Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Kerusakan bangsa-bangsa di dunia khususnya di negeri Wali Songo ini dan khususnya kaum Muslim sudah sangat nyata dipandang mata dan didengar telinga sehingga tidak dapat ditutup-tutupi oleh hoax kaum komunis dan sanggahan kaum liberal. Kerusakan itu sangat nyata di semua lini kehidupan, baik privat, publik atau negara, lantaran tidak diterapkannya hukum-hukum Allah Tuhan Yang Maha Esa Pemilik langit dan bumi seisinya terkait pengaturan kehidupan tersebut. Kaum Muslim ulul albab pengemban dakwah Islam Kaffah dengan kepekaan hati dan akalnya sangat menyadari kerusakan itu begitu pula sangat paham dengan solusi pundamental, universal, final dan rahmatan lil 'alaminnya, solusi yang bisa menjadi wasilah kepada penerapan hukum Allah itu. Solusi yang menjadi problem vital (qadhiyyah mashiriyyah), yaitu mengembalikan pemerintahan sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasulullaah, melalui penegakkan khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang dibai'at atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ... Karena itu, mereka berkumpul, berjamaah, berbaris, berjalan berdakwah bersama-sama menyadarkan dan mengajak umat manusia dengan tidak memandang ras, suku, warna kulit dan agamanya kepada solusi rahmatan lil'alamin itu.
Kenapa harus khilafah?
Karena kerusakan bangsa-bangsa itu disebabkan oleh rusaknya penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah dalam kekuasaannya atau oleh rusaknya pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah dalam pemerintahannya. Sebagai contohnya, dalam kehidupan privat dan kehidupan umum tidak sedikit dari kaum Muslim yang tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat dll., tidak menutup aurat, berzina, meminum khamer, berjudi, merampok, membunuh, menipu, memanipulasi ukuran, takaran dan timbangan, riba, dll., juga berkembang biaknya berbagai paham, aliran dan ideologi sesat. Karena di dalam kehidupan tersebut tidak diterapkan hukum Allah terkait sistem pemerintahan Islam, sistem pendidikan Islam, sistem pergaulan Islam, sistem ekonomi Islam, dan sistem persanksian Islam. Sedang khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang menjadi bagian dari hukum Allah dan sangat dibutuhkan untuk menerapkan hukum Allah secara sempurna dalam semua lini kehidupan.
Namun sayangnya dakwah dan perjuangan mereka untuk menegakkan khilafah dihadang oleh bagian dari umat Islam sendiri yang dikomando langsung oleh ulama panutannya masing-masing. Dan sepanjang sejarah ulama seperti ini selalu menjadi pendukung dan penjaga penguasa yang zalim dan fasik, baik dalam sistem pemerintahan Islam atau dalam sistem monarki dan demokrasi yang bid'ah dan kufur dengan dalih penuh ilusi seperti pengamalan akidah dan ajaran Aswaja tentang kewajiban mendengar dan taat kepada ulil amri meskipun zalim dan fasik. Sebagai dampaknya sulit bagi kaum Muslim memiliki penguasa muslim yang adil dan amanah, apalagi penguasa sebagai khalifah karena dihadang oleh pasukan ulama itu. Mereka adalah ulama suu', ulama dunia atau ulama salathin. Ulama yang telah diperdaya oleh cinta harta dunia dan pangkat kedudukan sementara tapi bisa menyebabkan duka sengsara di kemudian harinya.
Imam Ghazali dalam Al Ihyaa juz 1 benar-benar telah mengkritik ulama suu' tersebut. Bahkan ulama tersebut sebagai biang kerusakan rakyat dan penguasa. Di dalam kitab Al Ihyaa’nya, Juz 2 halaman 238, beliau berkata :
maa fasadat ...
ما فسدت الرعية إلا بفساد الملوك وما فسدت الملوك إلا بفساد العلماء
"Tidaklah rusak rakyat kecuali sebab rusaknya penguasa, dan tidaklah rusak penguasa kecuali sebab rusaknya ulama."
Dan di dalam Al Ihyaa’ Juz 2 halaman 357 beliau berkata :
fafasaadurro'aayaa...
ففساد الرعايا بفساد الملوك وفساد الملوك بفساد العلماء وفساد العلماء باستيلاء حب المال والجاه ومن استولى عليه حب الدنيا لم يقدر على الحسبة على الأراذل فكيف على الملوك والأكابر والله المستعان على كل حال
"Maka rusaknya rakyat itu disebabkan oleh rusaknya penguasa, rusaknya penguasa itu disebabkan oleh rusaknya ulama, dan rusaknya ulama itu sebab diperdaya oleh cinta harta dan kedudukan. Dan siapa yang telah terpedaya oleh cinta dunia, maka ia tidak akan mampu mengoreksi rakyat kecil, lalu bagaimana dia mengoreksi para penguasa dan pembesar? Allah-lah Tuhan Yang dimintai pertolongan atas setiap kondisi."
INILAH TIGA KARAKTER ULAMA DUNIA (ULAMA SUU')
Pertama: Ulama dunia adalah ulama suu’ (ulama yang buruk/jahat), atau ulama salathin (ulama pro pemerintah yang fasik, zalim atau kafir).
Tentang mereka Rasulullah SAW bersabda:
اَلْعُلَمَاءُ أُمَنَاءُ الرُّسُلِ مَالَمْ يُخَالِطُوا السُّلْطَانَ وَيُدَاخِلُوا الدُّنْيَا، فَإِذَا خَالَطُوا السُّلْطَانَ وَدَاخَلُوا الدُنْيَا فَقَدْ خَانُوا الرُّسُلَ فَاحْذَرُوْهُمْ . أخرجه الحسن ابن سفيان والعقيلي فى الضعفاء عن أنس رضي الله عنه
“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak berinteraksi dengan pemerintah dan tidak mencampuri urusan dunia. Lalu ketika mereka telah berinteraksi dengan pemerintah dan telah mencampuri urusan dunia, berarti mereka telah berkhianat kepada para rasul, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka”. HR al-Hasan ibnu Sufyan dan al-Uqayli dari Anas ra.
Dan Nabi SAW bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُخَالِطُ السُّلْطَانَ مُخَالَطَةً كَثِيْرَةً فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَصٌّ . أخرجه الديلمي فى مسند الفردوس عن أبي هريرة رضي الله عنه
“Ketika kamu melihat ada orang alim banyak berinteraksi dengan pemerinrah, maka ketahuilah bahwa dia adalah maling (pencuri)”. HR al-Daylami dari Anas ra.
Terkait ulama dunia, Yahya bin Mu’adz sebagai perawi hadits diatas berkata:
يَا أَصْحَابَ الْعِلْمِ قُصُوْرُكُمْ قَيْصَرِيَّةٌ، وَبُيُوْتُكُمْ كِسْرَوِيَّةٌ، وَأَثْوَابُهُمْ ظَاهِرِيَّةٌ، وَأَخْفَافُكُمْ جَالُوْطِيَّةٌ، وَمَرَاكِبُكُمْ قَارُوْنِيَّةٌ، وَأَوَانِيُكُمْ فِرْعَوْنِيَّةٌ، وَمَآثِمُكُمْ جَاهِلِيَّةٌ، وَمَذَاهِبُكُمْ شَيْطَانِيَّةٌ، فَأَيْنَ الشَّرِيْعَةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ ؟!
“Wahai ulama, istana kalian adalah istana kaisar, rumah kalian adalah rumah kisro, pakaian kalian adalah pakaian zhahiri, sepatu (sandal) kalian adalah sepatu Jalut, kendaraan kalian adalah kendaraan Qarun, bejana kalian adalah bejana Fir’aun, dosa kalian adalah dosa jahiliah, dan madzhab kalian adalah madzhab syetan. Lalu dimanakah syariat Nabi Muhammad saw?”.
Kedua: Ulama dunia adalah tukang fitnah.
Tentang mereka Rasulullah SAW bersabda :
عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يوشك أن يأتي على الناس زمان لا يبقى من الإسلام إلا اسمه ولا يبقى من القرآن إلا رسمه مساجدهم عامرة وهي خراب من الهدى علماءهم شر من تحت أديم السماء من عندهم تخرج الفتنة وفيهم تعود . رواه البيهقي في شعب الإيمان
"Hampir-hampir akan datang kepada manusia suatu zaman dimana tidak tersisa dari Islam kecuali namanya, dan tidak tersisa dari Alqur'an kecuali tulisannya. Masjid-masjid mereka ramai dan megah, tetapi kosong dari petunjuk. Dan ulama mereka seburuk-buruk makhluk di bawah kolong langit. Dari (mulut-mulut) ulama-lah akan keluarnya fitnah, dan kepada ulama-lah akan kembalinya (bahaya) fitnah". (HR Imam Baihaqi, Syu'ubul Iman, 4/424, Syamilah).
Ketiga: Ulama dunia adalah ulama munafik yang sangat kentara dalam menolak dakwah kepada penerapan syariah dan khilafah. Mereka ulama dunia (seperti dagambarkan oleh Nabi SAW diatas) justru berinteraksi dengan penguasa yang fasik, zalim atau kafir yang tidak menerapkan hukum-hukum syariat Islam dalam pemerintahannya. Dan terlibat dalam pemilihan serta pengangkatan para penguasa tersebut. Ujung-ujungnya ya untuk menarik duit. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau Nabi SAW menyebut mereka sebagai maling, karena uang pemerintah itu adalah dari rakyat dan untuk rakyat, lalu para ulama dunia itu mengambilnya tanpa seizin dari rakyat.
Wallahu a'lam bishshawwab