiin

#istiqomahdijalandakwah
#janganpalsukankhilafah
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.