Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
Akhlak adalah hukum (syara') Islam. Tidak boleh ada ghuluw (berlebihan) di dalam akhlak. Sebagaimana tidak boleh ada ghuluw di dalam Islam. Ghuluw dalam akhlak bisa menggiring kepada ghuluw dalam ta'ashub, bahkan bisa menggiring kepada ghurur ghorur (tipuan syetan penipu). Ghurur ghorur dengan membalik dan mengacak peringkat hukum syara'. Yang peringkat satu dijadikan peringkat tujuh dan sebaliknya. Yang sunnah diutamakan, sedang yang wajib dan fardhu dinomor tujuhkan. Sehingga ada seorang ustadz yang selama mengajar tidak mau duduk hanya karena kursinya pernah diduduki gurunya. Sikap ghuluw seperti ini bisa menggiring kepada penolakan terhadap dakwah kepada Islam kaffah, bahkan penolakan terhadap Islam atau kewajiban dan fardhu Islam, seperti penolakan terhadap kewajiban penegakkan khilafah yang sudah final di antara para sahabat dan para mujtahid dan imam madzhab ternama, hanya karena gurunya masih menolaknya. Hanya karena gurunya yang pernah duduk di kursi itu masih menolaknya. Itu baru karena gurunya. Apalagi kalau karena kiai ulama masyayikhnya ... ... ...
Dan untuk mengetahui dimana posisi akhlak di dalam Islam, maka saya perlu membuat perumpamaan fisik agama Islam.
Sayyid Muhammad Haqiy Annazily berkata : "Agama Islam itu diumpamakan seperti sebuah negeri (baldah), yang di dalamnya tersimpan yaqut dan permata, dimana negeri itu memiliki tujuh benteng; benteng pertama (hitungan dari dalam) terbuat dari emas, benteng kedua dari perak, benteng ketiga dari kuningan, keempat dari besi, kelima dari batu, keenam dari bata merah, dan ketujuh dari bata mentah. Selama penduduk negeri itu mau merawat dan menjaga benteng yang terbuat dari bata mentah, maka tidak ada musuh yang tamak kepada mereka. Tetapi ketika mereka tidak merawat dan menjaganya sehingga benteng pertama (dari luar) itu runtuh maka musuh tamak kepada benteng kedua, ketika benteng kedua roboh maka musuh tamak kepada benteng ketiga, lalu keempat, kelima, keenam dan terakhir ketujuh. Dan setelah semua benteng itu roboh, maka musuh mengambil yaqut dan permata itu.
Begitu pula Iman dan Islam yang laksana yaqut dan mutiara tersimpan di dalam tujuh benteng; benteng pertama adalah yakin, benteng kedua ikhlash, benteng ketiga melaksanakan yang fardlu-fardlu, keempat meninggalkan yang haram-haram, kelima melaksanakan yang wajib-wajib, keenam melaksanakan yang sunnah-sunnah, dan ketujuh menjaga akhlak (adab).
Selama seorang hamba masih merawat dan menjaga akhlak maka syetan tidak tamak terhadapnya, ketika ia telah meninggalkan akhlak maka syetan tamak terhadap yang sunnah-sunnah, ketika ia meninggalkan yang sunnah-sunnah maka syetan tamak terhadap yang wajib-wajib, lalu menerjang yang haram-haram, lalu meninggalkan yang fardlu-fardlu, lalu terhadap ikhlash, lalu terhadap yakin, sehingga syetan tamak terhadap seorang hamba mati dalam kondisi tidak memiliki Iman. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan syetan dan su-ul khatimah.
Oleh sebab itu, para ulama besar dan auliya pilihan berpendapat, bahwa siapa saja yang telah meninggalkan akhlak maka ia terjatuh ke dalam meninggalkan yang sunnah-sunnah, siapa saja yang telah meninggalkan yang sunnah-sunnah maka ia terjatuh kedalam meninggalkan yang wajib-wajib, siapa saja yang telah meninggalkan yang wajib-wajib maka ia terjatuh ke dalam menerjang yang haram-haram, siapa saja yang telah menerjang yang haram-haram maka ia terjatuh ke dalam meninggalkan yang fardlu-fardlu, siapa saja yang telah meninggalkan yang fardlu-fardlu maka ia terjatuh ke dalam meremehkan syariah, dan siapa saja yang telah meremehkan syariah maka ia terjatuh ke dalam jurang kufur. Na’udzu billah". (lihat: Sayyid Muhammad Haqy Annazily, Khazinatul Asror).
Dari perumpamaan Islam di atas, sangat jelas, bahwa tujuan merawat dan menjaga akhlak adalah untuk menjaga pelaksanaan perkara sunnah, pelaksanaan perkara sunnah untuk menjaga pelaksanaan perkara wajib, pelaksanaan perkara wajib untuk menjaga aktifitas meninggalkan perkara haram, meninggalkan perkara haram untuk menjaga pelaksanaan perkara fardlu, pelaksanaan perkara fardlu untuk menjaga ikhlas, ikhlash untuk menjaga yakin, dan yakin untuk menjaga Iman dan Islam.
Dengan demikian akhlak di dalam Islam itu tidak terlepas dari Islam, bahkan akhlak adalah bagian dari Islam sendiri. Contohnya seperti akhlak memakai sandal mendahulukan kaki kanan dan melepasnya mendahulukan kaki kiri, dan hukumnya adalah sunnah. Akhlak makan dengan tangan kanan dan cewok dengan tangan kiri, dan hukumnya sunnah. Dan menyalahi perkara sunnah hukumnya makruh. Sedang sunnah dan makruh adalah bagian dari hukum syara’ Islam. Jadi akhlak Islam adalah syara’ Islam.
Alloh ta'alaa menjelaskan akhlak Rasulullah SAW :
وإنك لعلى خلق عظيم
wa innaka la 'alaa khuluqin 'azhiim
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung". (QS Al Qolam [68] : 4).
Imam Thobari berkata : "Alloh ta'alaa berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad SAW : "Sesungguhnya engkau hai Muhammad benar-benar berada di atas adab yang agung, yaitu adab Alqur'an dimana Alloh telah mengajarkan adab kepadanya dengannya, yaitu Islam dan syariatnya".
كان خلقه (صلى الله عليه وسلم) القرآن .
kaana khuluquhu alqur'ana
"Akhlaknya Rasulullah SAW adalah Alqur'an". (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud, Aljaami' Ashshoghir lissuyuthiy).
Inilah akhlak di dalam Islam. Akhlak tertinggi di dalam Islam adalah mengimani dan mempraktekkan hukum-hukum (syariah) Allah ta'alaa secara kaffah dalam kehidupan, masyarakat dan negara. Maka tidak ada akhlak bagi orang yang menolak penerapan hukum-hukum (syariah) Allah. Karena Dia-lah yang telah menciptakan dan memberinya rizki yang harus diimani dan diamalkan hukum-hukum-Nya. Sedang dia yang hanya menikmati ciptaan dan rizki-Nya seraya menolak hukum-hukum-Nya, maka dia adalah hamba yang tidak tahu diri dan tidak berakhlak.
INILAH AKHLAK ORANG BERIMAN
Alloh ta'alaa berfirman :
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51)
"Sesungguhnya jawaban orang - orang mu'min, bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan : "Kami mendengar dan kami patuh". Dan mereka itulah orang - orang yang beruntung". (QS Annur [24] : 51).
Imam Qurthubi berkata : "... ... bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rasul-Nya, yakni dipanggil kepada kitabulloh dan hukum Rasul-Nya ... ...".
Dan Alloh berfirman :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا (36)
"Dan tidaklah patut bagi laki - laki yang beriman dan tidak (pula) bagi perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata". (QS Al Ahzaab [33] : 36).
Jadi akhlak tertinggi adalah:
1. Ketika "SAMI'NAA WA ATHO'NAA" (kami mendengar dan kami patuh) mereka diucapkan ketika diajak kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.
2. Ketika pilihan mereka mengikuti pilihan Alloh dan Rasul-Nya.
KHILAFAH ADALAH HUKUM ALLOH DAN RASUL-NYA
KHILAFAH ADALAH PILIHAN ALLOH DAN RASUL-NYA
Maka orang beriman pasti memilih menegakkan khilafah dan meninggalkan demokrasi
#KhilafahAjaranIslam
#DemokrasiWarisanPenjajah
#ReturnTheKhilafah
Wallohu a'lam ...