JAWABAN KEPADA ORANG BODOH YANG TIDAK MAU MENGAMBIL ILMU (DUNGU)



Oleh : Abulwafa Romli


BERPALING DARI ORANG BODOH
INILAH petunjuk Allah terkait jawaban kepada orang-orang bodoh yang tidak mau menimba ilmu;
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Dan berpalinglah kamu dari orang-orang bodoh". (Al-A`rof : 199).

Al-Qurthubi dalam Tafrsirnya berkata;
وفي قوله وأعرض عن الجاهلين الحض على التعلق بالعلم ، والإعراض عن أهل الظلم ، والتنزه عن منازعة السفهاء ، ومساواة الجهلة الأغبياء ، وغير ذلك من الأخلاق الحميدة والأفعال الرشيدة 
"Pada firmanNya, "Dan berpalinglah kamu dari orang-orang bodoh", ada anjuran untuk berkait dengan ilmu, berpaling dari orang-orang zalim, menghindari pertengkaran dengan orang-orang bodoh, menyamai orang-orang bodoh dan dungu, dan lain-lain dari akhlaq terpuji dan perbuatan bijaksana".

Dalam Tafsirnya, Ibnu Katsir telah memberi contoh kapan dan bagaimana jawaban itu diucapkan ;
وقال ابن أبي حاتم : حدثنا يونس بن عبد الأعلى قراءة ، أخبرنا ابن وهب ، أخبرني مالك بن أنس ، عن عبد الله بن نافع ; أن سالم بن عبد الله بن عمر مر على عير لأهل الشام وفيها جرس ، فقال : إن هذا منهي عنه ، فقالوا : نحن أعلم بهذا منك ، إنما يكره الجلجل الكبير ، فأما مثل هذا فلا بأس به . فسكت سالم وقال : وأعرض عن الجاهلين 
Ibnu Abi Hatim berkata; telah bercerita kepada kami Yunus bin Abdul A`la Qiroah; telah memberi khabar kepada kami Ibnu Wahab; telah memberi khabar kepadaku Malik bin Anas, dari Abdullah bin Nafi`; bahwa Salim bin Abdullah bin Umar berjalan bersama rombongan unta dari Syam dan lonceng di dalamnya. Lalu Salim berkata; "Ini dilarang". Lalu mereka menjawab; "Kami lebih tahu dengan ini daripada kamu. Yang dibenci itu hanya lonceng besar. Adapun seperti ini tadak apa-apa". Lalu Salim diam dan membaca ayat ; "Dan berpalinglah kamu dari orang-orang bodoh".

ULAMA BICARA SOAL SI DUNGU (ORANG BODOH YANG TIDAK MAU MENGAMBIL ILMU)

Dungu itu bahasa arabnya hamqo yang berarti safih yaitu seseorang yang bodoh sekali (jahil jiddan) tapi sok merasa hebat dan sok mengkritik orang-orang hebat yang berpikir cemerlang. Dari bahasa Arab safih sehingga si dungu seperti sapi gak punya malu. Si dungu itu sok usil dan meludahi langit. Ludahnya tumpah ke wajahnya sendiri. Pada akhirnya kedunguannya terkenal di banyak khalayak dan tidak sedikit yang sudah memutus hubungan dengan dia alias memblokirnya. Tapi dia tidak merasa karena bisa jadi sudah mati rasa malunya. 

Begini berbagai pernyataan ulama terkait si dungu :

وعن يسير بن عمرو -وكان قد أدرك الصَّحابة- قال : اهجر الأَحْمَقَ؛ فليس للأَحْمَق خيرٌ مِن هجرانه. 
"Tinggalkan si dungu, karena tidak ada kebaikan bagi si dungu dari meninggalkannya"
(رواه ابن حبان في روضة العقلاء، ص118).

عن أبي جعفر الخطمي أنَّ جدَّه عمير بن حبيب -وكان قد بايع النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم- أوصى بنيه، قال لهم: أي بني! إيَّاكم ومخالطة السُّفَهاء؛ فإنَّ مجالستهم داء، وإنَّه مَن يَحْلم عن السَّفيه، يُسَرَّ بحلمه، ومَن يُجِبه يندم.
"Wahai anak-anakku, janganlah kamu bercampur dengan orang-orang bodoh, karena duduk bersama mereka adalah penyakit. Dan siapa saja yang bijak dari orang bodoh maka ia dibahagiakan dengan kebijakannya, dan siapa saja yang menjawabnya maka ia akan kecewa".
 (رواه الطبراني، [17/50] [108]، والبيهقي [10/95] [20705]. قال الهيثمي في مجمع الزوائد [7/269]: رجاله ثقات).

وعن وهب بن منبِّه قال: الأَحْمَق كالثَّوب الخَلق: إن رفأته مِن جانبٍ انخرق مِن جانبٍ آخر، مثل الفَخَّار المكسور، لا يُرَقَّع ولا يُشعب ولا يُعاد طينًا.
"Si dungu itu seperti pakaian usang / bosok / gombal (yang hancur). Apabila kamu menjahitnya dari satu sisi, maka sobek dari sisi yang lain. Seperti tembikar yang pecah, tidak bisa ditambal, tidak bisa dikembangkan dan tidak bisa dikembalikan menjadi lumpur".
 (رواه ابن حبان في روضة العقلاء، ص 122).

وكان شريح يقول: لئن أزاول الأَحْمَق أحبُّ إليَّ مِن أن أزاول نصف الأَحْمَق، قيل: يا أبا أميَّة ومَن نصف الأَحْمَق؟ قال: الأَحْمَق المتعاقل.
"Sungguh apabila aku membersamai si dungu itu lebih aku sukai daripada membersamai orang setengah dungu". Dikatakan; "Wahai Abu Umayyah, siapakah orang setengah dungu itu?", beliau menjawab; "Si dungu yang sok cerdas!".
 (ربيع الأبرار، للزمخشري، 2/39).

وقال الحسن: هجر الأَحْمَق قُرْبةً.
"Meninggalkan / mendiami si dungu adalah ibadah".
 (زهر الأكم لليوسي، 3/65).

وقال يحيى بن خالد البرمكي: السَّفيه إذا تنسَّك تعاظم.
"Si dungu itu ketika dia beribadah maka dia sombong".
 (إحياء علوم الدين للغزَّالي، 3/343).

وأوصى المنذر بن ماء السَّماء ابنه النُّعمان بن المنذر، فقال: آمرك بما أمرني به أبي، وأنهاك عمَّا نهاني عنه: آمرك بالشُّح في عِرْضك، والانخِدَاع في مالك، وأنهاك عن ملاحاة الرِّجال وسيَّما الملوك، وعن ممازحة السُّفَهاء...
"Aku menyuruhmu dengan apa yang ayahku menyuruhku, dan aku melarangmu dari apa yang ayahku melarangku ; Aku menyuruhmu dengan medit (tidak mengobral) kehormatanmu, dan tertipu (tidak menipu) dalam hartamu. Dan aku melarangmu dari memusuhi / mencela ulama dan memakai pakaian penguasa, dan dari bercanda dengan orang-orang bodoh".
 (المجالسة وجواهر العلم)) للدينوري، 6/21).

وقال ابن الجوزي: السَّفَه نباح الإنسان.
Kebodohan adalah lolongan / gonggongan manusia".
 (انظر: الآداب الشرعية لابن مفلح، 2/8).

Terus kenapa saya membicarakannya disini, apa tidak seharusnya diam darinya? Oh jangan salah prasangka. Saya hanya memberitahu orang-orang yang cerdas dan ikhlas. Siapa tahu komenku ini bermanfaat bagi yang lainnya. Soal si dungu, meskipun kita nasihati dengan bijak dan kita beri ilmu dan makrifat, maka dia tidak pernah mau berubah ke arah yang lebih baik. Apalagi untuk menerima, mengamalkan dan memperjuangkan syariah Islam kaffah dan khilafah. Sudah makan waktu yang lama, dia tetap pada kedunguannya.

Wallahu A'lam bish shawab 
Semoga bermanfaat, aamiin

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.