ATURAN DALAM BERDOA DAN BERZIKIR

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Tulisan ini tidak hanya fokus membahas aturan berdoa dan berdzikir, tetapi juga membahas setiap aktifitas ritual keagamaan yang di dalamnya terdapat doa-doa dan dzikir-dzikir, seperti tahlilan, yasinan, diba’an, sholawatan, istighotsahan, pujian setelah azan (sedang azan sunahnya harus dikeraskan, juga takbir dua hari raya), rotiban, dll. Sama saja berdoa dan berdzikir dan ritual keagamaan itu dilakukan di luar masjid atau di dalam masjid, bahkan di dalam masjid lebih utama.

Berdoa kepada Alloh SWT  itu wajib mengikuti petunjuk dan aturan dari Alloh SWT juga petunjuk dan aturan dari Rosululloh SAW, bagaimana dan seperti apa kita berdoa kepada-Nya, agar doa kita dikabulkan dan diijabah. Perhatikan firman Alloh SWT sebagai petunjuk dan aturan dalam berdoa kepada-Nya :

Ud'uu robbakum ...
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ . وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ    الْمُحْسِنِين
َ“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Alloh) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Alloh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS Al A’rof [7]: 55-56).

Pada dua ayat di atas, Alloh SWT telah memberi petunjuk kepada kita, yaitu TUJUH aturan dalam berdoa kepada-Nya, yaitu (agar kita berdoa dengan) :

Pertama; Tadhorru’an / berendah diri, tidak dengan sombong kepada-Nya dan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan menolak haq dan meremehkan para pembawa dan penyeru haq.

Kedua; Khufyatan / bersuara lembut, samar dan kalem, tidak dengan suara kasar dan keras, apalagi pakai sepeaker yang membuat bising dan gaduh.

Wa qoola ...
وقال الحسن البصري : لقد أدركنا أقوامًا ما كان على الأرض من عمل يقدرون أن يعملوه في السر، فيكون علانية أبدا. ولقد كان المسلمون يجتهدون في الدعاء، وما يُسمع لهم صوت، إن كان إلا همسا بينهم وبين ربهم، وذلك أن الله تعالى يقول: { ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ } وذلك أن الله ذكر عبدًا صالحا رَضِي فعله فقال: { إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا } .
Hasan Bashri berkata: “Sungguh kami telah menjumpai banyak kaum, dimana tidak ada amalan di atas bumi yang mereka mampu mengerjakannya secara rahasia. Maka amalan itu dikerjakan secara terang-terangan selamanya. Sungguh dulu kaum muslim itu bersungguh-sungguh dalam berdoa dan suara mereka tidak terdengar, kecuali sekedar bisikan diantara mereka dan Tuhan mereka. Hal tersebut karena Alloh SWT berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. Dan hal itu karena Alloh telah menyebut hamba yang sholeh yang Alloh ridho dengan perbuatannya. Alloh berfirman: “Yaitu tatkala ia (Zakaria) berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”. (QS Maryam [19]: 3). (Ibnul Mubarok, al Zuhd, hal. 45, dan Tafsir Thobari, 5/514).

Ketiga; ‘Adamul I’tidaa’ / tidak melampaui batas/ berlebihan, baik terhadap yang dimintanya atau cara memintanya. Melampaui batas terhadap yang dimintanya seperti minta kepada Alloh agar menghidupkannya sampai hari kiamat, minta dihilangkan dari lapar dan haus, minta bisa bernafas di dalam air dll. Sedang melampaui batas terhadap cara memintanya seperti meminta dengan mengeraskan suara atau pakai sepeaker.

Wa qoola ...
وقال عبد الملك بن عبد العزيز بن جُرَيْج : يكره رفع الصوت والنداء والصياحُ في الدعاء، ويؤمر بالتضرع والاستكانة .
“Berkata Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij : “Dibenci (Alloh) mengeraskan suara, memanggil dengan suara tinggi dan menjerit dalam berdoa, dan diperintah (Alloh) berdoa dengan merendahkan diri dan suara yang tenang/kalem”. (Tafsir Thobari, 5/207).

Dan perhatikan petunjuk berdoa dari Rosululloh SAW:
عن أبي موسى الأشعري قال: رفع الناس أصواتهم بالدعاء، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أيها الناس، ارْبَعُوا على أنفسكم؛ فإنكم لا تدعون أصمَّ ولا غائبًا، إن الذي تدعونه سميع قريب
Dari Abu Musa Asy’ari ra, beliau berkata: “Dulu orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdoa. Lalu Rosululloh saw bersabda: “Wahai manusia, kasihanilah diri kamu, karena kamu tidak sedang berdoa kepada tuhan yang tuli dan tidak pula berdoa kepada tuhan yang ghaib. Sesungguhnya Tuhan yang kamu berdoa kepada-Nya itu Maha Mendengar dan Yang Dekat”. (HR Bukhori [2992] dan Muslim [2704]).

Keempat; ‘Adamul Ifsaad fil ardhi / tidak membuat kerusakan di muka bumi. Membuat kerusakan di muka bumi dalam berdoa ialah seperti berdoa dengan suara keras lagi kasar, seperti dengan memakai pengeras suara atau sepeaker, sehingga membuat bising, gaduh dan mengganggu juga menzalimi orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Kelima; Khaufan / rasa takut tidak akan diterima doanya, atau takut kepada murka dan azab-Nya, karena ia telah berbuat maksiat dan munkar lalu ia berdoa kepada-Nya, atau berdoa sambil mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya. 

Keenam; Thoma’an / harapan akan diterima doanya, atau penuh harap kepada anugerah dan rahmat-Nya karena ia telah mengerjakan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Ketujuh; Ihsaan / berbuat baik, baik sebelum berdoa seperti bertawasul dengan amal saleh seperti sedekah, ketika berdoa seperti berdoa dengan yang baik dan tidak mengganggu, menyakiti dan menzalimi orang-orang di sekitarnya, dan setelah berdoa seperti tsiqoh dan yakin dianya diijabah serta tidak terburu-buru dengan mengatakan bahwa Alkah tidak mengijabah doanya; berbuat baik kepada diri sendiri atau kepada orang-orang di sekitarnya atau tetangganya.

Lalu bagaimana kita berdzikir kepada Alloh SWT?

Berdzikir dan berdoa pada umumnya selalu dilakukan secara bersamaan, dan pada keduanya nama-nama Alloh juga disebut-sebut, maka keduanya wajib mengikuti petunjuk dari Alloh SWT dan dari Rosululloh SAW. Perhatikan petunjuk berdzikir dari firman-Nya :

Wadzkur ...
وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ  تَضَرُّعًا وَخِيفَة وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. (QS Al A’rof [7]: 205).

Sedang kalimat “dan dengan tidak mengeraskan suara / wa dunal jahri minal qauli”, maka Imam Qurthubi berkata :
(وَدُونَ الْجَهْرِ) أَيْ دُونَ الرَّفْعِ فِي الْقَوْلِ. أَيْ أَسْمِعْ نَفْسَكَ، كَمَا قَالَ:" وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلًا " أَيْ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْمُخَافَتَةِ. وَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ مَمْنُوعٌ .
“(Wa dunal jahri), yakni dengan tidak mengeraskan suara, yakni dengarkanlah kepada dirimu saja, sebagaimana Dia berfirman : “dan carilah jalan tengah diantara kedua itu” (QS Al Isroo [17]; 110), yakni diantara mengeraskan suara dan merendahkannya. (firman) ini menunjukkan bahwa mengeraskan suara dengan dzikir itu terlarang”. (Tafsir Al Qurthubi, 7/355).

Terkait penggalan ayat pada ibarot Al Qurthubi diatas, lengkapnya sebagai berikut :
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخافِتْ بِها وَابْتَغِ بَيْنَ ذلِكَ سَبِيلاً 
“Katakanlah: “Serulah Alloh atau serulah Arrohman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik. Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah diantara keduanya itu”. (QS Al Isroo [17]; 110).

Maksudnya, janganlah membaca ayat-ayat Alqur’an dalam sholat terlalu keras atau terlalu rendah, tetapi cukuplah sekedar dapat  didengar oleh makmum.

Penutup:
Perlu diingat, bahwa kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, dan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat. Kita berdzikir dan berdoa kepada Alloh, bukan kepada selain Alloh dari tuhan-tuhan sesembahan orang-orang musyrik, bukan kepada tuhan yang tuli dan buta, dan bukan kepada tuhan yang jauh dan ghaib. Ingat, kita berdoa dan berdzikir kepada Alloh!

Karena itu, kita harus berdoa dan berdzikir sesuai perintah dan larangan Alloh. Alloh telah memerintahkan agar kita berdzikir dan berdoa dengan tadhorru’an (berendah diri), khufyatan (suara lembut), khoufan (takut), thoma’an (penuh harap) dan ihsan (berbuat baik). Dan Alloh telah melarang berdzikir dan berdoa dengan i’tidaa’ (melampaui batas / berlebihan), ifsaad (membuat kerusakan), jahar (suara keras) dan mukhofatah (suara terlalu rendah).

Kita juga harus memahami, kita ber-amal karena Alloh atau karena manusia, kita bermunajat dengan Alloh atau dengan manusia, agar kita tidak terjatuh ke dalam syirik kecil yaitu riya, karena sudah jelas bahwa ber-amal dengan syirik itu justru mendapat dosa dan jauh dari pahala. Maka ketika amal itu berupa doa dan dzikir, pasti tertolak dan sia-sia, bahkan mendapatkan dosa. Apalagi ketika doa dan dzikir itu mengandung kerusakan dan kezaliman terkait dengan haq adami atau hak sesama manusia. Na’uudzu billaah tsumma na’uudzu billaah ...

Wallohu a’lam bish showaab.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.