BIODATA PENULIS
Muhammad Romli
Abulwafa (KTP Moh. Romli AW) . Lahir di dusun
Munjul, desa Mundak Jaya, kecamatan Cikedung, kabupaten Indramayu, Jawa Barat,
pada 28 April 1967.
Putra pertama dari delapan bersaudara, lima laki-laki dan tiga perempuan, dari
bapak Abdullah Casman dan ibu Siti Fathimah.Pada tahun 1974 masuk Sekolah
Dasar di kampungnya, namun karena suatu hal, hanya sampai kelas IV SD saja.
Selanjutnya sejak tahun 1978, penulis lebih memilih berternak itik (bebek)
berpindah-pindah dari sawah ke sawah dan dari daerah ke daerah mengikuti musim panen padi, sampai tahun 1984. Pada tahun 1982 penulis pernah di ajak temannya
menuntut ilmu di sebuah pesantren di Tegal Gubuk Arjawinangun Cirebon selama
kurang lebih dua bulan, lalu ia masih memilih berternak itiknya, karena sejak
kecil lebih menyukai alam terbuka dan sudah biasa hidup di tengah hutan di daerah
Indramayu Selatan.
Namun pada
tahun 1984 (tidak tercatat tanggal bulannya), di tengah sawah penulis bertemu dan berkenalan
dengan seorang pengemis yang mengaku bernama Sya’roni dari kudus. Pengemis itu
mengajaknya shalat maghrib, dilanjutkan shalat ‘Isya dengan berjamah, dan
bermalam bersama di sebuah mushala sampai shalat shubuh berjamaah dimana
pengemis itu menjadi imamnya. Setelah shalat shubuh pengemis itu banyak memberi
nashihat, dan diantara nasehatnya (dengan bahasa jawa yang terjemahnya begini),
“Bapak ini rela dan ikhlas menjadi pengemis supaya bisa menyekolahkan dan memondokkan
anak, tetapi kamu sebagai anak tidak mau sekolah dan tidak mau mondok, rugi
kamu”. Pertemuan itu pas hari selasa. Sejak peristiwa itu, tertanam di dalam
dadanya keinginan menuntut ilmu yang tidak bisa di bendung. Sampai hari
Rabunya, penulis menyampaikan keinginannya kapada Ibu dan ayahnya untuk
menuntut ilmu di kota Kediri Jawa Timur, karena mendengar di sana banyak pondok
pesantren besar. Kedua orang tuanya tidak percaya dan menduganya hanya alasan
untuk meminta uang. Akhirnya, ia menjual baju jaketnya seharga Rp. 15 rb kepada
teman SD-nya, Kartono. Dan pada hari Kamis-nya, ia berpamitan kepada kedua orang
tuanya yang masih tidak mempercayainya, ia pergi dengan Kartono menuju stasiun
kereta api Terisi dan membeli tiket Terisi-Kediri Rp. 6.000, jadi masih tersisa
uang Rp. 9.000. Di tengah-tengah menunggu kereta api datang, penulis ke
belakang stasiun untuk buang air kecil. Dengan tidak terduga, pak Sya’roni si
pengemis itu sudah berada di sana sambil membaca buku sepertinya tulisan Arab. Lalu
penulis berpamitan dan bersalaman dengan pengemis itu dan merasakan betapa
halusnya tangan pengemis itu. Pengemis bertanya, “Mau kemana?”, penulis
menjawab, “Mau berangkat mondok ke Kediri”, “Al-Hamdulillah”, hanya itu kata
terakhir yang di dengarnya dari pak Sya’roni.
Pada akhirnya,
penulis sampai dan dapat sekolah di Pon Pes Lirboyo, tetapi karena tidak
mendapat kiriman dari orang tuanya, untuk mencukupi kebutuhannya, penulis
sambil bekerja di luar pondok selama dua tahun, terus menjadi khadim di ndalemnya
Gus Mahin, Gus Thahir, Gus Aziz, Gus Wildan dan terakhir di Gus Kafa Bihi
Mahrus. Tamat MI Lirboyo Maret 1988, MTs Lirboyo Pebruari 1991, dan MA Lirboyo
Januari 1994.
Pada tahun 1994
penulis ditugas oleh KH. Abdullah Kafa Bihi Mahrus (Gus Kafa Bihi )
menjadi pengajar di Pondok Pesantren Asrorul Khalil, Demangan Timur, Bangkalan,
Madura, dengan pengasuh KH Anwar Nur, dan Pondok Pesantren Nurul Khalil,
Demangan Barat, Bangkalan, dengan pengasuh KH Zubair Muntashar. Ketika di
Bangkalan disamping menjadi pengajar di madrasah kedua pondok tersebut, penulis
juga membacakan sejumlah kitab dengan perintah langsung dari KH. Abdullah Kafa
Bihi Mahrus, dan diantara kitab yang berhasil dibacakan sampai khatam selama
tiga tahun (1996-1999) adalah kitab Al-Ihya karya Imam Ghazali. Dan pada tahun
2000 penulis pindah ke Bangil dan mengajar di Pondok Cangaan Bangil dan mengajar di pondok pesantren
Hidayatul Mubtadien Rembang, Bangil, Pasuruan. Pada akhir tahun 2001 penulis
bertemu dengan syabab Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), lalu melakukan kajian
terhadap tsaqafah Hizbut Tahrir selama lebih dari lima tahun dengan
sepengetahuan Gus Kafa Bihi Mahrus, dan pada akhir tahun 2006 penulis
mengajukan diri dan diterima menjadi bagian dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia).
Penulis telah dikaruniai delapan orang anak:
1. Muhammad
Shohibul Wafa (lahir, Surabaya 13 Oktober 1996), hasil pernikahannya dengan
ustadzah Nurul Qamariyyah binti H Shaleh.
2. Muhammad
Hasbiyalloh (lahir, Pasuruan 12 Shafar 1422 H / 14 Mei 2001 M).
3. Ayu
Humairoh (lahir, Pasuruan 11 Rojab 1423 H / 18 September 2002 M).
4. Muhammad
Hakim Rosyadi (lahir, Pasuruan 21 Romadhan … / 4 Nopember 2004), ketiganya
adalah hasil pernikahannya dengan Atin Juliatin binti Ali.
5. Abdullah Nursalim (lahir, Pasuruan 4 Desember 2014).
6. Amin Abdurrahim (lahir, Pasuruan 03 Oktober 2015).
7. Ainun Naqiyyah (lahir, Pasuruan 27 Oktober 2016).
8. Ahmad Abdul Jabbar (lahir, Pasuruan 03 April 2018). Keempatnya hasil dari pernikahannya dengan Ustadzah Sunarsih binti Sunardi.
Di antara tulisan Muhammad Romli
Abulwafa:
1. Rekonstruksi
Doktrin Pemikiran & Politik Aswaja.
2. Ketika Virus Liberal
menggerogoti pondok pesantren, Hizbut Tahrir menjadi kambing hitam. Bantahan
atas majalah Ijtihad Pon Pes Sidogiri dan nasehat terbuka untuk kaum santri
Aswaja.
3. 10 Alasan
Mengapa Memilih Golput.
4. Membongkar
Pemikiran Aswaja Topeng, sebagai koreksi atas buku “Hizbut Tahrir dalam
Sorotan”, tulisan M Idrus Ramli.
5. Membongkar
Pemikiran Aswaja Topeng Dua, edisi Kesalahan Logika Idrus Ramli, bantahan atas
buku, Jurus Ampuh Membungkam HTI
6. Butir-Butir
Mafahim Ahlussunnah Waljama’ah
7. Nasehat Terbuka
untuk Himasal, bantahan atas Materi Turba Himasal.
8. Iqadzul Himah
Litaqwiyatisy Syakhshiyatil Islamiyah (bhs Arab).
9. Syarh
al-Ajurumiyah (Nahwu bhs Arab).
10. Majmu'atur
Rosail fi Ta'rif Dar al-Islami wa Dar al-Kufri wa Bayani Shahifatil Madinah
(bhs Arab), dll.
السلام عليكم ورØÙ…Ø© الله وبركاتة
BalasHapusSenang bisa berkunjung dan menimba ilmu dari blog panjenengan ini, ustadz Abulwafa.
Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga panjenengan di atas al-haqq. Waffaqakumullahu wa saddada khuthaakum.
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh
HapusAamiin