*KALAU KHILAFAH TEGAK, SIAPA KHALIFAHNYA ?*

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir

Pertanyaan ini wajar muncul, karena umat telah sampai pada keyakinan penuh tentang kembalinya Khilafah Ala Minhajin Nubuwah. Pertanyaan ini juga wajib dijawab, agar Umat juga familiar dengan sosok yang akan memimpin kaum muslimin kelak.

Untuk menjawabnya, saya akan buat ilustrasi sederhana.

Saat Rasulullah SAW mengutus Mus'ab Bin Umair ke Madinah untuk menyiapkan masyarakat Madinah menegakkan Daulah Islam yang pertama, saat itu Madinah telah tersebar dua opini umum yang kuat. Yakni Islam dan Muhammad SAW.

Islam adalah Agama yang didakwahkan oleh Mus'ab Bin Umair di Madinah. Sementara Muhammad SAW, adalah Rasullullah pembawa risalah Islam.

Masyarakat Madinah ketika itu -meskipun mereka belum bertemu dengan Rasulullah SAW-, memahami bahwa kelak yang akan memimpin mereka, menjadi kepala negara Islam di Madinah adalah Rasulullah SAW.

Mereka belum bertemu Rasulullah SAW tetapi mereka beriman kepada Rasulullah SAW. Mereka dapat mengindera bagaimana sosok Rasulullah SAW melalui sosok Mus'ab Bin Umair, utusannya.

Jika konteksnya kita tarik pada diskursus khilafah, saat ini ada dua hal yang tak mungkin bisa dipisahkan. Yakni Khilafah dan Hizbut Tahrir.

Sebab, yang mengawali perjuangan mengembalikan kehidupan Islam melalui penegakan Institusi khilafah adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir pula, yang membawa perjuangan ini dari Palestina ke seluruh dunia dan menjadi arus utama perjuangan kaum muslimin.

Di negeri ini, khilafah juga tak lepas dari peran HTI yang juga bagian dari Hizbut Tahrir. Jika ditanya siapa yang paling paham Khilafah, tentu jawabannya Hizbut Tahrir yang memang sejak awal konsisten memperjuangkannya.

Lantas, jika Khilafah tegak siapa yang akan menjadi Khalifahnya ? Jawabnya, tentulah Hizbut Tahrir akan mengajukan amirnya (pimpinan HT) sebagai calon Khalifah untuk dibaiat oleh seluruh kaum muslimin.

Hal demikian adalah wajar, sebagaimana dahulu Rasulullah yang memimpin perjuangan penegakan Daulah Islam di Madinah, Rasullullah SAW pula yang menjadi kepala negaranya.

Saat ini, ketua Umum partai politik juga umumnya dicalonkan oleh partainya sebagai calon presiden. Hal ini juga wajar, karena ketua partai adalah orang yang paling paham ideologi partai dan pergerakannya.

Kembali pada pertanyaan, siapakah yang akan menjadi Khalifah ketika khilafah berdiri kelak ?

Jawabnya adalah Hizbut Tahrir mengajukan Amir Hizbut Tahrir, yakni Syaikh Ato' Abu Rusytoh (Amir Ketiga Hizbut Tahrir setelah Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dan Syaikh Abdul Qadim Zallum), sebagai calon Khalifahnya.

Meskipun semua kaum muslimin memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri sebagai khalifah asal memenuhi syarat, namun kaum muslimin wajib memiliki khalifah yang paham rincian hukum Syara' dan bagaimana menerapkannya dalam bingkai Daulah Khilafah.

Amir Hizbut Tahrir memiliki kemampuan untuk itu, telah melampaui sejumlah ujian dan kesabaran dalam dakwah, telah menekuni perjuangan dalam menegakkan Khilafah selama puluhan tahun, dan memiliki kesiapan untuk mengemban amanah dari Umat untuk menegakkan kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Jadi, kami aktivis Hizbut Tahrir tanpa ragu menawarkan Amir kami, Syaikh Ato' Abu Rusytoh, sebagai calon khalifah, yang siap untuk menerima baiat untuk didengar dan ditaati, untuk menerapkan Al Qur'an dan as Sunnah. [].
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.