HAKEKAT FIRQAH MU'TAZILAH (3)

Bismilaahir Rohmaanir Rohiim

Saya telah membaca banyak tulisan dari tokoh-tokoh Salafi/ Wahhabi seperti Albanî, Abdulloh Faqîh, dll., serta para pengikutnya. Juga tulisan tokoh-tokoh Ahlussunnah Asy'ariyyah, seperti Abdullah al-Harori al-Ahbasy dan para pengikut butanya seperti Kiai Idrus Ramli Alkadzdzáb. Mereka sama sekali tidak memahami (atau pura-pura tidak paham untuk tujuan jahat kepada Syaikh Taqiyyuddin dan HT yang didirikannya) terhadap ungkapan pernyataan Syaikh Taqiyyuddin seprti dalam kitab Annizhâm dan Asysyakhshiyyah-nya.

Ketika Syaikh Taqiyyuddin menjelaskan perbuatan manusia didalam lingkaran yang dikuasai oleh manusia atau al-af'âl al-ikhtiyâriyyah, setelah itu beliau berkata :
ولا شأن للقضاء والقدر فيه. بل المسألة هي قيام العبد بفعله مختارا.
"Tidak ada hubungan bagi Qodho dan Qodar padanya. Tetapi problemnya adalah seorang hamba mengerjakan perbuatannya secara ikhtiar". (Nizhamul Islam, hal. 20-21, cet. 6, 2001).

Dan pernyataannya:
وهذه الأفعال لا دخل لها بالقضاء ولا دخل للقضاء بها، لأن الإنسان هو الذي قام بها بإرادته واختياره، وعلى ذلك فإن الأفعال الإختيارية لا تدخل تحت القضاء.
"Perbuatan-perbuatan tersebut tidak punya hubungan dengan Qodho, dan Qodho tidak punya hubungan dengannya. Karena manusia-lah yang mengerjakannya dengan kehendak dan pilihannya. Atas dasar itu, perbuatan-perbuatan ikhtiar itu tidak termasuk dibawah Qodho". (Asysyakhshiyyah, 1/94-95, cet. 6, Darul Ummah, Berut, 2003).

Pernyataan diatas dikutip mentah-mentah oleh mereka, lalu digoreng menurut seleranya tanpa memahami problem sebenarnya, lalu matangnya, meskipun keliru dan salah bumbu, dinisbatkan dan diklaimkan terhadap Syaikh Taqiyuddin dan HT yang didirikannya. Mereka berkata, "Ini adalah pendapat Syaikh Taqiyuddin/ HT, seperti pendapat Mu'tazilah... ".

Padahal pernyataan "tidak ada hubungan bagi Qodho dan Qodar" atau "tidak punya hubungan dengan Qodho, dan Qodho tidak punya hubungan dengannya" diatas, maksudnya tidak ada hubungan dengan pembahasan Qodho dan Qadar yang datang dari peradaban Yunani, bukan Qodho dan Qodar dari peradaban Islam, dari Alqur'an dan Assunnah. Karena menurut Syaikh Taqiyuddin, semua perbuatan manusia, baik yang ikhtiar maupun yang terpaksa, semuanya pasti berhubungan dengan Qodho dan Qodar sebagai sifat Allah SWT.

●Sekarang bandingkan dengan pernyataan Syaikh Taqiyuddin didalam Asysyakhshiyyah-nya:

Imam Muslim mengeluarkan hadits dari Thowûs, ia berkata:
أدركت ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولون: "كل شيء بقدر". فإن معناه بتقدير من الله أي بعلم منه ... وهذا كله من باب صفات الله، وأنه هو الله يعلم الأشياء قبل وقوعها، وأنها تجري على قدر منه، أي على علم. ولا دخل لذلك في بحث القضاء والقدر.
"Aku menjumpai banyak sahabat Rasululloh SAW sama berkata: "Segala sesuatu itu (ditetapkan) dengan Qodar". (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Maka maknanya, dengan takdir dari Allah, yakni dengan ilmu dari-Nya ... Semua ini termasuk bab sifat-sifat Allah. Bahwasanya, Dia-lah Allah yang mengetahui segala sesuatu sebelum wujudnya. Dan bahwa semuanya berjalan atas Qodar dari-Nya, yakni atas ilmu. Dan tidak punya hubungan baginya dalam pembahasan Qodho dan Qodar (dari Yunani)".
(Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 83, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Dari pernyataan diatas dipahami, bahwa Qodar yang dimaksud didalam hadits itu bermakna ilmu Allah dan termasuk sifat Allah. Maka segala sesuatu/ segala perkara, termasuk perbuatan ikhtiar manusia, semuanya dengan Qodar-Nya. Inilah pendapat Syaikh Taqiyuddin / HT. Dan pembahasan Qodar sebagai sifat Allah ini terlepas atau tidak terkait dengan pembahasan Qodho dan Qodar dari Yunani.

●Untuk menguatkan kesimpulan diatas, saya kemukakan pernyataan Syaikh Taqiyuddin yang lain terkait sejumlah ayat Alqur'an, hadits nabawi, hadits marfû' dan atsar tabi’in, terkait Qodar sebagai ilmu/ sifat Allah :

1- Ayat Alqur'an :
إنا كل شيء خلقناه بقدر. أي بتقدير.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan qodar". (QS Alqomar, 54/49). (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Yakni dengan takdir/ ketentuan Allah".

2- Hadits Nabawi :
"احتج آدم موسى، فقال موسى: أنت آدم الذي أخرجت ذريتك من الجنة؟ قال آدم: أنت موسى الذي اصطفاك الله برسالاته وكلامه؟ ثم تلومني على أمر قد قدر علي قبل أن أخلق؟ فحج آدم موسى". أي كتب على بمعنى علمه الله، أي على تقدير حكم الله به.
"Adam dan Musa berhujah. Musa berkata: "Kamu Adam yang telah mengeluarkan anak cucumu dari surga?". Adam berkata: "Kamu Musa yang telah dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya? Kemudian kamu mencelaku atas perkara yang telah di-qodar-kan atasku sebelum aku diciptakan?". Lalu Adam mengalahkan Musa". (HR Bukhari dari Abu Hurairah ra). (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Yakni telah ditulis atasku, dengan arti telah diketahui oleh Allah, yakni atas takdir/ ketentuan hukum Allah dengannya".

3- Hadits Nabawi. Rasulullah SAW bersabda:
كل شيء بقدر حتى العجز والكيس أو الكيس والعجز
"Segala sesuatu itu (ditetapkan) dengan Qodar, sampai lemah dan cerdas, atau cerdas dan lemah". (HR Muslim dari Abdullah bin Umar ra). (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Yakni, bhw segala sesuatu itu dengan takdir dan ilmu Allah, yakni Allah telah menulisnya di Lauh Mahfudz.

4- Hadits Marfuu'. Ibnu Mas'ud ra berkata:
"إذا ذكر القدر فأمسكوا". أي إذا ذكر علم الله وتقديره للأشياء فلا تخوضوا في ذلك، لأن كون تقدير الأشياء من الله يعني أنه كتبها في اللوح المحفوظ وهذا يعني أنه علمها، وكون الله عالما بها هو من صفات الله التي يجب الإيمان بها، فيكون معنى الحديث أنه إذا ذكر أن الله هو الذي قدر الأشياء وعلمها أي كتبها في اللوح المحفوظ فلا تخوضوا في مناقشة ذلك بل أمسكوا وسلموا.
"Ketika disebut Qodar, maka menahan dirilah". (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Yakni ketika disebut ilmu dan takdir Allah kepada segala sesuatu, maka janganlah kamu tenggelam membicarakannya. Karena adanya takdir segala sesuatu dari Allah, itu berarti Allah menulisnya di Lauh Mahfudz, ini berarti bhw Allah mengetahuinya. Sedang adanya Allah mengetahuinya itu termasuk sifat Allah dimana wajib beriman dengannya. Maka makna hadits itu ketika disebut bhw Allah adalah Tuhan yang telah menakdirkan segala sesuatu dan mengetahuinya, yakni telah menulisnya di Lauh Mahfudz. Maka kamu jangan tenggelam mendiskusikannya, tapi menahan dirilah dan serahkanlah (kepada Allah)".

5- Atsar Tabi'n. Thowûs rh berkata:
أدركت ناسا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يقولون: "كل شيء بقدر". فإن معناه بتقدير من الله أي بعلم منه.
"Aku menjumpai banyak sahabat Rasululloh SAW sama berkata: "Segala sesuatu itu (ditetapkan) dengan Qodar". (Syaikh Taqiyuddin berkata:) Maka maknanya, dengan takdir dari Allah, yakni dengan ilmu dari-Nya.
(Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 80-83, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Pada lima poin diatas, Syaikh Taqiyuddin mengokohkan, bahwa semua perkara/ segala sesuatu, tentu termasuk amal perbuatan manusia, semuanya itu terjadi dengan Qodar Allah, beliau tidak menolak atau mengingkarinya, sebagaimana kelompok Qodariyyah mengingkarinya.

●Nama lain bagi Qodho dan Qodar yang datang dari peradaban Yunani, yang menunjukkan bahwa Qodho dan Qodar dari Yunani itu bukan Qodho dan Qodar sebagai sifat Allah.

Qodho dan Qadar yang datang dari Yunani itu memiliki nama lain, yaitu:
وهذا هو موضوع البحث الذي أطلق عليه اسم القضاء والقدر، أو الجبر والإختيار، أو حرية الإرادة.
"Inilah topik pembahasan Yang diucapkan atasnya term Qodho dan Qodar, atau Aljabru was Al-Ikhtiyar, atau Hurriyyatul Irodah". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 67, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Jadi ketika dikatakan, "Perbuatan ini tidak ada hubungannya dengan pembahasan Qodho dan Qidar", maka bisa dikatakan, "tidak ada hubungannya dengan aljabru wal ikhtiyar, dan tidak ada hubungannya dengan hurriyyatul irodah". Dan sangat jelas nama-nama itu bukan Qodar sebagai sifat Allah.

●Substansi Pembahasan Qodho Dan Qodar Yang Datang Dari Yunani.

Kalau substansi pembahasan Qodho dan Qadar yang datang dari Alqur'an dan Assunnah adalah sifat-sifat Allah, seperti ilmu dan irodah Allah, maka substansi pembahasan Qodho dan Qodar yang datang dari Yunani adalah sebagai berikut:
واستقر المسلمون على هذين الرأيين وحولوا عن رأي القرآن ورأي الحديث وما كان يفهمه الصحابة منهما إلى المناقشة في اسم جديد هو القضاء والقدر أو الجبر والإختيار أو حرية الإرادة و في مسمى جديد هو : هل الأفعال بخلق العبد وإرادته أم بخلق الله وإرادته؟ أو هل ما يحدثه الإنسان في الأشياء من خاصيات هي من فعل العبد وإرادته أم هي من الله تعالى؟
"Kaum muslimin telah tetap diatas dua pendapat ini (hurriyyatul Ikhtyar bagi Muktazilah dan al-ijbar bagi Jabariyah dan Ahlussunnah Mutakallimiin) dan mereka dipalingkan dari pendapat Alqur'an dan pendapat Alhadits, dan dari pemahaman sahabat dari Alqur'an dan Alhadits, kepada perdebatan seputar term baru, yaitu Qodho dan Qodar, Aljabru wal-Ikhtiyat (paksaan dan pilihan), atau Hurriyyatul Irodah (kebebasan berkehandak). Dan pada substansi baru, yaitu: Apakah amal perbuatan itu dengan ciptaan Dan irodah hamba, ataukah dengan ciptaan dan irodah Allah? Atau apakah khasiat yang diadakan oleh manusia pada segala sesuatu itu dari perbuatan dan irodah hamba, atau ia dari Allah?". (Asysyakhshiyyah, juz 1, hal. 78, cet.6, Dârul Ummah, Berut, 2003).

Atau dengan substansi :
هل الإنسان ملزم على القيام بالفعل خيرا أم شرا، أو مخير فيه؟ وهل له إختيار القيام بالفعل أو تركه أو ليس له الإختيار؟
"Apakah manusia itu dipaksa mengerjakan perbuatan, baik maupun buruk, atau diberi pilihan padanya? Dan apakah manusia punya pilihan mengerjakan perbuatan atau meninggalkannya, atau manusia tidak punya pilihan?". (Nizhomul Islam, hal. 16, cet. 6, 2001).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan tidak ada yang salah paham lagi terhadap permasalahan Qodho dan Qodar yang ada di dalam kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin Annabhani ...

(bersambung ...)
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.