*HUKUM MERATAKAN KUBURAN*

Oleh : *Abulwafa Romli*


*Bismillaahir Rohmaanir Rohiim*


Sebelum mengemukakan hukum meratakan kuburan, terlebih baiknya saya dahulukan bayan terkait *Meninggikan Kuburan*.


Meninggikan kuburan dari tanah sekitar satu jengkal atau sekitar berdirinya bata merah hukumnya adalah sunnah. Demikianlah kesepakatan *empat madzhab fuqoha* :


1. *Hanafiyyah* (lihat; Zaila`iy, Tabyinul Haqoiq, 1/246; Ibnu Najim, Albahru Arroiq, 2/209; Hasyiyah Atthohawiyyah `alal Maroqil Falah, 405),


2. *Malikiyyah* (lihat; Dardiri, Assyarhu Alkabir, 1/418 dan `Alisy, Manhul Jalil, 1/499).


3. *Syafi`iyyah* (lihat; Annawawi, Almajmu`, 5/296 dan Alkhothib Assyarbini, 1/353).


4. *Hanabilah* (lihat; Burhanuddin Ibnu Muflih, 2/245 dan Albuhuti, Kasysyaful Qona`, 2/138).


*Dalil yang mereka pakai* :


عن جابرِ بنِ عبدِ الله رَضِيَ اللهُ عنه: أنَّ النبيَّ صلَّى الله عليه وسلَّم أُلْحِدَ، ونُصِبَ عليه اللَّبِنُ نَصْبًا، ورُفِعَ قَبرُه مِنَ الأرضِ نحوًا مِن شِبْرٍ.

"Dari Jabir bin Abdullah ra., bahwa Nabi saw telah dimasukan ke luang lahat, didirikan diatasnya bata merah dan ditinggikan kuburnya sekitar satu jengkal".
(HR Ibnu Hibban [6635]; Baihaqi [6983]; dihasankan oleh Albani dalam kitab Ahkamul Janaiz [195]).


Supaya diketahui bahwa itu kuburan, lalu dijaga dan dihormati, diziyarohi dan dimintakan rahmat atas pemiliknya. (Lihat;  Alkhothib Assyarbini, Mughnil Muhtaj, 2/39; Albuhuti, Kasysyaful Qona`, 2/138).


MENGGUNDUKKAN TANAH KUBURAN


Menggundukkan tanah kuburan seperti halnya punuk unta itu lebih utama dari meratakannya seperti meja. Ibnu Hajar berkata :

الاختلافُ في ذلك في أيِّهما أفضَلُ، لا في أصلِ الجوازِ

"Perbedaan dalam hal itu terletak pada mana yang lebih utama diantara keduanya, bukan pada asal kebolehannya". (Ibnu Hajar, Fathul Baari, 3/257).


*Ini merupakan madzhab Jumhur* :


1. *Hanafiyyah* (lihat; Tabyinul Haqoiq Syarhu Kanzil Daqoiq dan Hasyiyatus Syibly, 1/146; Ibnu Najim, Albahru Arroiq, 2/209).


2. *Malikiyyah* (luhat; Almuwaq, Attaju wal Iklil, 2/228; dan Alkhorosy, Syarah Mukhtashor Kholil, 2/129).


3. *Hanabilah* (lihat; Burhanuddin ibnu Muflih, Almubdi`, 2/246; Albuhuty, Kasysyaful Qona`, 2/138).


4. *Wajhun `inda Syafi`iyyah*. Annawawi berkata :
تسطيحُ القبرِ وتَسنيمُه وأيُّهما أفضل: فيه وجهان.. الثاني: التسنيمُ أفضَلُ
"Meratakan tanah kuburan dan menggundukannya, mana yang lebih utama, terdapat dua pandangan..., yang kedua; menggundukan itu lebih utama".(Almajmu`, 5/297).


*Dalil yang dipakai* :


عن أبي بكرِ بن عياشٍ عن سفيانَ التمَّارِ، أنَّه حدَّثَه: أنَّه رأى قبرَ النبيِّ صلَّى الله عليه وسلَّم مُسَنَّمًا. (أخرجه البخاري).

"Dari Abu Bakar bin `Iyas dari Sufyan Attammar, bahwa Sufyan bercerita kepada Abu Bakar, bahwa ia telah melihat kubur Nabi SAW digundukkan". (HR Bukhari no.1390).


Karena meratakan tanah kuburan seperti atap meja itu menyerupai bangunan ahli dunia. Dan menjadi syi`ar ahli bid'ah. (Lihat; Ibnu Qudamah, Al Mughny, 2/377).


*MERATAKAN KUBURAN*


Meratakan kuburan, maksudnya meratakan bangunan tinggi diatas kuburan, bukan membongkar kuburannya dimana di dalamnya ada jenazah sebagaimana kesalahpahaman sebagian kaum Muslim Aswaja yang terprovokasi oleh Syi'ah.


*Sebelumnya, Kita pahami dulu larangan terkait kuburan* :


عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ»

"Dari Abu Zubair dari Jabir, ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk-duduk dan membangun di atasnya". (HR. Muslim no.970).


 عن جابرٍ رَضِيَ اللَّهُ عنه، أنَّه قال: نهى النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم أنْ تُجَصَّصَ القبورُ، وأن يُكتَبَ عليها، وأن يُبنَى عليها، وأن تُوطَأَ.

"Dari Jabir radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata : "Nabi saw telah melarang mengecat kuburan dengan kapur, menulis di atasnya, membangun di atasnya, dan menginjaknya".(HR Tirmidzi no. 1053 dan ia berkata: "Hadits Hasan atau Shahih"; Adz Dzahabi dalam Tarikhul Islam berkata: Hadits Ghorib; dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin, Albadru Almunir, 5/320; Ibnu Hajar berkata dalam Attalkhish Alhabir, 2/694: "Dalam Shahih Muslim tanpa redaksi "menulis di atasnya";  Asyaukani dalam Tahrimu Rof'il Qubur, 57, berkata: hadits shahih ghorib; dan dishahihkan oleh Al Albani, Shahihu Sunan at Tirmidzi, 1053).


Terkait hadits diatas, Imam Nawawi dalam kitab Syarhu Muslim-nya berkata :


فِيهِ أَنَّ السُّنَّة أَنَّ الْقَبْر لَا يُرْفَع عَلَى الْأَرْض رَفْعًا كَثِيرًا , وَلَا يُسَنَّم , بَلْ يُرْفَع نَحْو شِبْر وَيُسَطَّح , وَهَذَا مَذْهَب الشَّافِعِيّ وَمَنْ وَافَقَهُ , وَنَقَلَ الْقَاضِي عِيَاض عَنْ أَكْثَر الْعُلَمَاء أَنَّ الْأَفْضَل عِنْدهمْ تَسْنِيمهَا وَهُوَ مَذْهَب مَالِك

"Pada hadits tersebut ada dalil Assunnah, bahwa kuburan tidak boleh ditinggikan di atas tanah secara berlebih, tidak boleh digundukkan seperti punuk unta (secara berlebih), tapi ditinggikan sekitar satu jengkal dan diratakan. Ini adalah madzhab Imam Syafi'i dan pendukungnya. Imam Qodhi `Iyadh telah menukil dari mayoritas ulama, bahwa yang lebih utama menurut mereka adalah menggundukannya seperti punuk unta, dan itu merupakan madzhab Imam Malik".


عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أُلحد ، ونُصب عليه اللبن نصبا ، ورفع قبره من الأرض نحوا من شبر .

"Dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa Nabi SAW telah dikebumikan dan di berdirikan diatas kuburnya bata merah dan ditinggikan kuburnya dari tanah sekitar satu jengkal". (HR Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Hibban, no. 6635; Baihaqi dalam Assunan no. 6527; dan dihasankan oleh Al Albani).


*Selanjutnya*:


Setelah kita mengerti beberapa larangan terkait kuburan di atas, maka inilah dalil meratakan kuburan :


عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

"Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu berkata kepadaku ; "Ingat aku akan mengutusmu sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengutusku?; "Hendaklah kamu tidak meninggalkan patung-patung kecuali kamu hancurkan, dan tidaklah kamu meninggalkan kuburan yang tinggi kecuali kamu ratakan." (HR. Muslim. no.969).


عن ثُمَامَةَ بْنَ شُفَيٍّ، قَالَ: كُنَّا مَعَ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ بِأَرْضِ الرُّومِ بِرُودِسَ، فَتُوُفِّيَ صَاحِبٌ لَنَا، فَأَمَرَ فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ بِقَبْرِهِ فَسُوِّيَ، ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا»

Dari Tsumamah bin Syufay, ia berkata; Kami pernah berada di negeri Romawi bersama Fadlalah bin Ubaid, tepatnya di Rudis. Lalu salah seorang dari sahabat kami meninggal dunia. Maka Fadlalah bin Ubaid pun memerintahkan untuk menguburkannya dan meratakan kuburannya. Kemudian ia berkata; Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakan kuburan." (HR. Muslim no.969).


Jadi disamping Nabi saw melarang membangun tinggi kuburan, juga telah menyuruh meratakan bangunan yang tinggi di atasnya yang melebihi satu jengkal, yaitu sekitar setinggi bata merah berdiri. Sangat jelas. Semoga bermanfaat. Aamiin...


Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.