KETIKA ORGANISASI SUDAH MENJADI BENALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Ada yang bertanya di GWA begini :

Jadi mau ikut yang mana ?
Yang satu bilang gak usah NU-NU an, dan seng penting ahlussunah waljama,ah.
Yang satu menyeru ke NU supaya tidak kena walat, tapi Islam Nusantara.

Qultu :
Diantaranya, Kita harus berbuat sesuai doa iftitah yang kita panjatkan setiap shalat,
وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله ربِّ العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا من المسلمين
"Aku hadapkan wajah (diri) ku kepada Dzat Tuhan yang menciptakan semua langit dan bumi dengan penuh condong nan tunduk dan aku bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.
Sesungguhnya shalatku, ibadah hajjiku, hidupku, matiku (aku persembahkan) kepada Allah Tuhan semesta alam yang tidak ada sekutu bagiNya. Dan dengan itu semua aku telah diperintahkan, dan aku adalah bagian dari orang-orang muslim (yang tunduk kepada perintah dan larangan Allah)."

Semua organisasi Islam, apapun organisasinya, semuanya hanyalah wadah berkumpul dan berjamaah bagi orang-orang muslim untuk melaksanakan berbagai aktifitas baik ritual, spiritual maupun setruktural, dan organisasi itu tidak ubahnya laksana kendaraan yang dibutuhkan oleh musafir dan rumah yang dibutuhkan oleh sebuah keluarga, kecil maupun besar.

Ketika sebuah organisasi sudah tidak bisa dibuat kendaraan yang aman dan nyaman, sudak tidak bisa menjadi rumah yang melindungi penghuninya dari dingin yang menusuk dan panas yang menyengat, dari sengatan dan gigitan binatang lata dan terkaman binatang buas, dari kejahatan orang-orang jahat, dan keburukan orang-orang buruk, maka menjadi keharusan keluar darinya dan melepaskan diri dari belenggunya. Sedang menjadi muslim yang berkata "ana muslim" atau "wa ana minal muslimin", tanpa embel-embel nama dan nisbat sebuah organisasi, adalah kewajiban bagi orang-orang muslim yang beriman dan beramal shalih. Itulah konsekuensi logis dari ujung munajat dalam doa iftitah.

Lebih-lebih, ketika organisasi itu sudah berubah menjadi benalu bagi pohon Islam yang setiap saat menghisap ruh Islamnya secara perlahan. Ia hidup menumpang pada pohon Islam, berkembang kemudian membesar. Tapi saat demi saat, ia justru merusak pohon Islamnya. Organisasi yang berkarakter seperti ini, potong saja, tinggalkan saja, lalu kembali kepada pohon Islamnya. Sebagai kejujuran dalam bermunajat dan berdoa dalam lantunan kalimat-kalimat iftitah. Lalu cari lagi sebuah organisasi Islam yang mesih menjaga Islam dan kaum muslimin, ketika kita butuh sebuah organisasi untuk berkumpul dan berjama'ah untuk Islam dan kaum muslimin.

Setelah mati, kita juga tidak ditanya oleh Munkar - Nakir, apa organisasimu?, tapi; apa agamamu?, siapa saudara-saudara mu? Dan kita juga harus menjawabnya; agamaku adalah Islam, saudara-saudara ku adalah orang-orang shalih yang muslim nan mu'min.

Takutlah kepada Allah! Dalam menjalankan perintah Allah, dan dalam meninggalkan larangan Allah, janganlah takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Tidak ada makhluk pembangkang, yang suka maksiat, munkar dan bid'ah, yang bisa ngewalati, selagi kita tidak berlaku zalim terhadapnya, selagi kita beramal dan berperilaku ikhlas lillaahi ta'ala.

Takutlah kewalat oleh Allah Alkhooliq, bukan takut kewalat oleh hamba makhkuqNya. Ingat akan firman Allah SWT : 

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS Thaha [20] : 124).

Ayat di atas menjelaskan betapa menderitanya kehidupan manusia yang jauh dari dzikrullah (mengingat Allah) dan berpaling dari ajaran-Nya. Allah mengancam orang-orang yang berpaling dari mengingat-Nya dan dari ajaran-Nya dengan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah orang yang menentang perintah Allah dan menentang apa yang Allah turunkan kepada Rasu-Nya. Yaitu berpaling dari-Nya, berpura-pura lupa kepada-Nya dan mengambil selain petunjuk-Nya.

Termasuk juga, berpaling dan menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Termasuk juga orang yang mengimani sebagian isi Al-Qur’an dan mengkufuri sebagian yang lain, menentang, melawan dan memerangi orang-orang yang berjuang dan berdakwah untuk tegaknya ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan lain-lain.

Semua perbuatan, perilaku dan sikap tersebut dapat masuk dalam kategori ‘berpaling dari dzikrullah’ dan semua itu membawa pelakunya pada kehidupan yang sempit, nestapa dan sengsara di dunia dan akhirat.

Jadi takutlah kepada Allah SWT.

Wallahu A'lam... 


Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.