Oleh : Abulwafa Romli
"Uruslah dirimu sendiri. Tidak usah ngurus orang lain. Apalagi ngurus pemerintah. Apalagi ngurus HT/HTI dan khilafah"
"Jihad akbar itu memerangi hawa nafsu (kesenangan dan ajakan diri)"
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Saya tidak pernah ngurus HT/HTI, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Saya tidak pernah ngurus Islam kaffah, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Saya tidak pernah ngurus khilafah, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Saya tidak pernah ngurus dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Saya tidak pernah ngurus shalat, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Saya tidak pernah ngurus puasa dan banyak kewajiban lainnya, kecuali karena ngurus diri sendiri.
Agar diri ini mendapat pahala dan agar diri ini tidak berdosa.
Agar diri ini masuk surga dan agar diri ini tidak masuk neraka.
Berusaha Ikhlas karena Allah dan khusyuk dalam melaksanakan semuanya itu adalah wajib. Karena tanpa ikhlas dan khusyuk seorang hamba tidak akan mendapat pahala dan tidak akan terhindar dari dosa. Dan tanpa keduanya juga bagaimana bisa masuk surga dan selamat dari neraka?!
Satu lagi jangan dilupakan! Yaitu Benar! Sesuai yang disyariatkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta tidak bid'ah. Karena tidak ada faedahnya ikhlas dan khusyuk ketika ibadahnya salah dan bid'ah, bid'ah syar'iyah, bukan bid'ah lughowiyyah.
INILAH DALIL HADITS DAN ATSAR TERKAIT NGURUS DIRI SENDIRI
1. Nabi saw bersabda :
عَنْ أبي يَعلَي شدَّادِ بنِ أوْسٍ رضي اللهُ عنه، عنِ النَّبي صلَّي اللهُ عليه وسلمَّ قال: «الكيِّسُ مَنْ دَانَ نفْسَه، وعَمِلَ لما بعدَ الموْتِ، والعاجزُ مَنْ أتْبعَ نَفْسَه هواها، وتمنَّى علَى اللهِ».
(رواه التِّرمِذيُّ، وقال: «حديثٌ حسن». قال التِّرمِذيُّ وغيرُه مِنَ العلماءِ: معني «دانَ نَفْسَه»؛ أي: حاسبها).
Dari Abi Ya'la Syaddad bin Aus ra, dari Nabiyullah sallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang pandai (kuat, teguh, bijaksana) adalah orang yang mengevaluasi dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta banyak harapan kepada Allah.”
(HR Tirmidzi. Ia berkata: "Hadits Hasan". Tirmidzi dan ulama lainnya berkata : "Arti daana nafsahu, yakni ia mengevaluasi dirinya").
2. Umar bin Khatthab ra berkata :
حَاسـِبُوْا أنفسَكُمْ قَبلَ أنْ تُحاسَبُوْا وَزِنُوْا أنفسَكم قبلَ أنْ تُوْزَنُوا، فإنه أهونُ عليكم في الحساب غدًا أن تُحاسِبُوْا أنفسَكم اليومَ، وتَزَيَّنُوْا للعَرْضِ الأكبر يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ لا تَخْفَي منكم خافِيَةٌ.
“Hisablah diri kalian sebelum (nanti) kalian dihisab. Dan timbanglah diri kalian sebelum (nanti) kalian ditimbang. Karena nanti hisab kalian akan lebih mudah jika kalian hisab diri kalian sekarang. Dan hiaslah diri kalian untuk pertemuan akbar pada hari kalian akan ditampakkan dan tidak ada yang tersembunyi dari kalian.”
(HR. Ibnu Abi Dunya di kitab Muhasabatun Nafsi, hal. 22; Imam Ahmad di kitab Azzuhd, hal. 120; Abu Nu’aim di kitab Alhilyah, (1/52).
3. Maimun bin Mihran berkata :
لا يكون العبد تقيًّا حتى يكون لنفسه أشدَّ محاسبةً من الشريك لشريكه.
“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia lebih mengoreksi dirinya sebagaimana rekan mengoreksi rekannya”.
(Riwayat Waki` di kitab Azzuhd [239]; Ibnu Abi Syaibah [7/195,235]; Hanad di kitab Azzuhd [1228]; Ibnu Abiddunya di kitab Muhasabatun Nafsi [7] dari Jakfar bin Barqon dari Maimun. Dan riwayat Ibnul Juziy di kitab Dzammil Hawaa [43] dari jalur Waki` dan jalur Ibnu Abiddunya).
Maimun bin Mihran juga berkata :
إنّ المتقي أشدُّ محاسبةً لنفسه من سلطان عَاصٍ، ومن شريك شحيح".
"Sesungguhnya orang yang bertaqwa itu lebih mengoreksi dirinya dari pada sultan yang maksiat dan daripada rekan yang bakhil (medit)".
(Riwayat Ibnu Abiddunya di kitab Muhasabatun Nafsi dari Abi Musa Al`abady dari Abil Maliih dari Maimun).
NGURUS KELUARGA JUGA BAGIAN DARI NGURUS DIRI SENDIRI
Allah swt berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan". (QS Attahrim [66]: 6).
Jadi saya tidak pernah ngurus keluarga, kecuali karena ngurus diri sendiri, agar saya mendapat pahala dan tidak berdosa.
INFO :
Dan bagi Anda yang ingin pandai ngurus diri sendiri dari siang sampai malam, dari pagi sampai sore, dari bangun tidur sampai tidur lagi, full 24 jam dikurangi waktu tidur, minimal harus ngaji kitab "Bidayatul Hidayah" Karya Imam Ghozali. Lebih luas lagi ketika ngaji syarahnya, yaitu kitab "Maroqil 'Ubudiyyah" karya Ulama Nusantara Syaikh Nawawi Banten, sebagaimana pada foto dibawah :