Kata ulama (bentuk plural/jamak dari ‘alim), secara bahasa artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu. Kata su’ adalah masdar dari sa’a–yasu’u–saw’an yang berarti jelek, buruk atau jahat. Dengan demikian, ulama su' secara bahasa artinya orang berpengetahuan atau ahli ilmu yang buruk dan jahat. Ulama su' sering juga disebut ulama dunia, lawan dari ulama akhirat.
Mengenai ulama su', redaksi hadits menyebutkan:
أنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال فقيل: وما هو يارسول الله؟، فقال: علماء السوء”
Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketimbang Dajjal. Beliau kemudian ditanya, apa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, ulama su' (buruk).
أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas umatku adalah para imam atau pemuka agama yang menyesatkan. (HR. Abu Daud)
ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻻَ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮْﻑَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ
Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
ﺃَﻻَ ﺇِﻥَّ ﺷَﺮَّ ﺍﻟﺸَّﺮِّ ﺷِﺮَﺍﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﺧِﻴَﺎﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ
Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama. (HR ad-Darimi).
ﻣَﻦْ ﺃَﻛَﻞَ ﺑِﺎﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻃَﻤَﺲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻴْﻨَﻴْﻪِ ( ﺃَﻭْ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻓﻲِْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔِ ﺍﻟﺪَّﻳْﻠَﻤِﻲْ) ﻭَﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﻪِ
Siapa yang makan dengan (memperalat) ilmu, Allah membutakan kedua matanya (atau wajahnya dalam riwayat ad-Dailami), dan neraka lebih layak untuknya. (HR Abu Nu‘aim dan ad-Dailami) .
Ada yang menganggap ulama su' atau ulama jahat adalah ulama yang dekat dengan penguasa. Ulama su' diidentikkan dengan ulama yang dekat dengan pemerintahan. Dekat dengan pemimpin. Sebaliknya ulama yang baik adalah ulama yang anti dengan pemerintahan. Bahkan ulama yang lurus dipahami sebagai ulama yang keras terhadap penguasa, mencaci maki penguasa bahkan siap memberontak atau berupaya mendongkel pemerintahan yang sah. Benarkah pemahaman yang demikian?
Mengenai ulama su', Sayyid Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi menjelaskan:
ونعني بعلماء الدنيا علماء السوء) وصفهم بذلك لخسة منزلتهم عند الله تعالى ودناءة همتهم حيث استعملوا ما به يمدح فيما يذم وهم (الذين قصدهم من) تحصيل (العلم التنعم بالدنيا) والترفه بزخارفها بتزيين المنازل بالفرش الطيبة وتعليق الستور عليها وتزيين الملابس الفاخرة والتجمل بالمراتب الفارهة (والتوصل) بذلك (إلى الجاه والمنزلة) الرفيعة (إلى أهلها) أي الدنيا
“(Yang kami maksud dengan ulama ulama dunia adalah ulama jahat). Imam Al-Ghazali menyifati mereka demikian karena kerendahan kedudukan mereka di sisi Allah dan kehinaan semangat mereka di mana mereka menggunakan sesuatu yang terpuji untuk sesuatu yang tercela. Mereka adalah orang (yang dengan) meraih (ilmunya bertujuan untuk kesenangan dunia,) hidup senang dengan perhiasan dunia, yaitu menghias rumah dengan permadani mewah, menggantungkan gorden padanya, menghiasi diri dengan pakaian mewah, dan memperindah rumah dengan kasur yang elok, (mendapatkan) dengan ilmunya (pangkat dan kedudukan) yang tinggi (pada penduduk) dunia,” (Lihat Sayyid Muhammad Al-Husaini Az-Zabidi, Ithafus Sadatil Muttaqin bi Syarhi Ihya’i Ulumiddin, [Beirut: Muassasatut Tarikh Al-Arabi, 1994 M/1414 H], juz I, halaman 348).
Dari pengertian ini, kita dapatkan pemahaman bahwa ulama su' adalah ulama yang glamor, gaya hidup mewah, matre dan tergila-gila dengan kekayaannya. Rela menukar ilmunya untuk mencari keuntungan duniawi.
Islam tidak membatasi pergaulan manusia dengan siapapun. Islam juga tidak pernah melarang pemeluknya untuk hidup kaya raya. Itu artinya siapapun boleh bergaul dengan penguasa termasuk ulama. Ulama boleh hidup kaya raya dan boleh dekat dengan penguasa sebab ulama memiliki tugas dakwah dan amar ma'ruf nahi munkar. Jika ulama menjauhi penguasa bahkan memusuhi penguasa lantas siapakah yang akan menasehati penguasa atau menjadi juru tegur bagi manusia? Disinilah perlunya ulama' masuk dalam pemerintahan agar pemerintahan tidak dikuasai oleh orang bodoh atau orang jahat.
Ulama adalah orang yang berilmu tentunya perilaku ulama adalah sebagai teladan. Ulama tidak boleh sembarangan dalam bersikap. Ulama yang lurus tidak akan berkata-kata kotor, memaki atau mencela manusia yang belum bersyariat. Ulama yang lurus tidak akan menghina ahli maksiat. Justru ulama yang suka mencaci, kasar dan beringas terhadap manusiap lainnya adalah ulama' yang buruk (ulama su'). Dakwah tidak boleh dilakukan dengan cara yang kasar apalagi dengan caci-maki.
Dakwah memang harus tegas dan istiqamah namun harus dengan cara yang lembut bukan dengan cara yang garang sebagaimana pesan Al-Qur'an:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (Q.S. Ali 'Imran: 59)
Ulama yang dekat dengan pemerintah bahkan masuk dalam pemerintahan tidak serta merta disebut sebagai ulama su' atau ulama jahat. Nilai-nilai agama tidak bisa dilaksanakan tanpa tegaknya sebuah negara. Ulama su' adalah ulama yang rela menukar ilmunya dengan keuntungan duniawi yang sangat murah. Untuk itulah perlunya ulama yang paham tentang ilmu politik masuk dalam pemerintahan untuk menjaga keseimbangan dalam pemerintahan.
Ulama yang lurus bukan berarti memusuhi negara, alergi dengan presiden atau berupaya menggulingkan kekuasaan. Kekuasaan harus ada, pemerintahan harus kokoh berdiri agar syariat agama bisa dilaksanakan dengan baik. Kita takkan nyaman beribadah dan menjalankan agama jika keadaan negara gonjang-ganjing atau tidak aman. Ulama yang dekat dengan pemerintahan bahkan menjadi tokoh dipemerintahan tidak lantas dicap sebagai ulama munafik, kafir dan sesat.
Rasulullah adalah tokoh politik sekaligus tokoh agama bahkan banyak sahabat yang terlibat dalam pemerintahan hingga menjadi khalifah. Ini menandakan bahwa Islam bukan agama anti politik, bukan agama anti kekuasaan.
Perlunya keamanan negara dan stabilitas politik yang kondusif, imam Al-Ghazali menganalogikan antara agama dan negara sebagai saudara kembar. Artinya agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Jika ingin beragama dengan baik maka harus baik pula sistem pemerintahannya. Imam Ghazali menyampaikan:
الملك والدين توأَمان فالدين أَصل والسلطان حارس وما لا أَصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع
Negara dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan dasar, sedangkan negara adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh dan dasar tanpa penjaganya akan hilang”.
Wallahu a'lamu bisshawab
(Copas dari Suryono Zakka, Aswaja Sumsel).