Sang mantan yang satu ini sudah kehilangan sifat malunya dengan selalu membuat tulisan tanpa dasar logika orang waras, tanpa didukung fakta yang benar berupa dalil aqly maupun naqly. Analisa yang menyimpang dan penuh dendam, dengki dan hawa nafsu yang menyuruh keburukan, sangat dirasa dan dilihat pada tulisan-tulisannya bagi orang-orang yang waras akal dan ikhlas hatinya.
Kali ini sang mantan membuat judul tulisan yang super nyleneh sampai gila-gilaan ;
============m u l a i===========
*IDE SATU KHALIFAH YANG MEMBAWA PENGGILANYA MENJADI GILA PERANG*
Oleh *Ayik Heriansyah*
Kabar terakhir dari Afghanistan, ISIS di sana bersumpah untuk memerangi Taliban. Menurut ISIS, Taliban telah kafir karena berunding dengan Amerika. Perundingan tersebut telah mengeluarkan Taliban dari Islam. Sementara Taliban menilai, ISIS adalah khawarij yang wajib diperangi.
HTI menolak Emirat Islam Afghanistan karena berbentuk nation state, bukan khilafah global. HTI memperkuat penolakannya dengan mengatakan bahwa kemenangan Taliban adalah jebakan dari Amerika, karena Amerika keluar dari pintu depan untuk kembali dari pintu belakang. Taliban "bodoh dan lugu", menurut HTI.
Masalah berunding dengan negara musuh dan konsep nation state atau khilafah global, adalah masalah strategi dan konsep. Keduanya bukan masalah prinsip layaknya aqidah atau pokok-pokok syariah.
Lebih dari itu, sebenarnya penolakan HTI dan ISIS karena alasan politis. Kita tahu, HTI dan ISIS berambisi menjadi pemimpin tunggal umat Islam, dimana kaum muslimin dituntut untuk memilih, mengangkat dan membai'at Amir dari kedua kelompok menjadi khalifah. Jika tidak diperangi.
Semua penggila khilafah seperti pikirannya akibat salah paham hadits yang berbunyi: idza buyi'a li khalifataini faqtulu akhiru minhuma. Masing-masing penggila khilafah beranggapan Amir merekalah yang menjadi khalifah awwal, selain itu diyakini akhiru minhuma. Lalu harus di-faqtulu. Faqtulu versus faqtulu sampai hari kiamat.
Penggila khilafah salah paham, yang dimaksud dengan khalifah dalam hadits tersebut bukan khalifah yang berasal dari Amir kelompok mereka. Hadits tersebut menerangkan tentang pemimpin politik di suatu negara, bukan dalam suatu umat. Bahwa di suatu negara harus ada satu pemimpin saja, tidak boleh lebih. Misalnya di Indonesia, harus ada satu presiden, tidak boleh lebih.
Sebab, memang yang namanya pemimpin harus satu, tidak mungkin ada lebih dari satu pemimpin dalam suatu urusan. Yang paling sederhana, tentang tiga orang yang melakukan perjalanan, Nabi Muhammad saw menyuruh memilih salah seorang untuk jadi pemimpin.
Penggila khilafah tidak paham, di zaman Nabi saw, pemimpin politik itu banyak. Mereka raja-raja dari negara kerajaan yang bertetangga dengan negara Nabi saw di Madinah.
Nabi Muhammad saw mengakui dan menghormati kedaulatan negara-negara tersebut. Hal ini dibuktikan dengan surat-surat diplomatik yang disampaikan Nabi saw kepada 9 pemimpin negara-negara tersebut.
Surat kepada:
1) Raja Najasy (Kerajaan Habasyah/Etiopia);
2) Raja Kisra (Kerajaan Persia);
3) Raja Heraklius (Kerajaan Romawi);
4) Raja Muqawqis (negara Mesir);
5) Raja al-Harits al-Gasasani (negara Gasasinah, Siria);
6) Raja al-Munzir bin Sawa (negara Bahrain);
7) Raja Jaifar dan Abdu Waqil, dua bersaudara putra al-Julandai (negara Oman);
8) Raja Hauzah al-Hanafi (negara Yamamah, Nejd);
9) Surat untuk Raja al-Harits al-Himyari (negara Yaman).
Kepada semua pemimpin negara tersebut, Nabi saw mengajak masuk Islam. Nabi saw tidak meminta negara-negara tersebut bersatu bergabung dengan negara Beliau saw di Madinah. Nabi saw tidak mengancam akan menginvasi negara-negara tersebut jika menolak tawarannya.
Raja negara Bahrain dan Yaman memeluk Islam. Nabi saw membiarkan kedua raja tetap berkuasa. Nabi saw tidak menggantikannya dengan orang lain. Nabi saw mengokohkan kedudukan keduanya. Nabi saw tidak memerintahkan kedua negara muslim tersebut bersatu dengan negara Madinah.
Dari politik luar negeri Nabi saw tadi, dapat disimpulkan bahwa nation state-nation state dibolehkan dalam islam. Menyatukan nation state-nation state ke dalam satu negara global, tidak pernah dilakukan dan dicontohkan Nabi saw.
Pada akhirnya, patut dipertanyakan, sebenarnya dari mana asal muasal ide satu khalifah untuk seluruh kaum muslimin yang diperjuangkan oleh penggila khilafah?!
============s e l e s a i============
Qultu ana (Abulwafa Romli) :
Ini adalah cara-cara komunis dan kapitalis dalam memutarbalikkan fakta hukum syara` dan kesatuan khilafah bagi kaum muslimin diseluruh dunia. Sudah termasuk ma`lumun minaddiin bidhdharury, perkara agama yang sudah diketahui secara pasti, bahwa diantara dalil kewajiban khilafah dan kesatuan khalifah untuk kaum muslimin di seluruh dunia, adalah Ijmak sahabat, sebagai dalil syara` yang mujmak `alaihi juga, dimana dihukumi murtad orang yang mengingkarinya. Dan bisa dilacak di kitab-kitab tafsir, syarah hadits dan fiqih karya ulama mujtahid dan muqollidnya yang muktabar yang bertebaran dan berjejeran maktabah-maktabah yang ada.
https://abulwafaromli.blogspot.com/2019/09/hanya-satu-khalifah-untuk-kaum-muslimin.html?m=1
https://abulwafaromli.blogspot.com/2018/01/khilafah-wajib-tunggal-atau-boleh-lebih.html?m=1
Para raja yang telah dikirimi surat oleh Nabi Muhammad saw agar masuk Islam dan dibiarkan sebagai pemimpin diantara kaumnya, semuanya, pada akhirnya bergabung dan menyatu menjadi bagian dari daulah khilafah, melalui futuhat yang dilakukan oleh Nabi sendiri dan diteruskan oleh para khalifah setelahnya. Tidak ada satu rajapun dari mereka yang menjadi khalifah di tengah-tengah kaumnya. Ini menunjukkan bahwa khalifah tetap satu orang dan menunjukkan atas kesatuan daulah khilafah yang disepakati keabsahannya.
Apalagi yang namanya penguasa itu bukan hanya khalifah, tetapi memasukan pemimpin-pemimpin di bawah khalifah seperti para wali (penguasa setingkat gubernur) dan para amil (penguasa setingkat bupati). Karenanya, banyak para penguasa seperti para raja dibiarkan tetap menjadi penguasa, tidak sebagai khalifah.
Betapa bodoh dan menipunya apa kata sang mantan, "Dari politik luar negeri Nabi saw tadi, dapat disimpulkan bahwa nation state-nation state dibolehkan dalam islam. Menyatukan nation state-nation state ke dalam satu negara global, tidak pernah dilakukan dan dicontohkan Nabi saw.". Betul, karena pada zaman Nabi saw itu belum ada nation state atau negara nasional dan belum ada ide nasionalisme. Karena negara nasional itu lahir seiring lahirnya ide sesat nasionalisme untuk memecah belah persatuan kaum muslimin di bawah naungan khilafah.
Sedang problem Taliban, ISIS dan Hizbut Tahrir, yang sedang terjadi saat ini tidak terlepas dari upaya adu domba Barat pimpinan Amerika. ISIS sudah bukan rahasia lagi sebagai bagian politik adu domba Amerika dan produk Amerika untuk menstigma negatif khilafah yang sedang diperjuangkan Hizbut Tahrir bersama umat, sehingga masyarakat dunia membencinya. Hizbut Tahrir dalam hitungan jam langsung menolak khilafah IS/ISIS, bukan karena khalifahnya bukan amir Hizbut Tahrir, tetapi hanya karena tidak memenuhi syarat-syarat khilafah yang diantaranya ialah tempat wilayah berdirinya khilafah harus benar-benar independen sebagai negara. Sedang wilayah ISIS tidak mewakili sebuah negara, tetapi hanya sebagai separatis yang merebut wilayah dari dua negara, Iraq dan Syuriah.
Berbeda dengan Afghanistan yang dikuasai Taliban yang sah sebagai sebuah negara. Maka ketika Taliban memproklamirkan negara khilafah, insyaalloh Hizbut Tahrir segera mendukung dan membaiatnya, siapapun khalifahnya asalkan memenuhi syarat-syarat sahnya khalifah. Tidak harus amir Hizbut Tahrir. Karena kalau benar amir Hizbut Tahrir ambisi menjadi khalifah, maka sejak awal sudah dibaiatnya sebagaimana khalifah ISIS dan khalifah Khilafatul Muslimin di Bandar Lampung. Bahkan khalifah Hizbut Tahrir lebih kuat dari keduanya itu. Tapi faktanya hingga detik ini Hizbut Tahrir belum membaiat amirnya sebagai khalifah. Fakta itu lebih kuat dari sekedar analisis, apalagi dari seorang mantan yang dipecat karena melanggar hukum syara' dan punya dendam kesumat terhadap HTI. Lalu dia dimanfaatkan dan dijadikan piaraan oleh kekuatan anti khilafah, kapitalis ataupun komunis. Dengan demikian keadilannya sudah lenyap terselip diantara tumpukan tulang dunia, sehingga tidak dapat dipercaya, apalagi sebagai rujukan dan saksi.
Saya yakin terlalu banyak sesuatu yang sedang terjadi di Afghanistan yang belum diketahui dunia. Tekanan, tawar menawar dan lobi-lobi terus berjalan secara alami sampai menemukan jalan terbaik bagi Islam dan kaum muslimin, dan bagi masa depan dunia seluruhnya dari barat sampai ke timur.
Saya melihat ada Hizbut Tahrir di sana sedang malakukan semua hal diatas. Indikasinya sangat nyata untuk diindra dan sangat terbuka untuk dianalisa oleh ahlinya yang jujur dan amanah. Dari berkibarnya liwa dan royah, wajah-wajah Taliban yang memancarkan cahaya kemenangan dan kejujuran dalam beragama dan menerima syariah kaffah, sampai salah satu pernyataannya tidak akan mengumumkan bentuk negara sebelum tantara Amerika hengkang semuanya dari Afghanistan. Itu menandakan adanya proses menuju khilafah, dan menyatunya Taliban dengan Hizbut Tahrir. Itu adalah kunci kemenangan yang sesungguhnya. Karena Hizbut Tahrir telah memiliki kunci-kunci nya. Hizbut Tahrir menguasai opini dunia yang dibutuhkan oleh khilafah ketika berdirinya, juga seperangkat sistemnya yang siap untuk disahkan lalu ditarapkan oleh khalifah. Hizbut Tahrir jago berdiskusi dan perang politik dan pemikiran terkait khilafah dan bagaimana mengatur negara dengan khilafah. Intinya semua yang dibutuhkan khilafah, Hizbut Tahrir telah memilikinya. Inilah yang dibutuhkan oleh Taliban dimana tidak ditemukan di kelompok-kelompok lainnya. Sedang Hizbut Tahrir hanya membutuhkan satu saja dari Taliban, yaitu wilayah negaranya yang independen, bebas dari pengaruh barat yang kapitalis dan timur yang komunis.
Sedang terkait nushroh dari Taliban kepada Hizbut Tahrir ketika terjadi, hakekatnya adalah nushroh kepada Taliban sendiri, bukan kepada Hizbut Tahrir. Karena bisa saja banyak Taliban yang sudah menjadi syabab Hizbut Tahrir yang memenuhi syarat-syarat sahnya khalifah dan siap dibaiat menjadi khalifah. Atau meskipun nanti yang menjadi khalifah bukan dari Taliban, tetapi mereka sangat diuntungkan karena khilafah berdiri di Afghanistan sebagai negara milik Taliban dan otomatis dengan khilafah Afghanistan akan menjadi negara besar dan super power sebagaimana yang telah terjadi di Yatsrib, Madinah Munawwarah.
Demikianlah analisa yang seharusnya, tidak seperti analisa sang mantan yang buruk sangka dan buruk analisa, yang justru menambah keruhnya air di tandonya, memutarbalikkan dan menjual hukum syara` dengan tulang anjing dunia yang busuk dan tidak mengenyangkan.
#KhilafahAjaranIslam
#IslamRahmatanLil'Alamin
#ReturnTheKhilafah