PERNYATAAN ULAMA SALAF TENTANG ALLAH ISTIWA DI ATAS 'ARASY

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim 

Tulisan ini InSyaaAllah bisa mencairkan kebekuan berfikir tentang Allahi istiwa diatas Arasy.

Sebagai pembuka saya suguhkan pernyataan tegas dari Imam Ibnu Katsir rh, beliau berkata:
وأما قوله تعالى: { ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ } فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جدا، ليس هذا موضع بسطها، وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري، والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل.
والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن الله، فإن الله لا يشبهه شيء من خلقه، و { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [ الشورى:11 ] بل الأمر كما قال الأئمة -منهم نُعَيْم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري -: "من شبه الله بخلقه فقد كفر، ومن جحد ما وصف الله به نفسه فقد كفر". وليس فيما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيه، فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.
“Adapun firman Allah ta’ala “Kemudian Dia istiwaa di atas ‘Arasy”, maka pada topik ini manusia memiliki pendapat yang sangat banyak di mana kitab ini bukan tempat untuk mengembangkannya. Pada topik ini hanya menguraikan madzhab ulama salaf yang saleh; Imam Malik, Imam Auza’iy, Imam Sufyan Tsauri, Imam Laits bin Saed, Imam Syafi’iy, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rohawaih dan lain-lain, dari para Imam kaum muslim, baik pada masa dahulu maupun pada masa yang baru, yaitu memberlakukan ayat tersebut apa adanya dengan tanpa membuat cara (bagaimana Allah istiwaa), tanpa menyamakan (istiwaa Allah dengan istiwaa makhluk) dan tanpa meniadakan (istiwaa Allah). 
Makna lahir yang terbayang pada akal orang-orang yang menyamakan Allah dengan makhluk itu disingkirkan dari Allah, karena Allah tidak ada sesuatu dari makhlukNya yang menyamaiNya, dan “Tidak ada sesuatu yang sepertiNya dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat”. Tetapi perkara yang benar itu seperti perkataan para Imam di antaranya adalah Imam Nu’aim bin Hammad al-Khuza’iy guru Imam Bukhari: “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhlukNya, maka ia benar-benar kafir, dan barang siapa yang mengingkari sesuatu di mana Allah telah menyifati DzatNya dengannya, maka ia benar-benar kafir”. Dan pada sesuatu yang Allah dan utusanNya telah menyifati DzatNya dengannya itu tidak ada penyerupaan. Maka barang siapa yang menetapkan bagi Allah sesuatu dimana ayat-ayat yang jelas dan hadis-hadis yang shahih telah datang dengannya, sesuai arti yang layak dengan kebesaran Allah, dan menyingkirkan kekurangan-kekurangan dari Allah, maka ia benar-benar menempuh jalan petunjuk”. (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 426-427.)

Pada pernyataan Imam Ibnu Katsir di atas dan pernyataan Imam Suyuthi di bawah nanti, bahwa Imam Malik bin Anas, Imam Sufyan Tsauri dan Imam Ahmad bin Hanbal tergolong ulama salaf yang tidak menakwil ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah.

Dan Imam Ibnu Katsir kalau pada kata istiwaa pada ayat “Tsummastawaa ilassamaai” (QS al-Baqarah ayat 29) menafsirinya dengan makna menuju (qashada) dan menghadap (aqbala), tetapi pada kata istiwaa pada ayat “Tsummastawaa ‘alal ‘arsyi” memberlakukannya apa adanya sesuai yang telah datang, dengan catatan tidak ada kata bagaimana Allah istiwaa (takyif), penyerupaan istiwaa Allah dengan istiwaa makhluk (tasybih) dan peniadaan istiwaa Allah (ta’thil). Jadi Imam Ibnu Katsir tidak menakwilnya. Dan inilah madzhab ulama salaf yang saleh.

Kemudian ayat-ayat mutasyabihat terkait shifat-shifat Allah yang harus diberlakukan apa adanya sesuai yang telah datang, dan merupakan madzhab ulama salaf yang saleh  dan mayoritas Ahlussunnah Waljama’ah, juga bisa dilihat dalam kitab al-Itqan karya Imam Suyuthi sebagai berikut:
فصل: من المتشابه آيات الصفات، ولابن اللبان فيها تصنيف مفرد نحو الرحمن على العرش استوى، كل شيء هالك إلا وجهه، ويبقى وجه ربك، ولتصنع على عيني، يد الله فوق أيديهم، والسموات مطويات بيمينه. وجمهور أهل السنة منهم السلف وأهل الحديث على الإيمان بها، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى، ولا نفسرها مع تنزيهنا له عن حقيقتها:
“(Fasal): Ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah. Ibnu Luban memiliki karangan tersendiri terkait ayat-ayat itu, seperti ayat “al-Rahmaanu ‘ala al-‘arsyi istawaa”, “kullu syaiin haalikun illa Wajhahu”, “wayabqa Wajhu Rabbika”,”walitushna’a ‘alaa ‘ayniy”, “Yadullahi fawqa aydiihim”, dan “was samaawaatu mathwiyyaatun biyamiinihi”. Jumhur Ahlussunnah termasuk ulama salaf dan ahli hadis sepakat mengimaninya, menyerahkan makna yang dikehendakinya kepada Allah, dan tidak menafsirinya, serta pensucian kami kepadaNya dari makna hakikinya: 
أخرج أبو القاسم اللالكائي "في السنة" من طريق قرة بن خالد، عن الحسن عن أمه عن أم سلمة في قوله تعالى: الرحمن على العرش استوى. قال: الكيف غير المعقول والاستواء غير مجهول، والإقرار به من الإيمان والجحود به كفر. وأخرج أيضاً عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن أنه سئل عن قوله (الرحمن على العرش استوى فقال: الإيمان غير مجهول، والكيف غير معقول، ومن الله الرسالة، وعلى الرسول البلاغ المبين وعلينا التصديق. واخرج أيضاً عن مالك أنه سئل عن الآية فقال: الكيف غير معقول، والاستواء غير مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة.
Abul Qasim Lalkaiy dalam kitab “al-Sunnah” telah mengeluarkan hadis dari jalan Qurrah bin Khalid dari al-Hasan dari ibunya dari Umi Salamah tentang firman Allah ta’ala “al-Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa”, beliau berkata: “Caranya tidak terpikirkan, istiwaa tidak terbodohkan, iqrar dengannya termasuk iman, dan mengingkarinya kufur”. Juga mengeluarkan hadis dari Rabiah bin Abu Abdurrahman, beliau ditanya tentang firman Allah “al-Rahmaanu ‘alal ‘arsyis tawaa”, lalu beliau berkata: “Iman tidak terbodohkan, caranya tidak terpikirkan, risalah itu dari Allah, al-Rasul berkewajiban menyampaikan secara terbuka, dan kami wajib membenarkan”. Dan juga mengeluarkan hadis dari Imam Malik, beliau ditanya terkait ayat itu lalu berkata: “Caranya tidak terpikirkan, istiwa tidak terbodohkan, iman dengannya adalah kewajiban, dan mempersoalkannya adalah bid’ah”.

Pada pernyataan Imam Suyuthi di atas, Umi Salamah tergolong ulama salaf yang memberlakukan ayat-ayat mutasyabihat apa adanya. Imam Suyuthi melanjutkan pernyataannya;
وأخرج البيهقي عنه أنه قال: هوكما وصف نفسه، ولا يقال كيف، وكيف عنه مرفوع. وأخرج اللالكائي عن محمد بن الحسن قال: اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب على الإيمان بالصفات من غير تقسيم ولا تشبيه. وقال الترمذي في الكلام على حديث الرؤية، المذهب في هذا عند أهل العلم من الأئمة مثل سفيان الثوري ومالك وابن المبارك وابن عيينة ووكيع وغيرهم أنهم قالوا: نروي هذه الأحاديث كما جاءت ونؤمن بها، ولا يقال كيف ولا نفسر ولا نتوهم.
Imam Baihaqi telah mengeluarkan atsar dari Imam Malik, bahwa beliau berkata: “Dia (Allah) sebagaimana telah menyifati diriNya. Tidak boleh dikatakan: “Bagaimana?” dan “Bagaimana?” Itu diangkat dariNya”. Imam Lalkaiy mengeluarkan dari Muhammad bin al-Hasan, beliau berkata: “Seluruh fuqaha dari Timur sampai Barat sepakat mengimani sifat-sifat Allah, dengan tanpa membagih dan tanpa menyamakan.” Imam Tirmidzi berkata terkait pembicaraan hadis melihat Allah di surga: “Dalam hal ini miturut ahli ilmu dari para Imam, seperti Sufyan Tsauri, Malik bin Anas, Ibnu Mubarak, Ibnu Uyainah, Waqik dan yang lainnya, sesungguhnya mereka berkata: “Kami meriwayatkan hadis-hadis ini apa adanya sesuai yang datang, kami beriman dengannya, tidak boleh dikatakan; “bagaimana?”, kami tidak menafsirinya, dan kami tidak membayangkannya”.   

وذهبت طائفة من أهل السنة إلى أننا نؤولها على ما يليق بحلاله تعالى، وهذا مذهب الخلف. وكان إمام الحرمين يذهب إليه ثم رجع عنه فقال في الرسالة النظامية: الذي نرتضيه ديناً وندين الله به عقداً إتباع سلف الأمة، فإنهم درجوا على ترك التعرض لمعانيها. وقال ابن الصلاح: على هذه الطريقة مضى صدر الأمة وساداتها، وإياها اختار أئمة الفقهاء وقاداتها، وإليها دعا أئمة الحديث وأعلامه، ولا أحد من المتكلمين من أصحابنا يصدف عنها ويأباها. واختار ابن برهان مذهب التأويل قال: ومنشأ الخلاف بين الفريقين هل يجوز أن يكون في القرآن شيء لم نعلم تأويلاً بل يعلمه الراسخون في العلم؟ وتوسط ابن دقيق العيد فقال: إذا كان التأويل قريباً من لسان العرب لم ينكر، أوبعيداً توقفنا عنه وآمنا بمعناه على الوجه الذي أريد به مع التنزيه. قال: وما كان معناه من هذه الألفاظ ظاهراً مفهوماً من تخاطب العرب قلنا به.
Kelompok Ahlussunnah berpendapat bahwa kami menakwilinya sesuai takwil yang layak dengan kebesaran Allah ta’ala. Ini adalah madzhab ulama khalaf. Dulu Imam Haramain bermadzhab dengannya kemudian beliau menarik kembali. Lalu beliau berkata dalam kitab “al-Risalah al-Nizhamiyyah”: “Sesuatu yang kami ridha sebagai agama dan kami akan bertanggung jawab kepada Allah dengannya adalah mengikuti ulama salaf dari umat ini, karena mereka berjalan dengan tidak menyinggung sama sekali makna-maknanya.” Ibnu Shalah berkata: “Para pemimpin umat dan pembesar mereka telah berjalan di atas jalan ini, para imam dan pemuka fuqaha telah memilihnya, para imam dan ulama hadis telah mengajak kepadanya, dan tidak ada seorangpun dari para theolog teman-teman kami yang menyimpang dan membangkang dari padanya.” Ibnu Burhan telah memilih madzhab takwil dan berkata: “Sumber khilaf di antara dua kelompok adalah apakah boleh pada al-Qur’an terdapat sesuatu yang kami tidak mengerti takwilnya, tetapi orang-orang yang kokoh ilmunya mengetahuinya?” Ibnu Daqiq al-‘Iid bersikap moderat lalu berkata: “Apabila takwil itu mendekati bahasa Arab, maka tidak diingkari, atau jauh dari bahasa Arab, maka kami diam darinya, dan kami mengimani maknanya sesuai yang dikehendakiNya, serta mensucikan”. Beliau berkata: “Kata-kata yang maknanya jelas dan dapat dipahami dari pembicaraan orang Arab, maka kami mengatakannya” . (Al-Itqan, juz I, hal. 235.)

Pemaparan di atas sangat jelas bahwa takwil terhadap ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah adalah madzhab ulama khalaf, bukan ulama salaf. Lebih jelas lagi adalah pendapat-pendapat ulama salaf dari qurun sahabat, tabi’in, sampai tabi’it-tabi’in, yang terdiri dari para pembesar salaf, para imam mujtahid, dan para pengikutnya, yang mencapai 160 ulama beserta pendapatnya, yang semuanya sepakat memberlakukan ayat-ayat mutasyabihat apa adanya, terutama terkait ayat “al-Rahmaanu ‘alal ‘Arsyis tawaa”, dengan tanpa takwil, tanpa takyif, tanpa tasybih, dan tanpa ta’thil. Di mana semuanya telah dikoleksi oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya yang populer, yaitu kitab “Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah (Bersatunya Tentara Islam untuk Memerangi Mu’athilah [sekte yang mengingkari sifat Allah] dan Jahmiyyah [sekte yang menyerupakan Allah dengan maklukNya]) .

Di antara pendapat-pendapat itu adalah;
أن أئمة السنة متفقون على أن تفسير الإستواء بالإستيلاء إنما هو ملتقى عن الجهمية والمعتزلة والخوارج، وممن حكى ذلك أبو الحسن الأشعري في كتبه....
“Sesungguhnya para imam sunnah sepakat bahwa menafsiri istiwaa dengan istiilaa’ (menguasai) itu hanya diterima dari Jahemiyah, Muktazilah dan Khawarij, dan termasuk ulama yang telah menceritakan hal itu adalah Imam Abul Hasan Asy’ari dalam sejumlah kitabnya…..”. (Ibnu Qayyim, Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah, hal. 350, Daar al-Kitab al-Arabi, Berut.)

Imam Abul Hasan Asy’ari (w. 330 H) sendiri berkata:
قال أهل السنة وأصحاب الحديث: ليس بجسم، ولا يشبه الأشياء، وإنه على عرشه، كما قال عز وجل: [20:5] {الرحمن على العرش استوى} ولا نقدم بين يدي الله في القول، بل نقول: استوى بلا كيف، وإنه نور كما قال تعالى: [24:35] {الله نور السموات والأرض} وإن له وجها كما قال: [55:27] {ويبقى وجه ربك} وإن له يدين كما قال: [38:75] {خلقت بيديً} وإن له عينين كما قال: [54:14] {تجري بأعيننا} وإنه يجيء يوم القيامة هو وملائكته كما قال: [89:22] {وجآء ربك والملك صفا صفا} وإنه ينزل إلى السماء الدنيا كما جآء في الحديث، ولم يقولوا شيئا إلا ما وجدوه  في الكتاب أو ما جآءت به الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم!. وقالت المعتزلة: إن الله استوى على عرشه بمعنى استولى. وقال بعض الناس: الإستواء القعود والتمكن.
“Ahlussunnah dan para ulama hadis berkata: “Dia (Allah) itu bukan jisim, Dia tidak menyerupai segala sesuatu, dan Dia di atas ArasyNya, sebagaimana Dia azza wa jalla berfirman: “al-Rahman itu istiwaa di atas Arasy”[ QS 20:5], kami tidak mengajukan perkataan di hadapan Allah, kami hanya berkata: “Dia istiwaa dengan tanpa cara”. Dia adalah Nur, seperti firmanNya : “Allah adalah Nur langit dan bumi” [24:35]. Dia memiliki wajah, seperti firmanNya: “Dan kekal wajah Tuhanmu” [55:27]. Dia memiliki dua tangan, seperti firmanNya: “Aku menciptakan dengan kedua tanganku” [38:75]. Dia memiliki dua mata, seperti firmanNya: “Yang berlayar dengan pengawasan mata kami” [54:14]. Pada hari kiamat Dia bersama malaikatNya datang, seperti firmanNya: “Dan Tuhanmu dan Malaikat datang berbaris-baris” [89:22]. Dan Dia turun kelangit dunia, seperti telah datang dalam hadis. Dan mereka sedikitpun tidak berkata kecuali sesuai apa yang datang dalam al-Kitab (al-Qur’an), atau apa yang riwayatnya datang dari Rasululloh SAW. Muktazilah berkata: “Sesungguhnya Alloh istiwaa di atas ArasyNya, dengan makna menguasai”. Dan sebagian manusia berkata: “Istiwaa adalah duduk da bertempat”. (Abul Hasan Asy’ari, Maqaalaatul Islaamiyyiin Wakhtilaaful Mushalliin, juz I, hal. 285, Maktabah ‘Asyriyyah, Berut.)

Lebih jauh lagi Ibnu Qayyim (691-751 H) berkata:
إن الأشعري حكى إجماع أهل السنة على بطلان تفسير الإستواء بالإستيلاء، ونحن نذكر لفظه بعينه الذي حكاه عنه أبو القاسم بن عساكر في كتاب {تبيين كذب المفتري} وحكاه قبله أبو بكر بن فورك وهو موجود في كتبه: قال في كتابه {الإبانة} وهي آخر كتبه قال:
“Sesungguhnya Imam Asy’ari telah menceritakan Ijmak Ahlussunnah atas kebatilan tafsir (takwil) istiwaa dengan istiilaa’ (menguasai), dan kami akan menuturkan redaksi sebenarnya yang telah diceritakan oleh Abul Qasim bin Asakir dalam kitab “Tabyiinu Kidzbil Muftari” (Menjelaskan Kebohongan Orang Yang Membuat Kebohangan) dari Imam Asy’ari, dan sebelumnya juga diceritakan oleh Abu Bakar bin Faurak, dan terdapat dalam sejumlah kitab Imam Asy’ari.

Imam Asy’ari dalam kitabnya “al-Ibaanah” sebagai akhir dari kitab-kitabnya, beliau berkata:
{باب ذكر الإستيواء} إن قال قائل: ما تقولون في الإستواء؟ قيل: نقول له: إن الله تعالى مستو على عرشه كما قال تعالى: {الرحمن على العرش استوى} وساق الأدلة على ذلك ثم قال: وقال قائل من المعتزلة والجهمية والحرورية إن معنى قوله: {الرحمن على العرش استوى} أنه استولى وملك وقهر وجحدوا أن يكون الله على عرشه كما قال أهل الحق، وذهبوا في الإستواء إلى القدرة، ولو كان هذا كما قالوا لا فرق بين العرش والأرض السابعة السفلى، لأن الله تعالى قادر على كل شيئ والأرض والسموات  وكل شيئ في العالم، فلو كان الله مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء والقدرة لكان مستويا على الأرض والحشوش والأنتان والأقذار لأنه قادر على الأشياء كلها، ولم نجد أحدا من المسلمين يقول إن الله مستو على الحشوش والأخلية فلا يجوز أن يكون معنى الإستواء على العرش على معنى هو عام في الأشياء كلها، ووجب أن يكون معنى الإستواء يختص بالعرش دون سائر الأشياء، وهكذا قال في كتابه الموجز وغيره من كتبه.
“(Bab Penjelasan Istiwaa) : Apabila ada yang berkata: “Apa yang kalian katakan terkait istiwaa?”, maka dikatakan: “Kami berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala itu istiwaa di atas ArasyNya, sebagaimana Dia berfirman: “al-Rahman istiwaa di atas Arasy”. Imam Asy’ari mendatangkan sejumlah dalil atas hal itu kemudian beliau berkata: “Ada yang berkata dari Muktazilah, Jahamiyah dan Haruriyah bahwa makna firmanNya “al-Rahman istiwaa di atas Arasy” adalah bahwa Dia menguasai, memiliki dan menundukkan. Mereka mengingkari keberadaan Allah di atas ArasyNya, sebagaimana perkataan ahlul hak, mereka berpendapat lagi bahwa istiwaa bermakna qudrah (kekuasaan). Seandainya ini benar seperti perkataan mereka, maka tidak ada bedanya antara Arasy dan bumi ke tujuh yang paling bawah, karena Allah itu kuasa atas segala sesuatu, bumi, langit dan segala sesuatu di dunia. Seandainya Allah istiwaa di atas Arasy, dengan makna menguasai, niscaya Allah istiwa di atas bumi, kebun, dan kotoran, karena Allah itu kuasa atas segala sesuatu semuanya. Kami tidak menemukan seorangpun dari kaum muslim yang berkata bahwa Allah istiwaa di atas kebun dan tempat kotor. Maka tidak boleh makna istiwaa di atas Arasy adalah makna umum pada segala sesuatu semuanya, dan wajib makna istiwaa itu tertentu dengan Arasy, bukan seluruh segala sesuatu. Seperti ini perkataan Imam Asy’ari dalam kitab al-Mujiz dan kitab-kitabnya yang lain”. (Ibnu Qayyim, Ijtima’ul Juyuuusyil Islamiyyati ‘ala Ghazwil Mu’athilati wal Jahamiyyah, hal. 344, Daar al-Kitab al-Arabi, Berut.)

Lebih mandetil lagi apa yang di terangkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah (lahir 223 H), guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, dalam “Kitab al-Tauhid wa Itsbat  Shifaat al-Rabbi” (buku tauhid dan menetapkan sifat-sifat Tuhan), tentang ayat-ayat mutasyabihat terkait sifat-sifat Allah, di mana semuanya diberlakukan apa adanya sesuai kedatangannya, yakni dengan tanpa takwil, tanpa takyiif, tanpa tasybih dan tanpa ta’thil. Dan di sini saya tidak akan menuturkannya, karena di atas telah lebih dari cukup.

Penutup :
Sebagai penutup, saya telah merenung cukup lama terkait Allah istiwa di atas 'Arasy, lalu Allah membuka hatiku, bahwa makhluq Allah tertinggi adalah Arasy, sedang diatas Arasy itu bukan makhluq, Allah juga bukan makhluq.  Allah SWT sendiri tidak menjelaskan tentang apa diatas Arasy. Maka dari mana datangnya khayalan tentang tasybih (menyerupakan Allah dengan makhkuq) ketika Allah istiwa diatas Arasy, sedang diatas Arasy itu bukan makhluq? Wallahu A'lam... 


Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.