Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Al-Ghuraba' adalah Kelompok Islam Yang Terasingkan dari berbagai negeri dan negara, bukan Yang Mayoritas. Akan tetapi apabila mereka Alghuroba itu berkumpul, maka jumlahnya bisa mengalahkan arus mayoritas. Mengenai mereka Nabi saw bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيْباً وَسَيَعُوْدُ غَرِيْباً فَطُوْبَي لِلْغُرَبَاءِ. رواه مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه.
"Islam mulai datang dalam kondisi asing dan akan kembali asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan". HR Muslim dari Abu Hurairah ra.
•Alghuroba adalah orang-orang yang terasingkan dari berbagai kabilah :
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قالَ : قالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: إِنَّ الْإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْباً وَسَيَعُوْدُ غَرِيْباً كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيْلَ: وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلنَّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ. رواه الدارمي وابن ماجه وابن أبي شيبة والبزار وأبو يعلى وأحمد واللفظ له.
Dan dari Abdullah Ibn Mas'ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Islam telah memulai dalam kondisi asing dan akan kembali asing sebagaimana semula, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan". Dikatakan: "Siapakah kelompok yang terasingkan itu?". Beliau bersabda: "Orang-orang yang terasingkan dari berbagai kabilah". HR Darimi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, Bazar, Abu Ya'la dan Ahmad, sedang lafadznya milik Ahmad rh.
•Alghuroba adalah orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihuun) :
عن عمرو بن عوف بن زيد بن ملحة المزني رضي الله عنه أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قال: إِنَّ الدِّيْنَ بَدَأَ غَرِيْباً وَيَرْجِعُ غَرِِيْباً فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي. وفى رواية الطبراني فى الكبير: قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. وفى الأوسط والصغير: يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ.
Dan dari 'Amer Bin 'Auf Bin Zaid Bin Malhah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya agama Islam telah memulai dengan kondisi asing dan akan kembali menjadi asing, maka berbahagialah kelompok yang terasingkan, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan setelah (wafat) ku terhadap sunnahku yang telah dirusak oleh manusia". Dalam riwayat Thabarani dalam kitab Kabirnya: Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulallah, siapakah kelompok yang terasingkan itu?", beliau bersabda: "Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak". Dalam kitabnya al-Ausath dan ash-Shagiir memakai redaksi: "Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak".
•Alghuroba adalah orang shaleh yang jumlahnya sedikit ditengah-tengah orang buruk yang jumlahnya banyak:
وعن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قالَ: كُنْتُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً وَطَلََعَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ: ... طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيْلَ: وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: نَاسٌ صَالِحُوْنَ قليلٌ فِي نَاسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ مَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَنْ يُطِيْعُهُمْ. رواه أحمد والطبراني
Dan dari Abdullah Ibn 'Amer ra berkata: "Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah saw sedang Matahari telah terbit lalu beliau bersabda: " berbahagialah kelompok yang terasingkan, berbahagialah kelompok yang terasingkan". Dikatakan: "Siapakah mereka wahai Rasulallah?, beliau bersabda: "Orang-orang shalih yang minoritas di tengah orang-orang buruk yang mayoritas, yang membangkan terhadap mereka itu lebih banyak daripada yang menurut kepada mereka". HR Ahmad dan Thabarani.
Juga terkait karakter 'Al-Ghuroba', Nabi saw bersabda:
لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمْ أرْحْامٌ يَتَوَاصَلُوْنَ بِهَا للهِ وَلاَ دُنْياً يَتَبَاذلُوْنَ بِهَا يَتَحَابُّوْنَ برَوْحِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ. رواه الطبراني عن أبي مالك رصي الله عنه.
"Diantara mereka tidak ada ikatan rahim (kerabat) dimana mereka saling menyambungnya karena Allah, tidak ada pula harta dunia dimana mereka saling memberikannya, mereka saling mencintai dengan rauhillahi swt", yakni dengan syariat Allah swt, yakni bahwa sesuatu yang menjadi ikatan diantara mereka hanyalah aqidah dan idiologi Islam, tidak ada ikatan lain, baik ikatan nasab atau kerabat, dan tidak pula ada ikatan kepentingan atau manfaat duniawi.
Nabi saw juga bersabda:
هُمْ جِمَاعٌ مِنْ نَوَازِعِ الْقَبَائِلِ يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى فَيَنْتَقَوْنَ أَطَايِبَ الْكَلاَمِ كَمَا يَنْتَقِي آكِلُ الثَّمَرِ أَطَايِبَهُ. رواه الطبراني عن عمرو بن عبسة رضي الله عنه.
"Mereka adalah gabungan dari orang-orang yang terasingkan dari berbagai kabilah, mereka bergabung atas dasar dzikrullah (syariat Allah), lalu mereka mengambili perkataan yang baik-baik, sebagaimana pemakan buah mengambil yang baik-baiknya". HR Thabarani dari Amer Ibn Abasah ra.
Kalimat Ijtimaa' 'alaa dzikrillahi (bergabung atas dasar dzikrullah) itu tidak sama dengan Ijtimaa' lidzikrillahi (bergabung untuk berdzikir kepada Allah). Konotasi pertama adalah bahwa dzikrullah (syariat Allah) itu menjadi ikatan diantara mereka, baik mereka duduk-duduk bersama atau berpisah. Sedangkan yang kedua, yaitu bergabung untuk berdzikir kepada Allah, itu bisa selesai dengan selesainya berdzikir.
Dan Nabi saw juga bersabda:
هُمُ الْمُتَحَابُّوْنَ فِي اللهِ مِنْ قَبَائِلَ شَتًّى وَبِلاَدٍ شَتًّى يَجْتَمِعُوْنَ عَلَى ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى. رواه الطبراني عن أبي الدرداء رضي الله عنه.
"Mereka saling mencintai karena Allah, mereka itu gabungan dari berbagai kabilah dan dari berbagai negeri (transnasional), mereka bergabung atas dasar dzikrullah (syariat Allah) ta’ala". HR Thabarani dari Abi Darda' ra.
Saling mencintai karena Allah itu dibangun diatas aqidah Islam berupa rukun iman yang enam. Karena tanpa aqidah Islam mereka tidak akan bisa saling mencintai karena Allah. Saling mencintai karena Allah itu datang melalui proses yang panjang yang dimulai dari aktivitas tahqiqul manath atau identifikasi terhadap fakta kaum muslimin, mana dari mereka yang termasuk golongan kebenaran (ahlul haqqi) dan mana dari mereka yang termasuk golongan kebatilan (ahlul baathil). Karena tidak akan terjadi saling mencintai karena Allah diantara golongan kebenaran dan golongan kebatilan. Tetapi saling mencintai karena Allah itu mudah terjadi diantara golongan kebenaran saja, dan menjadi adat kebiasaan mereka.
Di sinilah pentingnya Istiqomah dalam berdoa :
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
‘’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kebatilan sebagai kebatilan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad). Agar tidak keliru dalam tahqiqul manath terhadap dua golongan kaum muslimin yang benar dan yang batil.
Meneliti kaum muslimin diantara yang menjadi golongan kebenaran dan golongan kebatilan itu tidak termasuk mencari-cari kesalahan yang dilarang, juga tidak termasuk buruk sangka yang dikarang, selagi niatnya hanya untuk menjaga kemurnian syariat Islam, dan untuk menerapkan amalan hati yang agung yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah ...
Karena hal demikian juga telah dilakukan oleh Ulama Muhadditsiin untuk menjaga kemurnian Sunnah dari pemalsuan orang-orang jahat yang pendusta dan pemalsu, sehingga ada perawi hadits yang ditolak karena suka menyetubuhi istrinya pada lobang anusnya...
Wallahu A'lam...