Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Tema diatas dibangun berdasarkan kepada dua fakta. Fakta hukum dan sistem yang diterapkan oleh imam, dan fakta imam yang diangkat untuk menerapkan hukum dan sistem. Ketika hukum dan sistemnya itu terdiri dari hukum dan sistem yang memancar dari iman atau dari akidah Islam dan imam yang diangkat itu orang muslim yang memenuhi syarat-syarat imam dalam Islam, maka pengangkatan imam ini dinamakan NASHBU IMAM MINAL IMAN. Sedang ketika hukum dan sistem yang diterapkan oleh imam itu terdiri dari hukum dan sistem yang memancar dari kufur atau dari akidah kufur seperti akidah sekularisme atau materialisme, dan Imam yang diangkat itu dari orang kafir, atau orang muslim yang tidak memenuhi syarat Imam dalam Islam, maka pengangkatan imam ini dinamakan NASHBU IMAM MINAL KUFRI.
Dua fakta nashbu imam diatas tidak berbeda dengan dua fakta hubbul wathon, yakni hubbul wathon minal iman dan hubbul wathon minal kufri, sehingga penilaiannya tergantung kepada hukum dan sistem apa yang diterapkan oleh imam dan yang diterapkan kepada wathon.
Imam yang diangkat dan dibaiat untuk menerapkan hukum dan sistem Islam secara kaffah itu dinamakan Khalifah, sedang bentuk negaranya dinamakan khilafah. Nah pengangkatan khalifah dalam sistem khilafah ini dinamakan NASHBU IMAM MINAL IMAN. Karenanya, khalifah dan penerapan syariah Islam secara kaffah adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam secara kaffah, dan tidak ada penerapan syariah Islam secara kaffah tanpa khalifah.
DALIL-DALIL BAHWA KHALIFAH MENYATU DENGAN PENERAPAN SYARIAH ISLAM SECARA KÂFFAH
Alloh swt berfirman :
وإذ قال ربك للمﻵئكة إني جاعل في الأرض خليفة
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ...". (QS Albaqoroh ayat 30).
Alloh swt berfirman :
ياداود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله إن الذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب
"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan perkara di antara manusia dengan haq (adil) dan janganlah kamu mengikuti (hukum produk) hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Alloh akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". (QS Shaad [38]:26).
Pada ayat diatas jelas sekali bahwa khalifah dan penerapan hukum Allah adalah satu kesatuan yang tak terpisah.
Dan Rasulullah SAW pun dalam kapasitasnya sebagai kepala negara Islam nubuwwah di Madinah diperintah agar memutuskan perkara diantara manusia dengan hukum Alloh swt. Alloh berfirman :
فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم عما جآءك من الحق
"Maka putuskanlah perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu". (QS Almaidah ayat 48).
Dan firman-Nya :
وان احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang Alloh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Alloh kepadamu". (QS Almaidah ayat 49). Dan ayat-ayat yang lainnya.
Perintah Allah kepada Rasul-Nya agar berhukum dengan hukum-hukum-Nya, juga adalah perintah kepada umatnya agar mereka berhukum dengan hukum - hukum Allah swt. Dan termasuk umatnya adalah para khalifah sebagai wakil umat di sepanjang masa kekhilafahan, dimana mereka wajib memutuskan perkara diantara umat dengan hukum - hukum Allah swt.
AQWAL ULAMA TENTANG KEWAJIBAN NASHBU IMAM SATU PAKET DENGAN KEWAJIBAN MENERAPKAN SYARIAH ISLAM SECARA KÂFFAH OLEH IMAM
Perhatikan baik-baik aqwal ulama, diataranya adalah Imam Ibnu Hazem rh dalam kitab Almilal wal Ahwâ' wan Nihal, juz 4, hal. 87, beliau menegaskan :
اتفق جميع أهل السنة وجميع المرجئة وجميع الشيعة وجميع الخوارج على وجوب الإمامة وأن الأمة واجب عليها الإنقياد لإمام عادل يقيم فيهم أحكام الله ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم حاشا النجدات من الخوارج فإنهم قالوا لا يلزم الناس فرض الإمامة وإنما عليهم أن يتعاطوا الحق بينهم ...{ الملل والأهواء والنحل، الجزء الرابع، ص: 87}.
“Semua Ahlussunnah, semua Murjiah, semua Syiah dan semua Khawarij telah sepakat atas wajibnya (menegakkan) imamah (khilafah), dan bahwa umat wajib tunduk kepada imam (khalifah) yang adil, yang menegakkan hukum-hukum Allah pada mereka, dan yang memimpin mereka dengan hukum-hukum syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW, selain sekte Najdah dari Khawarij, karena mereka berkata, kewajiban imamah itu tidak mengikat manusia, dan manusia hanya wajib menjalankan hak di antara mereka…”.
Sayyid Husain Afandi rh dalam kitab AlHushûn AlHamîdiyyah, hal. 189-190, beliau menegaskan :
اعلم أنه يجب على المسلمين شرعا نصب إمام يقوم بإقامة الحدود وسد الثغور وتجهيز الجيوش وأخذ الصدقات وقهر المتغلبة والمتلصصة وقطاع الطريق وتزويج الصغار والصغائر الذين لا أولياء لهم وقطع المنازعات الواقعة بين العباد وقبول الشهادات القائمة على الحقوق وإقامة الجمع والأعياد ولا يتم جميع ذلك بين المسلمين إلا بإمام يرجعون إليه فى أمورهم: يدرأ المفاسد ويحفظ المصالح ويمنع مما تتسارع إليه الطباع وتتنازع عليه الأطماع يعول الناس إليه ويصدرون عن رأيه على مقتضى أمره ونهيبه. وقد أجمعت الصحابة رضي الله تعالى عنهم على نصب الإمام بعد وفاته عليه الصلاة والسلام. قال أبو بكر رضي الله تعالى عنه: لا بد لهذا الأمر من يقوم به فانظروا وهاتوا آراءهم، فقالوا من كل جانب: صدقت صدقت، ولم يقل أحد منهم لا حاجة بنا إلى إمام. ويجب طاعة الإمام على جميع الرعايا ظاهرا وباطنا فيما لا يخالف الشرع الشريف لقوله تعالى: {أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولى الأمر منكم} وهم العلماء والأمراء ولقوله عليه الصلاة والسلام: من أطاع أميري فقد أطاعني ومن عصي أميري فقد عصاني. وفى صحيح البخاري عن النبي صلى الله عليه وسلم: من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن يطع الأمير فقد أطاعني وإنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به ...{الحصون الحميدية، ص: 189-190}.
“Ketahuilah bahwasanya secara syara’ wajib atas kaum muslim mengangkat imam yang menegakkan hudûd, menutup perbatasan negara, mempersiapkan tentara, mengambil zakat, mengatasi pemberontak, penyamun dan begal, mengawinkan laki-laki dan perempuan kecil yang tidak memiliki wali, memutuskan persengketaan yang terjadi di antara manusia, menerima kesaksian yang berdiri di atas hak, menegakkan shalat jum’at dan shalat hari raya, dan semuanya itu tidak akan dapat sempurna di antara kaum muslim, kecuali dengan adanya imam (khalifah) yang dibuat rujukan dalam perkara mereka, yaitu imam yang menolak bahaya, menjaga maslahat, mencegah berbagai persengketaan, tempat manusia bersandar kepadanya dan mengikuti perintah dan larangannya. Dan sahabat ra benar-benar telah ijmak atas (kewajiban) mengangkat imam setelah Nabi saw wafat. Abu Bakar ra berkata: “Harus ada orang yang menegakkan perkara (agama) ini, maka berpikirlah dan keluarkan pendapat kalian!” Lalu dari setiap arah sahabat berkata: “Anda benar, anda benar!”, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang mengatakan, “Kami tidak membutuhkan imam!”. Dan semua rakyat wajib taat kepada imam, lahir dan batin, pada perkara yang tidak menyelahi syariat yang mulia, karena Allah berfirman: “Taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasulullah dan kepada ulil amri di antara kalian”, dan mereka adalah para ulama dan umara, dan karena Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang taat kepada amirku, maka ia taat kepadaku, dan barang siapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku”. Dan dalam shahih al-Bukhari, Nabi saw bersabda: “Barang siapa taat kepadaku, maka ia taat kepada Allah, barang siapa maksiat kepadaku, maka ia maksiat kepada Allah, dan barang siapa taat kepada amir, maka ia taat kepadaku. Sesungguhnya imam adalah perisai yang (tentara) berperang dari belakangnya dan dibuat perlindungan…”.
Sayyid Muhammad Amin rh dalam Ta'lîq kitab Bulûghul Marôm, beliau menegaskan :
واتفق الأئمة الأربعة على أن الإمامة فرض وأنه لا بد للمسلمين من إمام يقيم شعائر الدين وينصف المظلومين من الظالمين، وعلى أنه لا يجوز أن يكون للمسلمين فى وقت واحد فى جميع الدنيا إمامان لا متفقان ولا مفترقان...{بلوغ المرام، ص: 265، وانظر الميزان الكبرى فى باب حكم البغاة، ج 2، ص: 153}.
“Empat imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad) telah sepakat bahwa imamah (khilafah) adalah fadhu, dan bahwa kaum muslim wajib memiliki imam yang menegakkan syiar-syiar agama, memberi keadilan kepada orang-orang yang teraniaya dari orang-orang yang menganiaya, dan bahwa kaum muslim dalam satu masa di seluruh dunia tidak boleh memiliki dua orang imam, sama saja yang keduanya sepakat (rukun) atau yang keduanya berselisih…”.
Tiga aqwal ulama diatas, InSyaaAlloh, sudah cukup jelas, sehingga tidak butuh penjelasan lagi, dan sudah cukup mewakili dari semua aqwal ulama mujtahid serta ulama pengikutnya.
Dan perlu diketahui bahwa imam yang dimaksud dalam pernyataan ulama diatas dan pernyataan ulama yang lainnya, adalah imam a'zham dalam imamah 'uzhmaa, yaitu khalifah dalam sistem khilafah.
KEPALA NEGARA DIDALAM DEMOKRASI TIDAK AKAN BISA MENERAPKAN HUKUM ALLAH, APALAGI SECARA KÂFFAH
Padahal yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah orang kafir, zalim atau fasiq, tidak ada yang keempatnya.
Maka fakta nashbu imam dalam sistem kufur demokrasi adalah NASHBU IMAM MINAL KUFRI, karena untuk menjalankan sistem kufur, yaitu demokrasi.
Terkait penguasa yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah, maka Allah swt berfirman :
ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الكافرون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الظالمون ، ومن لم يحكم بما أنزل الله فؤلئك هم الفاسقون
"Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang kafir... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang zalim... Dan barang siapa yang tidak memutuskan perkara sesuai hukum yang telah diturunkan Allah, maka mereka adalah orang - orang fasik". (QS Almaidah ayat 44, 45 dan 47).
TERAKHIR :
Tidak ada khalifah tanpa penerapan syariah Islam secara Kâffah, karena khalifah adalah wakil Allah swt, wakil Nabi saw, pengganti orang sebelumnya, atau wakil ummat, dalam / untuk kewajiban menerapkan syariah Islam secara Kâffah, atau menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna.
NASHBU IMAM MINAL IMAN telah dan terus dipraktekkan dan dilestarikan oleh golongan ASWAJA (AhlusSunnah WAlJAma'ah) dll. Sedang NASHBU IMAM MINAL KUFRI itu telah dan terus dipraktekkan dan dilestarikan oleh kaum kuffar dan golongan ASWAJA (ASli WArisah JAwa / ASli WArisan penJAjah).
Wallohu A’lamu Bishshawâb.
#DemokrasiSistemKufur
#DemokrasiWarisanPenjajah
#KhilafahSistemIslam
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahAjaranAswaja
#KhilafahAjaranAhlussunnah
#ReturmTheKhilafah