Oleh : Abulwafa Romli
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Radikal dengan arti sebenarnya yaitu akar dan mengakar, itu dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik kehidupan dunianya maupun kehidupan akheratnya, baik kehidupan sehari-harinya maupun kehidupan jangka panjangnya. Radikul saya artikan radikal dan merangkul, merangkul dengan arti berpegang teguh kepada akar yang menjalar.
Manusia butuh menanam segala jenis tumbuhan, baik palawija maupun pepohonan, semuanya butuh radikal, butuh akar yang mengakar kuat. Karena tanpa radikal semuanya tidak mungkin menghasilkan buah dan biji yang baik-baik dan melimpah. Manusia harus menanam biji-bijian sampai berakar dengan sempurna, radikal. Setelah itu tanaman dijaga, dipelihara dan dirawat sampai berbuah dan memanennya, radikul.
Manusia memelihara segala jenis binatang ternak, semuanya harus melalui proses perkawinan yang radikal agar menghasilkan pembuahan oktimal dengan harapan bisa berkembang biak secara maksimal. Selanjutnya diterapkan praktek radikul secara teratur dan terukur sampai tujuannya terpenuhi dengan menyenangkan.
Bahkan spesies manusianya sendiri bisa punah ketika tidak ada praktek bercinta secara radikal radikul diantara lawan jenisnya, laki-laki dan perempuannya, antara suami dan istrinya. Bagian ini lebih mudah dimengerti. He he
Itu baru urusan duniawi, tanpa praktek radikal radikul semuanya bisa terkendala, bahkan bisa menjadi bencana berupa kekurangan dan kerusakan atas kehidupan manusia dan kebutuhan jasmaninya.
Lalu bagaimana dengan urusan ukhrowi setelah manusia dan makhluk yang lain mati tertimbun tanah. Padahal katanya, urusan ukhrowi ini sangat panjang dan melelahkan, dimana akan berakhir pada tempat yang abadi yang tidak akan ada mati lagi, selama-lamanya, di surga atau di neraka. Setelah melewati proses hisab, mizan dan melintas di atas shiroth mustaqim (jembatan lurus) yang bisa berbelok-belok, berliku-liku, licin, berduri dan bergigi dari kanan kirinya, sesuai amal perbuatan manusia di dunianya.
Manusia pada akhir kehidupan ukhrowi itu hanya terbagi menjadi dua golongan, ahli neraka dan ahli surga, ahli neraka yang abadi dan ahli surga yang abadi pula. Ahli neraka dipenuhi oleh golongan munafiqin, musyrikin dan kafirin. Sedang ahli surga dipenuhi oleh golongan mu'minin, muwahhidin dan mukhlishin, juga muslimin fasiqin yang mampir dulu di neraka karena tergelincir dari shiroth mustaqim sesuai dengan balasan dosa-dosanya ketika di dunia.
Nah, setelah saya teliti, ternyata baik Alqur'an maupun Assunnah menunjukkan, bahwa untuk meraih keselamatan, kesuksesan dan kebahagiaan manusia pada kehidupan ukhrowinya itu lebih membutuhkan praktek radikal radikul, mengakar dan merangkul ketika di dunia. Mengakar dalam memahami dan mempraktekkan syariah Islam. Dan merangkul dengan berpegang teguh kepada tali agama Allah, dan berpegang teguh kepada sunnah Nabi Muhammad saw dan sunnah Alkhulafa' Arrosyidin. Serta menjauhi segala macam bid'ah, baik bid'ah ritual, sepiritual, kultural, maupun bid'ah setruktural dalam berbangsa dan bernegara.
Allah swt berfirman :
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali 'Imran: 103). Jadi radikal radikul, berpegangteguh kepada tali agama Allah itu supaya Kalian selamat dari neraka.
Dan Rasulullah saw bersabda :
عَنْ أَبِي نَجِيحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: "وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا، قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ". رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ [رقم:4607]، وَاَلتِّرْمِذِيُّ [رقم: 266] وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ
صَحِيحٌ.
Dari Abu Najih Irbadh bin Sariah radhiyallahu'anhu dia berkata : "Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata : "Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat". Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Alkhulafa' Arrasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah (genggamlah dengan kuat) sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Hendaklah kalian menjauhi perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat". (HR. Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata : Hadits hasan shahih).
Jadi radikal radikul dengan taat dan mendengar kepada ulil amri yang berhukum dengan syariat Islam, berpegangteguh kepada sunnah Nabi saw dan sunnah para khalifah rosyidin, dan menjauhi segala bid'ah (perkara baru yang kontradiksi dengan sunnah Nabi saw dan sunnah para khalifah rasyidin), itu juga supaya kalian selamat dari neraka. Karena Nabi saw juga bersabda :
"وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار" رواه النسائي
"Setiap bid'ah itu sesat, dan setiap sesat itu di naraka". (HR Nasai).
JADI RADIKAL RADIKUL BAGI MUSLIM, MU'MIN, MUWAHHID DAN MUKHLISH ITU WAJIB, PERLU, BAGUS DAN HARUS.
JANGAN MAU DIBOHONGI DAN DITAKUT-TAKUTI OLEH MUNAFIQ LIBERAL, DAN KAFIR MUSYRIK.
Perlu diketahui, Radikal Radikul itu sangat berbeda dengan Radikalisme. Yaitu faham yang mengajak berpegang teguh kepada agama Kristen dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal agama Kristen tidak memiliki seperangkat sistem hukumnya untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Sangat berbeda dengan agama Islam yang telah memiliki seperangkat sistem itu. Karena itu orang-orang kafir akan meraih kebangkitan dan kemajuan ketika meninggalkan agamanya. Juga berbeda dengan kaum muslimin akan meraih kebangkitan dan kemajuan ketika berpegang teguh dengan agamanya. Dan haram hukumnya meyakini, mengamalkan dan menyebarkan paham aliran pemikiran Radikalisme itu. Karena Radikalisme itu tidak ada dalam Islam dan bukan milik kaum muslimin. Radikalisme itu seperti diatas milik para agamawan kristen di Eropa yang lahir pada abad pertengahan pada masa pencerahan disana, di Eropa :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=348060069664015&id=100033800737620
Wallahu A'lam Bish Shawaab