Oleh : Abulwafa Romli
• Begini :
Gerombolan Khawarij yang dulu memberontak terhadap khalifah yang menerapkan hukum Allah dan sekarang menjadi penghalang dakwah syariah dan khilafah, dan Muktazilah yang dulu tidak mewajibkan khilafah dengan catatan kaum muslimin masih bisa menjalankan syariat Islam kaffah minus khilafah dan sekarang menganggap negara demokrasi sebagai khilafah. Dan kaum nasionalis liberal sekular sebagai Neo Khawarij dan Neo Muktazilah, baik yang mengklaim Aswaja maupun tidak, dimana mereka lebih buruk dari khawarij dan Muktazilah masa lalu, karena tidak mewajibkan khilafah secara mutlak dan menjadi penghalang penegakkan khilafah.
Mereka semua nyaris putus asa tidak bisa membendung arus deras dakwah syariah dan khilafah. Lalu mereka membabi buta, beralibi, berasumsi dan berdusta dengan mengekor kepada mantan-mantan pendusta sampah Hizbut Tahrir yang telah terbuang ke tong tempat sampah pemikiran dan peradaban. Ketika mereka tidak mampu membatalkan khilafah sebagai ajaran Islam dan tidak mampu memalingkan dan memanipulasi hakekat dan definisi khilafah, kini mereka mulai menyerang individu para pengemban dakwah Hizbut Tahrir, mulai dari alibi dan asumsi keburukan amirnya sampai kepada keuangan dan kekayaan yang dimiliki amirnya.
Sungguh dusta, fitnah dan kezaliman mereka semakin nyata, kasat mata, dan bertambah, sebagai pertanda semakin dekatnya kehinaan dan kehancuran mereka, dan semakin dekatnya berdiri tegaknya khilafah. Sebab disamping dosa-dosa bertumpuk yang akan mendapat balasan dan azab di akherat, secara natural juga Alloh akan membongkar keburukan individu-individu mereka dan dari mana keuangan kelompok mereka berasal. Kerena dusta dan fitnah dari orang buruk kepada orang baik, pada hekekatnya membongkar keburukan orang buruk itu sendiri, padahal Alloh telah menutupinya dengan satir-Nya. Sungguh hal itu pasti terjadi. Maka kalau Anda orang buruk, jangan sekali-kali melempar dusta dan fitnah kepada orang baik, karena keburukan Anda akan terbongkar. Dan kali ini alfaqir persembahkan tulisan dengan tema membongkar keuangan Hizbut Tahrir.
• BismillaahirRohmaanirRohiim
Muhammad Muhsin Radhi yang telah melakukan safari panjang untuk membongkar Hizbut Tahrir, dalam tesis magisternya telah membongkar sistem keuangan Hizbut Tahrir :
"Ada beberapa pengamat menyebutkan, bahwa keuangan Hizbut Tahrir itu bersumber dari sumbangan/infaq (tabaru'at) dari anggota dan penjualan buku-buku. (lihat: Hizbut Tahrir Al Islami, hal. 86, Al Harokah Al Islamiyyah fil Urdun, Doktor Musa Zaid Al Kailani, hal. 100). Itu tidak benar. Karena keuangan Hizbut Tahrir itu hanya terdiri dari :
1. Komitmen sumbangan/sedekah (tabaru'at) dari anggota-anggota Hizbut Tahrir.
2. Komitmen sumbangan/sedekah dari pelajar-pelajar selain anggota dalam halqoh-halqoh Hizbut Tahrir.
3. Sumbangan/sedekah yang lain yang dibolehkan oleh syara', dan amir Hizbut Tahrir menetapkan syarat penerimaannya, bahwa sumbangan/sedekah tersebut tidak dari negara-negara atau lembaga-lembaga politik, baik nasional maupun internasional.
Sumbangan/sedekah anggota Hizbut Tahrir terkadang diserupakan dengan iuran yang diwajibkan oleh sejumlah partai-partai politik (selain Hizbut Tahrir) terhadap anggota-anggotanya. (lihat: Al Harokah Al Islamiyyah fil Urdun,hal. 100).
Faktanya, sumbangan dalam Hizbut Tahrir itu berbeda-beda, dimana Hizbut Tahrir tidak mewajibkan kepada seseorang dengan jumlah (nominal) tertentu, tetapi setiap orang mengerti dengan jumlah yang ia mampu berkomitmen dengannya, kemudian ia mewajibkan dirinya menyumbang dengan jumlah tersebut.
Sedang penilaian sebagian pengamat, bahwa penjualan buku-buku Hizbut Tahrir baik kepada anggota-anggota maupun kepada orang-orang umum, sebagai salah satu sumber keuangan, maka hal itu tidak benar. Karena menilainya sebagai sumber keuangan itu berarti Hizbut Tahrir mengambil manfaat darinya untuk memenuhi keuangannya. Padahal faktanya, sama saja kebutuhan keuangannya untuk biaya percetakan buku-buku itu terpenuhi atau tidak terpenuhi, maka cukup bagi kamu, bahwa Hizbut Tahrir tidak mencetak buku-buku dan menjualnya untuk tujuan mendapat harta, tapi hanya karena tujuan menyebarkan pemikirannya. Bahkan sering kali mengambil biaya tersebut dari anggota-anggotanya. Karena, fakta keuangan Hizbut Tahrir itu hanyalah berasal dari sumbangan/sedekah diatas. (Lihat: Al Qonun Al Idary, hal. 12, Hizbut Tahrir Al Islami, hal. 28 ; Wawancara dengan 'Izam Abdullah Baghdad, 10 Muharrom 1426 H / 19 Pebruari 2005 M ; Wawancara dengan Al Mahami Muhammad Abid Al Bayaty, Baghdad, 23 Robi'ul Awal 1426 H / 2 Mei 2005 M).
Ustadz Ghanim Abduh pernah bertutur, bahwasanya ada sejumlah pedagang yang menolak dakwah Syaikh Taqiyuddin Annabhani untuk bergabung kepada Hizbut Tahrir, mereka berupaya mengganti penolakannya dengan menawarkan sejumlah harta kepada Syaikh Taqiyuddin untuk menopang Hizbut Tahrir, maka dengan serta merta Syaikh Taqiyuddin menolaknya seraya berkata, "Kami hanya menghendaki kalian, bukan harta kalian". (Hizbut Tahrir Al Islami, hal. 84; Wawancara dengan Ustadz Ghanim Abduh; Topik ini juga disebutkan oleh Almahami Muhammad Abid Albayati, ketika beliau berkata: "Disana ada banyak orang mulia dan orang baik, karena suatu sebab atau alasan lain mereka tidak bergabung dengan Hizbut Tahrir, mereka menawarkan harta kepada kami, tetapi kami tidak menerimanya, karena pendapatan Hizbut Tahrir itu dari sumbangan anggotanya saja".; Wawancara dengan Almahami Muhammad Abid Albayati langsung).
Penting : Hizbut Tahrir benar-benar melarang anggota-anggotanya menerima hadiah dan hibah dari sejumlah negara, baik nasional maupun negara asing, atau dari kelompok-kelompok, atau dari organisasi-organisasi. Ketika harta tersebut diberikan kepada mereka dalam kapasitasnya sebagai bagian dari Hizbut Tahrir atau penanggungjawab dalam Hizbut Tahrir. Karena tidak ada pemberian hadiah atau hibah tersebut, kecuali karena manfaaf tersembunyi di belakangnya". (Lihat; Almilaff Al-Idary, hal. 78).
Referensi :
(Muhammad Muhsin Rodhi, Hizbut Tahrir Tsaqofatuhu wa Manhajuhu fi Iqomati Daulatil Khilafatil Islamiyyati, hal. 21, Romadhon 1427 H / Tisyrin Awal 2006 M, Wizaroh at Ta'lim al 'Aly wa al Bahts al Ilmiyy al Jami'ah al Islamiyyah / Kulliyyah Ushul ad Dien).
• Semua anggota Hizbut Tahrir sudah tahu dengan semuanya itu, bahkan para mantan yang buruk adab, buruk akhlaq dan ngujub bangga diri merasa berada pada level mujtahid karena sudah berani mengkritik dan berburuk sangka kepada mujtahid, mereka pasti tahu dengan sumber keuangan Hizbut Tahrir yang hanya berasal dari anggota-anggotanya, atau dari sumber lain seperti disebut diatas. Alfaqir sendiri telah mendapat info valid, ada seorang anggota HTI yang komitmen tabaru'atnya mencapai satu milyar pertahun, ada lagi yang menjual mobil mewahnya lalu diinfakkan untuk pelunasan gedung kantor HTI di Jakarta, dan masih banyak lagi para anggota HTI yang sangat dermawan mengeluarkan hartanya di jalan dakwah dengan tidak menghitung-hitungnya, dan mereka tidak menjadi miskin dan faqir, justru mereka bertambah kaya dan barokah. Semua juga sudah tahu, dimana HTI ketika belum dicabut BHP nya, di setiap daerah tidak pernah mengambil jatah keuangannya sepeser pun dari pemerintah. Semuanya sudah tahu dengan hal itu.
Lalu kenapa sampai ada mantan yang mempersoalkannya, lalu ramai-ramai diikuti oleh mantan-mantan yang lainnya. Kemudian mantan-mantan itu membuat-buat alibi dan asumsi. Mereka berani dan pandai sekali mendramatisir satu unkapan dan satu perbuatan buruk, dusta dan fitnah dari mantan pusat, lalu dijadikan sejuta ungkapan dan perbuatan.
Sungguh berdusta itu sangat mudah, tidak perlu pakai ilmu dan makrifat. Bisikan dan bimbingan syetan yang ada di dalam hati dan otaknya tinggal dikeluarkan baik melalui jari jemari maupun melalui lisan, tanpa memikirkan akibat, dosa dan balasannya di dunia atau diakherat.
Sangat kasihan kepada seorang pendusta, yang dustanya diikuti dan disebarkan oleh sejuta pendusta. Dosa investasi itu sebutannya. Sebanyak, seberat dan sebesar apapun amal-amal baiknya dari shalat, puasa, haji, sedekah dan seterusnya, tetap saja dia diakheratnya menjadi hamba yang bangkrut yang dilemparkan ke neraka. Alfaqir yakin, Anda pasti sudah tahu dengan dalil-dalil Al-qur'an dan As-sunnah nya, karenanya alfaqir tidak perlu menyampaikannya di sini. Wallahu A'lam
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahWarisanRasulullah
#KhilafahAjaranAswaja