Hizbut Tahrir Akan Menebarkan Perpecahan, Kebencian, Kerapuhan Akidah dan Dekadensi Moral atas nama Khilafah?
15 tahun silam Idrus Ramli (dan orang-orang yang seideologi dengannya) berkata :
"Dari beberapa pandangan HT yang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an dan Hadis di atas, kiranya kaum muslimin perlu berpikir jernih dengan hati nurani yang paling dalam, hal-hal yang tersembunyi di belakang jargon khilafah dan tegaknya syariat Islam. Tentu kita akan menolak khilafah dan syariat Islam model HT yang akan menebarkan perpecahan, kebencian, kerapuhan akidah dan dekadensi moral atas nama khilafah dan agama".
(dikutip dari Majalah Ijtihad, edisi 28, Rabiul Awal-Rajab 1429 H, hal. 7, Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan Jatim).
Bantahan alfaqîr (Abulwafa Romli) :
Hizbut Tahrir Akan Menebarkan Perpecahan, Kebencian, Kerapuhan Akidah Dan Dekadensi Moral Atas Nama Khilafah?
Paling tidak ada tiga kebodohan sipenuduh terkait tuduhan miringnya terhadap Hizbut Tahrir :
Pertama : Tidak memahami fikroh dan thariqah Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwahnya, dan tidak membaca keseluruhan kitab-kitab Hizbut Tahrir yang dalil-dalilnya sangat kuat, dengan istinbath yang tepat dan akurat, dan dengan redaksi yang sederhana dan mudah dipaham.
Kedua : Tidak memahami fakta sebab-sebab perpecahan, kebencian, kerapuhan akidah dan dekadensi moral. Padahal sebab-sebab tersebut adalah akibat diterapkannya ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekularisme yang telah melahirkan sistem demokrasi dan kebebasan ala HAM dll. dan ideologi komunisme yang lahir dari akidah materialisme dengan seperangkat sistem dan pemikirannya.
Ketiga : Tidak memahami pakta serta realita ketika Rasulullah SAW dan para sahabatnya berdakwah di Mekah, dimana kondisi Mekah memanas. Berbagai rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi telah menjadi senjata kaum kuffar Quraisy untuk meggagalkan dakwah Rasulullah SAW. sampai-sampai Beliau dituduh sebagai tukang sihir dan orang gila. Tidak berhenti sampai di situ, kaum kufar menyiksa dan membunuh para sahabat. Sampai pahitnya hidup akibat pemboikotanpun pernah dirasakan oleh Beliau beserta para sahabatnya. Pada akhirnya nyawa Beliau menjadi terancam, dan peristiwa ini telah menuntun beliau berhijrah ke Yatsrib.
Kondisi Mekah saat itu benar-banar memanas dan terjadi perpecahan di tengah-tengah masyarakat. Anggota keluarga yang telah menerima dakwah Rasulullah SAW dan memeluk Islam dibenci, dimusui, dicaci-maki, bahkan diasingkan oleh keluarga besarnya. Dan telah terjadi kondisi saling mencurigai dan saling memata-matai di antara anggota masyarakat. Semua itu terjadi setelah Rasulullah SAW mulai mendakwahkan Islam di sana, dan kondisi tersebut terus berlangsung selama 13 tahun.
Kondisi tersebut terjadi bukan karena dakwahnya Beliau Nabi SAW, tetapi hanya karena penolakan terhadap dakwah. Mereka yang menolak dakwah membuat rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi terhadap para pengemban dakwah, yaitu Rasulullah saw beserta para sahabatnya. Pada gilirannya kondisi Mekah memanas akibat terjadinya berbagai benturan akidah, keyakinan, pemikiran, pemahaman dan kepentingan di antara para pengemban dakwah dan mereka yang menolak dakwah.
Kondisi tersebut juga terjadi di berbagai negeri di mana Hizbut Tahrir telah memulai dakwahnya di sana. Maka sebagaimana di Mekah, kondisi itu tidak disebabkan oleh dakwah Hizbu Tahrir, tetapi disebabkan oleh rekayasa, dusta, fitnah dan provokasi dari orang-orang yang menolak terhadap dakwah Hizbut Tahrir.
Juga kerapuhan akidah dan dekadensi moral yang terjadi di berbagai belahan dunia, semuanya disebabkan oleh diterapkannya ideologi komunisme dan kapitalisme dengan sejumlah ide, pemikiran dan sistem sesatnya, seperti sistem komunis, demokrasi, HAM, pluralisme, sinkretisme dan seambrek isme-isme yang lainnya.
Jusru Hizbut Tahrir datang dalam rangka membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada kedua ideologi tersebut menuju penghambaan kepada Allah SWT semata, yaitu dengan meyakini, mempraktekkan dan mendakwahkan syariat-Nya, yakni syariat agama Islam, secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong, apalagi dipotong-potong menjadi beberapa bagian, lalu syariat yang sesuai dengan sistem demokrasi dan kebebasan HAM dipraktekkan dan yang tidak sesuai harus ditinggalkan dan dibuang.
Alfaqîr sendiri telah merasakan, mendengar dan melihat dengan hati, pendengaran dan penglihatan alfaqîr sendiri, betapa kuatnya akidah yang tertanam di dalam dada para syabab dan syabah Hizbut Tahrir. Hal ini terdeteksi dari pengamalan serta perjuangan mereka terhadap syariat Islam. Dan betapa tingginya etika dan moral mereka. Hal ini juga terdeteksi dari keseharian mereka, baik ketika mereka bertemu dan berkumpul maupun ketika mereka berpisah, di mana sesuatu yang menjadi masalah utama serta ikatan mereka hanyalah Islam dan akidah Islam. Ketika alfaqîr baru masuk kedalam komunitas mereka, betapa alfaqîr merasakan berada di tengah-tengah komunitas orang-orang shaleh dan hamba-hamba Allah yang mempersembahkan jiwa dan raganya untuk meninggikan kalimat-Nya. Alfaqîr tidak merasakan kondisi seperti itu sebelumnya.
Apalagi ketika alfaqîr menyaksikan ratusan sampai ribuan Liwa (Liwaul Hamdi; bendera putih bertuliskan dua kalimat tauhid Laa ilaha illallaoh Muhammadur Rasululloh berwarna hitam) dan Rayah (Royatul 'Uqab; bendera hitam bertuliskan dua kalimat tauhid berwarna putih) berkibar, juga alfaqîr tidak melihat pemandangan itu sebelumnya. Sampai-sampai di bulan Ramadhan alfaqîr bermimpi mengaji kepada Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dan bermimpi melihat khilafah berdiri dengan kibaran Liwa dan Royah menyelimuti dunia. Maka alfaqîr selalu berdoa kepadaNya agar alfaqîr tidak mati sebelum menyaksikan berdirinya khilafah ala minhajin nubuwwah…
Jadi Hizbut Tahrir sesuai namanya (partai pembebasan) itu datang untuk membebaskan (memerdekakan) negeri-negeri kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk negeri kita ini, dari segala jenis penjajahan, baik penjajahan fisik maupun penjajahan non fisik. Karena itu, kewajiban kita sebagai kaum Aawaja, adalah mengenali siapa lawan dan siapa kawan, siapa pecundang dan siapa pahlawan, siapa antek penjajah dan siapa lawan penjajah. Ketika salah mendeteksi diantara keduanya, maka akan salah menentukan jalannya. Seharusnya kita berjalan ke surga eh malah ke neraka. Inilah fitnah Dajjal mampu membalik penglihatan manusia, yang surga terlihat neraka dan yang neraka terlihat surga. Wallahu A'lamu bishshawâb. [].
