Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Telah terjadi kesepakatan diantara kelompok Salafi/Wahhabi pro sistem bid'ah kerajaan dan kelompok Aswaja Sekular pro sistem kufur demokrasi (memang ada yang mengatakan hanya oknum dari keduanya, tapi batasan oknum itu berapa orang?) dalam menuduh bahwa Hizbut Tahrir itu Qadariyyah atau Mu'tazilah, karena tidak mengimani qodho dan qodar, tidak mengimani (mempercayai) taqdir, hamba menciptakan perbuatannya sendiri. Dan karena itu, di bawah adalah sanggahan atas tuduhan di atas.
HAKEKAT QADARIYYAH
Mereka dinamai Qadariyah karena:
1) Menafikan qadar, sebagaimana Daud bin Ali al Ashbihani dinamai Qiyasi karena menafikan qiyas.
2) Mengkalaim memiliki qudroh (kuasa) menciptakan perbuatannya dan menafikan qudroh Allah atas perbuatannya sebagaimana perkataan Abdul Malik bin Mahisun.
Orang qadari mengklaim, bahwa urusan/ perkara itu diserahkan kepadanya, apa yang ia kehendaki maka ia kerjakan, dan dia yang berkehendak untuk maksiat, sedang Allah berkehendak agar ia taat, maka yang terjadi apa yang ia kehendaki, bukan yang Allah kehendaki. Muktazilah adalah sekte dari Qadariyyah. (Almuntaqa' Syarhul Muwatha', 4/281, Syamilah 2).
Qadar yang dimaksud di sini adalah qadar yang datang pada hadis: وأن تؤمن بالقدر خيره وشره من الله تعالى "Wa an tu'mina bilqadari khairihi wa syarrihi minallohi ta'aalaa/dan kamu beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Alloh ta'ala". (HR Muslim dari Umar ra), dan hadis-hadisf yang lain, yakni qadar yang datang dari Islam, bukan qadar dalam pembahasan ilmu kalam yang datang dari falsafah Yunani. Oleh karenanya, dibutuhkan penjelasan terkait...
TANGGA IMAN KEPADA QADAR
Iman kepada qadar (yang datang dari Islam) memiliki dua tangga (derajat) :
Pertama : Mengimani bahwa Alloh SWT mengetahui semua perbuatan hamba, dari yang baik, yang buruk, yang taat dan yang maksiat, sebelum menciptakan dan mewujudkan hamba. Dan mengetahui hamba yang ahli surga dan yang ahli neraka. Alloh telah menyediakan pahala dan siksa sebagai balasan bagi perbuatan hamba, sebelum menciptakan dan mewujudkan hamba. Alloh telah menulis semua perbuatan hamba di sisi-Nya dan menghitungnya. Dan semua perbuatan hamba berjalan sesuai yang terdahuludu dalam ilmu dan kitab-Nya.
Kedua : Mengimani bahwa Alloh telah menciptakan semua perbuatan hamba-hamba-Nya dari yang kufur, yang iman, yang taat dan yang maksiat, dan telah menghendakinya dari mereka.
Tangga kedua ini ditetapkan oleh Ahlussunnah Waljama'ah dan diingkari oleh Qadariyyah. Sedang tangga pertama ditetapkan oleh mayoritas Qadariyyah dan dinafikan oleh Qadariyyah Ekstrem seperti Makbad Aljuhani, Amru bin Ubaid, dan yang lainnya. (Ibnu Rojab Alhanbali, Jaami'ulUluum Walhikam, hal. 29, cet. IV, 2010, Daaru Ibnil Jauzi, Cairo).
KESIMPULAN PAHAM QADARIYYAH
1- Mengingkari ilmu Alloh yang qadiim dan yang meliputi dengan semua perbuatan hamba. Sebagaimana keyakinan Qadariyyah ekstrim seperti Ma'bad Aljuhanni.
2- Mengingkari bahwa Alloh menciptakan (kholaqa) semua perbuatan hamba dan menghendakinya. Sebagaimana keyakinan semua Qodariyyah.
BAGAIMANA DENGAN KEYAKINAN HUZBUT TAHRIR TERKAIT QODAR YANG DATANG DARI ISLAM INI?
Hizbut Tahrir dan Syaikh TTaqiyuddin Annabhani di dalam semua kitab yang ditabanninya tidak pernah mengingkari ilmu Allah seperti pada tangga pertama, sebagaimana keyakinan Qodariyyah ekstrim.
Hizbut Tahrir juga tidak pernah mengatakan bahwa hamba menciptakan (kholaqo) perbuatannya sendiri, sebagaimana keyakinan semua Qodariyyah. Kecuali dalam menjelaskan dan menceritakan keyakinan Mu'tazilah, bukan keyakinan Hizbut Tahrir. Itu semua bisa dilacak di dalam semua kitab Hizbut Tahrir.
Di bawah adalah pandangan Hizbut Tahrir terkait Qodho dan Qodar yang datang dari peradaban Yunani yang kemudian oleh Mutakallimiin dijadikan sebagai rukun iman yang keenam :
PANDANGAN HIZBUT TAHRIR TERKAIT PROBLEM QADHO DAN QADAR
Problem (masalah) qadho dan qadar yang dibahas oleh Hizbut Tahrir dalam berbagai kitabnya, dan yang sering disalah pahami oleh mereka yang kontra dakwah Hizbut tahrir, itu tidak terkait dengan qadho dan qadar yang datang dari Islam seperti yang datang pada hadis Muslim dari Umar ra di atas. Namun Hizbut tahrir tidak menafikan atau mengingkari qadho dan qadar yang datang dari Islam. Ini bisa dipahami dari pernyataan berikut :
Syaikh Taqiyyuddien Annabhani rh berkata: "Orang yang mencermati problem qadho dan qadar (yang datang dari falsafah Yunani dan yang dibahas oleh Mutakallimien) menemukan, bahwa ketelitian/kerumitan pembahasan padanya mengharuskan pengetahuan tentang asas pembahasannya, dan asas itu bukan perbuatan hamba, dari sisi diciptakan oleh hamba sendiri atau oleh Alloh? Bukan ilmu Alloh, bahwa Alloh mengetahui, bahwa hamba akan berbuat sesuatu, dan ilmu-Nya meliputi dengannya. Bukan irodah Alloh, bahwa irodanNya berhubungan dengan perbuatan hamba, maka perbuatan hamba pasti terjadi dengan irodahNya. Dan bukan adanya perbuatan hamba telah tertulis di Lauh Mahfudz, maka hamba pasti berbuat sesuai yang tertulis di Lauh Mahfudz.
Jadi asas pembahasan Qodho dan Qodar itu bukan perkara-perkara diatas secara mutlak. Karena tidak memiliki hubungan dengan topik pahala dan siksa. Tetapi hubungannya hanya dari sisi mewujudkan, ilmu yang meliputi dengan segala sesuatu, irodah yang berhubungan dengan semua yang mungkin, dan memuatnya Lauh Mahfudz atas segala sesuatu. Hubungan ini topik lain yang terpisah dari topik memberi pahala atas perbuatan dan siksa atas perbuatan (yang berhubungan dengan asas pembahasan Qodho dan Qodar dari Yunani), yaitu : Apakah manusia itu dipaksa melakukan perbuatan baik atau buruk, atau diberi pilihan melakukannya ? Dan apakah manusia punya pilihan melakukan perbuatan atau meninggalkannya atau dia tidak punya pilihan ?". (Nizhamul Islam, hal. 15-16, cet. 6, 2001 M).
Jadi asas pembahasan Qodho dan Qodar yang datang dari Yunani ialah : Apakah manusia itu dipaksa melakukan perbuatan baik atau buruk, atau diberi pilihan melakukannya ? Atau apakah manusia punya pilihan melakukan perbuatan atau meninggalkannya atau dia tidak punya pilihan?
(bersambung...)