Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Aktivis, Anggota Hizbut Tahrir
Saya sependapat, bahwa komunisme saat ini mengalami peningkatan eskalasi yang mengancam, dan tak akan pernah bergeser pada kedudukannya sebagai bahaya laten. Aktualisasi eksistensi, baik melalui penyematan berbagai property dengan simbol-simbol PKI, aktualisasi ide dan perjuangan komunisme PKI yang makin terbuka, hingga Adopsi berbagai ide, pemikiran, falsafah dan nilai-nilai komunisme atau setidaknya sosialisme, bukan rahasia umum lagi.
Saya juga sependapat, tentang berbagai upaya dan ikhtiar yang ditempuh sejumlah kalangan, untuk mengantisipasi kembalinya komunisme PKI dalam pentas kebangsaan Indonesia. Dari mengunggah kembali sejarah kelam pemberontakan PKI, pembunuhan dan kekerasan yang menjadi ciri khas perjuangan kelas dalam ideologi komunisme, serta berbagai propaganda masif lainnya untuk menghalau kebangkitan komunisme PKI.
Namun, pada saat yang sama umat tak boleh tutup mata atas bahaya nyata ideologi Kapitalisme demokrasi, yang saat ini telah, sedang dan akan terus dipertahankan barat dan negara penjajah kapitalis, untuk terus menguasai negeri ini.
Dikuasainya seluruh SDA dan tambang di negeri ini oleh swasta, asing dan aseng, adalah wujud nyata eksistensi Kapitalisme demokrasi di negeri ini. Kemiskinan, ketidakadilan, Penindasan dan kezaliman yang menghiasi setiap sudut etalase bangsa Negeri ini, juga imbas dari ditetapkanya ideologi Kapitalisme sekulerisme, menggunakan sarana demokrasi.
Kapitalisme dan sosialisme termasuk komunisme, adalah dua ideologi yang tak pernah berdamai. Kecuali, dalam memerangi umat Islam.
Di Suriah, di Palestina, di Uighur, di Rohingya, dan negeri kaum muslimin lainnya, terbukti Negara barat Kapitalis termasuk Amerika, bergandengan tangan dengan negara sosialis Komunis baik Rusia maupun China, untuk bersatu membantai umat Islam.
Namun untuk urusan hegemoni, penguasaan SDA dan kekayaan negeri kaum muslimin, barat Kapitalis maupun timur sosialis Komunis, saling berseteru dan berlomba untuk saling mengalahkan.
Saat ini, seiring menguatnya China yang merupakan representasi negara Komunis, terjadi perebutan negeri jajahan. Indonesia, adalah negeri yang kaya akan SDA.
Barat Kapitalis termasuk Amerika, terpaksa "berbagi" sejumlah area jajahan di negeri ini, dan China mulai masuk menggeser hegemoni Amerika dan Barat Kapitalis.
Jadi, seruan perlawanan terhadap ancaman komunisme hanya akan menguntungkan barat dan Amerika, jika tidak disertai dengan seruan perlawanan terhadap Kapitalisme.
Jika umat hanya berfokus memerangi komunisme, namun mengabaikan kejahatan Kapitalisme, maka barat dan Amerika dengan mudah meminjam tangan umat Islam untuk memukul mundur komunisme China.
Realitasnya akan mirip saat Afghanistan menjadi kuburan massal pasukan Uni Soviet, dimana Amerika dan barat memprovokasi untuk melawan komunisme karena bertentangan dengan akidah Islam, mendukung dan membiayai, bahkan mensuplai sejumlah senjata, untuk memukul mundur Uni Soviet, representasi negara sosialis Komunis, yang merupakan rival Amerika dan negara-negara barat Kapitalis.
Lantas dengan apa umat ini wajib melawan ideologi sosialisme komunisme dan Kapitalisme ?
*Pertama,* umat ini wajib hanya terikat dengan akidah Islam dan hanya mengukur seluruh keyakinan dan amal perbuatan berdasarkan norma yang bersumber dari akidah Islam, itulah syariah Islam.
Umat wajib dipahamkan bahwa keyakinan komunisme dengan akidah atheisme bertentangan dengan Islam. Sebab, Komunisme menolak agama, menolak Islam, menolak aturan dan hukum Allah SWT.
Akidah sekulerisme demokrasi, yang merupakan jantung ideologi Kapitalisme juga batil. Sebab, sekulerisme tidak menolak agama, tetapi melarang agama, melarang Islam, melarang hukum dan aturan Allah SWT mengatur kehidupan, mengatur masyarakat, mengatur negara.
Sedangkan konsekuensi akidah Islam, selain meyakini dalam hati, mengungkapkan dengan lisan, juga mengamalkan ajaran Islam dengan perbuatan. Tidak diterima seorang mengaku berakidah Islam, tetapi menolak aturan Agama, menolak hukum dan aturan Allah SWT untuk mengatur kehidupan, mengatur masyarakat, mengatur negara.
*Kedua,* nilai-nilai Islam ini agar mampu melakukan perlawanan seimbang atau melebihi kekuatan ideologi Kapitalisme maupun komunisme, maka nilai Islam atau ideologi Islam ini wajib diemban oleh Negara. Sebab, mustahil umat Islam bisa mengalahkan ideologi Komunisme yang diemban negara China, Rusia, dll, atau mampu menyungkurkan ideologi Kapitalisme yang diemban Negara-Negara barat dan Amerika, jika umat ini tidak memiliki Negara yang menerapkan ideologi Islam.
Negara yang menerapkan ideologi Islam, bukan berbentuk kerajaan, bukan kekaisaran, bukan republik, tetapi berbentuk Negara khilafah. Negara khilafah adalah negara Islam yang diwariskan Rasullullah SAW kepada para Sahabat, dilanjutkan kepada para Khalifah sesudahnya, hingga yang terakhir kekhilafan Islam yang diruntuhkan oleh Mustofa Kamal La'natullah di Turki pada tahun 1924.
Al hasil, untuk melawan ideologi Kapitalisme dan sosialisme Komunisme, umat Islam wajib memperjuangkan tegaknya kembali Institusi Negara Khilafah. Inilah, Negara yang menjadi harapan kita, harapan seluruh umat Islam. [].