MEREKA YANG LAYAK DISEBUT PENGIKUT IDEOLOGI KHAWARIJ DAN MUKTAZILAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim

Hanya mereka yang menolak Khilafah lah yang layak mendapat stempel Muktazilah dan Khawarij, bukan para syabab Hizbut Tahrir dan lainnya yang selama ini sangat konsen berdakwah menuju tegaknya Islam Kaffah melalui penegakkan khilafah rasyidah ...

Al-Ustadz Dr. Shalah al-Shawi dlm kitabnya, al-Wajiz fi Fiqh al-Imamah al-'Uzhmaa (juz 1, hal. 13, Syamilah), menyatakan:

ittafaqa ...
اتفق أهل السنة وغيرهم من سائر الفرق الإسلامية على وجوب الإمامة  ولم يخالف في ذلك إلا شذاذ من الناس، لا يخرق بمثلهم إجماع كالنجدات من الخوارج، وأبي بكر الأصم  والغوطي من المعتزلة (3).
(3) هو هشام بن عمر الغوطي الشيباني من أهل البصرة ، وإليه تنسب فرقة الهاشمية من المعتزلة (راجع: الفرق بين الفرق، ص159). ومذهبه في الإمامة وجوب نصب الإمام عند الأمن ، وعدم وجوبه عند ظهور الفتن ، وكأنه يريد بهذا إبطال إمامة علي كرم الله وجهه لكونها انعقدت في حال اشتعال الفتنة وعقب مقتل عثمان رضي الله عنه ( راجع : أصول الدين للبغدادي ص 272). * الوجيز في فقه الإمامة العظمى *  - (1 / 13)
“Ahlussunah dan semua firqah Islam telah sepakat atas wajibnya imamah, dan tidak ada yang menyalahi kesepakatan tersebut kecuali segelintir manusia yang tidak dapat merobek ijmak, seperti sekte Najdah dari Khawarij, Abu Bakar al-Asham dan al-Ghuthi dari Muktazilah”.

Abu Bakar Asham adalah Abu Bakar Abdurrohman bin Kisan bin Asham termasuk pembesar Muktazilah generasi keenam. Sebagian peneliti meriwayatkan bahwa al-Asham itu termasuk orang yang menyatakn kewajiban menegakkan khilafah, karena ia menggantungkan tidak butuhnya manusia dari imam/khalifah itu ketika hilangnya kezaliman di antara mereka (dengan tanpa adanya imam). Sedang hilangnya kezaliman di antara manusia (dengan tanpa adanya imam) adalah mustahil, maka sesuatu yang digantungkan kepada mustahil adalah mustahil. (Dr. Muhammad Raafat Utsman, Riyasah al-Daulah, hal. 64).

Dan al-Ghuthi adalah Hisyam bin Umar al-Ghuthi asy-Syaibani dari penduduk Bashrah, dan kepadanya firqah Hasyimiyah dari Muktazilah dihubungkan. (al-Farqu bainal Firoq, hal. 159). Madzhabnya tentang imamah adalah wajibnya mengangkat Imam ketika kondisinya aman, dan tidak wajibnya mengangkat imam ketika munculnya fitnah. Sepertinya ia berkehendak membatalkan keimamam Ali ra karena terjadi ketika berkecamuknya fitnah dan setelah pembunuhan Utsman ra. (al-Baghdadi, Ushul al-Dien, hal. 272).

Dari pernyataan di atas, kita mengerti bahwa yang tidak mewajibkan imamah/khilafah adalah sekte Najdah dari Khawarij, dan Abu Bakar al-Asham dan al-Ghuthi dari Muktazilah. Padahal stigma Khawarij dan Muktazilah selama ini oleh kelompok Salafi/Wahhabi kontra dakwah penegakkan khilafah yang di-aamiini oleh kelompok Aswaja-sekular, sering sekali ditempelkan kepada Hizbut Tahrir. Sungguh keterlaluan. Wallohu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.