SEPUTAR PERAYAAN MAULID NABI SAW

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Pada tulisan ini alfaqîr hanya akan menyampaikan maqolah ulama Ahlussunnah Waljama’ah dari Hijaz, Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah.


TUJUAN PERAYAAN MAULID NABI SAW


Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata:

أن هذه الإجتماعات هي وسيلة كبرى لدعوة إلى الله ، وهي فرصة ذهبية ينبغي أن ﻻ تفوت ، بل يجب على الدعاة والعلماء أن يذكروا الأمة بالنبي صلى الله عليه وسلم بأخلاقه وآدابه وأحواله وسيرته ومعاملته وعبادته ، وأن ينصحوهم ويرشدوهم إلى الخير والفلاح ويحذروهم من البلاء والبدع والشر والفتن ، وإننا دائما بفضل الله ندعو إلى ذلك ونشارك في ذلك ونقول للناس : " ليس المقصود من هذه الإجتماعات مجرد الإجتماعات والمظاهر بل إن هذه وسيلة شريفة إلى غاية شريفة وهي كذا وكذا ، ومن لا يستفد شيئا لدينه فهو محروم من خيرات المولد الشريف
 
“Sesungguhnya perayaan maulid ini adalah sarana besar untuk dakwah kepada (agama) Allah dan kesempatan emas yang tidak layak disia-siakan. Bahkan wajib atas para da’i dan ulama mengingatkan umat dengan Nabi saw, dengan akhlaknya, adabnya, kondisinya, sirohnya, muamalahnya dan ibadahnya. Menasihati umat, menunjukkan mereka kepada kebaikan dan kebahagiaan, memberi peringatan kepada mereka terhadap musibah, bid’ah, keburukan dan fitnah. Dan bahwa kami -dengan fadhal dari Allah- selalu mengajak kepada hal tersebut, bersekutu pada hal tersebut, dan berkata kepada umat: “Tujuan dari perayaan maulid ini bukan sekedar perayaan dan ekspressi, tetapi sebagai sarana mulia untuk tujuan mulia, yaitu ini dan itu. Dan siapa saja yang tidak mengambil faedah bagi agamanya, maka ia terhalang dari kebaikan maulid yang mulia”. (Syaikh Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 103, Maktabah al-Ghazali Damaskus, Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).


PERAYAAN MAULID NABI DI MALAM TERTENTU


Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki rohimahullah berkata:

أننا لا نقول بسنية الإحتفال بالمولد المذكور في ليلة مخصوصة بل من اعتقد ذلك فقد ابتدع في الدين . لأن ذكره صلى الله عليه وسلم والتعلق بهيجب أن يكون في كل حين ، ويجب أن تمتلأ به النفوس . نعم : إن في شهر وﻻدته يكون الداعي أقوى لإقبال الناس واجتماعهم وشعورهم الفياض بارتباط الزمان بعضه ببعض ، فيتذكرون بالحاضر الماضي وينتقلون من الشاهد إلى الغائب
 
"Sesungguhnya kami tidak mengatakan dengan kesunnahan perayaan maulid nabi tersebut pada malam tertentu, tetapi siapa saja yang meyakini hal itu, maka ia benar-benar telah membuat bid’ah dalam agama. Karena mengingat dan mencintai Nabi SAW itu wajib ada pada setiap masa, dan wajib memenuhi jiwa dengannya. Ya, sesungguhnya pada bulan kelahirannya itu dorongannya lebih kuat untuk datang, berumpul, dan perasaan manusia yang penuh dengan keterkaitan zaman, sebagian zaman dengan sebagian zaman yang lain. Lalu mereka mengingat dengan zaman sekarang akan zaman lampau, dan berpindah dari zaman hadir ke zaman ghaib”. (Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 103, Maktabah al-Ghazali Damaskus dan Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).


PERAYAAN MAULID NABI HARUS BEBAS DARI KEMUNKARAN


Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata :

كل ما ذكرنا سابقا من الوجوه في مشروعية المولد إنما هو في المولد الذي خلا من المنكرات المذمومة التي يجب الإنكار عليها ، أما إذا إشتمل المولد على شيئ مما يجب الإنكار عليه كاختلاط الرجال بالنساء وارتكاب المحرمات وكثرة الإسراف مما ﻻ يرضى به صاحب المولد  الشريف صلى الله عليه وسلم فهذا ﻻ شك في تحريمه ومنعه لما اشتمل عليه من المحرمات لكن تحريمه حينئذ يكون عارضيا ﻻ ذاتيا كما ﻻ يخفى على من تأمل ذلك
 
“Semua alasan disyariatkannya maulid Nabi saw yang telah saya kemukakan, itu hanya berlaku pada maulid yang bebas dari kemungkaran yang tercela yang wajib diingkari. Adapun ketika maulid itu mengandung sesuatu yang wajib diingkari seperti campurnya laki-laki dan perempuan, menerjang perkara haram dan banyak berlebihan dimana pemilik maulid yang mulia Rasulullah saw tidak suka dengan hal itu, maka tidak diragukan lagi keharaman dan terlarangnya, karena mengandung perkara haram. Akan tetapi keharamannya ketika itu adalah hal baru, bukan haram asal, sebagaimana tidak samar atas orang yang mau berpikir terhadapnya".


RASULULLAH SAW  TIDAK PERNAH KELUAR DARI KUBURNYA UNTUK DATANG KE MAJLIS MAULID NABAWI


Syaikh Muhammad bin 'Alwi al-Maliki rohimahullah berkata :

تنبيه : أما ما يشاع حول المولد النبوي من أن الناس يعتقدون أن النبي صلى الله عليه وسلم يحضر بذاته الشريفة ويخرج من قبره . وأن الناس يقفون احتراماً لدخوله . وأنهم يهيئون له مكانا خاصا في وسط المجلس ، ويضعون أواني الماء لأجل أن يبارك عليها . فكل هذا افتراء محض لا أصل له عندنا بحمد الله وإن أقل الناس علما من عوالم المسلمين ﻻ يخطر بباله مثل هذا الإعتقاد وإنا نبرأ إلى الله من كل هذا الباطل والله من وراء القصد
 
"Peringatan: Adapun sesuatu yang telah populer ditengah-tengah maulid nabawi, bahwa orang-orang meyakini; bahwa Nabi saw keluar dari kuburnya dengan dzatnya yang mulia dan hadir secara langsung; bahwa orang-orang berdiri karena menghormati kedatangannya, mereka menyediakan tempat khusus untuknya di tengah-tengah majlis, dan mereka meletakkan bejana-bejana air agar Nabi memberi barokah padanya. Maka menurut kami (Ahlussunnah Wal Jama’ah) semuanya itu adalah kebohongan yang murni yang tidak memiliki dalil sama sekali, dan sebodoh-bodoh ulama kaum muslimiin tidak terlintas dalam hatinya keyakinan seperti itu, dan kami berlepas diri kepada Allah dari semua kebatilan itu. Allah mengetahui setiap tujuan dan akan membalasnya". (Syaikh Muhammad bin ‘Alwy al-Maliki, Dzikrayat wa Munasabat, hal. 110, Maktabah al-Ghazali Damaskus dan Muassasah Manahil al-‘Irfan, Beirut).


Komentar Alfaqir :


Momentum perayaan maulid nabawi untuk dakwah kepada penerapan syariah Islam Kâffah melalui penegakkan daulah islamiyah khilafah 'alâ minhajin nubuwwah adalah lebih utama. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah menerapkan Alqur'an, menerapkan syariah Islam Kâffah. Sedang penerapan syariah Islam Kâffah tidak akan pernah bisa sempurna tanpa terlebih dahulu tegaknya khilafah 'alâ minhajin nubuwwah. 

Wallohu A’lamu Bishshawâb
Semoga bermanfaat, aamiin
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.