SERAMPANGAN SEKALI MEMAKAI AYAT INI DITUJUKAN KEPADA NAMA-NAMA JAMA'AH DAKWAH DAN UNTUK MEMBENARKAN KHILAFAH PALSU KHILMUS

Oleh : Abulwafa Romli 

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Khalifah dan warga khilmus tidak mau ikut Hizbut Tahrir (dan jama'ah dakwah lainnya), karena menurut mereka tidak ada dalilnya dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah atas nama Hizbut Tahrir. Bahkan mereka menyamakan nama Hizbut Tahrir itu layaknya nama berhala yang disembah. Dan menurut mereka nama jama'ah itu harus sesuai atau diambil dari Al-Qur'an atau As-Sunnah.

Padahal ketika mereka jujur, klaim  mereka tersebut justru membongkar kepalsuan khilafah dan khalifah mereka. Karena tidak ada, baik di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunnah, nama khilafatul muslimin dan tidak ada nama khalifah Abdul Qodir Hasan Baraja. Karena yang ada di dalam As-Sunnah itu nama Jamaatul Muslimin dan mereka akal-akalan mengatakan bahwa khilafah itu jamaah, bukan negara, untuk bisa membuat nama khilafatul muslimin. Tidak ada faktanya khilafah ala Minhajin Nubuwwah tanpa wilayah kekuasaan otonomi dan tanpa kekuasaan untuk menerapkan syari'at Islam secara Kaffah. Dan seterusnya.

Ini ayatnya. Mereka memakai dalil ayat ini dengan faham yang salah :

Allah swt berfirman :
إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهۡوَى ٱلۡأَنفُسُۖ وَلَقَدۡ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلۡهُدَىٰٓ}
"(Berhala-berhala) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka". (QS An Najem : 23).

•Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah

"Berhala-berhala ini tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan leluhur kalian sebut sebagai Tuhan. Allah tidak menurunkan dalil dan bukti untuk menyembah berhala-berhala itu. Apa yang mereka ikuti dalam menyembah berhala-berhala itu tidak lain kecuali anggapan yang tidak berdasarkan dalil dan hanya menuruti hawa nafsu saja. Sungguh telah datang kepada mereka bukti yang nyata dari Tuhan mereka yaitu Rasulallah dan Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa yang layak disembah hanya Allah, namun mereka tidak berhenti dari kesyirikan mereka". (https://tafsirweb.com/10137-surat-an-najm-ayat-23.html).

•Sayyid Quthub rh. berkata :
هذه الأسماء . اللات . العزى . مناة . . وغيرها . وتسميتها آلهة وتسميتها ملائكة . وتسمية الملائكة إناثا . وتسمية الإناث بنات الله . . . كلها أسماء لا مدلول لها ، ولا حقيقة وراءها . ولم يجعل الله لكم حجة فيها . وكل ما لم يقرره الله فلا قوة فيه ولا سلطان له . لأنه لا حقيقة له . وللحقيقة ثقل . وللحقيقة قوة . وللحقيقة سلطان فأما الأباطيل فهي خفيفة لا وزن لها . ضعيفة لا قوة لها . مهينة لا سلطان فيها . 
"Nama-nama ini; Lata, `Uzaa, Manat... dst. Menamainya dengan nama tuhan-tuhan dan menainya dengan nama malaikat. Menamai malaikat dengan nama perempuan. Dan menai malaikat perempuan dengan nama anak-anak perempuan Allah... Semuanya hanyalah nama-nama yang tidak memiliki arti dan tidak pula mengandung hakekat (fakta). Allah tidak menjadikan hujjah bagi kalian tentangnya. Setiap perkara yang tidak Allah tetapkan, tidak ada kekuatan padanya dan tidak ada sultan baginya. Karena tidak memiliki hakekat. Hakekat itu punya bobot. Hakekat itu punya kekuatan. Dan hakekat itu punya sultan. Adapun kebatilan-kebatilan, maka ringan sekali tidak punya bobot. Lemah sekali tidak punya kekuatan. Dan hina sekali tidak punya sultan." (Tafsir Fi Zhilaalil Qur'aan, Mawsuuah Syaamilah lit Tafsir, Bahtsun fi Asmaais Suwar wa Nushuushil Aayaat).

Jadi ayat diatas terkait nama-nama berhala Lata, Uzaa, Manat dll. yang diklaim sebagai nama-nama tuhan yang disembah. Dan terkait memberi nama malaikat sebagai perempuan dan anak perempuan Allah. Semua itu hanyalah nama-nama yang telah dibuat oleh nenek moyang mereka, dimana tidak ada faktanya sama sekali. Tidak ada fakta sebagai tuhan. Tidak ada fakta malaikat perempuan. Dan tidak ada fakta malaikat perempuan itu anak Allah. Dan semuanya tidak ada dalilnya.

Berbeda dengan Jama'ah dakwah. Jelas ada faktanya. Ada tugas dan aktifitasnya. Ada dalilnya, baik dari Alqur'an maupun dari Assunnah, sebagaimana Hizbut Tahrir dll.

Malah secara rasional / dalil aqli dan dalil naqli, tidak ada faktanya dan tidak ada dalilnya, bahwa khilafah ala minhajin nubuwwah tidak memiliki wilayah kekuasaan dan tidak berkuasa sebagaimana khilafah palsu Khilmus dan khalifah palsu abdul qodir hasan baraja.

•Mereka melupakan ayat ini :
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (Al-Baqarah ayat 31).

Dalam tafsir Ibnu Katsir nama-nama yang diajarkan kepada Nabi Adam AS meliputi; nama-nama benda hingga alat-alat dapur, nama-nama malaikat, manusia anak cucu Adam, nama-nama binatang dan seterusnya.

Dalam ilmu nahwu nama itu disebut 'alam (tanda) sehingga harus atau pasti memiliki substansi atau fakta. Didalam Al-Qur'an dan As-Sunnah juga banyak sekali disebutkan nama-nama kelompok atau jama'ah. Seperti nama-nama hizbulloh, hizbusy syaithon, ashhabul yamin, ashhabusy syimal, muhajirin, anshor dan seterusnya. 

Realitanya juga banyak sekali nama-nama negara dan negeri, nama-nama jama'ah dan organisasi, nama-nama rumah ibadah dan sekolah, sampai nama-nama jalan dan kendaraan. 

Jadi nama-nama itu hanyalah tanda untuk menandai setiap substansi atau fakta dari makhluk yang ada di alam semesta termasuk di dunia ini, baik secara individu atau kelompok. Justru ketika ada benda, manusia, jama'ah atau organisasi tanpa nama itu bisa membingungkan. Akhirnya yang membuat nama adalah orang lain dan sekenanya sesuai substansi atau faktanya yang terindra dan setiap orang memberinya nama sehingga malah punya banyak nama. Jadi nama itu dibuat untuk menunjukkan atau menandai sebuah substansi atau fakta, bukan untuk menipu, apalagi dijadikan tuhan lalu disembah.

•Khalifah palsu khilmus layak disebut tuhan yang disembah selain Allah.

Allah swt. berfirman:
        اِتَخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ.  التوبة [9] : 31.
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". QS At-Taubah [9]: 31.

Ketika Rasulullah saw membacakan ayat di atas, maka ‘Adi Ibn Hatim ra berkata:
        فَقُلْتُ: إِنَّهُمْ لَمْ يَعْبُدُوْهُمْ. فقال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: بَلَى، إنهم حَرَّمُوْا عليهم الحلالَ وأحلُّوْا لهم الحرامَ، فاتَّبَعُوْهُمْ، فذلك عِبَادَتُهُمْ إِيَّاهُمْ. رواه الإمام أحمد والترميذي وابن جرير من طرق عن عدي ابن حاتم رضي الله عنه. {تفسير ابن كثير}.
“Aku berkata; ”Mereka tidak menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib itu!”, lalu Nabi saw. bersabda; ”Memang, tetapi orang-orang alim dan rahib-rahib itu telah mengharamkan yang halal atas mereka, dan telah menghalalkan yang haram untuk mereka, lalu mereka mengikuti orang-orang alim dan rahib-rahib itu. Itulah bukti penyembahan mereka kepada orang-orang alim dan rahib-rahib!". HR Imam Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Jarir dari sejumlah sanad dari Adi Ibn Hatim ra.

Meskipun sebab turunnya ayat itu berkenaan dengan perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani, tetapi keumuman ayat dan hadis di atas juga ditujukan kepada kaum muslim.

Dalam hal ini kaidah usul mengatakan;
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ
"Yang dijadikan pelajaran adalah keumuman perkataan, bukan kekhususan sabab".

Dan kaidah;
عُمُوْمُ اللَّفْظِ فِي خُصُوْصِ السَّبَبِ هُوَ عُمُوْمٌ فِي مَوْضُوْعِ الْحَادِثَةِ وَالسُّؤَالِ، وَلَيْسَ عُمُوْمًا فِي كُلِّ شَيْئٍ.
"Keumuman kata pada kekhususan sebab adalah umum pada taupik peristiwa dan pertanyaan, tidak umum pada setiap peristiwa".

•Jadi khalifah palsu abdul qodir hasan baraja itu termasuk tuhan yang disembah. Karena telah memalsukan khilafah ala minhajin nubuwwah. Artinya ia telah menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Karena dengan mengklaim khilafah ala minhajin nubuwwah, maka secara otomatis telah menganggap orang-orang beriman yang tidak mau berbaiat ta'at kepadanya sebagai orang-orang yang berdosa bahkan sebagai bughot atau orang-orang yang keluar dari Aljama'ah yang halal darahnya seperti dalam hadits :

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بإِحْدَى ثَلاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِيْ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّاركُ لِدِيْنِهِ المُفَارِقُ للجمَاعَةِ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Tidak halal darah seorang muslim (untuk ditumpahkan) kecuali karena salah satu dari 3 perkara: tsayyib (orang yang sudah menikah) yang berzina, jiwa dengan jiwa (qishash) dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) serta memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin).” (HR al Bukhari dan Muslim).

•Terkait dalil aqli dan naqli Jama'ah dakwah Hizbut Tahrir Dunia, saya telah membuat postingannya :
https://abulwafaromli.blogspot.com/2022/10/kalau-belum-bisa-menegakkan-khilafah.html?m=1

Wahai warga khilmus dan khalifah palsunya, segeralah bertaubat sebelum ajal menjemput!

#khilafahajaranislam
#istiqomahdijalandakwah
#janganpalsukankhilafah

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.