Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Masih tersisa satu masalah, yaitu pemahaman bahwa pilihan itu sejatinya tidak ada, karena meskipun manusia punya pilihan, tapi pilihannya telah ditakdirkan oleh Alloh. Atau secara lahir manusia punya pilihan, tapi secara batin manusia dipaksa. Sehingga ada yang berkata, "Kita merasa memilih padahal tidak, karena pilihan kita sebenarnya telah ditakdirkn oleh Alloh swt."
JAWABAN:
Dari sisi manapun qodar tidak memaksa hamba melakukan atau meninggalkan perbuatannya.
Pertama, dari sisi qodar yang datang dari Islam, yaitu qodar dengan arti ilmu dan takdir Alloh.
1- Syaikh Taqiyyuddien Annabhani berkata: "Ilmu Alloh itu tidak memaksa hamba agar beramal, tapi Alloh mngerti bahwa hamba akan beramal dengan pilihan sendiri, beramalnya tidak dipaksa oleh ilmu-Nya, dan pada ilmu yang azali telah tetap bahwa hamba akan beramal. Dan tidak lah ada tulisan di Lauh Mahfudz, kecuali ungkapan dari ilmu Alloh yang meliputi segala sesuatu. Juga kehendak Alloh tidak memaksa hamba beramal. Tapi hanya datang dari sisi bahwasanya tidak terjadi pada kerajaan-Nya sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya. Yakni tidak terjadi sesuatu di jagad ini dengan paksaan dari-Nya. Ketika hamba beramal, dan Alloh tidak mencegah dari padanya, dan tidak pula memaksanya kepadanya, tapi Alloh membiarkannya dengan pilihannya, maka perbuatan ini dengan kehendak dari-Nya, bukan paksaan dari-Nya. Dan yang terjadi hanyalah perbuatan hamba dengan pilihannya, dan kehendak Alloh yang tidak memaksa atas perbuatan hamba". (Nizhamul Islam, hal. 25, Syamilah).
2- Imam Abu Hanifah berkata: "Alloh tidak memaksa seorangpun dari makhluk-Nya agar kufur dan iman, dan tidak menciptakannya sebagai orang mukmin dan orang kafir, tapi Alloh menciptakan mereka sebagai kelompok individu, sedang iman dan kufur itu perbuatan hamba. Alloh mengerti orang yang kafir dalam kondisi kafirnya, lalu ketika setelah itu ia beriman, maka Alloh mengerti sbagai org beriman dlm kondisi imannya, dan Alloh mencintainya, dengan tanpa berubah ilmu dan shifat-Nya. Semua perbuatan hamba, diam maupun gerak, pada dasarnya adalah usaha hamba, dan Alloh adalah Penciptanya. Dan semua perbuatan itu dengan kehendak, ilmu, qodlo' dan qodar-Nya". (Alfiqhu Al-Akbar, hal. 33, maktabah Alfurqon, 1999, al-Imaroh al-Arobiyyah, Syamilah).
3- Dan Imam Nawawi berkata: "Alkhatthobi berkata, "Banyak orang menyangka, bahwa arti qodlo' dan qodar adalah paksaan Alloh atas hamba agar berbuat dengan yang telah ditentukan-Nya. Perkaranya tidak seperti dugaan mereka. Tapi artinya adalah berita mengenai dahulunya ilmu Alloh dengan perbuatan hamba yang keluar dari takdir-Nya, dan Dia telah menciptakan yang baik dan yang buruknya ... Sedang qodlo' artinya adalah penciptaan, seperti firman-Nya, "Lalu Dia mengqodlo'nya menjadi tujuh langit dalam dua hari", yakni telah menciptakannya". Aku berkata, sungguh banyak sekali dalil-dalil qoth'i dari Alkitab, Assunnah, Ijmak sahabat dan ahlul halli wal aqdi dari salaf dan kholaf, yang menetapkan qodar Alloh. Dan banyak ulama menyusun kitab terkait qodar, diantara susunan terbaik dan paling berfaedah adalah kitabnya Alhafiedz Alfaqieh Abu Bakar Albaihaqi. Dan para pemuka kami dari Mutakallimien telah menetapkan dan memperbaiki hal itu dgn dalil-dalil qoth'i, baik sam'i maupun aqli". (Syarh Annawawi 'ala Muslim, 1/70, Syamilah).
Kedua, dari sisi qodar yang datang dari peradaban Yunani, yaitu qodar dengan arti "karakter tertentu yang diciptakan Alloh pada segala sesuatu, naluri dan kebutuhan jasmani pada diri manusia". Seperti tangan punya karakter bisa bergerak, mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, dan seterusnya. Kita memakai tangan, mata dan telinga untuk kebaikan atau keburukan, adalah pilihan kita, bukan paksaan qodar. "krn manusia diberi pilihan dalam melakukan atau meninggalkan perbuatan, dengan pemberian Alloh berupa akal yang cerdas tempat bergantungnya kewajiban syara'. Oleh karenanya, Alloh menjadikan pahala bagi hamba atas perbuatan baiknya, karena akalnya telah memilih melakukan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Dan menjadikan siksa bagi hamba atas perbuatan buruknya, karena akalnya telah memilih menyalahi perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya, dengan memenuhi ajakan naluri dan kebutuhan jasmani tidak sesuai yang diperintahkan oleh-Nya. Dan balasan perbuatannya adalah haq dan adil, karena ia telah memilih berbuat dan tidak dipaksa berbuat ...". (Nizhomul Islam, hal. 24, Syamilah 2).
PENUTUP
Hikmah mengimani qodlo' dan qodar, baik yang datang dari Islam maupun dari Yunani, adalah mengajak hamba melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, ketika hamba mengerti bahwa Alloh terus mengawasinya dan akan menghisabnya, dan Alloh telah menjadikan baginya pilihan melakukan dan meninggalkan perbuatan. Ketika hamba tidak pandai-pandai menggunakan pilihannya, maka kerusakan dan azab yang berat akan menimpanya. Sebab itu, kita menemukan hamba mukmin yang jujur dan memahami hakekat qodlo' dan qodar, yang mengerti hakekat nikmat akal dan pilihan pemberian Alloh, kita menemukannya sangat muroqobah dan takut kepada Alloh. Ia melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, karena takut azab-Nya, mengharap surga-Nya, dan cinta mencari yang lebih besar dari semuanya, yaitu ridlo-Nya. (lihat; Nizhomul Islam, hal. 25). Wallohu a'lam bishshawwab. Selesai.