Fenomena munculnya Ulama Aswaja Pejuang khilafah dalam forum Multaqo Ulama Ahlussunnah Waljamaah, sejak HTI dicabut BHP-nya oleh rezim zalim anti Islam dan anti Ulama, adalah fakta yang sangat mengejutkan banyak pihak dari kaki tangan rezim agen penjajah, baik dari golongan kiri yang komumis maupun dari golongan tengah yang demokrat, sekuler dan hipokrit. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang nyinyir, meragukan dan mempertanyakan status ke-ulama-an ulama pejuang khilafah, bahkan menuduhnya sebagai ulama palsu yang menipu.
Padahal kalau kita mau jujur, pada setiap organisasi Islam yang berbasis ulama hanya sebagian kecil saja sosok yang benar-benar memenuhi kriteria ulama sebagai mufassir, muhaddits dan fuqoha, seperti dalam kitab I'aanatuth Thaalibiin syarah Fathul Mu'iin dalam pembahasan washiyat kepada ulama. Sedang mayoritasnya hanyalah pengikut dan pendukung fanatik.
Kalau kita mau jujur pula, munculnya ulama Aswaja Pejuang khilafah itu hanyalah reaksi positif dari aksi negatif barisan ulama Aswaja Asy'ariyah dan Wahabbiyyah yang sama menolak dan mengingkari kewajiban ber-Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah yang diantara dalil kewajibannya adalah Ijma' sahabat yang ma'lum minaddiin bidhdharuriy, dimana dalam kitab ushul diantaranya kitab Jam'ul Jawaami', bahwa siapa saja yang mengingkari perkara agama yang mujma' 'alaih, maka dia kafir / murtad.
Hakekatnya, ulama dalam forum Multaqo Ulama Ahlussunnah Waljamaah Pejuang khilafah itu telah didatangkan oleh Allah SWT untuk menggantikan posisi ulama Aswaja yang sama menolak dan mengingkari kewajiban ber-Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah itu. Perhatikan Firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka Alloh akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui ". (QS Almaidah ayat 54).
Imam Ibnu Katsir rh berkata:
"Allah ta'ala mengkhabarkan dari sifat kuasa-Nya yang besar, bahwa siapa saja yang berpaling dari menolong agama-nya dan menegakkan syariat-Nya, maka Allah akan menggantikannya dengan orang yang lebih baik, lebih kuat pertahanannya dan lebih lurus jalannya.
Sebagaimana Allah telah berfirman:
وَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ
"Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar), Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu". QS Muhammad ayat 38.
Di sini Allah berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya", murtad dengan arti kembali dari yang haq kepada yang batil (meninggalkan / menolak yang haq dan mengambil yang batil).
Meskipun menurut asbabun nuzulnya, ayat itu turun terkait para penguasa Quraisy, orang-orang yang murtad pada masa khalifah Abu Bakar, penduduk Qodisiyyah, kaum Saba, penduduk Yaman, Kindah, Sukun, atau penduduk Tajib. Sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir rh. Akan tetapi pelajarannya terletak pada lafadznya, bukan pada sebab turunnya;
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
"Pelajaran itu terikat dengan keumuman katanya, bukan dengan kekhususan sebabnya".
Sedang keumumannya mengatakan, "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya", yakni kembali dari yang haq kepada yang batil. Lafadznya memakai kata "man" dengan terjemah barang siapa atau siapa saja, diantara kamu, dari kaum muslimin. Sama saja mereka orang awam atau para ulama, yang murtad, dengan pengertian kembali dari perkara haq kepada perkara batil.
Yang jelas bermunculannya Ulama Aswaja Pejuang khilafah dalam wadah Multaqo Ulama Ahlussunnah Waljamaah di seluruh wilayah NKRI dengan seruan dakwah kepada penegakkan khilafahnya, adalah reaksi dari aksi ulama Aswaja Asy'ariyyah dan Wahhabiyyah yang ramai-ramai menolak, mengingkari dan menghalangi laju dakwah ber-Islam kaffah melalui penegakkan khilafah, dan ramai-ramai mendukung dengan sepenuh hati diterapkannya sistem kufur demokrasi dan sistem bid'ah kerajaan dengan rezim dan raja zalimnya. Dan menolak ajaran Islam yang agung, berupa sistem pemerintahan Islam warisan Rasulullah, khilafah, serta mendukung ajaran dan warisan kafir penjajah yang rusak, sistem pemerintahan demokrasi dan sistem kerajaan yang bid'ah secara terang-terangan, blak-blakan, dan tanpa merasa malu.
Murtad kembali dari yang haq kepada yang batil, artinya menolak yang haq dan mendukung yang batil. Khilafah itu ajaran haq datang dari Allah Alhaqq. Sedang demokrasi itu ajaran yang batil datang dari penjajah kafir dari para pencetusnya yang kafir dan batil. Juga kerajaan itu sistem pemerintahan yang bid'ah yang kontradiksi dengan sistem pemerintahan Islam Khilafah.
Apalagi kalau kita perhatikan, Ulama Aswaja Pejuang khilafah itu juga telah memenuhi empat kriteria Alqur'an sebagaimana pada Firman Allah diatas ;
1- Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Memang Cinta itu tidak terlihat, tapi indikasinya terdapat pada tiga kriteria dibawahnya.
2- Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir.
Berbeda dengan ulama yang menolak dan mengingkari kewajiban ber-Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah, mereka lemah lembut terhadap orang-orang kafir, dan keras terhadap orang-orang beriman yang berjuang untuk menegakkan syariah Islam kaffah melalui penegakkan khilafah.
3- Berjihad di jalan Allah.
Karena menyampaikan haq di hadapan rezim yang zalim itu termasuk jihad.
Berbeda dengan ulama yang menolak dan mengingkari kewajiban ber-Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah, mereka berjuang di jalan setan / thaghut. Kerena sistem demokrasi itu sistem kufur punya orang kafir, dan sah secara syar'iy bahwa orang kafir adalah setan / thaghut dari jenis manusia.
4- Tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela.
Orang-orang yang suka mencala itu bukan dari orang-orang beriman, tapi dari golongan ulama yang menolak dan mengingkari kewajiban ber-Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah, yang liberal dan sekular, serta para pendukungnya.
Kalaupun benar diantara ulama Aswaja dalam forum Multaqo Ulama Ahlussunnah Waljamaah itu ada yang dianggap palsu dan menipu hanya karena jubah, sorban dan selendang yang gemerlap dan berlebihan sehingga mengalahkan pakaian ulama yang benar-benar ulama, maka terhadap kondisi ini, saya berharap kepada mereka harap koreksi diri dan punya malu, lihat pakaian guru-guru kita yang benar-benar ulama.
Akan tetapi masalah seperti ini kembali kepada pribadi masing-masing yang mungkin belum mengerti dan tidak ada tujuan memalsukan dan menipu, tidak perlu dibesar-besarkan, tidak bisa dibuat dalih untuk menolak dan menghalangi laju dakwah penerapan syariah Islam kaffah melalui penegakkan khilafah, dan tidak bisa dibuat alasan untuk mendukung sepenuh hati kepada penerapan sistem kufur demokrasi dan sistem bid'ah kerajaan dengan rezim dan raja zalim anti khilafahnya.
Wallahu A'lam bish showwab
Semoga bermanfaat aamiin
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahAjaranAhlussunnah
#IslamRahmatanLilAlamin