*KHILAFAH BUKAN ISIS DAN KHILMUS*

Oleh: Zakariya al-Bantany

Para penjajah kafir Barat (asing) dan Timur (aseng) dengan propaganda jahatnya, baik secara langsung, maupun melalui proxy (bonekanya). Yaitu, para penguasa boneka dan para komprador serta media mainstream yang menjadi corong imperialismenya.

Mereka terus-menerus tiada henti-hentinya meniupkan kesesatan demi kesesatan di tengah kaum Muslim. Dengan menciptakan sebuah stigma negatif dan menyesatkan, yaitu Khilafah itu adalah ISIS, yang telah menebar teror bagi dunia ?!

Dan parahnya pula, ada sebagian kecil umat ini yang terperdaya oleh ISIS yang mengklaim diri sebagai Khilafah di Mosul Irak dan Raqqa Suriah. Kemudian, pula sebelumnya pun ada sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Khilafatul Muslimin (Khilmus) yang mengklaim diri sudah Khilafah dan sudah punya Khalifah di Provinsi Lampung Indonesia.

Jadi, keabsahan Kekhalifahan yang dideklarasikan oleh ISIS dengan Khalifah palsunya yang bernama Abu Bakar Al-Baghdadi di Mosul Irak-Raqqa Suriah, pada 2014 silam. [1]. Dan pula, Kekhalifahan yang dideklarasikan oleh Khilmus dengan Khalifah palsunya si Abdul Qadir Hasan Baraja di Lampung (yang notabene Lampung merupakan provinsi bagian wilayah NKRI), pada tahun 1997 hingga sekarang [2]. Yang notabene Hasan Baraja seorang mantan terpidana kasus terorisme tahun 1979 dan upaya peledakan Candi Borobudur tahun1985, dan eks NII. [3]

Sesungguhnya mereka semua tersebut, baik ISIS maupun Khilmus, secara syar’i telah tertolak. Karena, tidak memenuhi empat syarat syar’i sekaligus, yaitu:

*Pertama:* Khilafah semestinya menguasai satu wilayah otonom yang berdaulat, bukan berada di bawah sebuah negara. Artinya, Khilafah bukanlah negara dalam negara, dan Khilafah pun bukanlah pula sekedar jamaah kelompok pengajian atau ormas yang melabeli dirinya dengan nama Khilafah. Khilafah secara de facto dan de jure adalah sebuah negara yang independen dan sebuah negara yang berdaulat penuh atas wilayah hukum, administratif dan politiknya serta geografis dan keamanannya.

*Kedua:* Semestinya Khilafah mengontrol penuh hukum, administratif, politik, keamanan dan rasa aman di wilayah itu.

*Ketiga:* Khilafah semestinya mampu menerapkan Syariah Islam secara adil dan menyeluruh (kaffah) atau totalitas secara sempurna, dalam segala aspek kehidupan.

*Keempat:* Pengangkatan Khalifah semestinya memenuhi seluruh syarat-syarat syar’i pengangkatan (syurutul in’iqad). Yaitu: Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu. Serta ia dibaiat dengan prinsip ridha wal ikhtiyar (kerelaan dan pilihan) oleh umat Islam di wilayah itu setelah opini umum (ra’yul ‘aam) tentang Khilafah berkembang dan menjadi kesadaran umum (wa’yul ‘aam) di tengah masyarakat. Kenyataannya, semuanya tidak terpenuhi oleh ISIS maupun Khilmus tersebut.
 
Lagi pula, metode perjuangan yang digunakan oleh ISIS dan Khilmus tersebut. Tidaklah sesuai dengan metode (thariqah/manhaj) Rasulullah Saw dalam mendirikan Daulah Islam (negara Islam) pertama di Madinah. Baik saat fase dakwah di Mekkah, maupun saat fase dakwah di Madinah.

Dalam metode perjuangan dakwah Rasul tersebut, Rasulullah Saw tidak pernah sedikitpun menempuh jalan kekerasan, apalagi menghancurkan tempat ibadah, melakukan pembunuhan tanpa haq, menebar teror dan sebagainya. Jadi, pasca deklarasi, ISIS sesungguhnya tetaplah sebagai milisi bersenjata, bukan Khilafah. Artinya, ISIS itu adalah Khilafah palsu alias abal-abal, dan Abu Bakar Al-Baghdadi pun adalah Khalifah palsu alias abal-abal.

Dan pula dalam metode perjuangan dakwah Rasul tersebut, saat fase dakwah di Mekkah Rasulullah Saw pun tidak pernah mengaku-mengaku sudah menjadi Khalifah (Amirul Mukminin/Raisud Daulah). Dan beliau beserta jamaah Sahabatnya pun saat fase dakwah di Mekkah, tidak pernah mengaku-ngaku sudah mendirikan Khilafah, di Mekkah. 

Sebaliknya, Khilmus dengan Hasan Baraja sang Khalifah palsunya tersebut, berani mengaku-ngaku atau mengklaim sudah mendirikan Khilafah dan warga Khilmus mengklaim sudah membai'at Hasan Baraja sebagai Khalifahnya. Bahkan, Hasan Baraja mengklaim dirinya sebagai Khalifah ke-105. [4]

Apatah lagi, Hasan Baraja sang Khalifah palsu Khilmus tersebut ditangkap dan dipenjara lagi oleh aparat kepolisian penguasa/pemerintah NKRI, tanpa daya dan kekuatan sama sekali. Dan dia pun terancam vonis hukuman penjara 20 tahun. Pasca konvoi warga Khilmus, pada Juni 2022 yang lalu. [5]

Dan dalam thariqah dakwah Rasulullah Saw saat fase dakwah di Mekkah, tidak ada satu pun ceritanya Rasulullah Saw mengaku-ngaku sudah Khilafah. Dan tidak ada ceritanya, beliau mengaku-ngaku sudah mendirikan Khilafah. Serta tidak ada ceritanya pula, beliau Saw ditangkap oleh aparat keamanan penguasa kafir Quraisy di Mekkah.

Jadi, pasca deklarasi, Khilmus sesungguhnya tetaplah sebagai kelompok pengajian biasa atau ormas biasa, bukan Khilafah. Artinya, Khilmus itu adalah Khilafah palsu alias abal-abal, dan Hasan Baraja pun adalah Khalifah palsu alias abal-abal.

Haruslah diingat, bahwa Khilafah adalah negara yang punya bobot bukan sekedar namanya saja. Proklamasinya akan menjadi peristiwa yang hebat dan mengguncang dunia, sebagaimana peristiwa hebat dan telah berguncangnya dunia saat berdirinya Daulah Islam yang pertama oleh Rasulullah Saw di Madinah tersebut. Bukan seperti sekarang, Khilafah palsu ala ISIS dan Khilafah palsu ala Khilmus tersebut, yang justru hanya menjadi bahan olok-olokan dan cemoohan di mana-mana.

Setelah meledaknya soal ISIS dan Khilmus, terlihat ada upaya semakin monsterisasi istilah “Khilafah” dengan mengaitkannya dengan ISIS, NII, radikalisme dan terorisme. Yakni, dimanfaatkannya pemberitaan soal Khilmus dan ISIS ini untuk menciptakan stigmatisasi negatif, terorisasi, radikalisasi, monsterisasi dan kriminalisasi terhadap simbol-simbol Islam dan istilah-istilah Islam serta ajaran Islam seperti panji Rasul (bendera tauhid Islam), dakwah, jihad, Syariah dan Khilafah. Korbannya pun sudah banyak berjatuhan.

Mengapa monsterisasi istilah “Khilafah” bisa terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini ?!

Karena, Indonesia adalah mayoritas Muslim. Bahkan, disebut-sebut sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan wilayahnya yang sangat luas dan sangat strategis dari aspek konstelasi geopolitik strategisnya. Serta begitu sangat kayanya sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia tersebut.

Justru karena itulah,  banyak pihak yang tidak menghendaki umat Islam di negeri ini bangkit. Sebab, bila itu terjadi tentu akan sangat berpengaruh terhadap konstelasi geopolitik dunia, khususnya di dunia Islam. Dan tentunya pula, sangat membahayakan bagi kepentingan negara-negara kafir penjajah Barat dan Timur ataupun gurita hegemoni penjajahan kapitalisme global, baik blok Barat (asing), yaitu AS dan Eropa serta zionis yahudi Israel maupun blok Timur (aseng) yaitu RRC.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah hal itu terjadi. Di antaranya, dengan memunculkan kesan buruk, konyol dan menakutkan terhadap sejumlah ajaran Islam, khususnya ajaran kunci dalam Islam yaitu: Syariah dan Khilafah.

Di situlah, terjadi stigmatisasi dan monsterisasi atau kriminalisasi istilah Khilafah. Harapannya, bila orang-orang takut dan punya kesan buruk. Maka, dengan mudah didorong untuk menjauhi dan menolak ajaran Islam yang sesungguhnya sangat mulia itu, dan yang sesungguhnya menjadi solusi atas segala problematika umat manusia saat ini.

Oleh karena itu, kita harus waspada jangan sampai isu Khilmus dan ISIS tersebut. Dijadikan propaganda negatif dan alat untuk menjauhkan Islam dari umat Islam. Serta dijadikan propaganda jahat para penjajah kafir dan para bonekanya. Untuk kanalisasi umat Islam, memecah-belah umat Islam dan membendung kebangkitan Islam. Sekaligus untuk mengaborsi kelahiran bayi Khilafah Islam yang hakiki. Dan memalingkan umat Islam dari metode (thariqah/manhaj) dakwah Rasulullah Saw, serta dari memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah ala Minhajin Nubuwwah yang hakiki.

Juga, jangan sampai penolakan terhadap Khilmus dan ISIS, berkembang menjadi penolakan terhadap ide Syariah dan Khilafah. Karena itu, harus dibedakan antara tindak kekonyolan, kebohongan dan kepalsuan Khilmus serta tindakan konyol, barbar dan kekerasan yang membabi-buta ISIS, dengan ide Khilafah sebagai gagasan yang berasal dari Islam.

Khilafah sebagai gagasan dari Islam yang notabene adalah ajaran dan warisan Rasulullah Saw, serta Sunnah Rasulullah Saw dan ajaran Ahlussunnah wal jama'ah (Aswaja), serta janji Allah SWT (wa'dullah) yang difardhukan, sekaligus kabar gembira dari Rasulullah Saw (bisyarah Rasulillah). Jelas, sangat berbeda dengan Khilmus dan ISIS yang nyata-nyata telah menyalahi thariqah atau manhaj (metode) Rasulullah Saw dan para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum tersebut.

Apatah lagi, Khilmus terindikasi kuat proyek intelijen lokal, dengan nampak track record petingginya mantan terpidana teroris dan eks NII serta banyak eks NII di dalamnya. Dan ISIS pun terindikasi sangat kuat adalah ciptaan AS, melalui operasi intelijen CIA dan militer AS.

Yang bertujuan mendistorsi, memonsterisasi ajaran Islam tentang dakwah, jihad, Syariah dan Khilafah serta simbol-simbol Islam. Sekaligus politik kanalisasi, politik adu-domba dan jebakan betmen terhadap umat Islam. Yang tujuan utamanya, adalah melemahkan Islam dan umat Islam, serta membendung kebangkitan Islam dan mengaborsi kelahiran bayi raksasa Khilafah yang hakiki. Serta pula dalam melanggengkan hegemoni penjajahan kapitalisme global AS di Timur Tengah dan di dunia Islam.

ISIS pun, dijadikan legitimasi oleh AS dan sekutu jahatnya, untuk membajak Revolusi Arab khususnya Revolusi Syam. Serta sebagai legitimasi untuk mengkriminalisasi, menterorisasi dan menghabisi ajaran Islam yang utama, yaitu Syariah dan Khilafah dan para pejuangnya.

Indikasi sangat kuat ISIS adalah buatan AS, diakui sendiri oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama (sekarang mantan Presiden AS) -sebelum Presiden terbaru AS Donald Trump yang terpilih saat ini- yang terpeleset lidah dalam sebuah konferensi pers membicarakan ISIS. Dalam pernyataannya, Obama mengatakan bahwa AS melatih tentara ISIS.

Diberitakan RT, Rabu (8/7/2015), pernyataan Obama itu disampaikan setelah mendapatkan penjelasan dari para pejabat keamanan soal upaya AS dalam mengalahkan ISIS. Salah-satunya adalah memberikan pelatihan bagi kelompok pemberontak moderat di Suriah.

Namun, dalam konferensi pers Senin (6/7/2015), Obama mengatakan bahwa “kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.

Obama seperti tidak sadar telah mengucapkan kalimat yang salah dan melanjutkan perkataannya. Namun, pihak Gedung Putih sepertinya menyadari kesalahan kalimat itu dan melakukan perbaikan dalam transkrip resmi di situs pemerintah.

Dalam transkrip tersebut, kalimat Obama ditambahi kata dalam kurung “Iraqi” atau warga Irak. Namun, inisiatif Gedung Putih ini juga terasa aneh dan tidak memperbaiki keadaan. Kalimat “Pelatihan pasukan ISIL (warga Irak)” bermakna seolah AS melatih pasukan ISIL yang berada di Irak.

Kesalahan Obama dan perbaikannya dalam transkrip yang janggal memicu kehebohan di media sosial. Beberapa mengatakan bahwa ini adalah Freudian slip, yaitu tidak sengaja mengatakan hal-hal yang terpendam di alam bawah sadar yang biasanya merupakan kejujuran. Artinya, Obama mengakui bahwa mereka telah melatih ISIS. [6]

Mantan menteri luar negeri dan mantan ibu negara AS. Yaitu, Hillary Clinton pun secara terang-terangan, mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) merupakan gerakan buatan AS. Guna memecah-belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak.

Pengakuan tersebut, termuat dalam buku terbaru Hillary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini.

Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara Barat, sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah-belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013. [7]

Bahkan, Presiden Amerika Serikat (AS) yang sekarang dari Partai Republik, Donald Trump pun mengakui ISIS adalah buatan AS:

“Mereka telah membuat ISIS. Hillary Clinton membuat ISIS bersama dengan Obama,” kata Trump saat berbicara di Biloxi, Mississippi, seperti dikutip dari laman The Guardian, Minggu (3/1/2016). [8]

Jadi kesimpulannya, Khilafah bukan Khilmus,  dan Khilmus bukan Khilafah. Begitupula ISIS bukanlah Khilafah, dan Khilafah pun bukan ISIS.

Khilafah yang hakiki yang memenuhi syarat-syarat syar’i yang sesungguhnya adalah Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah atau Khilafah Rasyidah Islamiyah. Yaitu, Khilafah yang berada di jalan lurus yakni jalan yang mengikuti manhaj atau metode Kenabian. Yang sebentar lagi, akan tegak di akhir zaman ini, melalui metode (thariqah/manhaj) dakwah Rasulullah Saw. Yang sedang diperjuangkan oleh para pejuang Khilafah dan kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia hingga berbagai penjuru Nusantara, yang mukhlis dan konsisten mengikuti metode (thariqah/manhaj) perjuangan dakwah Rasulullah Saw tersebut.

Serta mereka pun berjuang bersama seluruh elemen umat Islam di seluruh penjuru dunia, hingga di seluruh penjuru Nusantara atau di negeri ini, dari Sabang hingga Merauke. Untuk mewujudkan tegaknya kembali Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah wa’dullah (janji Allah) wa busyrah Rasulillah (kabar gembira Rasulullah Saw), bi idznillah wa insya Allah.

Wallahu musta'an, wallahu a’lam bish shawab. []

*Catatan Kaki:*

1. https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/06/140629_isis_negara_islam

2. https://m.merdeka.com/peristiwa/asal-usul-berdirinya-khilafatul-muslimin-pimpinan-abdul-qadir-hasan-baraja.html

3. https://m.liputan6.com/news/read/4980900/pemimpin-khilafatul-muslimin-abdul-qadir-pernah-terlibat-pengeboman-candi-borobudur-1985; https://news.detik.com/berita/d-6104044/tentang-eks-nii-yang-disebut-jadi-pendiri-khilafatul-muslimin

4. https://metro.tempo.co/read/1602865/pimpinan-khilafatul-muslimin-abdul-qadir-hasan-baraja-mengaku-sebagai-khalifah-nomor-105

5. https://m.liputan6.com/news/read/4982280/6-fakta-terkini-usai-ditangkapnya-pimpinan-khilafatul-muslimin-abdul-qadir-hasan-baraja; https://news.detik.com/berita/d-6115031/pimpinan-khilafatul-muslimin-abdul-qadir-terancam-20-tahun-penjara

6. cnnindonesia.com, 9/7/2015; hizbut-tahrir.or.id › 2015/07/11

7. http://liputanislam.com/berita/hillary-clinton-terang-terangan-akui-isis-buatan-amerika

8. https://international.sindonews.com/read/1074087/42/trump-isis-buatan-hillary-clinton-dan-barack-obama-1451815062
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.