Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Para pemulung sampah pemikiran itu terus berjalan mencari tempat-tempat dimana sampah-sampah itu dibuang lalu mereka mengorek-orek mencari sesuatu barang kali ada yang bisa dijadikan alat untuk menyerang seseorang atau kelompok pemilik pemikiran legal formal yang dianggap sebagai musuhnya, bahkan untuk membunuhnya sekalipun, karena untuk memiliki alat yang legal formal mereka sudah tidak berdaya kehabisan modal, dan karena dipakai untuk kejahatan sulit juga menemukan penjualnya kecuali barang palsu. Diantara mereka adalah seseorang bergelar Singa Aswaja Alkadzdzâb Idrus Ramli, ia telah dan selalu memakai alat yang dipungutnya dari tempat pembuangan sampah pemikiran, ia berkata :
"... latar belakang an-Nabhani yang terlibat dalam partai komunis marxis menyisakan satu pemikiran yang dia tuangkan kedalam partai HT yang didirikannya. Dalam beberapa bagian karyanya as-Syakhshiyyah al-Islamiyyah (seperti hal. 43, 71 dan 91), secara vulgar an-Nabhani mengadopsi ideologi Mu'tazilah yang tidak mempercayai qadha' dan qadar Allah swt. Rukun iman yang seharusnya ada enem, direduksinya (dikurangi) menjadi lima. Apabila ideologi komunis tidak mempercayai adanya Tuhan apalagi qadha dan qadar Tuhan, maka HTI mempercayai Tuhan tetapi tidak mempercayai qadha dan qadar yang menjadi salah satu sifat kesempurnaan Tuhan". (Majalah IJTIHAD, Onim Madrasah Miftahul Ulum Aliyah Pondok Pesantren Sidogiri, edisi 28 / Th XV / Robiul Awal-Rajab / 1429 H, hal. 7).
BANTAHAN :
● Syaikh Taqiyyuddin Mantan Anggota Partai Komunis?
Terkait dengan Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani yang dituduh sebagai mantan anggota partai komunis marxis, maka saya tidak menemukan hal ini dari kitab-kitab yang menjelaskan biografi Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani seperti kitab Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wamanhajuhu Fi Iqamati Daulatil Khilafatil Islamiyyah, karya Muhammad Muhsin Radhi yang cukup lengkap dan kitab Tarjamatusy Syaikhi Muhammad Taqiyyuddin an-Nabhani, karya al-Alamah asy-Syaikh 'Izzuddin Hisyam Ibn Abdul Karim Ibn Shalih al-Badroni al-Husaini al-Mushili.
Dan untuk membuktikan bahwa tuduhan itu dusta, justru beliau Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani telah menulis kitab berjudul Naqdhul Isytirokiyyatil Markisiyyah (Bantahan Terhadap Sosialisme Marxisme). Kitab ini telah di-Indonesiakan oleh syabab Hizbut Tahrir Drs. Hafid Abdurrahman MA. Setelah pembaca membaca kitab tersebut, maka pembaca akan mengetahui bahwa tuduhan diatas adalah dusta dan bahwa Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani sangat anti komunis, oleh karena itu beliau membongkar kesalahan ideologi komunis beserta sistem-sistemnya.
Ada sebuah cerita dari syabab Timur Tengah, ketika ia sedang duduk-duduk bersama Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, maka datanglah teman syabab itu. Lalu syabab itu bertanya kepada temannya; "Kapankah anda mau berjuang bersama kami?". Lalu temannya itu menjawab; "Saya baru datang dari suatu tempat dan disana saya minum khamer bersama Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, ini mulut saya masih bau khamer!". Lalu syabab itu bertanya kepada temannya; "Apakah anda bersama orang ini?". Temannya menjawab; "Tidak!". Lalu syabab itu berkata; "Ini adalah Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani". Lalu temannya itu tertunduk malu.
Jadi kalau memang tuduhan itu benar, bisa saja yang mantan anggota partai komunis itu Taqiyyuddin yang lain yang namanya sama, atau orang yang ngaku-ngaku sebagai Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, atau tuduhan itu hanyalah dusta dan fitnah, karena berdusta dan memitnah itu sangat mudah bagi pendusta dan pemitnah seperti halnya Idrus Ramli, karena berdusta dan memitnah itu tidak butuh ilmu, tinggal apa yang ada di dalam otaknya yang terselimuti hawa nafsu dusta dan fitnah tinggal diucapkan atau dituliskan. Kalaupun ada rujukannya, maka kepanjangan dari rujukan yang dusta dan fitnah adalah ya dusta dan fitnah.
● Rukun Iman Ada Lima ?
Ini adalah murni dusta dan fitnah dari Idrus Ramli. Padahal dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah juz I hal. 43 sebagaimana dituduhkan di atas redaksinya sebagai berikut :
هذه هي الأمور التي يجب الإيمان بها وهي خمسة أمور: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن أيضا بالقضاء والقدر ولا يطلق الإيمان بالإسلام على الشخص ولا يعتبر مسلما إلا إذا آمن بهذه الخمسة جميعها وآمن بالقضاء والقدر...
"Ini adalah sejumlah perkara yang wajib diimani, yaitu lima perkara: Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan juga beriman kepada Qadha dan Qadar. Dan tidak dikatakan Iman kepada Islam atas seseorang dan tidak pula ia dianggap sebagai muslim, kecuali ketika ia telah beriman kepada lima perkara ini, semuanya, dan beriman kepada Qadha dan Qadar…".
هذه هي الأمور التي يجب الإيمان بها وهي خمسة أمور: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن أيضا بالقضاء والقدر ولا يطلق الإيمان بالإسلام على الشخص ولا يعتبر مسلما إلا إذا آمن بهذه الخمسة جميعها وآمن بالقضاء والقدر...
"Ini adalah sejumlah perkara yang wajib diimani, yaitu lima perkara: Iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan juga beriman kepada Qadha dan Qadar. Dan tidak dikatakan Iman kepada Islam atas seseorang dan tidak pula ia dianggap sebagai muslim, kecuali ketika ia telah beriman kepada lima perkara ini, semuanya, dan beriman kepada Qadha dan Qadar…".
Redaksi itu sebenarnya sama dengan redaksi hadis berikut :
"... قال فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره... رواه مسلم عن عمر رضي الله عنه
"…Jibril berkata: "Terangkan kepadaku tentang Iman!", Nabi saw bersabda: "Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar baik dan buruknya…".HR Muslim dari 'Umar ra.
"... قال فأخبرني عن الإيمان قال أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره... رواه مسلم عن عمر رضي الله عنه
"…Jibril berkata: "Terangkan kepadaku tentang Iman!", Nabi saw bersabda: "Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya dan Hari Akhir, dan beriman kepada Qadar baik dan buruknya…".HR Muslim dari 'Umar ra.
Pada hadis ini Nabi saw pertama kali menuturkan lima perkara yang wajib diimani lalu menambah satu lagi dengan mengathafkan kata tu'minu kepada kata tu'minu yang pertama dengan memakai hurf 'athaf waawu. Ini sama dengan redaksi kitab Shakhshiyyah diatas. Jadi lima ditambah satu sama dengan enam. Coba dimana letak kesalahannya?
Juga di halaman yang lain Syaikh Taqiyyuddin menegaskan :
العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله و ملآئكته و كتبه و رسله واليوم الآخر و بالقضاء والقدر خيرهما شرهما من الله تعالى {الشخصية الإسلامية : ج1، ص: 29}.
"Akidah Islam ialah beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt".
العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله و ملآئكته و كتبه و رسله واليوم الآخر و بالقضاء والقدر خيرهما شرهما من الله تعالى {الشخصية الإسلامية : ج1، ص: 29}.
"Akidah Islam ialah beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt".
Dan beliau menegaskan :
فالإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى هو العقيدة الإسلامية. والإيمان بالجنة والنار والملائكة والشياطين وما شاكل ذلك هو من العقيدة الإسلامية. والأفكار وما يتعلق بها والأخبار وما يتعلق بها من المغيبات التي لا يقع عليها الحس يعتبر من العقيدة {المرجع السابق، ص: 195}.
"Jadi beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt adalah akidah islamiyyah. Beriman kepada surga, neraka, syetan dlsb. Adalah termasuk akidah Islam. Dan pemikiran-pemikiran dan yang terkait dengannya, dan berita-berita dan yang terkait dengannya dari sejumlah perkara ghaib yang tidak tersentuh oleh indra semuanya tergolong akidah Islam".
فالإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى هو العقيدة الإسلامية. والإيمان بالجنة والنار والملائكة والشياطين وما شاكل ذلك هو من العقيدة الإسلامية. والأفكار وما يتعلق بها والأخبار وما يتعلق بها من المغيبات التي لا يقع عليها الحس يعتبر من العقيدة {المرجع السابق، ص: 195}.
"Jadi beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kutub-Nya, Rusul-Nya, hari akhir dan qadha dan qadar di mana baik dan buruknya dari Allah swt adalah akidah islamiyyah. Beriman kepada surga, neraka, syetan dlsb. Adalah termasuk akidah Islam. Dan pemikiran-pemikiran dan yang terkait dengannya, dan berita-berita dan yang terkait dengannya dari sejumlah perkara ghaib yang tidak tersentuh oleh indra semuanya tergolong akidah Islam".
Jadi dalam pandangan Hizbut Tahrir dan Syaikh Taqiyyuddin sudah sangat jelas bahwa rukun iman itu ada enam, tidak dikurangi menjadi lima. Oleh karena itu juga sudah sangat jelas bahwa Idrus Ramli adalah pendusta dan tukang fitnah. Kalaupun ada perbedaan pemikiran terkait Qadha dan Qadar itu hal biasa, karena ulama lainpun berbeda dalam hal tersebut. Yang penting intinya sama yaitu rukun iman ada enam. Sebagaimana kita punya tujuan bersama kumpul di satu titik, Gelora Bung Karno misalnya. Jalan dan kendaraan boleh berbeda, yang penting sama dalam berkumpul di satu titiknya. Wallohu A’lamu Bishshawâb. [].
